LOGIN
“Maaf terlambat, Pak,” ujar Nadia. “Ada kecelakaan yang membuat macet sehingga taksi kami tidak bisa lewat.” Itu penjelasan untuk semua, tetapi Nadia memilih melihat ke Pak Yuda, bosnya.
“Tidak apa-apa.” Ayah laki-laki itu menjawab. Dia berdiri dan menyongsong Nadia. “Kenalkan, ini klien kita, Nad.” Pak Yuda ikut berdiri. Dia mengerutkan kening melihat gestur klien mereka. “Pak Narendra dan Pak Bryan.” Nadia tersenyum menatap wajah laki-laki paruh baya yang sudah berdiri di hadapannya itu. Buru-buru mengulurkan tangan sebagai bentuk hormatnya. “Nadia, Pak.” Nadia menyebut nama. Nadia kembali menyebut namanya saat laki-laki yang lebih muda, anaknya, ganti mengulurkan tangan. Tatapan terpaku seolah tak percaya dengan penglihatan membuat pria tersebut enggan melepaskan tangan Nadia. "Bryan ..." instrupsi Pak Narendra pada putra keduanya. “Kita mulai presentasinya sekarang, Pak?” Nadanya lebih mirip perintah daripada pertanyaan. Tanpa menunggu persetujuan Pak Yuda, Nadia membantu Mega menyiapkan bahan presentasi. Meletakkan maket yang dibuatnya di atas meja, sambil menunggu Mega menyetel in focus dan laptop. Presentasi itu dihadiri lima orang dari pihak klien. Selain Pak Narendra dan Bryan, ada tiga orang pria lain yang kemudian gencar mengajukan pertanyaan, berbanding terbalik dengan dua orang pemilik hotel yang hanya diam menyimak. Walaupun Nadia merasakan pandangan putra kedua Pak Narendra tak lepas dari wajahnya. Dia tak ingin memandang balik, pada laki-laki itu. Presentasi itu berlangsung sekitar dua jam. Dua jam paling lama dalam hidupnya. Nadia mengembuskan napas lega begitu basa-basi usai presentasi berakhir. Bergegas membantu Mega setelah bersalaman kembali dengan para klien itu. Membiarkan telapak tangannya kembali bersentuhan dengan laki-laki itu meskipun tidak ingin. Sudut mata Nadia melihat laki-laki itu belum beranjak dari kursinya. Ayahnya sudah berdiri, sedang terlibat percakapan dengan Pak Yuda. Itu kesempatannya. Nadia menghampiri mereka sambil menyeret Mega yang kebingungan. “Kami duluan, Pak.” Nadia memaksakan senyum pada Pak Yuda. Lalu menoleh kepada Pak Narendra, ayah laki-laki itu. “Permisi, Pak.” “Nadia, Devan titip salam untukmu." Ucapan Pak Narendra membuat Nadia menyunggingkan senyum. Sungguh, andai dia tahu lebih awal siapa sejatinya sahabat kakaknya itu. Tentu ia tak akan meminta bantuan untuk merekomendasikan biro tempatnya bekerja bersaing dengan biro arsitek lainnya memenangkan tender pembangunan hotel milik keluarga Narendra. Ada penyesalan di sana. Devan mungkin tidak pantas mendapatkan sikap kasarnya karena bukan dia yang mengiris hati Nadia dengan sembilu sampai menjadi potongan-potongan kecil. Namun itu tidak penting lagi. Nadia tidak ingin bersinggungan dengan siapa pun yang punya pertalian dengan laki-laki itu, sebaik apa pun sahabat dari kakaknya tersebut. “Terima kasih, Pak. Nanti saya akan mengucapkan rasa terima kasih, karena rancangan dari biro kami dipilih oleh perusahaan Pak Redra." "Sebenarnya proyek pembangunan hotel ini, dibawah naungan Petra, perusahaan milik Bryan, adik Devan. Nantinya kamu akan bekerjasama dengannya," jawaban dari Pak Narendra membuat Nadia memaksakan senyumnya pada pria yang tak ingin dijumpai di sisa umurnya itu. Devan sudah memberitahu tentang hal ini, seminggu yang lalu. Dari sanalah Nadia mencari tahu seberapa besar perusahaan milik keluarga Narendra. Petra Jaya merupakan cabang dari perusahaan induk Adijaya pemilik beberapa hotel berbintang di Jakarta. Saat membaca profil keluarga Narendra, ingin rasanya dia menghilang supaya tidak bertatap muka dengan adik Devan, Bryan Putra Narendra. Nadia menarik Mega meninggalkan tempat itu. Nadia mulai kekurangan oksigen dan merasa sulit bernapas. “Mbak Nadia—” Mega yang kesulitan menyesuaikan dengan langkah Nadia yang panjang, berkata dengan ragu, “Itu dipanggil...” Gadis ini tidak bodoh. Dia pasti sudah mencium ada yang tidak beres antara Nadia dan klien mereka, dari sikapnya yang kaku. Nadia bukannya tidak mendengar suara laki-laki itu yang memanggil namanya, tetapi dia menulikan telinga. “Jangan hiraukan dan jangan berbalik!" Ancam Nadia mempercepat langkahnya. Begitu tiba di depan lift. Ia pun menggerutu kembali. "Ampun! kenapa lift ini, lama sekali bukanya." Untunglah Nadia berhasil menghindari laki-laki itu. Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka masuk ke dalam lift. Saat celah yang tersisa dari pintu lift yang bergerak menutup tidak memungkinkan Bryan memaksa masuk. Di celah kecil itu, pandangan mereka saling mengunci. Nadia harap pesan kebencian yang matanya kirimkan dapat diterima dengan baik. Hanya saja, dia kenal dengan baik. Bagaimana watak dari pria yang mengejarnya tadi. Menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya. Nadia terus menarik napas panjang, tetapi tidak terasa melegakan. Tangannya spontan menyentuh dada, mencoba menutup perih yang mendadak terasa menyakitkan. Tuhan, tolong aku. Setelah delapan tahun berlalu, kenapa Engkau pertemukan aku dengannya lagi. . Next...Pandangan Nadia menelusuri ruang tamu penthouse Bryan. Usai resepsi mereka berdua langsung masuk lift menuju kediaman Bryan selama ini."Sini aku bantu lepasin bajunya, pasti kamu mau segera mandi bersihkan badan, kan. Semua barang sudah dirapikan di kamar, Dia." Nadia tidak menolak bantuan yang ditawarkan pria yang sudah resmi menjadi suaminya kembali itu. Nadia langsung mandi di kamar utama, ia tersenyum simpul saat melihat ranjang yang dihias cantik sedemikian rupa. Mama mertuanya menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin sebagai rasa bahagia mereka bersatu kembali..“Mm … kalau kita enggak terlahir di dunia, kita ngapain, ya?”Bryan menatap wajah wanitanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang terlintas di kepala istrinya, "Enggak ada. Benar-benar kita enggak ngapa-ngapain, kayaknya.”Nadia menghela napas pendek. “Terus kenapa kita jadi lahir, ya? Kalau enggak lahir, kan enak. Kita enggak perlu pusing mikirin banyak permasala
Bryan berdiri di samping Nadia, sesekali melirik wanita itu. Hatinya menghangat melihat bagaimana mata Nadia berbinar tiap kali menatap bayi. Ada kelembutan yang tak pernah pudar dari dirinya, kelembutan seorang ibu.“Kalian bermalam di sini saja, Nay? Besok pagi baru berangkat pulang,” tawar Bu Riska, setengah berharap.Nadia menggeleng lembut. “Gampang itu, Bi … habis dari sini, kita mau ziarah ke makam nenek, ayah, ibu. Lalu mampir ke tempat Buliknya Bryan.”“Oh, begitu … ini, kalian pergi berdua. Jangan-jangan sudah resmi balikan, ya?” goda Bu Riska dengan senyum semringah.Bryan tertawa kecil. “Belum. Ponakan Bibi masih belum mau saya halalin,” jawabnya santai dan sukses mengundang gelak tawa orang-orang di ruang tamu.“Ih, kamu ini, apa sih, Yan!” Nadia mencubit lengan pria itu gemas.“Lha, bener, kan … apa yang kubilang barusan. Dari dulu, kamu yang enggan kuhalalin,” bisik Bryan tepat di telinga Nadia.Nadia mena
“Waktu Papa bilang padaku … tentang Zyan,” ucap Bryan akhirnya.Tubuh Nadia seketika menegang.“Kalian semua sudah tahu tentang Zyan?" suaranya nyaris tak terdengar. Iya, ternyata tebakan keluarganya bahwa keluarga Narendra sudah tahu siapa Zyan terbukti benar.Bryan memejamkan mata sejenak, lalu berbalik menghadap Nadia. “Papa dan mama sudah lama tahu, bahwa Zyan adalah anak kita. Aku sendiri mulai sadar saat mendonorkan darah padanya. Dan sejak itu, aku merasa seperti manusia paling berdosa di dunia ini.”Ruangan seketika terasa sunyi, hanya tersisa dengung AC yang mengisi sela-sela keheningan.Nadia menunduk. Tangannya gemetar di pangkuannya. “Jadi … selama ini, sikapmu berubah karena itu.”Bryan mengangguk. “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setiap kali melihat Zyan, aku ingin memeluknya, mengaku sebagai ayahnya … tapi aku juga ingat ucapan Papa, untuk menghormati keputusan kalian.”Ia melangkah mendekat. “Dan
Bu Sinta datang ke penthouse Bryan tanpa memberi kabar. Ia mendapati anak bungsunya duduk di balkon menatap langit Jakarta tanpa bintang yang terlihat jelas.“Kamu kenapa akhir-akhir ini, terlihat murung?” tanya Bu Sinta lembut. Ia merasakan ada sesuatu dengan putranya.Bryan menggeleng pelan, pandangannya jauh. “Enggak ada apa-apa, Ma.""Baiklah, kalau belum mau cerita dengan mama. Bry ... Nadia sudah memberikan lampu hijau untuk kembali denganmu. Kenapa sekarang, kamu seolah menjaga jarak dengan Nadia?” tanya Bu Sinta menatap dalam putra bungsunya itu. Ia tahu betul gejolak di hati anaknya.Bryan menunduk. Ia tak bisa berbohong pada ibunya. “Aku masih belum bisa berdamai sama diriku sendiri, Ma. Mengingat yang kulakukan dulu pada Nadia, itu membuatku merasa sesak. Aku mencintai Nadia, tapi ... kalau hidup denganku membuatnya tak bahagia. Aku juga tak menginginkan hal itu. Entah, trauma itu ... masih ia rasakan atau sudah hilang.""Bagai
Beberapa hari setelah operasi yang menegangkan itu, kondisi Zyan mulai membaik. Luka di kepalanya menutup sempurna, dan ia sudah bisa melakukan aktivitas walau pelan bisa dilakukan sendiri. Selebihnya, hasilnya sangat baik, sebuah keajaiban yang melegakan semua orang.Nadia menghela napas lega, rasa syukur membanjiri hatinya. Sejak Zyan tersadar dari ruang ICU, remaja itu sudah tak banyak bicara. Ia lebih banyak diam dan menatap jendela rumah sakit, memandangi langit di luar jendela. Bryan selalu datang, namun tak pernah benar-benar masuk ke dalam kamar. Kadang ia berdiri di balik kaca ruang perawatan, sekadar memastikan keadaan Zyan.Setiap kali Nadia secara tak sengaja memergoki bayangan pria itu, sosok tinggi yang berdiri kaku di ambang pintu. Hatinya berdesir aneh. Ia bersyukur atas kepedulian Bryan pada keluarganya. Suatu sore, dokter menyarankan agar Zyan dibawa ke Jakarta untuk menjalani terapi lanjutan dan observasi neurologi jangka panjang. Sharman mengangguk cepat, menyetu
“Siap, Pak?” tanya perawat ramah.Bryan mengangguk, menatap jarum yang akan menembus kulitnya. Saat itu, pintu ruang donor terbuka. Pak Narendra masuk, wajahnya tersenyum lega.“Bryan,” sapa Pak Narendra.Bryan terkejut. “Papa? Kenapa Papa bisa kemari?""Untuk melihat keadaan Zyan. Tadi, sebenarnya mama lihat taksi kalian waktu kami mau mau gerbang perumahan. Saat mamamu menghubungimu tadi, Papa sudah persiapan boarding.""Oh, begitu ... Papa ke ruangan ini, mau donor darah untuk Zyan juga."“Iya,” ujar Pak Narendra singkat, lalu duduk di kursi donor sebelahnya. “Darah yang diperlukan dua kantong lagi. Pas, kan?”Bryan menatap ayahnya, ada banyak pertanyaan di matanya, namun ia memilih diam. Jarum suntik menembus kulitnya, cairan merah pekat mulai mengalir ke kantong darah. Ia melirik ayahnya yang terlihat tenang, seolah ini adalah hal biasa bagi mereka berdua.Setelah proses donor selesai, Bryan dan Pak Narendr







