Share

Bab 2

Penulis: Olenji
Pagi-pagi sekali, Ardina terbangun oleh suara keributan.

Dia membuka jendela dengan mata yang masih setengah terpejam untuk melihat situasi.

Tepat di tengah kompleks perumahan dinas, seorang wanita berwajah letih sedang mencengkeram erat pakaian seorang pria di hadapannya sambil berteriak histeris, "Yuga! Aku udah susah payah mengurus keluargamu selama belasan tahun!"

"Dulu waktu nikah, kamu janji bakal selamanya cinta sama aku. Baru juga lewat beberapa tahun, kamu udah main belakang sama cewek lain!"

Para tetangga di sekitar baru tersadar, lalu mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk pria itu.

Pria itu termasuk orang terpandang, jadi wajahnya langsung menggelap. Dia segera menarik wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.

"Nggak tahu malu banget, pulang sekarang!"

Ardina termenung menyaksikannya, sampai sebuah tangan yang hangat tiba-tiba menutupi telinganya dengan lembut dari belakang.

"Dina, jangan dengarkan omongan kotor seperti ini."

Ardina tidak menoleh, dia hanya berucap lirih, "Menurutmu, apa semua hati pria bakal berubah?"

Tubuh Ello menegang. Pria itu membalikkan tubuh Ardina agar menghadap ke arahnya, lalu menatapnya serius. "Aku nggak tahu kalau orang lain, tapi aku nggak bakal begitu. Dina, aku cuma cinta sama kamu seorang seumur hidupku."

"Kamu cuma cinta sama aku seorang seumur hidupmu? Tapi seumur hidup itu panjang banget."

Ello memeluknya dengan lembut, hembusan napasnya yang hangat menerpa daun telinga Ardina. "Biarpun seumur hidup itu panjang banget, aku cuma mau kamu seorang."

Ardina akhirnya tertawa, tapi tawa itu menyiratkan kepahitan yang samar. "Gimana kalau suatu saat nanti? Gimana kalau kamu khianati aku?"

"Kalau sampai aku mengkhianati kamu, biarkan aku tersambar petir dan mati mengenaskan."

Mendengar sumpah itu di saat dirinya sudah mengetahui semua kenyataan membuat hati Ardina terasa sangat perih.

"Ello, kamu berani banget sumpah serapah begitu, nggak takut kalau benar-benar terjadi?"

Ello terkekeh pelan. "Nggak bakal, karena nggak ada orang yang lebih tahu seberapa besar aku mencintaimu selain diriku sendiri. Kalau kamu nggak percaya, aku bakal belah dadaku dan memperlihatkan hatiku buat kamu. Kalau kamu masih nggak percaya, aku bakal kasih seluruh hidupku buat kamu."

Seluruh hidupnya bisa diberikan untuknya?

Lalu kenapa, menjaga bagian bawah tubuhnya saja tidak becus?

Jelas-jelas di tubuh pria itu masih tersisa aroma percintaan dengan wanita lain, tapi mulutnya masih bisa membisikkan kata-kata manis yang paling indah kepadanya.

"Kak, Kak Ello, kalian lagi ngapain?"

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu, menghancurkan ketenangan di antara mereka.

Sesaat kemudian, Ardina bisa merasakan dengan jelas kalau tubuh Ello sedikit menegang. Pria itu mengernyitkan dahi. "Kamu dandan begini mau pergi ke mana?"

Nada bicara itu sama sekali tidak terdengar seperti perhatian seorang kakak ipar kepada adiknya, melainkan seperti seorang suami yang sedang menginterogasi istrinya yang hendak pergi keluar, bahkan cemburu karena istrinya berdandan secantik itu.

Menyadari nada cemburu dalam suaranya, Tasya tersenyum manja. "Ada acara ramah tamah di kelompok seni, aku mau pergi cari pacar. Malam ini aku nggak pulang."

Mendengar hal itu, ekspresi wajah Ello langsung berubah drastis, membuat senyuman di wajah Tasya makin melebar. "Oh ya, Kak Ello, kalian hari ini ada rencana apa?"

Ello baru tersadar kembali, lalu menggenggam tangan Ardina. "Hari ini aku sama kakakmu mau pulang ke rumah utama."

Tasya tersenyum, lalu berbalik pergi setelah menitipkan salam untuk orang tua mereka.

Setengah jam kemudian, Ello mengantar Ardina berkendara menuju rumah utama.

Kedua orang tua Keluarga Sardi sebenarnya kurang menyukai Ardina sebagai menantu karena dia berasal dari keluarga biasa yang dianggap tidak sepadan dengan martabat keluarga mereka yang tinggi. Ditambah lagi, mereka belum memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah, sehingga setiap kali bertemu, mertuanya selalu bersikap dingin dan ketus.

Ello merasa kasihan pada Ardina, makanya dia selalu berusaha mengurangi komunikasi dengan mereka. Namun kali ini, ada kabar dari rumah utama yang menyatakan kalau kondisi kesehatan ibu Ello belakangan ini sangat memburuk, jadi dia terpaksa bawa Ardina pulang untuk menjenguk.

Begitu mereka berdua melangkah masuk, ayah dan ibu Ello, Roy dan Lisa yang tadinya sedang mengobrol sambil tertawa langsung berwajah dingin.

Ello tahu, mereka sengaja menunjukkan ketidaksukaan kepada Ardina, sehingga amarahnya langsung tersulut. "Kalau kalian tetap bersikap begini, aku sama Dina nggak bakal sudi pulang lagi ke sini."

Begitu kalimat itu terlontar, Roy memukul meja dengan sangat marah. "Lancang! Omongan apa itu! Demi seorang wanita, kamu sampai tega membuang orang tuamu sendiri?"

Ello menggenggam erat tangan Ardina tanpa berniat mengalah sedikit pun. "Aku sudah pernah bilang kalau Dina adalah belahan jiwaku. Berbicara keras di hadapannya aja aku takut bakal mengusiknya. Kalian memperlakukannya seperti ini, apa kalian sengaja mau hancurin hati anak kalian sendiri?"

"Kalau sampai ada hal seperti ini lagi, aku bakal anggap diriku nggak punya rumah lagi mulai sekarang!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status