Share

Bab 3

Penulis: Olenji
Tidak ada yang menyangka Ello akan bersikap sekeras itu, suasana di seluruh ruang tamu seketika berubah menjadi sunyi senyap.

Namun, saat melihat pria yang saat ini begitu bertekad melindunginya, hati Ardina sama sekali tidak merasa tersentuh.

Menyadari putra kandungnya tidak main-main, ibu Ello akhirnya mengalah. "Ya udah, kita makan dulu."

Di meja makan, selain benturan suara mangkuk dan sumpit, hanya terdengar suara dengusan dingin ibu Ello yang sesekali terdengar.

Tangan Ardina yang sedang memegang sumpit seketika menegang.

Dia tahu kalau ini adalah pertanda ibu Ello akan mulai menceramahinya.

Benar saja, detik berikutnya ibu Ello langsung meletakkan alat makannya dengan kasar.

"Kami nggak bakal mencampuri urusan lain, tapi kamu juga harus punya anak buat kami, 'kan? Coba kamu lihat di luar sana, menantu mana yang perutnya sama sekali nggak ada pergerakan setelah bertahun-tahun nikah? Kalian nggak boleh mutus garis keturunan Keluarga Sardi!"

Ello juga langsung meletakkan alat makannya. "Aku udah bilang sama kalian, Dina itu takut sakit. Aku nggak bakal biarin dia nahan rasa sakit tingkat tinggi demi aku. Aku rela nggak punya keturunan selamanya!"

Mendengar ucapan itu, Roy dan Lisa langsung kehilangan selera makan.

Tepat saat mereka semua hampir bertengkar lagi, Ardina tiba-tiba angkat bicara, "Setengah bulan lagi. Bu, Yah, setengah bulan lagi kalian bakal punya cucu."

Begitu kalimat itu terlontar, semua orang langsung menatapnya dengan terkejut.

"Dina?" Ello menggenggam tangannya. "Bukannya kita udah sepakat buat nggak punya anak? Kamu nggak perlu paksakan diri demi aku."

Ardina menatap wajah Ello yang tampak begitu tulus dan tegas, lalu menarik sudut bibirnya samar.

Dia memang mengatakan kalau mereka bakal punya cucu, tapi dia tidak mengatakan kalau anak itu lahir dari rahimnya.

Setengah bulan lagi dia sudah pindah ke luar negeri. Karena pria itu sangat menyukai Tasya dan bisa tidur dengannya berkali-kali setiap hari, membiarkan sepupunya itu yang melahirkan tentu terasa sangat wajar.

Karena itu, dia tersenyum. "Ini keinginan orang tua, sudah sewajarnya dikabulkan."

Melihat sikap Ardina yang begitu pengertian, hati Ello tiba-tiba diliputi sedikit rasa gelisah.

Sikap pengertiannya terasa agak terlalu aneh.

Ekspresi kemarahan di wajah Roy dan Lisa baru berubah menjadi senyuman. "Nah, begitu baru benar."

Ello masih merasa ada yang tidak beres dan hendak bertanya lebih lanjut, tapi tiba-tiba seorang bawahan masuk dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Ekspresi wajahnya sedikit berubah.

Ardina duduk cukup dekat, jadi dia bisa mendengar apa yang dikatakan bawahan itu.

Ternyata sejak awal pria itu sudah menyuruh bawahannya untuk mengawasi Tasya. Saat ini, bawahan itu datang melaporkan kalau Tasya sedang berdansa dengan seorang pria yang menarik perhatiannya di acara ramah tamah.

Mendengar laporan itu, raut wajah Ello langsung berubah drastis. Dia tidak tahan lagi dan langsung berdiri. "Maaf, Dina, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan dulu. Kamu makan aja di sini, nanti setelah selesai aku jemput kamu."

Setelah berbicara, dia langsung pergi terburu-buru tanpa membawa jasnya dan tanpa menunggu jawaban dari Ardina.

Begitu Ello pergi, ayah dan ibunya langsung kehilangan rasa sungkan mereka. Dengan tatapan sinis, mereka mulai memaki dan menyalahkannya.

"Coba kamu pikir, sudah berapa tahun kamu nikah dan masuk ke keluarga ini, tapi perutmu sama sekali nggak membuahkan hasil. Kamu nggak malu?"

"Kamu berasal dari keluarga biasa, orang tuamu juga udah meninggal. Kalau bukan karena Ello suka kamu, apa kamu pikir kamu bisa menjadi Nyonya Sardi? Menikahi wanita sepertimu benar-benar kesialan besar bagi kami."

"Kenapa matamu memerah! Jangan berpikir buat mengadu sama Ello nanti. Menantu mana yang nggak pernah dimarahi? Anakku itu sibuk banget, jangan pernah berpikir buat repotin dia dengan urusan sepele seperti ini!"

Dari pagi hingga sore hari, Ardina habis-habisan dimaki selama lima jam penuh.

Barulah saat menjelang malam, Ello akhirnya datang menjemputnya.

Mobil melaju dengan tenang di jalanan menuju rumah, lalu tiba-tiba Ardina angkat bicara, "Apa urusanmu udah selesai semua?"

Ello tertegun sejenak, lalu menjawab dengan nada lembut, "Semua udah selesai."

Saat mengucapkan kalimat itu, jari telunjuknya yang berada di atas setir mengetuk-ngetuk pelan.

Itu adalah gerakan tidak sadar yang biasa dia lakukan saat suasana hatinya sedang sangat gembira.

Mungkin karena melihat Ardina tidak membalas ucapannya dalam waktu lama, Ello baru tersadar dan bertanya, "Setelah aku pergi, ibu dan ayah nggak omelin kamu, 'kan?"

Ardina baru saja hendak berbicara saat tiba-tiba matanya menangkap sepasang stocking bermotif polkadot yang robek di bawah kursi penumpang.

Dia tahu, kepergian pria itu adalah untuk menemui Tasya, tapi dia tidak menyangka kalau mereka bahkan melakukannya di dalam mobil .…

Selama lima tahun pernikahan mereka, dia selalu bersikap sangat konservatif dalam urusan ranjang.

Karena takut pria itu akan merasa bosan, dia bahkan pernah bertanya dengan wajah merona apakah dia perlu merubah sikapnya.

Namun, pria itu hanya tersenyum sambil mendekapnya erat ke dalam pelukan dan menciumnya berulang kali. "Dina, aku cuma punya gairah sama kamu. Bahkan kalau kamu pakai baju pengemis yang compang-camping pun, aku bakal tetap berdebar. Kamu nggak perlu paksakan diri melakukan hal yang nggak kamu sukai demi aku, orang yang mencintaimu bakal selalu berdebar karena dirimu."

Namun, pria yang dulu begitu tulus dan polos kepadanya, ternyata bisa bermain segila itu di belakangnya dengan wanita lain.

Mata Ardina seketika memerah. "Menurutmu gimana?"

Ello tidak tahu kalau hubungan rahasianya dengan Tasya sudah lama terbongkar di hadapan istrinya. Dia mengira Ardina menangis karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang tuanya.

Pria itu segera menginjak rem, lalu langsung memeluknya erat sambil membujuknya lembut, "Maaf, Dina, ini semua salahku. Nggak seharusnya aku tinggalkan kamu sendirian. Aku janji setelah ini nggak bakal biarin kamu menerima perlakuan seperti ini lagi."

Ardina didekap erat olehnya, tapi dia hanya merasakan sesak.

Dia menahan air matanya dan mendorong pria itu menjauh.

"Jalankan aja mobilnya."

Lagi pula, mereka sudah tidak punya masa depan lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status