LOGINNilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.
Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.
Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.
“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.
Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.
“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.
“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.
Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya dengan semestinya. Ia hanya selalu dituntut untuk menurut dan diam.
“Kamu duduk belakang,” kata Renji begitu mereka sampai di depan mobil.
Nilna terdiam sejenak mendengar perintah itu. Ia hanya berdiri kaku menatap pintu mobil yang masih tertutup. Tangannya terangkat ragu menyentuh gagang pintu yang terasa asing.
“Cepet masuk,” desak Renji yang sudah duduk di dalam kursi kemudi.
Nilna menelan ludah. Ia menarik gagang pintu mobil, tapi tak ada pergerakan di sana. Pintu tetap tertutup. Sekali lagi mencoba, tapi hasilnya sama.
Nilna, memang tak tahu cara membuka pintu mobil. Meskipun ini memang kali kedua ia naik mobil Renji selama menjadi istri. Pertama kalinya adalah ketika ia diboyong ke rumah ini, tapi saat itu Renji yang membukakan pintu. Bahkan, Nilna juga tetap duduk di bangku depan, bukan di belakang seperti sekarang.
“A–aku gak bisa buka pintunya, Mas,” lirih Nilna sambil menatap Renji.
Renji berdecak kesal, lalu menekan tombol di balik pintu kemudi untuk membuka pintu belakang.
“Udah lama hidup sama aku, tapi masih aja gak bisa beradaptasi. Bener-bener bikin malu,” gerutu Renji yang jelas bisa didengar oleh Nilna.
Setelah masuk ke dalam mobil, Nilna hanya bisa diam. Meskipun hatinya bergemuruh, ia tak bisa melakukan apa-apa.
Mobil melaju agak cepat hingga membawa mereka sampai di tempat praktik bidan yang tak jauh dari rumah mereka.
Sementara Renji menunggu di mobil, Ayaka membawa Nilna masuk untuk mengambil antrian. Nilna tak banyak bertanya kenapa Renji tidak ikut masuk, ia tahu pertanyaannya hanya akan dijawab dengan pedas.
Sampai akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, kini tiba giliran Nilna untuk diperiksa.
“Loh, Bu Ayaka, kenapa pakai antre segala? Kita ini kan tetangga, lain kali langsung hubungi saya biar langsung saya tangani,” sapa Bu Rein, bidan yang bertugas, dengan cukup ramah begitu melihat Ayaka masuk ke dalam ruangan.
Nilna hanya berdiri diam di belakang Ayaka, tak berani bersuara. Bahkan, ketika Ayaka telah lebih dulu duduk di kursi pasien, Nilna masih diam berdiri.
“Aduh, Bu, gak enak juga saya kalau begitu. Pasien Bu Rien ini kan pasti banyak,” jawab Ayaka dengan senyum yang sama sekali tak pernah muncul saat bicara dengan Nilna.
“Ah, kayak sama siapa aja, Bu Ayaka ini.” Bu Rein tertawa kecil, membuat suasana sedikit lebih cair, meskipun tidak begitu berlaku untuk Nilna. Bu Rein menatap Nilna yang sejak tadi tampak berdiri canggung sejenak, lalu berkata, “Duduk dulu, Mbak.”
Akhirnya, setelah menoleh ke arah Ayaka sejenak, Nilna duduk dengan perlahan di samping mertuanya.
“Oh iya, jadi ini keperluannya untuk periksa apa, Bu?” tanya Bu Rein dengan profesional.
“Ini …” Ayaka menyodorkan kertas kecil berwarna putih kepada Bu Rein. Sementara Nilna, hanya bisa diam dan memperhatikan semua itu.
Begitu menerima kertas itu, Bu Rein tampak sedikit kaget. “KB? Siapa yang mau KB, Bu?”
Pun dengan Nilna. Ia juga sama terkejutnya mendengar itu. Sebelumnya, ia pikir hanya untuk diperiksa karena demam itu. Atau, paling-paling untuk periksa soal kesiapan kehamilan.
“Bu …” lirih Nilna pada Ayaka. Namun, Ayaka hanya menatapnya sekilas, tapi cukup tajam hingga membuatnya kembali terdiam.
“Ini, saya mengantar ART saya yang mau KB. Katanya KB terakhirnya sudah mau habis masanya. Jadi, daripada harus balik ke bidan di kampung yang jauh, lebih baik saya antar ke sini saja,” jelas Ayaka sambil sesekali melirik Nilna.
Nilna tertegun. Dadanya serasa mengempis.
KB? Sejak kapan keputusan itu jadi miliknya orang lain?
Tatapan Nilna terangkat ke arah mertuanya, penuh keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan. Bukan hanya soal KB yang baru pertama kali ia dengar, tapi juga kata ART yang menusuk lebih dalam.
Begitu mudahnya statusnya dilucuti, seolah pernikahan yang meskipun masih siri itu tak pernah ada.
Hati Nilna bergetar, marah bercampur perih. Namun Nilna tahu, suaranya tak akan dianggap. Lagi-lagi, ia hanya bisa diam.
Sejenak Nilna merasa semakin menyesal memilih jalan pernikahan ini. Namun, sekarang mundur pun tak bisa.
“Oh begitu.” Bu Rein mengangguk pelan, lalu menatap Nilna dengan senyum tipis. “Ini ART-nya cantik juga ya, Bu.”
Ayaka tersenyum tipis, sambil melirik Nilna. “Ah, iya, Bu.”
Nilna duduk kaku saat Bu Rein mulai menyuntikkan cairan itu. Jarum suntik itu terasa seperti keputusan yang dipaksakan, bukan sekadar alat medis. Saat cairan dingin masuk ke lengannya, dadanya ikut terasa sesak, bahkan mengalahkan rasa takutnya terhadap jarum suntik.
Selesai sudah. Nilna menatap lengannya sekilas, lalu menunduk. Ia sadar, bahkan atas tubuhnya sendiri, kini ia tak pernah benar-benar punya kuasa. Dan rasa itu menyakitkan, lebih dari tusukan jarum apa pun.
Setelah itu, Nilna berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan menuju mobil, meninggalkan Ayaka yang masih mengobrol dengan Bu Rein.
Dengan perasaan yang campur aduk, Nilna langsung masuk setelah pintu mobil dibuka dari dalam oleh Renji.
“Mas, kenapa gak bilang kalau aku akan di-KB?” tanya Nilna tanpa ragu.
Renji menoleh sekilas, lalu mendengus pendek.
“Memang siapa yang mau punya anak dari kamu?” ucapnya dingin, tanpa sedikit pun menurunkan suara.
Kalimat itu jatuh begitu saja, membuat dada Nilna bergetar. Bukan marah yang keluar, tapi rasa tak terima yang tercekik di tenggorokan.
“Terus… kenapa ibu kok ngenalin aku sebagai ART?” suara Nilna bergetar. “Aku istri kamu, Mas.”
Renji tertawa kecil, hambar.
“Istri?” Ia menggeleng. “Jangan kebanyakan berharap. Kamu itu aku nikahi cuma karena aku butuh badan kamu. Aku sampai harus bayar bude kamu buat nikahin kamu. Jadi tahu diri saja posisi kamu di mana.”
Kata-kata itu menghantam tanpa ampun. Nilna terdiam, napasnya tercekat. “Jadi… aku ini cuma semacam barang dagangan ya, di sini?”
“Aku bisa bicara sebentar dengan pengacaranya?" Lelaki itu bicara tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa berubah dalam satu detik.Nilna yang semula berdiri duduk bersandar, langsung menoleh. Matanya membesar. Napasnya tertahan tanpa sadar."Daddy kok ke sini? Katanya nggak sempat waktu aku minta tolong?""Aku cuma ngerasa nggak enak. Biasanya kamu tak pernah minta tolong. Kok tumben?"Lelaki itu berdiri tegap dekat ambang pintu. Kemeja gelap membalut tubuhnya rapi, aura dingin menguar tanpa perlu usaha. Tatapannya tidak berpindah. Sejak masuk, hanya tertuju pada satu orang.Nilna.Pengacara Reyhan sempat terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Silakan, Pak.”Reyhan mengernyit tipis, tapi tidak langsung menyela. Sorot matanya bergeser cepat, mengamati ayahnya. "Tumben," gumannya terdengar Nilna yang di dekatnya.Nilna meremas jemarinya sendiri. Perasaan aneh merayap pelan. Tidak nyaman. Tidak sepenuhnya takut, tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia pahami dengan mu
“Aku belum sempat memberinya nama, Bu…”Suara Nilna pelan, nyaris hilang tersapu isaknya sendiri.Rea yang sudah setengah berbalik langsung menoleh. Wajahnya kembali runtuh. Bayi kecil dalam pelukannya bergerak ringan, seperti merespons suara yang begitu akrab.“Belum…?” ulang Rea lirih.Nilna menggeleng. Bibirnya bergetar. “Selama ini aku… takut terlalu berharap,” katanya, terbata. “Bahkan sekarang aku makin akut… kalau aku memberinya nama… aku makin tidak sanggup melepas.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Kesedihan itu seolah menekan dada siapa saja yang mendengar pengakuan itu.Reyhan menunduk sebentar. Tangannya kembali mengepal. Kalimat itu seperti menampar sesuatu dalam dirinya. Ada jeda panjang yang tidak berani ia isi dengan kata-kata sembarangan.“Dia berhak punya nama,” lanjut Nilna, lebih pelan. “Nama yang baik. Nama yang… tidak membawa luka.”Rea mendekap bayi itu lebih erat. Air matanya kembali jatuh, menetes pelan ke kain kecil yang membungkus tubuh mungil itu.
“Kenapa belum istirahat?” Suara tegas, terdengar Nilna tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Seorang petugas rutan berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, sorot matanya menilai satu per satu isi ruangan. “Ibu baru saja melahirkan. Butuh istirahat,” lanjutnya, nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana berubah dingin. Rea langsung berdiri. “Maaf, Bu. Kami hanya… sebentar.” Petugas itu melangkah masuk. Pandangannya berhenti pada bayi yang masih terbaring kecil, lalu beralih ke Nilna yang tampak pucat. “Waktu jenguk seharusnya selesai,” kata petugas itu, singkat. Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah tubuh mereka menolak kenyataan bahwa waktu benar-benar habis. Nilna menunduk. Tangannya masih memegang ujung selimut yang membungkus bayinya. Jari-jarinya gemetar. “Sebentar saja…” Suara Nilna hampir tidak terdengar. “Tolong.” Petugas itu menghela napas pelan. “Tidak bisa lama. Anda harus istirahat." Rea menatap Nilna. Ia melangkah mendek
Nilna menatap bingung. “Izin… apa?” Rea kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya. “Ibu ingin membawa bayi ini keluar dari sini.” Jantung Nilna seperti berhenti sesaat. Matanya melebar. Sedetikpun ia tak pernah bisa membayangkan jika ia harus terpisah dari buah hatinya. “Apa… saya tidak salah dengar, Bu? Dia putri saya. Dan mungkin, putri saya satu-satunya." “Ibu nggak akan mengeluarkan kamu dari hidupnya. Ibu akan tetap mengenalkan kalau kamu ibunya. Ibu hanya akan akan membawanya ke keluarga Ibu.” Suara Rea tenang, tapi tegas. “Dia tidak pantas tumbuh di tempat seperti ini.” Nilna membeku. Tangannya yang tadi menggenggam selimut perlahan mengencang. “Bagaimana mungkin saya pisah dari anak saya, Bu?” “Ibu tahu itu sulit.” Rea menjawab cepat. “Justru karena itu, Ibu ingin memberikan hidup yang lebih baik untuknya.” Air mata Nilna mengalir lagi. Kali ini lebih deras. “Saya…” suaranya gemetar. “Saya belum siap berpisah.” Rea menunduk sebentar, lalu kembali mena
Rea memeluknya erat. Air mata wanita itu luruh. "Tenang, Nilna. Tenang." Nilna masih terisak. "Aku bukan ibu yang baik. Aku... melahirkan dia di sini. Dia pasti malu. Teman-temannya kelak akan menghina dia." Bahu Nilna terguncang. “Jangan takut apa pun, Nilna. Jamgan takut." Rea menghabus air matanya yang juga tak berhenti menetes. Suara itu lembut, namun kuat. Pelukan Rea terasa hangat, menahan tubuh Nilna yang masih gemetar. "Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat setelah kamu berjuang melahirkannya." Nilna menutup mata sesaat. Seharusnya dalam kondisi normal dia sudah tertidur. Tetapi tidak bagi Nilna. Pikiran yang kacau membuat matanya tak jua terpejam. Napasnya belum stabil. Dada naik turun cepat, seolah masih mengejar detik-detik panjang yang baru saja ia lewati. “Bu…” Suara Nilna parau, hampir hilang. “Kenapa… selama ini Ibu pakai cadar? Kalau nggak salah, dulu Ibu nggak berhijab 'kan?" Rea terdiam. Tangannya yang tadi mengusap punggung Nilna berhenti sebentar. Ada jeda y
"Cepat!” wanita itu terus menggedor. “Buka pintunya sekarang!”Beberapa orang yang bertugas, dengan panik langsung mendekat. Suasana berubah kacau"Mbak, bertahan, ya."Nilna tak dapat menjawab. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kunci berderak. Pintu terbuka dengan bunyi keras."Nilna... " Teriak wanita itu langsung menghambur masuk dan memeluk Nilna. Tak terasa cadarnya tersangkut di pintu besi saat ia menerobos masuk. Nilna yang kesakitan menatap kaget. "Nyonya?""Cepat, cepat.... kalian tangani." Dia begitu panik saat melihat ada cairan merembes di baju yang Nilna pakai. "Tarik nafas, Nilna. Kamu harus kuat."Nilna masih menatapnya tak percaya. Wanita itu seolah tak lagi perduli dengan cadar yang telah terlepas dari mukanya. "Belum… belum waktunya, Bu,” bisik Nilna lemah sambil menatap wanita yang memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, rasa itu datang tanpa peduli. Datang lagi dan lagi. Lebih keras.“Ahhh ....” Jeritan itu pecah. Nilna tak lagi dapat menahan r







