เข้าสู่ระบบSedangkan mengenai Ronaldo, dia benar-benar tidak menyerah.Awalnya, dia selalu mengirimkan berbagai macam barang setiap hari. Boneka, figur kartun edisi terbatas, sepeda, gawai belajar yang mahal, kelas les piano, sampai voucer perkemahan musim panas. Aku tidak ingin menerima semua itu, tetapi Susan berkata dengan sangat serius, "Ma, ini semua adalah utang Om Ronaldo padaku. Dia berutang padaku dulu."Aku sempat tertegun sejenak. Namun kemudian, aku menyetujuinya. Kami menerima hadiah-hadiah itu, tetapi Susan tidak pernah memanggil Ronaldo dengan sebutan papa lagi. Setiap kali Ronaldo berkunjung, Susan akan mengangguk sopan dan berkata, "Halo, Om Ronaldo."Wajah Ronaldo akan pucat setiap kali mendengarnya, tetapi dia tidak pernah berani mengoreksi ucapan Susan. Tidak akan pernah berani lagi.Sebelumnya, aku dan Susan yang selalu mengejar Ronaldo. Bertanya kapan dia akan pulang ke rumah. Bertanya apakah dia bisa menghabiskan waktu bersama Susan. Bertanya apakah dia benar-benar mencinta
Keesokan paginya, Ronaldo sudah pergi.Di beranda rumah, dia meninggalkan sebuah surat. [Niki, aku mohon padamu. Jangan buang apa yang pernah kita miliki. Aku akan menunggu selamanya. Kumohon.]Aku membaca surat itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah.Susan sedang duduk di tempat tidur sambil makan roti panggang. Dia melirik ke arahku. "Ma, ada apa? Apa yang ditulis Om Ronaldo?"Aku tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Ini cuma brosur iklan saja."Susan juga ikut tersenyum. Itu adalah senyuman tulus pertamanya sejak kami pergi meninggalkan Ronaldo.Selama setahun berikutnya, banyak hal yang terjadi.Pertama, kejahatan Viera akhirnya terungkap. Seorang perawat di rumah sakit diam-diam telah merekam aksi Viera saat memaksa Lina untuk minum sup makanan laut. Video tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian. Viera akhirnya didakwa atas tuduhan penganiayaan anak. Dia sempat mencoba berbohong dan berdalih bahwa itu hanyalah sebuah kecelakaan. Tetapi, rekaman kamera pengawas rumah sakit, ke
Ronaldo mengemudi sepanjang malam menuju bandara. Penerbangan paling awal ke Losanare sudah habis terjual. Ronaldo terpaksa duduk di terminal bandara hingga fajar menyingsing, mencoba meneleponku puluhan kali dan mengirimkan ratusan pesan teks.[Niki, aku tahu aku sudah salah.][Di mana kau? Biarkan aku menemuimu.][Apa Susan baik-baik saja?][Aku tidak bermaksud menyakiti kalian berdua.][Tolong, angkat teleponnya.]Aku tidak membaca satu pun pesan itu.Saat pesawat mendarat di Losanare, Susan sedang tertidur pulas. Kepala kecil Susan bersandar di bahuku, menyisakan bekas air mata yang mengering di bulu matanya. Aku menggendong Susan turun dari pesawat dan naik taksi menuju rumah lama mendiang ibuku. Itu adalah sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang tenang. Tidak ada yang mewah, hanya terdiri dua kamar tidur, dan sebuah beranda yang dilengkapi kursi goyang. Cat dindingnya sudah mulai mengelupas, tetapi rumah itu milik kami. Ibuku mewariskannya bertahun-tahun yang lalu.Udara malam
Ketika Viera menyadari air matanya sudah tidak lagi berguna, dia pun berhenti menangis. Dia menyeka wajahnya dan tertawa dingin."Iya, aku memang melakukannya dengan sengaja. Tapi apa lagi yang harus kulakukan? Aku ini seorang janda, Sandi sudah mati. Aku menikahinya demi kekuasaan, bukan cinta. Dia adalah bos Mafia, dan bisa menjadi istrinya berarti mendapatkan perlindungan, uang, dan rasa hormat. Tapi dia tidak pernah benar-benar membiarkanku menikmati semua itu. Dia selalu mengikatku. Waktu dia terbunuh dalam perang antar geng itu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada status, apalagi uang. Hanya seorang anak yang wajahnya mirip dengannya."Dia menyilangkan tangan di dada. "Jadi, aku mencarimu. Lebih muda, lebih bodoh, dan lebih mudah dikendalikan. Seseorang yang bisa mengembalikan semua yang sudah hilang dariku."Ronaldo menatap Viera seolah baru melihatnya untuk pertama kali. "Jadi, semuanya hanya kebohongan? Janda yang menangis di kuburannya? Kisah-kisah sedih tentang mem
Ronaldo melaju kencang meninggalkan rumah sakit, menuju Universal Studios.Kondisi jalanan macet dan dipadati kendaraan. Ronaldo mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Dia memeriksa ponselnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh satu menit. Sembilan belas menit lagi sebelum pukul tiga sore.Dia meneleponku, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba menelepon berulang kali dan mengirimkan pesan suara. Dan saat mencoba untuk ketiga kalinya, nomornya sudah diblokir.Ronaldo mengira aku sengaja mengabaikannya. Dia mengetik dengan satu tangan sambil mengemudi.[Niki, Lina hanya demam biasa, tidak ada yang serius. Aku sedang dalam perjalanan.][Tolong jangan pergi. Aku akan segera sampai sana.][Aku bersumpah aku tidak akan membatalkannya lagi kali ini.]Tidak ada respon sama sekali.Dia lalu mencoba menghubungi jam tangan pintar milik Susan, namun tak bisa terhubung.Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. D
Satu jam sebelumnya.Viera menangis lirih, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ronaldo. "Ronaldo, gimana ini? Lina demam sampai empat puluh derajat. Tubuhnya sangat panas. Aku takut sekali."Lina berbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan kompres dingin di dahinya, merintih pelan. Kedua pipinya memerah karena demam.Wajah Ronaldo tampak pucat. Sambil menggenggam tangan Lina, dia meneleponku. Begitu aku mengangkatnya, Ronaldo langsung bergegas jalan keluar ke koridor. "Niki, sampaikan permintaan maafku pada Susan. Lina mendadak demam tinggi dan aku harus menemaninya di rumah sakit. Aku tidak tahu apakah bisa sampai sana sebelum jam tiga nanti. Kalau kalian tidak melihatku di sana, pulang saja. Sampaikan permintaan maafku pada Susan."Lalu, Ronaldo langsung menutup telepon seperti biasanya.Ronaldo selalu menyerahkan beban untuk menjelaskan padaku dan membiarkan Susan menanggung rasa kecewa itu sendirian. Ronaldo mengira kami akan selalu setia menunggu. Ronaldo mengira permintaan ma







