Share

Masa Lalu

Author: Rumi Cr
last update Last Updated: 2025-11-07 14:08:58

"Bagaimana hasil pertemuan tadi?" tanya Sharman malam itu, pada Nadia, adiknya.

"Alhamdulillah lancar, Mas. Kemungkinan enggak lama lagi aku akan ke Malang. Di sana sampai hotel jadi."

"Devan serius ingin menikahiku, Dik." Sharman menatap serius ke adiknya. Adik semata wayangnya, dan menjadi keluarga satu-satunya setelah ibu mereka meninggal dua tahun yang lalu.

Nadia menghela nafasnya, "Mas Sharman pasti tahu alasanku enggan membicarakan tentang pernikahan, kan?"

"Coba bicara jujur dengan Devan, siapa tahu dia tidak mempermasalahkan masa lalumu, Dik. Mau setahun lo, dia melakukan pendekatan denganmu, masak kamu enggak sadar."

"Aku tahu, yang kutakutkan saat aku jujur, Mas Sharman akan kehilangan sahabat sebaik Mas Devan. Tapi, gini saja deh, Mas. Kalau dia memang serius ingin menikahiku. Minta dia bicara langsung denganku. Nanti aku akan bicara jujur dengannya.

"Cuma, nanti kalau dia enggak pernah main ke sini lagi, jangan salahkan aku, ya ..."

Sharman hanya tersenyum getir mendengar ucapan adiknya. Adiknya cantik, pintar dan sekarang memiliki karier yang cemerlang. Usia sudah 26 tahun. Dirinya saja dulu menikahi istrinya saat usia 22 tahun, lulus kuliah langsung menikah. Karena keluarga Indah enggak mau mereka pacaran.

"Bohong kalau kubilang enggak pernah jatuh cinta, Mas. Menjelang wisuda dulu, ada teman ingin melamarku. Kita sama-sama nyaman, dia mendapat beasiswa S2 ke luar negeri. Dia ingin mengajakku serta, saat aku jujur menceritakan keadaanku. Dirinya enggak pernah menghubungiku lagi." Nadia bercerita dengan bibir bergetar, sakit rasanya mengingat kisahnya semasa kuliah.

"Di tempat kerja sekarang, juga. Kejadian hampir barengan dengan meninggalnya ibu. Dia mengajakku bersama merintis biro karena memang orangtuanya siap modal untuk itu. Dia memintaku jadi istri, sekaligus patner. Dan, Mas Sharman pasti tahu endingnya seperti apa, temanku itu, enggak pernah main kemari lagi."

"Wildan? Jadi, dia pernah mengajakmu menikah, Dik?" Nadia hanya menjawab dengan senyuman getir.

"Sangat wajar, Mas. Ketika menikah, dia ingin yang pertama memiliki istrinya. Sedangkan kalau menikah denganku, dia tidak mendapatkan itu."

"Ingin sekali, Mas menghajar laki-laki yang telah menghancurkan hidupmu itu, Dik."

Aku tadi bertemu dengannya, Mas. Dan sayangnya dunia begitu sempit, sekalinya dia adik dari sahabat baikmu, Mas Devan.

🍁🍁🍁

"Nay, ini maket proyek yang sedang kamu kerjakan?" Pertanyaan itu menyambut Nadia saat keluar dari kamar mandi.

"Lho, Mas Devan kok bisa naik ke atas?" Tanya Nadia heran, karena memang kamarnya berada di lantai dua rumah kakaknya. Ada memang tangga yang dibuat di samping jalan tembus samping dan di atas dapur. Namun, Nadia sangsi sahabat kakaknya masuk lewat situ,

"Tadi pas Mas datang barengan mereka keluar. Sharman sendiri yang nyuruh Mas kemari lewat tangga samping. Kenapa kaget, gitu ... takut digerebek warga sini." Devan mengerling jahil, "Itu, sebenarnya yang Mas tunggu. Diminta nikahi kamu, Nadia."

"Ngaco, Mas ini! Sudah lama datang?" Nadia bertanya lagi, karena kalau datangnya berbarengan Masnya keluar, lumayan juga. Sebab pass Nadia naik ke atas tadi, kakak iparnya sudah rapi hendak pergi, kedua keponakan pun sudah anteng di teras.

"Lumayanlah, asyik juga dengerin kamu nyanyi di kamar mandi tadi."

"Aduh!" merah padam muka Nadia dengan jawaban Devan barusan. Memang lumayan lama Nadia tadi lama di kamar mandi, pulang dari lokasi proyek dengan debu yang menempel di sekujur tubuh, jadi ia langsung mandi untuk membersihkan diri.

Nadia mendekat dan duduk di sisinya Devan ikut melihat maket di atas. "Ini proyek pribadi."

"Proyek pribadi kamu?" Devan tidak melepaskan pandangan dari maket rumah berlantai dua yang belum sepenuhnya selesai dibuat oleh Nadia.

"Iya, dong. Aku mau punya rumah seperti ini, Mas. Berwarna putih, halaman berumput yang luas, dan gazebo di depan dan belakang rumah. Pagarnya jangan terlalu tinggi."

"Harusnya ada kolam renang di belakang," sambung Devan.

"Kolam renang?" Nadia mengerutkan kening. Dalam hati ia berkata, "Itu tidak masuk akal. Aku hanya ingin rumah sederhana. Maket ini saja seperti mimpi. Entah kapan aku bisa mengumpulkan uang membeli tanah seluas itu di Jakarta. Kolam renang jelas tidak termasuk dalam paket impianku, Mas Devan."

"lya, kolam renang, Sayang. Aku kan suka berenang." Devan melebarkan senyum saat melihat Nadia terpaku, ia mencoba memahami maksudnya. "Rumahmu kan berarti rumahku juga. Setelah kita menikah nanti, enggak ada lagi milikku-milikmu atau aku-kamu. Semua jadi kita. Kedengarannya bagus, ya?" Devan tersenyum sendiri dengan pikirannya.

"Menikah?" Nadia mengulang kata itu. "Mas Devan, tadi manggil aku ... sa-yang."

Devan menyipit menatap Nadia. "Iya, menikah. Usia kita makin bertambah, Nadia. Dan bohong, kalau kamu enggak tahu, kalau Mas menyukaimu selama ini."

"Mas ...."

"Kemarin sudah ketemu Papa, kan? Papa setuju Mas nikahi kamu, Nadia."

"Mas Devan, maaf aku enggak bisa?"

"Belum siap?"

"Aku enggak bisa." Tegas Nadia pada akhirnya.

"Alasannya?"

"Mas Devan bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku ...."

"Itu, bukan jawaban yang kumau, Nadia. Karena bagiku kamulah perempuan baik itu."

Nadia menggelengkan kepala, "Aku mau jujur dengan Mas Devan, sebenarnya ...."

PAKEEEETTTTTT!

Nadia bergegas berdiri menuju balkon samping untuk menyapa kurir yang mengantar paket pesanannya. "Tunggu sebentar, Mas!"

"Mas Devan turun yuk, kita lanjut ngobrol di teras saja." Nadia mengusapkan handuk ke rambutnya beberapa kali sebelum menjemurnya di pagar balkon.

Tanpa menunggu jawaban Devan, Nadia bergegas menuju tangga turun ke bawah menemui kurir yang menunggu di teras rumah kakaknya.

"Makasih, Mas." Nadia menerima paket dengan senyum sumringah.

"Sama-sama Mbak Nadia yang senyumannya menggetarkan jiwa raga ...." jawab Kang Paket memasang senyum ala iklan peps0dent

"Halaah, Mas ini, bisa saja! Makasih banyak lo, Mas!"

"Siap, sama-sama!" jawab Kang Paket sembari melambai menaiki motornya.

Tak lama Devan keluar dari pintu sambil menjawab telepon. "Iya, benar ... langsung masuk saja, bilang satpam mau ke blok B. Kamu lurus, gang kedua langsung besok. Rumah kedua, sebelah kanan. Kami lagi di teras, ini."

Nadia mengernyit menatap Devan, "Siapa, Mas?"

"Bryan, kebetulan dia lagi jalan, sekalian tak minta jemput kemari."

"Tadi, Mas kemari naik apa?"

"Ojol."

"Lha, kok tumben?"

"Tadi, mama minta tolong serviskan mobilnya. Karena dekat dari sini, mampir sekalianlah. Mau tanyain presentasimu kemarin."

"Oh, begitu ... eh, sebentar tadi yang mau mampir kemari, siapa, Mas?" tanya Nadia seolah tersadar akan satu hal.

"Adikku Bryan. Sekalian kalian ngobrolah, nanti kan, dia yang ngatur proyek hotel di Malang, itu."

Tin! tin! tin!

Yaa Tuhan, kenapa harus bertemu dengannya di rumah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SAHAM 50 PERSEN    Dia Milikku

    Tanpa mendebat lagi, Raditya memilih pergi. Sekalipun hatinya tidak rela. Ia harus sadar diri, tuan rumah menginginkan dirinya untuk tak bertamu kembali.Setelah mobil Raditya meninggalkan rumahnya. Nadia langsung ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bryan. "Len!" Panggil Nadia pada baby sitter kedua anaknya."Iya, Bu." Leni datang dari arah dapur. Wanita itu, masih mengenakan apron, karena memang sementara membuat sayur untuk makan siang anak-anak."Coba telepon Sindy, jam berapa dia pulangnya. Hari ini, Zieda ingin bertemu dengan adik-adiknya. Sekalian suruh dianya, mampir ke rumah Mas Sharman untuk mengambil Zieda.""Baik, Bu Nadia."Nadia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Bryan yang mengikutinya dari tadi. "Pulanglah. Aku enggak mau melihatmu, saat ini," tegas Nadia sembari mengisyaratkan dagu lancipnya ke arah pintu."Aku akan bertemu anak-anak sebentar. Lalu pergi," balas Bryan dengan menghela napas beratnya. Pria itu segera berlalu menuju ruang keluarga dimana kedua anakn

  • SAHAM 50 PERSEN    Aku Mencintaimu, Dia

    "Aku yakin, di luaran sana. Banyak gadis, yang bersedia menjadi pendampingmu. Mulailah hidup baru.""Lalu, kau akan membuka lembaran baru bersama Raditya. Apakah begitu, yang kau mau, Dia?" Bryan menatap sendu ke arah wanita yang digenggam kedua tangannya itu."Kenapa membalikkan perkataanku. Kau pikir semudah itu, aku melangkah untuk membuka lembaran baru, Yan." Nadia menarik kedua tangannya dari genggaman Bryan. Lantas berdiri, berjalan ke arah jendela kamarnya. "Fokusku sekarang hanya anak-anak, Yan. Aku ingin berkarier kembali. Dengan pundi uang yang terkumpul sekarang, aku ingin mendirikan biro arsitek."Menikah, dulu kupikir setelah kita bercerai. Aku akan menikah dengan pria yang kusukai dan dia juga menyukaiku. Tapi, dengan kondisiku sekarang, ada Raihan dan Rayyan. Kurasa lebih baik seperti ini, saja.""Aku juga akan melakukan hal yang sama. Raihan dan Rayyan menjadi prioritasmu, mereka berdua juga akan menjadi prioritasku saat ini. Kau e

  • SAHAM 50 PERSEN    Jangan Kau Hadirkan Orang Lain

    Sore yang cerah, Bryan datang menjenguk Raihan dan Rayyan seperti biasa. Ia membawa sebuah mobil-mobilan remote control terbaru yang pasti akan disukai kedua putranya. Saat ia memasuki pekarangan rumah, ia melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir di belakang mobil Nadia.Jantung Bryan berdebar, ada perasaan tak nyaman dalam hatinya. Ketika sampai di teras, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya bergejolak.Di ruang keluarga, Raditya duduk di sofa, mengobrol akrab dengan Nadia. Raihan dan Rayyan tampak asyik bermain dengan mobil-mobilan baru. Tentu, itu pemberian Raditya. Sebuah kotak kue favorit Nadia juga tergeletak di meja, anggur hijau dan minuman dingin di gelas yang hampir habis.“Bryan?” sapa Nadia, terkejut melihat kedatangan mantan suaminya.Raditya menoleh, senyumnya pun terukir di bibirnya. "Hai, Yan ... apa kabar, lama kita tidak berjumpa."Bryan menatap Raditya tajam. “Untuk apa kamu kemari, Dit?" tanya Bryan dengan tata

  • SAHAM 50 PERSEN    Gelisah

    Bryan duduk di ruang kerjanya. Berkas-berkas terbuka tapi tak satupun disentuh. Yang terngiang di kepalanya hanya bayangan Sindy semalam dengan gaun tipis, senyum genit, langkah mendekat yang membuat darahnya mendidih. Ia benci bukan main, bukan karena tergoda, melainkan karena merasa direndahkan oleh adik Septi itu.Akhir pekan seharusnya menjadi momen kebahagiaan bagi Bryan, kesempatan untuk menebus waktu yang hilang bersama Raihan dan Rayyan. Namun, karena kejadian semalam membuatnya enggan untuk ke rumah Nadia, bahkan dengan alasan mengembalikan mobil Nadia yang ia bawa.Gadis itu, sudah dianggap adik oleh Nadia. Kenapa sampai berani menggodanya, dari semalam pertanyaan tersebut berkelibatan terus di kepalanya.Setelah makan malam bersama kedua orangtuanya, Bryan sengaja meminta waktu mamanya untuk bicara berdua."Anakmu lagi gelisah lagi, itu, Ma ..." sindir Pak Narendra sebelum berlalu menuju teras samping memberi waktu pada istri dan putran

  • SAHAM 50 PERSEN    Godaan

    Suatu malam, setelah Raihan dan Rayyan terlelap, Bryan kembali ke kamar tamu. Ia baru saja selesai membaca cerita pengantar tidur untuk anak-anaknya. Saat berbalik menutup kamar tamu ia dikejutkan dengan kemunculan Sindy dari kamar mandi.Adik Septi itu, membiarkan rambut panjangnya tergerai, dan ia memakai daster tipis dengan belahan dada rendah. Di tangan Sindy ada segelas minuman berwarna merah.“Aku bawakan minum untuk Mas Bryan," kata Sindy dengan suara manja.Bryan merasa risih. “Apa yang kau lakukan Sindy. Cepat keluar dari sini.”Sindy melangkah mendekat. "Yakin, Mas Bryan ingin aku keluar dari sini. Aku takut kepergok Mbak Nadia kalau aku keluar sekarang." Dengan berani Sindy mengelus pipi hingga rahang Bryan.Sindy tersenyum. “Mas Bryan sampai kapan akan menunggu Mbak Nadia. Sedangkan Mbak Nadia sepertinya sudah mulai nyaman dengan Mas Radith.""Apa maksudmu, Sindy?""Mas Bryan enggak usah pura-pura enggak tah

  • SAHAM 50 PERSEN    Kami Bercerai

    Setelah perceraian mereka resmi, Bryan dan Nadia berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan demi kedua anak mereka, Raihan dan Rayyan. Mereka sepakat untuk merawat kedua anak itu bersama. Kadang kala di akhir pekan, Bryan akan menginap di rumah Nadia di Andalusia. Tentunya Bryan beristirahat di kamar tamu bukan kamar utama lagi.Siang itu, Nadia membawa kedua anaknya ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Raihan dan Rayyan pada dokter anak langganan keluarganya. Dokter Rifia, SpA"Nadia!" Panggil seseorang yang suaranya masih familiar di telinga Nadia. "Radith." Nadia tersenyum menatap teman karib sekaligus tetangganya di rumah Madiun."Aku enggak nyangka bakal bertemu kembali denganmu di rumah sakit, ini." Radith menjabat erat tangan kanan sahabatnya itu."Sudah dua hari anak-anak demam. Menunggu nanti malam periksa ke rumah Dokter Rifia kok rasanya kelamaan. Makanya, kubawa kemari," ujar Nadia seraya menunjuk ke arah Raihan dan Rayyan ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status