Share

02. Kenapa?

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 14:56:17

Nilna menatap punggung suaminya dengan nanar. Air matanya tak mampu lagi menetes, hingga akhirnya ia kembali terlelap.

Hampir setengah jam Nilna masih terpejam, tubuhnya semakin menggigil hingga membuat wanita itu harus merapatkan selimutnya. Namun, sebuah teriakan keras memaksanya untuk kembali membuka mata.

“Nilna! Jam segini kenapa belum masak?!”

Suara itu milik Ayaka, ibu mertua Nilna.

Sejak awal, Ayaka memang tidak pernah menerima Nilna. Ia secara terang-terangan menolak dengan mengatakan Nilna tidak setara dengan keluarganya, karena Nilna hanya seorang wanita kampung lulusan SD.

Saat itu, Nilna ingin menyerah dan melepas Renji. Namun, sikap Renji yang terus membelanya dan melindunginya dari sikap buruk sang ibu, membuat wanita itu jelas luluh.

Namun, sekarang semua berbeda. Renji tak lagi membelanya, dan justru bersikap sama dengan ibunya.

“Nilna! Cepatlah, aku sudah lapar!”

Teriakan kedua itu membuat Nilna langsung bergegas bangkit dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tubuhnya perih, seperti kehabisan tenaga. Tapi tak ada waktu untuk istirahat. Tak ada ruang untuk manja.

Nilna segera turun.

“Kamu ini malas sekali jam segini baru bangun!” gerutu Ayaka begitu melihat Nilna.

Usia wanita keturunan Jepang itu hampir menginjak angka 48 tahun, tapi wajahnya masih tampak segar dan cantik. Bagaimana tidak, Ayaka memang rajin melakukan perawatan di klinik kecantikan. Sangat berbeda dengan Nilna.

“Maaf, Bu. Saya nggak enak badan sejak malam. Jadi tadi setelah Mas Renji pergi kerja saya, tertidur lagi,” jawab Nilna pelan, nyaris tak terdengar.

Ayaka menatap Nilna dari ujung kaki hingga ujung kepala sekilas, lalu berdecak pelan. “Alasan. Sudah sana cepat buatkan sarapan.”

Setelah mengatakan itu, Ayaka langsung berbalik badan dan kembali ke kamarnya, tanpa peduli dengan Nilna.

Dengan tubuh yang masih gemetar, Nilna mencoba kuat. Ia melangkah perlahan ke arah dapur dan mulai menyiapkan bahan masakan untuk membuat nasi goreng ayam.

Dulu, di rumah ini ada 2 ART yang bertugas untuk memasak dan membersihkan rumah. Namun, setelah ada Nilna, Ayaka memecat mereka dengan alasan Nilna bisa mengerjakan semua itu.

Terkadang, Nilna ingin menyerah dan pergi. Namun, ia tahu jika ia kembali ke rumah budenya, semua tak akan menjadi lebih baik. Bahkan, mungkin akan jauh lebih buruk.

Selesai memasak, Nilna memanggil Ayaka lagi.

Nilna menatap ibu mertuanya yang fokus makan tanpa mempedulikannya. Sejujurnya, saat itu pandangan Nilna semakin terasa kabur, kepalanya berputar lebih cepat membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan.

“Bu, bisakah Ibu antar saya ke dokter? Saya gak kuat kalau harus pergi sendiri,” tanya Nilna hati-hati.

Ayakan menoleh sekilas, menatap wajah pucat Nilna, lalu kembali fokus pada makanannya. “Gak bisa, pergilah sendiri pakai ojek. Lagipula, di sini juga banyak obat, kenapa harus ke dokter segala.”

Nilna terdiam, tidak bisa membantah atau sekadar menjawab.

Selesai menghabiskan makanannya, Ayaka kembali bangkit. Namun, sebelum pergi, ia menatap Nilna sekali lagi. “Cuci semua piringnya, jangan lupa cuci baju juga dan pel lantainya sampai bersih.”

“Iya, Bu,” jawab Nilna lirih.

Setelah Ayaka pergi, Nilna mengambil sepiring nasi goreng untuk mengganjal perutnya sebelum minum obat. Mungkin dengan itu masih ada harapan untuk tubuhnya bisa sedikit lebih kuat.

Selesai, Nilna kembali bangkit dan mulai mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan tubuh yang masih cukup lemas.

Nilna segera mencuci baju dengan mengambil tumpukan baju di kamar Ayaka.

Wanita itu tidak akan menaruh pakaian kotornya di tempat cucian, tetapi selalu ditaruhnya di kamar hingga Nilna harus mengambilnya sendiri.

Untungnya masih dia taruh di keranjang.

Renji bahkan lebih parah lagi, ia akan meletakkannya begitu saja di kamar, berserakan, dan Nilna-lah yang harus memungutnya satu per satu tiap kali dia berganti pakaian.

Nilna menuruni tangga sambil membawa sekeranjang pakaian kotor. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Setiap beberapa langkah ia berhenti. Panas badannya seakan tak kompromi.

“Ya Tuhan, akhirnya selesai,” gumam Nilna setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan rumah.

Wanita itu akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa, mengistirahatkan tubuhnya sembari menunggu obat yang tadi ia minum memunculkan reaksinya.

Di rumah ini, Nilna sama sekali tak punya hiburan. TV rusak, ponsel miliknya pun rusak dan belum diperbaiki. Padahal, ia telah meminta tolong Renji untuk membawa ke tukang servis. Namun, Renji selalu beralasan ponsel itu tidak bisa diperbaiki lagi.

Nilna pernah minta untuk dibelikan ponsel lagi, bekas pun tak masalah. Tapi, ia berujung dicaci maki oleh Renji.

Padahal, Nilna benar-benar membutuhkan ponsel itu untuk berkomunikasi dengan ibunya yang menjadi TKW di Malaysia. Meskipun setahun terakhir ibunya tak ada kabar, setidaknya Nilna masih ingin mencoba.

“Ibu apa kabar? Apa mungkin kita nanti bisa bertemu lagi?” gumam Nilna seorang diri.

Tak terasa, air mata wanita itu menetes. Rasa rindu pada ibunya kini terasa semakin mencuat. Hingga tanpa sadar, ketika larut dalam perasaan itu, Nilna tertidur. Mungkin juga karena reaksi dari obat.

***

“Bangun! Kerjamu ini tidur saja!”

Dug!

Nilna terlonjak kaget begitu merasakan kakinya ditendang agak tegas. Ia buru-buru membuka matanya, hingga langsung mendapati Renji berdiri di hadapannya dengan wajah kesal.

“Mas, kamu udah pulang?” ujar Nilna lirih, kepalanya terasa masih berat, tapi tubuhnya kini terasa lebih enteng dari sebelumnya. Suhu panas yang semula menyelimuti kulitnya juga terasa mulai menghilang.

“Sudah jam segini, kamu pikir aku akan tinggal di kantor?” ketus Renji, membuat Nilna akhirnya melirik jam dinding.

Pukul 5 sore.

Nilna segera membenarkan posisi duduknya. Ia tak menyangka akan tertidur selama itu. “Maaf, Mas. Aku ketiduran setelah beresin kerjaan rumah.”

“Cepat ganti baju, kita ke bidan sekarang,” perintah Renji seolah tak peduli dengan apa yang Nilna katakan sebelumnya.

Nilna mengernyitkan dahinya, ia merasa tubuhnya sudah jauh membaik dari sebelumnya dan sebentar lagi pun sepertinya akan pulih sepenuhnya.

“Badanku udah enakan, Mas. Kayaknya nggak perlu ke bidan,” kata Nilna apa adanya.

“Ck, memang siapa yang peduli badanmu sakit apa nggak,” gerutu Renji sambil berdecak pelan. Mata sipitnya terasa lebih menusuk ke arah Nilna.

Nilna tercekat. Dadanya terasa sesak, seolah ruangan mendadak sempit. Ia berdiri perlahan. “Tapi, aku sudah enakan, kenapa kita harus ke bidan, Mas—”

“Jangan banyak tanya. Cepetan ganti!” potong Renji cepat, membuat Nilna kembali terlonjak kaget.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   08. Ketakutan

    Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   07. Baru sekarang

    Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   06. Jalan keluar

    Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   05. Tak ada rencana

    Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   04. Saat Renji datang

    Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   03. Ke Bidan

    Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status