แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Olenji
Kaki Ardina seolah mendadak terpaku di tempat.

Namun, percakapan di dalam sana masih belum berakhir.

"Pak Ello sama sepupu Kak Ardina belum selesai juga? Ini udah berapa lama, mau lima jam ya?"

"Ngapain buru-buru sih, Pak Ello 'kan kuat banget, si Tasya itu juga pintar godain. Mereka nggak bakal keluar kalau belum main seharian."

"Tapi, mereka ini apa nggak kemalingan nyali ya? Di ruang VIP sebelah aja bisa langsung main gila sampai panas banget. Di tengah-tengah tadi aku bahkan sempat dengar suara desahan. Untung aja aku cerdik langsung nyuruh orang buat kerasin suara musik, jadinya Kak Ardina nggak sadar. Kamu nggak tahu aja seberapa tegangnya aku tadi."

"Tegang apanya, kalau kamu udah sering bantu nutupin kayak aku juga bakal terbiasa. Lagian Pak Ello akhirnya punya wanita yang pas di seleranya, jadi nggak melulu fokus sama Kak Ardina aja. Sebagai teman ya kita harus bantu dong, biar dia bisa rasain daun muda sampai puas, hahahahaha."

"Kak Ardina emang cantik sih, tapi orangnya terlalu kolot. Di ranjang kayaknya bakal kaku kayak ikan mati. Namanya juga cowok, siapa sih yang nggak suka cewek seksi yang menantang."

Kata-kata selanjutnya sudah tidak bisa didengar oleh Ardina lagi.

Telinganya berdengung hebat, dia berjalan keluar dengan pikiran yang linglung.

Ternyata semua orang sudah tahu! Hanya dia seorang yang didepak dalam ketidaktahuan!

Kelompok teman suaminya ini, di depan bersikap sangat sopan dan menghormatinya, tapi di belakang malah membantu Ello menutupi perselingkuhan, bahkan menghina dan merendahkannya secara terang-terangan seperti ini!

Hatinya seakan diremas dan dicabik-cabik hidup-hidup oleh sepasang tangan tak kasat mata, seluruh persendian tubuhnya harus menahan rasa sakit yang luar biasa.

Di luar sedang turun hujan deras, tapi dia sama sekali tidak merasakannya. Dia melangkah maju selangkah demi selangkah bagai mayat hidup yang kehilangan jiwanya.

Dia berjalan pulang sendirian menembus guyuran hujan, lalu mengunci diri rapat-rapat di dalam kamar.

Sejak hari itu, Ardina langsung terserang demam tinggi.

Ello baru pulang dan mengetahuinya keesokan hari. Saat itu Ardina sudah tidak sadarkan diri karena saking tingginya demam yang diderita, bahkan tidak bisa mengenali orang lagi.

Pria itu ketakutan setengah mati, dia langsung menggendong istrinya ke rumah sakit seperti orang gila.

Untung saja hanya flu ringan. Setelah satu hari satu malam dipasang infus, kesadaran Ardina pun akhirnya pulih kembali.

Namun, Ello terlanjur sangat ketakutan. Dia tidak hanya menyewa seluruh lantai rumah sakit, tapi setiap hari juga tidak mau mengurus pekerjaan kantor demi menjaga istrinya tanpa menjauh selangkah pun.

Sampai suatu hari, seorang bawahan masuk mengetuk pintu dan mengatakan ada seorang tokoh yang sangat penting datang berkunjung, bersikeras ingin menemuinya.

Ello mengernyitkan dahi dan baru saja hendak menolak, lalu bawahan itu bergegas membisikkan sesuatu di telinganya dengan suara lirih.

Raut wajahnya sedikit berubah, tapi pada akhirnya dia tetap melepaskan genggaman tangan Ardina. "Dina, aku .…"

Sebelum kalimat itu selesai diucapkan, Ardina sudah memejamkan matanya dan memotong ucapan pria itu dengan tenang, "Pergilah."

Melihat ketenangan di wajah Ardina, entah kenapa hati Ello mendadak berdenyut sakit.

Bukannya dia tidak menyadari adanya keanehan, tapi kebetulan saat ini dia sedang terburu-buru untuk pergi. Akhirnya dia menghibur dirinya sendiri bahwa Dina hanya sedang gusar karena baru sembuh dari sakit, dirinyalah yang berpikir terlalu berlebihan.

Dia berpesan kepada perawat untuk menjaga Ardina dengan baik, lalu berjanji kepada istrinya akan segera kembali menemani setelah urusannya selesai, sebelum akhirnya berbalik melangkah pergi.

Tiga hari kemudian, Ardina tidak kunjung melihat Ello kembali. Sebaliknya, dia justru kedatangan Tasya yang datang untuk memprovokasinya.

"Kak, aku punya kabar gembira buat kamu. Aku hamil dan mau jadi ibu. Ayah dari anak ini nggak lain adalah suamimu sendiri."

"Beberapa hari ini dia selalu menemani aku, lho. Perhatiannya ke aku benar-benar luar biasa. Kalau turun dari kasur harus digendong, makan juga harus disuapin langsung sama dia. Oh ya, kata dokter kalau kandungan udah tiga bulan udah boleh berhubungan badan lagi. Dia senang banget, malam itu juga langsung menekan tubuhku di kasur dan minta lagi dan lagi. Ditambah lagi karena udah hamil, jadi nggak perlu pakai alat kontrasepsi, dia makin gila aja mainnya. Semalaman dia bolak-balik ngajak aku nyobain puluhan posisi. Walaupun bikin aku capek banget, tapi rasanya nikmat, aku suka banget."

"Aduh, nggak sengaja keterusan ceritanya. Kakak nggak bakal marah, 'kan? Kamu juga jangan salahin Kak Ello ya, lagian dibandingin sama demam kamu, anak kandungnya tentu jauh lebih penting, 'kan?"

Perkataan yang dilontarkan Tasya sangat kejam. Jika itu terjadi di waktu normal, dia rasa dirinya akan merasa sangat tersiksa hingga ingin mati.

Namun, entah karena hatinya sudah lama mati rasa akibat rasa sakit yang bertubi-tubi, saat mendengar semua ucapan itu sekarang, dia bahkan sudah tidak bisa meneteskan air mata lagi walau hanya satu tetes.

Dia tidak mengatakan apa pun, tidak menanyakan apa pun. Dia hanya menunggu sampai Tasya pergi, barulah dia mengeluarkan perekam suara yang sedari awal sudah dinyalakan dari bawah bantalnya.

Ello, aku sangat menantikan bagaimana perasaanmu saat mendengar rekaman suara ini nanti.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status