Share

Bab 5

Author: Olenji
Ardina berbalik dengan tegas, tepat pada saat melihat Ello yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi wajah yang berubah drastis.

Detik berikutnya, pria itu bergegas menghampiri dan mencengkeram tangannya. "Dina, siapa yang mau pindah ke luar negeri!"

Jantung Ardina sempat melewatkan satu detak, dia lalu menunjuk ke arah Selly yang berada di seberang mereka.

"Selly yang mau pindah, dia mau mengajakku makan bersama sebelum pergi."

Selly menatapnya dengan terkejut. Namun, karena ini urusan rumah tangga orang lain, dia tidak bisa bertanya lebih banyak. Dia hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti alur pembicaraan, lalu bergegas pamit pergi.

Mungkin karena ekspresi wajah Ardina yang terlampau tenang, Ello sama sekali tidak pernah berpikir bahwa istrinya itu mungkin saja berbohong. Tapi, dia tetap memeluknya erat-erat dengan perasaan cemas. "Aku pikir kamu, menakuti aku aja."

Ardina menarik sudut bibirnya. "Cuma pindah ke luar negeri, kenapa reaksimu sampai berlebihan begitu?"

Jantung Ello berdegup dengan sangat kencang, dia pun menjelaskan dengan pasrah, "Dina, kamu tahu sendiri latar belakang keluargaku. Tiga generasi berkarier di militer, jadi kami nggak boleh ke luar negeri."

Dia terdiam sejenak, lalu memperingatkan berulang kali karena merasa tidak tenang, "Kalau aku melakukan kesalahan, kamu boleh pukul aku, boleh memakiku, bahkan boleh membunuhku. Tapi, kamu nggak boleh pindah ke luar negeri, karena kalau begitu aku nggak bakal bisa menemukanmu lagi selamanya. Ini jauh lebih menyakitkan daripada membunuhku."

Ardina yang didekap erat dalam pelukannya hanya tersenyum tipis. "Paham."

Mungkin karena merasakan adanya keanehan, selama beberapa hari berikutnya, Ello terus menemani Ardina dan tidak membiarkannya menjauh selangkah pun.

Bahkan ketika seorang teman masa kecilnya baru saja membuka rumah makan Eropa bergaya Rusia dan mengundangnya untuk datang bersenang-senang,

pria itu tetap bersikeras mengajaknya pergi bersama.

Ardina tidak ingin pria itu menyadari keanehan pada dirinya, jadi dia menurut dan ikut pergi bersamanya.

Begitu melangkah masuk, orang-orang di dalam langsung mengerumuni mereka.

Semua orang menyapa pasangan suami istri itu sembari mempersilakan mereka duduk di sofa.

"Kak, Kakak tenang aja makan di sini hari ini, nggak bakal ada orang yang berani ganggu."

"Benar, Kak. Kami tahu Kakak suka ketenangan, makanya tempat ini udah kami sewa penuh lebih awal."

"Ayo, silakan duduk, Kak. Buah-buahan di sini udah dicuci dan dipotong semua, sebentar lagi hidangannya datang. Semua menu andalan akan disajikan buat Kakak."

....

Melihat sikap mereka, Ello refleks mengangkat sebelah alisnya. "Sejak kapan kalian jadi pandai mengambil hati orang seperti ini?"

"Seluruh dunia juga tahu kalau Kak Ardina itu belahan jiwa Pak Ello. Kalau nggak ambil hati Kakak, mana mau Pak Ello berteman lagi sama kami?"

"Benar banget! Siapa yang nggak tahu kalau Pak Ello udah punya istri langsung lupa sama teman? Hati kami menderita, jadi kami cuma bisa ikut memanjakan Kak Dina sama Pak Ello."

Suasana seketika riuh oleh tawa semua orang. Tepat di saat suasana sedang sangat akrab, sebuah sosok bertubuh mungil tiba-tiba melangkah masuk.

Sosok itu adalah Tasya!

Manajer restoran bergegas maju untuk menghadangnya. "Maaf, Nona. Hari ini restoran kami sedang kedatangan tamu terhormat, jadi untuk sementara tidak menerima pelanggan lain."

Namun, Tasya mendorong manajer itu dan masuk tanpa memedulikan apa pun. "Kak, Kak Ello! Ternyata kalian yang menyewa tempat ini, kebetulan banget. Aku juga lagi mau makan di restoran ini, nggak keberatan 'kan kalau aku ikut gabung?"

Setelah berbicara, dia langsung berjalan mendekat dan duduk mepet di samping Ardina tanpa menunggu jawaban dari siapa pun. Kemudian, di bawah temaramnya cahaya lampu, dia menarik tangan Ello ke dalam roknya.

Tubuh Ardina sedikit gemetar, dia pun refleks melirik ke arah Ello. Dia melihat ekspresi wajah pria itu langsung berubah begitu Tasya muncul, seolah ingin mengusir wanita itu. Namun, tepat pada saat tangannya ditarik ke dalam rok, pria itu memejamkan mata dan jemari tangannya yang ramping mulai bergerak samar.

Pada saat itu, Ardina merasa napasnya tersumbat.

Dia berusaha keras mengendalikan emosinya dan pura-pura seolah tidak mengetahui apa-apa.

Di tengah makan-makan, Ardina bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Dia membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali untuk menjernihkan pikirannya, sampai sebuah suara penuh tantangan tiba-tiba terdengar di sampingnya.

"Kak, bukannya aku mau menggurui ya. Kamu itu masih muda, harusnya lebih sering berdandan dan jangan selalu kolot begitu."

Begitu Ardina mendongak, dia melihat tatapan mata Tasya yang menyiratkan sedikit rasa jijik di dalam cermin.

"Coba kamu lihat aku ...."

Wanita itu membuka mantel tebalnya, memperlihatkan pakaian dalam seksi model rubah di dalamnya.

"Katanya pria itu makhluk visual yang dikendalikan oleh bagian bawah tubuh mereka. Kamu mau bertaruh denganku nggak? Kalau aku bilang ke dia kalau aku pakai baju ini, apa setelah ini Kak Ello akan tetap menemanimu, atau dia akan ... nggak sabar buat meniduriku di sini tanpa sepengetahuanmu?"

Tubuh Ardina sedikit gemetar, dia tidak menjawab. Setelah mengibaskan sisa air di tangannya, dia kembali ke area restoran.

Tidak lama kemudian, Tasya juga masuk.

Hanya saja, saat melewati sisi tubuh Ello, dia diam-diam menjatuhkan secarik kertas ke arah pria itu.

Ello membuka dan membaca baris tulisan pendek yang seketika membuat jakunnya naik turun dan tatapan matanya meredup tajam.

Setelah itu, dia pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, memasukkan kertas itu ke dalam saku celananya, lalu tiba-tiba bangkit berdiri.

"Dina, ada urusan yang harus aku urus sebentar di luar. Kamu di sini dulu ya, aku segera kembali nanti."

Tanpa menunggu tanggapan dari istrinya, pria itu langsung melangkah pergi dengan terburu-buru.

Tidak lama setelah itu, Tasya juga pergi dengan alasan ada urusan.

Menatap punggung keduanya yang menghilang, Ardina berusaha sekuat tenaga menahan napasnya. Tapi, rasa sakit di dalam hatinya terasa bagaikan sebilah pisau tajam yang terus mengoyak dan menyayat hatinya tanpa ampun.

Dia merasakan sakit yang tajam, hingga yang ada di pikirannya hanyalah ingin menyeret Ello bersamanya ke dalam neraka, agar pria itu merasakan sakit dan penderitaan yang lebih hebat!

Hingga malam makin larut, Ello yang tadi sore berjanji akan segera kembali ternyata tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.

Teman-temannya merasa sangat canggung, mereka pun hanya bisa saling pandang dalam keheningan.

Akhirnya, salah satu dari mereka bangkit berdiri dan mengusulkan untuk mengantar Ardina pulang lebih dulu.

Mereka memberi alasan bahwa Ello mungkin sedang tertahan oleh suatu urusan.

Ardina justru merasa hal itu sangat ironis.

Selain Tasya, urusan apa lagi yang bisa menahan pria itu?

Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan keluar dari restoran dalam diam.

Teman-teman Ello mengantarnya masuk ke dalam mobil dengan sikap menjilat. Tapi, baru saja naik ke atas mobil, dia menyadari bahwa tasnya tertinggal di dalam.

Tepat saat dia hendak kembali untuk mengambil tasnya, dia justru mendengar suara helaan napas panjang yang penuh kelegaan dari dalam ruangan.

"Akhirnya Kak Ardina pergi juga! Kalau waktunya lebih lama sedikit lagi, aku pasti bakal keceplosan. Nggak tahu deh gimana caranya Pak Ello bisa berakting sehebat itu di depan istrinya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status