Share

03. Ke Bidan

Author: HaniHadi_LTF
last update Last Updated: 2025-12-01 14:57:24

Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.

Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.

Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.

“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.

Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.

“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.

“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.

Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya dengan semestinya. Ia hanya selalu dituntut untuk menurut dan diam.

“Kamu duduk belakang,” kata Renji begitu mereka sampai di depan mobil.

Nilna terdiam sejenak mendengar perintah itu. Ia hanya berdiri kaku menatap pintu mobil yang masih tertutup. Tangannya terangkat ragu menyentuh gagang pintu yang terasa asing.

“Cepet masuk,” desak Renji yang sudah duduk di dalam kursi kemudi.

Nilna menelan ludah. Ia menarik gagang pintu mobil, tapi tak ada pergerakan di sana. Pintu tetap tertutup. Sekali lagi mencoba, tapi hasilnya sama.

Nilna, memang tak tahu cara membuka pintu mobil. Meskipun ini memang kali kedua ia naik mobil Renji selama menjadi istri. Pertama kalinya adalah ketika ia diboyong ke rumah ini, tapi saat itu Renji yang membukakan pintu. Bahkan, Nilna juga tetap duduk di bangku depan, bukan di belakang seperti sekarang.

“A–aku gak bisa buka pintunya, Mas,” lirih Nilna sambil menatap Renji.

Renji berdecak kesal, lalu menekan tombol di balik pintu kemudi untuk membuka pintu belakang.

“Udah lama hidup sama aku, tapi masih aja gak bisa beradaptasi. Bener-bener bikin malu,” gerutu Renji yang jelas bisa didengar oleh Nilna.

Setelah masuk ke dalam mobil, Nilna hanya bisa diam. Meskipun hatinya bergemuruh, ia tak bisa melakukan apa-apa.

Mobil melaju agak cepat hingga membawa mereka sampai di tempat praktik bidan yang tak jauh dari rumah mereka.

Sementara Renji menunggu di mobil, Ayaka membawa Nilna masuk untuk mengambil antrian. Nilna tak banyak bertanya kenapa Renji tidak ikut masuk, ia tahu pertanyaannya hanya akan dijawab dengan pedas.

Sampai akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, kini tiba giliran Nilna untuk diperiksa.

“Loh, Bu Ayaka, kenapa pakai antre segala? Kita ini kan tetangga, lain kali langsung hubungi saya biar langsung saya tangani,” sapa Bu Rein, bidan yang bertugas, dengan cukup ramah begitu melihat Ayaka masuk ke dalam ruangan.

Nilna hanya berdiri diam di belakang Ayaka, tak berani bersuara. Bahkan, ketika Ayaka telah lebih dulu duduk di kursi pasien, Nilna masih diam berdiri.

“Aduh, Bu, gak enak juga saya kalau begitu. Pasien Bu Rien ini kan pasti banyak,” jawab Ayaka dengan senyum yang sama sekali tak pernah muncul saat bicara dengan Nilna.

“Ah, kayak sama siapa aja, Bu Ayaka ini.” Bu Rein tertawa kecil, membuat suasana sedikit lebih cair, meskipun tidak begitu berlaku untuk Nilna. Bu Rein menatap Nilna yang sejak tadi tampak berdiri canggung sejenak, lalu berkata, “Duduk dulu, Mbak.”

Akhirnya, setelah menoleh ke arah Ayaka sejenak, Nilna duduk dengan perlahan di samping mertuanya.

“Oh iya, jadi ini keperluannya untuk periksa apa, Bu?” tanya Bu Rein dengan profesional.

“Ini …” Ayaka menyodorkan kertas kecil berwarna putih kepada Bu Rein. Sementara Nilna, hanya bisa diam dan memperhatikan semua itu.

Begitu menerima kertas itu, Bu Rein tampak sedikit kaget. “KB? Siapa yang mau KB, Bu?”

Pun dengan Nilna. Ia juga sama terkejutnya mendengar itu. Sebelumnya, ia pikir hanya untuk diperiksa karena demam itu. Atau, paling-paling untuk periksa soal kesiapan kehamilan.

“Bu …” lirih Nilna pada Ayaka. Namun, Ayaka hanya menatapnya sekilas, tapi cukup tajam hingga membuatnya kembali terdiam.

“Ini, saya mengantar ART saya yang mau KB. Katanya KB terakhirnya sudah mau habis masanya. Jadi, daripada harus balik ke bidan di kampung yang jauh, lebih baik saya antar ke sini saja,” jelas Ayaka sambil sesekali melirik Nilna.

Nilna tertegun. Dadanya serasa mengempis.

KB? Sejak kapan keputusan itu jadi miliknya orang lain?

Tatapan Nilna terangkat ke arah mertuanya, penuh keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan. Bukan hanya soal KB yang baru pertama kali ia dengar, tapi juga kata ART yang menusuk lebih dalam.

Begitu mudahnya statusnya dilucuti, seolah pernikahan yang meskipun masih siri itu tak pernah ada.

Hati Nilna bergetar, marah bercampur perih. Namun Nilna tahu, suaranya tak akan dianggap. Lagi-lagi, ia hanya bisa diam.

Sejenak Nilna merasa semakin menyesal memilih jalan pernikahan ini. Namun, sekarang mundur pun tak bisa.

“Oh begitu.” Bu Rein mengangguk pelan, lalu menatap Nilna dengan senyum tipis. “Ini ART-nya cantik juga ya, Bu.”

Ayaka tersenyum tipis, sambil melirik Nilna. “Ah, iya, Bu.”

Nilna duduk kaku saat Bu Rein mulai menyuntikkan cairan itu. Jarum suntik itu terasa seperti keputusan yang dipaksakan, bukan sekadar alat medis. Saat cairan dingin masuk ke lengannya, dadanya ikut terasa sesak, bahkan mengalahkan rasa takutnya terhadap jarum suntik.

Selesai sudah. Nilna menatap lengannya sekilas, lalu menunduk. Ia sadar, bahkan atas tubuhnya sendiri, kini ia tak pernah benar-benar punya kuasa. Dan rasa itu menyakitkan, lebih dari tusukan jarum apa pun.

Setelah itu, Nilna berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan menuju mobil, meninggalkan Ayaka yang masih mengobrol dengan Bu Rein.

Dengan perasaan yang campur aduk, Nilna langsung masuk setelah pintu mobil dibuka dari dalam oleh Renji.

“Mas, kenapa gak bilang kalau aku akan di-KB?” tanya Nilna tanpa ragu.

Renji menoleh sekilas, lalu mendengus pendek.

“Memang siapa yang mau punya anak dari kamu?” ucapnya dingin, tanpa sedikit pun menurunkan suara.

Kalimat itu jatuh begitu saja, membuat dada Nilna bergetar. Bukan marah yang keluar, tapi rasa tak terima yang tercekik di tenggorokan.

“Terus… kenapa ibu kok ngenalin aku sebagai ART?” suara Nilna bergetar. “Aku istri kamu, Mas.”

Renji tertawa kecil, hambar.

“Istri?” Ia menggeleng. “Jangan kebanyakan berharap. Kamu itu aku nikahi cuma karena aku butuh badan kamu. Aku sampai harus bayar bude kamu buat nikahin kamu. Jadi tahu diri saja posisi kamu di mana.”

Kata-kata itu menghantam tanpa ampun. Nilna terdiam, napasnya tercekat. “Jadi… aku ini cuma semacam barang dagangan ya, di sini?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   08. Ketakutan

    Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   07. Baru sekarang

    Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   06. Jalan keluar

    Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   05. Tak ada rencana

    Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   04. Saat Renji datang

    Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   03. Ke Bidan

    Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status