LOGINNilna menatap punggung suaminya dengan nanar. Air matanya tak mampu lagi menetes, hingga akhirnya ia kembali terlelap.
Hampir setengah jam Nilna masih terpejam, tubuhnya semakin menggigil hingga membuat wanita itu harus merapatkan selimutnya. Namun, sebuah teriakan keras memaksanya untuk kembali membuka mata.
“Nilna! Jam segini kenapa belum masak?!”
Suara itu milik Ayaka, ibu mertua Nilna.
Sejak awal, Ayaka memang tidak pernah menerima Nilna. Ia secara terang-terangan menolak dengan mengatakan Nilna tidak setara dengan keluarganya, karena Nilna hanya seorang wanita kampung lulusan SD.
Saat itu, Nilna ingin menyerah dan melepas Renji. Namun, sikap Renji yang terus membelanya dan melindunginya dari sikap buruk sang ibu, membuat wanita itu jelas luluh.
Namun, sekarang semua berbeda. Renji tak lagi membelanya, dan justru bersikap sama dengan ibunya.
“Nilna! Cepatlah, aku sudah lapar!”
Teriakan kedua itu membuat Nilna langsung bergegas bangkit dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tubuhnya perih, seperti kehabisan tenaga. Tapi tak ada waktu untuk istirahat. Tak ada ruang untuk manja.
Nilna segera turun.
“Kamu ini malas sekali jam segini baru bangun!” gerutu Ayaka begitu melihat Nilna.
Usia wanita keturunan Jepang itu hampir menginjak angka 48 tahun, tapi wajahnya masih tampak segar dan cantik. Bagaimana tidak, Ayaka memang rajin melakukan perawatan di klinik kecantikan. Sangat berbeda dengan Nilna.
“Maaf, Bu. Saya nggak enak badan sejak malam. Jadi tadi setelah Mas Renji pergi kerja saya, tertidur lagi,” jawab Nilna pelan, nyaris tak terdengar.
Ayaka menatap Nilna dari ujung kaki hingga ujung kepala sekilas, lalu berdecak pelan. “Alasan. Sudah sana cepat buatkan sarapan.”
Setelah mengatakan itu, Ayaka langsung berbalik badan dan kembali ke kamarnya, tanpa peduli dengan Nilna.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Nilna mencoba kuat. Ia melangkah perlahan ke arah dapur dan mulai menyiapkan bahan masakan untuk membuat nasi goreng ayam.
Dulu, di rumah ini ada 2 ART yang bertugas untuk memasak dan membersihkan rumah. Namun, setelah ada Nilna, Ayaka memecat mereka dengan alasan Nilna bisa mengerjakan semua itu.
Terkadang, Nilna ingin menyerah dan pergi. Namun, ia tahu jika ia kembali ke rumah budenya, semua tak akan menjadi lebih baik. Bahkan, mungkin akan jauh lebih buruk.
Selesai memasak, Nilna memanggil Ayaka lagi.
Nilna menatap ibu mertuanya yang fokus makan tanpa mempedulikannya. Sejujurnya, saat itu pandangan Nilna semakin terasa kabur, kepalanya berputar lebih cepat membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan.
“Bu, bisakah Ibu antar saya ke dokter? Saya gak kuat kalau harus pergi sendiri,” tanya Nilna hati-hati.
Ayakan menoleh sekilas, menatap wajah pucat Nilna, lalu kembali fokus pada makanannya. “Gak bisa, pergilah sendiri pakai ojek. Lagipula, di sini juga banyak obat, kenapa harus ke dokter segala.”
Nilna terdiam, tidak bisa membantah atau sekadar menjawab.
Selesai menghabiskan makanannya, Ayaka kembali bangkit. Namun, sebelum pergi, ia menatap Nilna sekali lagi. “Cuci semua piringnya, jangan lupa cuci baju juga dan pel lantainya sampai bersih.”
“Iya, Bu,” jawab Nilna lirih.
Setelah Ayaka pergi, Nilna mengambil sepiring nasi goreng untuk mengganjal perutnya sebelum minum obat. Mungkin dengan itu masih ada harapan untuk tubuhnya bisa sedikit lebih kuat.
Selesai, Nilna kembali bangkit dan mulai mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan tubuh yang masih cukup lemas.
Nilna segera mencuci baju dengan mengambil tumpukan baju di kamar Ayaka.
Wanita itu tidak akan menaruh pakaian kotornya di tempat cucian, tetapi selalu ditaruhnya di kamar hingga Nilna harus mengambilnya sendiri.
Untungnya masih dia taruh di keranjang.
Renji bahkan lebih parah lagi, ia akan meletakkannya begitu saja di kamar, berserakan, dan Nilna-lah yang harus memungutnya satu per satu tiap kali dia berganti pakaian.
Nilna menuruni tangga sambil membawa sekeranjang pakaian kotor. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Setiap beberapa langkah ia berhenti. Panas badannya seakan tak kompromi.
“Ya Tuhan, akhirnya selesai,” gumam Nilna setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan rumah.
Wanita itu akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa, mengistirahatkan tubuhnya sembari menunggu obat yang tadi ia minum memunculkan reaksinya.
Di rumah ini, Nilna sama sekali tak punya hiburan. TV rusak, ponsel miliknya pun rusak dan belum diperbaiki. Padahal, ia telah meminta tolong Renji untuk membawa ke tukang servis. Namun, Renji selalu beralasan ponsel itu tidak bisa diperbaiki lagi.
Nilna pernah minta untuk dibelikan ponsel lagi, bekas pun tak masalah. Tapi, ia berujung dicaci maki oleh Renji.
Padahal, Nilna benar-benar membutuhkan ponsel itu untuk berkomunikasi dengan ibunya yang menjadi TKW di Malaysia. Meskipun setahun terakhir ibunya tak ada kabar, setidaknya Nilna masih ingin mencoba.
“Ibu apa kabar? Apa mungkin kita nanti bisa bertemu lagi?” gumam Nilna seorang diri.
Tak terasa, air mata wanita itu menetes. Rasa rindu pada ibunya kini terasa semakin mencuat. Hingga tanpa sadar, ketika larut dalam perasaan itu, Nilna tertidur. Mungkin juga karena reaksi dari obat.
***
“Bangun! Kerjamu ini tidur saja!”
Dug!
Nilna terlonjak kaget begitu merasakan kakinya ditendang agak tegas. Ia buru-buru membuka matanya, hingga langsung mendapati Renji berdiri di hadapannya dengan wajah kesal.
“Mas, kamu udah pulang?” ujar Nilna lirih, kepalanya terasa masih berat, tapi tubuhnya kini terasa lebih enteng dari sebelumnya. Suhu panas yang semula menyelimuti kulitnya juga terasa mulai menghilang.
“Sudah jam segini, kamu pikir aku akan tinggal di kantor?” ketus Renji, membuat Nilna akhirnya melirik jam dinding.
Pukul 5 sore.
Nilna segera membenarkan posisi duduknya. Ia tak menyangka akan tertidur selama itu. “Maaf, Mas. Aku ketiduran setelah beresin kerjaan rumah.”
“Cepat ganti baju, kita ke bidan sekarang,” perintah Renji seolah tak peduli dengan apa yang Nilna katakan sebelumnya.
Nilna mengernyitkan dahinya, ia merasa tubuhnya sudah jauh membaik dari sebelumnya dan sebentar lagi pun sepertinya akan pulih sepenuhnya.
“Badanku udah enakan, Mas. Kayaknya nggak perlu ke bidan,” kata Nilna apa adanya.
“Ck, memang siapa yang peduli badanmu sakit apa nggak,” gerutu Renji sambil berdecak pelan. Mata sipitnya terasa lebih menusuk ke arah Nilna.
Nilna tercekat. Dadanya terasa sesak, seolah ruangan mendadak sempit. Ia berdiri perlahan. “Tapi, aku sudah enakan, kenapa kita harus ke bidan, Mas—”
“Jangan banyak tanya. Cepetan ganti!” potong Renji cepat, membuat Nilna kembali terlonjak kaget.
“Aku bisa bicara sebentar dengan pengacaranya?" Lelaki itu bicara tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa berubah dalam satu detik.Nilna yang semula berdiri duduk bersandar, langsung menoleh. Matanya membesar. Napasnya tertahan tanpa sadar."Daddy kok ke sini? Katanya nggak sempat waktu aku minta tolong?""Aku cuma ngerasa nggak enak. Biasanya kamu tak pernah minta tolong. Kok tumben?"Lelaki itu berdiri tegap dekat ambang pintu. Kemeja gelap membalut tubuhnya rapi, aura dingin menguar tanpa perlu usaha. Tatapannya tidak berpindah. Sejak masuk, hanya tertuju pada satu orang.Nilna.Pengacara Reyhan sempat terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Silakan, Pak.”Reyhan mengernyit tipis, tapi tidak langsung menyela. Sorot matanya bergeser cepat, mengamati ayahnya. "Tumben," gumannya terdengar Nilna yang di dekatnya.Nilna meremas jemarinya sendiri. Perasaan aneh merayap pelan. Tidak nyaman. Tidak sepenuhnya takut, tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia pahami dengan mu
“Aku belum sempat memberinya nama, Bu…”Suara Nilna pelan, nyaris hilang tersapu isaknya sendiri.Rea yang sudah setengah berbalik langsung menoleh. Wajahnya kembali runtuh. Bayi kecil dalam pelukannya bergerak ringan, seperti merespons suara yang begitu akrab.“Belum…?” ulang Rea lirih.Nilna menggeleng. Bibirnya bergetar. “Selama ini aku… takut terlalu berharap,” katanya, terbata. “Bahkan sekarang aku makin akut… kalau aku memberinya nama… aku makin tidak sanggup melepas.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Kesedihan itu seolah menekan dada siapa saja yang mendengar pengakuan itu.Reyhan menunduk sebentar. Tangannya kembali mengepal. Kalimat itu seperti menampar sesuatu dalam dirinya. Ada jeda panjang yang tidak berani ia isi dengan kata-kata sembarangan.“Dia berhak punya nama,” lanjut Nilna, lebih pelan. “Nama yang baik. Nama yang… tidak membawa luka.”Rea mendekap bayi itu lebih erat. Air matanya kembali jatuh, menetes pelan ke kain kecil yang membungkus tubuh mungil itu.
“Kenapa belum istirahat?” Suara tegas, terdengar Nilna tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Seorang petugas rutan berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, sorot matanya menilai satu per satu isi ruangan. “Ibu baru saja melahirkan. Butuh istirahat,” lanjutnya, nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana berubah dingin. Rea langsung berdiri. “Maaf, Bu. Kami hanya… sebentar.” Petugas itu melangkah masuk. Pandangannya berhenti pada bayi yang masih terbaring kecil, lalu beralih ke Nilna yang tampak pucat. “Waktu jenguk seharusnya selesai,” kata petugas itu, singkat. Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah tubuh mereka menolak kenyataan bahwa waktu benar-benar habis. Nilna menunduk. Tangannya masih memegang ujung selimut yang membungkus bayinya. Jari-jarinya gemetar. “Sebentar saja…” Suara Nilna hampir tidak terdengar. “Tolong.” Petugas itu menghela napas pelan. “Tidak bisa lama. Anda harus istirahat." Rea menatap Nilna. Ia melangkah mendek
Nilna menatap bingung. “Izin… apa?” Rea kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya. “Ibu ingin membawa bayi ini keluar dari sini.” Jantung Nilna seperti berhenti sesaat. Matanya melebar. Sedetikpun ia tak pernah bisa membayangkan jika ia harus terpisah dari buah hatinya. “Apa… saya tidak salah dengar, Bu? Dia putri saya. Dan mungkin, putri saya satu-satunya." “Ibu nggak akan mengeluarkan kamu dari hidupnya. Ibu akan tetap mengenalkan kalau kamu ibunya. Ibu hanya akan akan membawanya ke keluarga Ibu.” Suara Rea tenang, tapi tegas. “Dia tidak pantas tumbuh di tempat seperti ini.” Nilna membeku. Tangannya yang tadi menggenggam selimut perlahan mengencang. “Bagaimana mungkin saya pisah dari anak saya, Bu?” “Ibu tahu itu sulit.” Rea menjawab cepat. “Justru karena itu, Ibu ingin memberikan hidup yang lebih baik untuknya.” Air mata Nilna mengalir lagi. Kali ini lebih deras. “Saya…” suaranya gemetar. “Saya belum siap berpisah.” Rea menunduk sebentar, lalu kembali mena
Rea memeluknya erat. Air mata wanita itu luruh. "Tenang, Nilna. Tenang." Nilna masih terisak. "Aku bukan ibu yang baik. Aku... melahirkan dia di sini. Dia pasti malu. Teman-temannya kelak akan menghina dia." Bahu Nilna terguncang. “Jangan takut apa pun, Nilna. Jamgan takut." Rea menghabus air matanya yang juga tak berhenti menetes. Suara itu lembut, namun kuat. Pelukan Rea terasa hangat, menahan tubuh Nilna yang masih gemetar. "Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat setelah kamu berjuang melahirkannya." Nilna menutup mata sesaat. Seharusnya dalam kondisi normal dia sudah tertidur. Tetapi tidak bagi Nilna. Pikiran yang kacau membuat matanya tak jua terpejam. Napasnya belum stabil. Dada naik turun cepat, seolah masih mengejar detik-detik panjang yang baru saja ia lewati. “Bu…” Suara Nilna parau, hampir hilang. “Kenapa… selama ini Ibu pakai cadar? Kalau nggak salah, dulu Ibu nggak berhijab 'kan?" Rea terdiam. Tangannya yang tadi mengusap punggung Nilna berhenti sebentar. Ada jeda y
"Cepat!” wanita itu terus menggedor. “Buka pintunya sekarang!”Beberapa orang yang bertugas, dengan panik langsung mendekat. Suasana berubah kacau"Mbak, bertahan, ya."Nilna tak dapat menjawab. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kunci berderak. Pintu terbuka dengan bunyi keras."Nilna... " Teriak wanita itu langsung menghambur masuk dan memeluk Nilna. Tak terasa cadarnya tersangkut di pintu besi saat ia menerobos masuk. Nilna yang kesakitan menatap kaget. "Nyonya?""Cepat, cepat.... kalian tangani." Dia begitu panik saat melihat ada cairan merembes di baju yang Nilna pakai. "Tarik nafas, Nilna. Kamu harus kuat."Nilna masih menatapnya tak percaya. Wanita itu seolah tak lagi perduli dengan cadar yang telah terlepas dari mukanya. "Belum… belum waktunya, Bu,” bisik Nilna lemah sambil menatap wanita yang memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, rasa itu datang tanpa peduli. Datang lagi dan lagi. Lebih keras.“Ahhh ....” Jeritan itu pecah. Nilna tak lagi dapat menahan r







