共有

Undangan

作者: Rumi Cr
last update 最終更新日: 2026-01-13 14:00:39

"Acara nikahan mereka dimana? Malang atau Jakarta?"

Nadia mengambil undangan yang diletakkan di atas meja tadi. "Eh, di Madiun. Berarti di rumah Radith. Bisa jadi acara mereka digabung, Yan karena Adelia dan Bibi sekarang, kan memang tinggal di rumah kami yang di Madiun itu.

"Sebenarnya, itu ... rumah yang kami tempati itu, rumah nenek dulunya. Cuma, karena Paman Alby pernah gadaikan sertifikat, dan rumah hampir kesita. Lalu, ibu yang tebus. Jadi, atas kesepakatan bersama. Rumah itu, jadi milik ibu. Ayah juga yang renovasi bangunan rumah nenek." Nadia menjelaskan silsilah rumah yang ditempati keluarganya yang sekarang ditempati oleh Adelia dan bibinya, Bu Riska.

Bryan menatap Nadia dengan senyuman. Bisa bersama membangun biro dengan belahan jiwanya, suatu hal yang sangat luar biasa baginya. "Nanti kita ajak anak-anak menghadiri pernikahan mereka di Madiun, MamDi."

"Kalau ajak anak-anak, berarti sepaket dengan baby sitter mereka, Yan. Belum lagi, k
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Liliya Damay Fams
kelanjutannya donggg,,,
goodnovel comment avatar
Bunga Melati
maksudnya pak alby ayah dari sikembar gitu ta thorr
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • SAHAM 50 PERSEN    Pernikahan Kedua

    “Septi memilih pergi. Tapi, tidak menuruti keinginanmu untuk menggugurkan kandungannya waktu itu.”Deg.Kalimat itu menghantam dada Pak Alby seperti palu godam. Wajahnya seketika pucat pasi. Tangannya bergetar. Pak Narendra melanjutkan ucapan, dingin dan penuh tekanan. “Takdir membawanya bertemu dengan Nadia saat bersalin. Kemudian kecelakaan itu, terjadi bersamaan Nadia harus kehilangan bayi Bryan dan Adelia."Pak Alby terduduk, wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. “Yaa Tuhan … apa ini semua… hukuman untukku?”Pak Narendra menepuk bahu Pak Alby. “Aku tidak minta kamu selamanya bertahan di Petra, Alby. Aku hanya minta, tunggulah sampai aku menemukan pengganti yang tepat. Kamu tetaplah di Petra dulu. Ini bukan hanya tentang bisnis. Ini tentang darah dagingmu sendiri.”Suasana ruangan membeku. Hanya suara napas tersengal Pak Alby yang terdengar. Rahasia yang dikira telah terkubur bertahun-tahun, ternyata sudah diketahui oleh mantan besannya.🍁🍁🍁Acara resepsi pernikahan Raditya dan

  • SAHAM 50 PERSEN    Undangan

    "Acara nikahan mereka dimana? Malang atau Jakarta?"Nadia mengambil undangan yang diletakkan di atas meja tadi. "Eh, di Madiun. Berarti di rumah Radith. Bisa jadi acara mereka digabung, Yan karena Adelia dan Bibi sekarang, kan memang tinggal di rumah kami yang di Madiun itu."Sebenarnya, itu ... rumah yang kami tempati itu, rumah nenek dulunya. Cuma, karena Paman Alby pernah gadaikan sertifikat, dan rumah hampir kesita. Lalu, ibu yang tebus. Jadi, atas kesepakatan bersama. Rumah itu, jadi milik ibu. Ayah juga yang renovasi bangunan rumah nenek." Nadia menjelaskan silsilah rumah yang ditempati keluarganya yang sekarang ditempati oleh Adelia dan bibinya, Bu Riska.Bryan menatap Nadia dengan senyuman. Bisa bersama membangun biro dengan belahan jiwanya, suatu hal yang sangat luar biasa baginya. "Nanti kita ajak anak-anak menghadiri pernikahan mereka di Madiun, MamDi.""Kalau ajak anak-anak, berarti sepaket dengan baby sitter mereka, Yan. Belum lagi, k

  • SAHAM 50 PERSEN    Kerja dengan Mantan

    Satu Tahun KemudianSatu tahun sudah berlalu sejak perdebatan panas itu. Waktu berjalan tanpa kompromi, namun dalam diam ia menyisakan jejak baru bagi Nadia. Kedua anak kembarnya, Raihan dan Rayyan, kini berusia tiga setengah tahun. Usia yang sedang lincah-lincahnya. Mereka berdua sudah mulai sekolah.Biro Arsitek yang Nadia rintis akhirnya berdiri tegak, sesuai rencana dan angannya selama ini. Awalnya ia berpikir membuka biro dengan kantor pemasaran yang sederhana. Namun, biro yang didirikan disokong langsung oleh Pak Narendra dibawah naungan Adijaya Grup.Nadia menjabat sebagai Direktur Utama. Dan sudah dipastikan dari pihak Adijaya, mantan suaminya ditunjuk langsung sebagai CEO oleh Pak Narendra. Keputusan itu, murni diambil dengan mempertimbangkan kemampuan Bryan. Putra kedua Pak Narendra memang punya kapasitas besar untuk memimpin, sementara Nadia punya visi kuat yang ingin diwujudkan.Hari itu, di ruang meeting lantai dua. Nadia bersama Brya

  • SAHAM 50 PERSEN    Perasaan Radith

    Nadia keluar dari poli KIA, menggendong Ozam yang baru selesai imunisasi. Wajah mungil bayi tiga bulan itu masih sedikit memerah, sesekali merengek meski Nadia sudah menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.Bryan berjalan di belakang, menenteng tas perlengkapan bayi dan botol ASIP. Pria tampan itu, nampak tenang, cool, tapi tatapannya tak bisa jauh dari Nadia. Memang bukan tatapan seorang suami, melainkan tatapan lelaki yang tak pernah bisa benar-benar melepaskan. Meski status mereka kini hanya mantan.Di depan lobi, tepat pintu masuk Raditya sudah menunggu. Ia bersandar di mobilnya. Begitu melihat Nadia, ia langsung melambaikan tangan. Nadia berpaling sekilas ke arah Bryan.“Aku butuh bicara sebentar sama Radith, Yan. Mungkin di restoran depan itu," ucap Nadia lirih.Bryan terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia tak mengucap protes. “Jangan lama,” ujarnya singkat.Nadia mengangguk. "Tolong ambilkan gendongan Ozam, di dalam tas. Biar dia merasa nyaman dalam gendonganku."Bryan mengambilk

  • SAHAM 50 PERSEN    Dia Milikku

    Tanpa mendebat lagi, Raditya memilih pergi. Sekalipun hatinya tidak rela. Ia harus sadar diri, tuan rumah menginginkan dirinya untuk tak bertamu kembali.Setelah mobil Raditya meninggalkan rumahnya. Nadia langsung ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bryan. "Len!" Panggil Nadia pada baby sitter kedua anaknya."Iya, Bu." Leni datang dari arah dapur. Wanita itu, masih mengenakan apron, karena memang sementara membuat sayur untuk makan siang anak-anak."Coba telepon Sindy, jam berapa dia pulangnya. Hari ini, Zieda ingin bertemu dengan adik-adiknya. Sekalian suruh dianya, mampir ke rumah Mas Sharman untuk mengambil Zieda.""Baik, Bu Nadia."Nadia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Bryan yang mengikutinya dari tadi. "Pulanglah. Aku enggak mau melihatmu, saat ini," tegas Nadia sembari mengisyaratkan dagu lancipnya ke arah pintu."Aku akan bertemu anak-anak sebentar. Lalu pergi," balas Bryan dengan menghela napas beratnya. Pria itu segera berlalu menuju ruang keluarga dimana kedua anakn

  • SAHAM 50 PERSEN    Aku Mencintaimu, Dia

    "Aku yakin, di luaran sana. Banyak gadis, yang bersedia menjadi pendampingmu. Mulailah hidup baru.""Lalu, kau akan membuka lembaran baru bersama Raditya. Apakah begitu, yang kau mau, Dia?" Bryan menatap sendu ke arah wanita yang digenggam kedua tangannya itu."Kenapa membalikkan perkataanku. Kau pikir semudah itu, aku melangkah untuk membuka lembaran baru, Yan." Nadia menarik kedua tangannya dari genggaman Bryan. Lantas berdiri, berjalan ke arah jendela kamarnya. "Fokusku sekarang hanya anak-anak, Yan. Aku ingin berkarier kembali. Dengan pundi uang yang terkumpul sekarang, aku ingin mendirikan biro arsitek."Menikah, dulu kupikir setelah kita bercerai. Aku akan menikah dengan pria yang kusukai dan dia juga menyukaiku. Tapi, dengan kondisiku sekarang, ada Raihan dan Rayyan. Kurasa lebih baik seperti ini, saja.""Aku juga akan melakukan hal yang sama. Raihan dan Rayyan menjadi prioritasmu, mereka berdua juga akan menjadi prioritasku saat ini. Kau e

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status