Share

Rumah Tanpa Sosok Papa
Rumah Tanpa Sosok Papa
Author: Summer

Bab 1

Author: Summer
Susan mengatakannya langsung ke mikrofon sehingga semua orang bisa mendengarnya. Orang tua murid lainnya pun menoleh ke arah Ronaldo. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik.

Ronaldo terpaku. Aku pun ikut membeku.

Selama dua puluh delapan hari, sejak aku menyadari bahwa hati Ronaldo tidak lagi berada di keluarga ini, setiap kali Ronaldo meninggalkan kami demi Viera, aku selalu menyuruh Susan memanggil Ronaldo dengan sebutan "Om Ronaldo." Itu adalah caraku untuk mengingatkan diri sendiri dan Susan agar tidak menangisi pria yang sama sekali tidak layak.

Tetapi, Susan baru berusia tujuh tahun. Itu adalah usia di mana seorang gadis paling membutuhkan sosok ayahnya.

Setiap kali aku meminta Susan untuk menggunakan sebutan itu, Susan akan ragu-ragu untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan, "Om Ronaldo."

Namun hari ini, Susan justru mengatakannya dengan inisiatif sendiri. Dia bahkan mengucapkannya dengan lancar dan tanpa rasa canggung, seolah-olah dia telah berlatih ratusan kali di kepalanya.

Susan duduk di depan piano, dan mulai memainkannya. Jari-jari kecilnya lincah bergerak menemukan tuts yang tepat. Dia hanya melakukan kesalahan sekali, tetapi dia terus lanjut bermain. Ketika selesai, seluruh ruangan bertepuk tangan.

Susan berdiri, membungkuk, dan menatap ke arahku. Susan tidak menatap Ronaldo sama sekali.

Para juri mulai memberikan penghargaan. Juara ketiga ... lalu juara kedua, dan akhrnya ... juara pertama.

Susan memenangkan juara pertama. Sebuah piala emas kecil dengan hiasan berbentuk not musik di atasnya.

Susan berlari turun dari panggung dan langsung menghambur ke pelukanku. Aku mengangkat tubuh kecil Susan dan memeluknya erat. Seorang fotografer dari koran lokal meminta izin untuk mengambil foto kami, potret ibu dan anak perempuan dengan piala kemenangannya.

Susan mengangkat piala itu dan tersenyum. Aku merangkul Susan dan ikut tersenyum.

Di belakang kami, Ronaldo rupanya sudah pergi. Aku tidak terkejut. Baginya, Viera dan putrinya selalu menjadi prioritas.

Ronaldo adalah wakil bos mafia dari Keluarga Marino. Awalnya, dia memang selalu mengutamakan kami. Dia adalah suami yang baik dan sosok ayah yang selalu hadir. Tetapi ketika Viera kembali, segalanya berubah.

Viera adalah cinta pertamanya. Wanita itu kemudian menikah dengan seorang bos mafia dari wilayah lain, tetapi suaminya meninggal secara tak terduga. Dia pun harus kembali ke kampung halamannya bersama putrinya yang berusia lima tahun bernama Lina, dan wanita itu selalu mengeluh tentang sulitnya berjuang sendirian. Ronaldo merasa kasihan padanya dan mulai sering membantu mereka. Ronaldo menjadi semakin pilih kasih, hingga membuat Susan dan aku lebih sering menunggu.

Setelah suaminya meninggal, Viera selalu berperan sebagai janda yang berduka. Dia terus menangis karena Lina sudah tidak memiliki ayah lagi. Dan Ronaldo, si bodoh itu, termakan oleh tipu dayanya.

Ronaldo pergi merayakan ulang tahun Lina di Universal Studios. Ketika pulang, dia lupa meninggalkan tiket itu di sakunya. Tiga lembar tiket masuk ke Universal Studios.

Pada ulang tahun Susan yang keenam, dia berharap bisa pergi menonton film favoritnya bersama seluruh keluarga. Namun, Ronaldo malah menganggapnya kekanak-kanakan dan langsung menolaknya tanpa ragu.

Beberapa hari kemudian, Ronaldo justru pergi bersama Viera dan Lina.

Aku menemukan unggahan itu di media sosial pribadi Viera dengan keterangan: [Tempat paling ajaib di bumi ini memang paling indah kalau dinikmati bersama keluarga]. Foto itu menunjukkan gambar Ronaldo, Viera, dan Lina yang sedang tersenyum mengenakan sweter dengan warna senada. Ronaldo menggendong Lina di pundaknya seperti seorang ayah yang bangga.

Malam itu, kami bertengkar hebat. Aku bersikeras menceraikan Ronaldo dan membawa Susan. Ronaldo menyebutku tidak masuk akal. Dia bertanya bagaimana aku bisa tega membuat Susan tumbuh tanpa seorang sosok ayah. Dia bersumpah bahwa dia melakukan semua itu hanya karena merasa kasihan pada Viera. Dia berdalih bahwa Viera adalah seorang janda karena suaminya meninggal dunia, dan sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku menatap wajah Susan yang pucat dan ketakutan. Aku menggigit bibirku sangat keras sampai nyaris berdarah. Aku tahu bahwa jika aku memaksakan perceraian saat itu juga, Susan tidak akan pernah melupakan bayangan Ronaldo yang pergi. Tetapi aku juga tahu bahwa begitu seorang pria seperti Ronaldo menunjukkan prioritasnya, itu akan terus terjadi berulang kali.

Aku tidak ingin Susan menderita hanya karena rasa kasihan Ronaldo yang tidak berdasar.

Jadi, aku memilih cara lain. Aku menipu Ronaldo agar menandatangani surat perjanjian perceraian.

Tiga puluh hari adalah masa jeda sebelum keputusan cerai resmi dikeluarkan.

Jika Ronaldo kembali kepada kami dalam tiga puluh hari itu, aku akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa demi Susan. Jika tidak, maka aku akan menggunakan waktu itu untuk membuat Susan terbiasa dengan ketidakhadiran Ronaldo.

Hari ini adalah hari ke dua puluh delapan.

Susan memanggil Ronaldo dengan sebutan "Om Ronaldo" tanpa diminta.

Aku merasakan tubuh kecil Susan gemetar di pelukanku, dan hatiku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Bukan karena marah, tetapi karena rasa duka yang mendalam.

Saat kami sedang menyeberang jalan, Ronaldo akhirnya tersadar dari lamunannya. Dia mulai berjalan mengikuti kami, mungkin untuk bertanya mengapa Susan memanggilnya seperti itu. Kemudian ponsel Ronaldo berdering, dan terdengar suara Viera yang manis dan penuh isak tangis dari ujung telepon.

"Ronaldo, kau ada di mana? Lina terus menangis, dan bilang rindu ayahnya. Aku tidak bisa menenangkannya."

Langkah Ronaldo langsung terhenti di tempatnya. Dia menatap punggung kami yang menjauh dengan ponsel masih di tangan dan berkata, "Iya, aku segera ke sana."

Kemudian, Ronaldo mengirimiku sebuah pesan: [Kita bicara lagi nanti malam.] Suara mesin mobil terdengar meraung dan menghilang di kejauhan.

Susan menghentikan langkahnya. Susan langsung memelukku, dan air matanya membasahi bajuku.

"Ma," bisik Susan. "Bisakah kita tidak usah punya ayah lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 9

    Sedangkan mengenai Ronaldo, dia benar-benar tidak menyerah.Awalnya, dia selalu mengirimkan berbagai macam barang setiap hari. Boneka, figur kartun edisi terbatas, sepeda, gawai belajar yang mahal, kelas les piano, sampai voucer perkemahan musim panas. Aku tidak ingin menerima semua itu, tetapi Susan berkata dengan sangat serius, "Ma, ini semua adalah utang Om Ronaldo padaku. Dia berutang padaku dulu."Aku sempat tertegun sejenak. Namun kemudian, aku menyetujuinya. Kami menerima hadiah-hadiah itu, tetapi Susan tidak pernah memanggil Ronaldo dengan sebutan papa lagi. Setiap kali Ronaldo berkunjung, Susan akan mengangguk sopan dan berkata, "Halo, Om Ronaldo."Wajah Ronaldo akan pucat setiap kali mendengarnya, tetapi dia tidak pernah berani mengoreksi ucapan Susan. Tidak akan pernah berani lagi.Sebelumnya, aku dan Susan yang selalu mengejar Ronaldo. Bertanya kapan dia akan pulang ke rumah. Bertanya apakah dia bisa menghabiskan waktu bersama Susan. Bertanya apakah dia benar-benar mencinta

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 8

    Keesokan paginya, Ronaldo sudah pergi.Di beranda rumah, dia meninggalkan sebuah surat. [Niki, aku mohon padamu. Jangan buang apa yang pernah kita miliki. Aku akan menunggu selamanya. Kumohon.]Aku membaca surat itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah.Susan sedang duduk di tempat tidur sambil makan roti panggang. Dia melirik ke arahku. "Ma, ada apa? Apa yang ditulis Om Ronaldo?"Aku tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Ini cuma brosur iklan saja."Susan juga ikut tersenyum. Itu adalah senyuman tulus pertamanya sejak kami pergi meninggalkan Ronaldo.Selama setahun berikutnya, banyak hal yang terjadi.Pertama, kejahatan Viera akhirnya terungkap. Seorang perawat di rumah sakit diam-diam telah merekam aksi Viera saat memaksa Lina untuk minum sup makanan laut. Video tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian. Viera akhirnya didakwa atas tuduhan penganiayaan anak. Dia sempat mencoba berbohong dan berdalih bahwa itu hanyalah sebuah kecelakaan. Tetapi, rekaman kamera pengawas rumah sakit, ke

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 7

    Ronaldo mengemudi sepanjang malam menuju bandara. Penerbangan paling awal ke Losanare sudah habis terjual. Ronaldo terpaksa duduk di terminal bandara hingga fajar menyingsing, mencoba meneleponku puluhan kali dan mengirimkan ratusan pesan teks.[Niki, aku tahu aku sudah salah.][Di mana kau? Biarkan aku menemuimu.][Apa Susan baik-baik saja?][Aku tidak bermaksud menyakiti kalian berdua.][Tolong, angkat teleponnya.]Aku tidak membaca satu pun pesan itu.Saat pesawat mendarat di Losanare, Susan sedang tertidur pulas. Kepala kecil Susan bersandar di bahuku, menyisakan bekas air mata yang mengering di bulu matanya. Aku menggendong Susan turun dari pesawat dan naik taksi menuju rumah lama mendiang ibuku. Itu adalah sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang tenang. Tidak ada yang mewah, hanya terdiri dua kamar tidur, dan sebuah beranda yang dilengkapi kursi goyang. Cat dindingnya sudah mulai mengelupas, tetapi rumah itu milik kami. Ibuku mewariskannya bertahun-tahun yang lalu.Udara malam

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 6

    Ketika Viera menyadari air matanya sudah tidak lagi berguna, dia pun berhenti menangis. Dia menyeka wajahnya dan tertawa dingin."Iya, aku memang melakukannya dengan sengaja. Tapi apa lagi yang harus kulakukan? Aku ini seorang janda, Sandi sudah mati. Aku menikahinya demi kekuasaan, bukan cinta. Dia adalah bos Mafia, dan bisa menjadi istrinya berarti mendapatkan perlindungan, uang, dan rasa hormat. Tapi dia tidak pernah benar-benar membiarkanku menikmati semua itu. Dia selalu mengikatku. Waktu dia terbunuh dalam perang antar geng itu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada status, apalagi uang. Hanya seorang anak yang wajahnya mirip dengannya."Dia menyilangkan tangan di dada. "Jadi, aku mencarimu. Lebih muda, lebih bodoh, dan lebih mudah dikendalikan. Seseorang yang bisa mengembalikan semua yang sudah hilang dariku."Ronaldo menatap Viera seolah baru melihatnya untuk pertama kali. "Jadi, semuanya hanya kebohongan? Janda yang menangis di kuburannya? Kisah-kisah sedih tentang mem

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 5

    Ronaldo melaju kencang meninggalkan rumah sakit, menuju Universal Studios.Kondisi jalanan macet dan dipadati kendaraan. Ronaldo mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Dia memeriksa ponselnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh satu menit. Sembilan belas menit lagi sebelum pukul tiga sore.Dia meneleponku, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba menelepon berulang kali dan mengirimkan pesan suara. Dan saat mencoba untuk ketiga kalinya, nomornya sudah diblokir.Ronaldo mengira aku sengaja mengabaikannya. Dia mengetik dengan satu tangan sambil mengemudi.[Niki, Lina hanya demam biasa, tidak ada yang serius. Aku sedang dalam perjalanan.][Tolong jangan pergi. Aku akan segera sampai sana.][Aku bersumpah aku tidak akan membatalkannya lagi kali ini.]Tidak ada respon sama sekali.Dia lalu mencoba menghubungi jam tangan pintar milik Susan, namun tak bisa terhubung.Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. D

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 4

    Satu jam sebelumnya.Viera menangis lirih, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ronaldo. "Ronaldo, gimana ini? Lina demam sampai empat puluh derajat. Tubuhnya sangat panas. Aku takut sekali."Lina berbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan kompres dingin di dahinya, merintih pelan. Kedua pipinya memerah karena demam.Wajah Ronaldo tampak pucat. Sambil menggenggam tangan Lina, dia meneleponku. Begitu aku mengangkatnya, Ronaldo langsung bergegas jalan keluar ke koridor. "Niki, sampaikan permintaan maafku pada Susan. Lina mendadak demam tinggi dan aku harus menemaninya di rumah sakit. Aku tidak tahu apakah bisa sampai sana sebelum jam tiga nanti. Kalau kalian tidak melihatku di sana, pulang saja. Sampaikan permintaan maafku pada Susan."Lalu, Ronaldo langsung menutup telepon seperti biasanya.Ronaldo selalu menyerahkan beban untuk menjelaskan padaku dan membiarkan Susan menanggung rasa kecewa itu sendirian. Ronaldo mengira kami akan selalu setia menunggu. Ronaldo mengira permintaan ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status