LOGINTidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.
Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.
Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.
Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.
****
Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.
Tadi, setelah menyiapkan sarapan untuk Renji dan Ayaka, Nilna yang memang tak pernah diajak sarapan bersama hanya bisa menunggu di dapur hingga mereka selesai.
“Kamu pasti Nilna ya?” tanya seorang perempuan yang langsung menghentikan langkah Nilna untuk masuk ke dalam pekarangan rumah.
Nilna menoleh, menatap perempuan itu dengan bingung.
Menyadari kebingungan Nilna, perempuan itu langsung memperkenalkan dirinya, “Saya Rina, ART di rumah sebelah, Mbak. Kata majikan saya, Bu Ayaka punya ART baru namanya Nilna.”
Nilna masih diam. Ia tak mengerti kenapa ungkapan bahwa dirinya adalah ART bisa secepat itu tersebar. Padahal, baru kemarin Ayaka mengatakan hal itu kepada orang luar.
Akhirnya, Nilna hanya bisa menghela napas dan mengangguk pelan dan menjawab, “Iya, saya Nilna.”
“Ternyata kamu cantik banget ya. Kok bisa sih jadi ART?” tanya Rina penasaran.
Nilna hanya tersenyum kecut. Kalau ia mengatakan bahwa ia bukan ART, jelas tak akan ada yang percaya. “Sudah nasibnya, Mbak.”
“Iya sih, namanya takdir gak bisa ditolak. Saya salut sama kamu, gak malu jadi ART,” kata Rina lagi dengan senyum ramahnya. “Oh iya, besok kalau mau ke pasar, kita bareng aja yuk? Biar bisa patungan bayar bentor.”
Nilna terdiam sejenak, lalu kembali mengangguk. “Boleh. Tapi, saya permisi dulu ya. Masih ada pekerjaan lain.”
Tanpa menunggu jawaban Rina, Nilna membuka pagar rumah dan langsung melangkah masuk. Selain karena merasa tidak nyaman, Ayaka juga selalu mewanti-wanti Nilna untuk tidak bergaul dengan orang asing.
Begitu pintu halaman tertutup, pandangan Nilna sempat tertuju pada mobil Renji yang masih terparkir rapi di garasi. Ia menarik napas pelan.
“Mungkin hari ini Mas Renji kerja dari rumah,” batinnya
Bukan hal yang aneh. Renji memang sering melakukannya, datang dan pergi tanpa pernah benar-benar melibatkan Nilna.
Langkah Nilna terasa berat saat ia menutup pagar. Ucapan Rina yang terdengar ramah justru menekan dadanya. Ia tidak disakiti, tidak dimaki, tapi perasaannya terus terpojok, seolah hidupnya sudah ditentukan orang lain bahkan sebelum ia sempat membela diri.
Nilna kembali tenggelam dalam pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci, semua ia lakukan tanpa jeda, seakan kesibukan bisa meredam pikirannya.
Hingga akhirnya, suara bel pagar berbunyi, memecah keheningan dan membuat Nilna terhenti sejenak, sebelum melangkah menuju depan rumah untuk membuka pintu.
Begitu Nilna membuka pintu pagar, ia langsung melihat seorang pria berdiri di depan mobilnya, pandangannya fokus pada ponsel di tangannya.
“Maaf, cari siapa?” tanya Nilna sopan.
Namun, begitu pria itu menoleh, mendadak Nilna terpaku. Bukan karena wajah tampan pria berperawakan India itu, tapi karena Nilna merasa tidak asing dengan wajahnya. Hanya saja, ia tak bisa mengingat jelas di mana ia pernah melihat wajah itu.
“Saya cari Renji, ada?” kata pria itu akhirnya, tatapannya tak lepas dari Nilna, seolah sedang memindai tiap jengkal tubuh Nilna.
Nilna mengangguk pelan, lalu mempersilakan pria itu untuk menunggu di kursi teras. “Silakan duduk, saya panggilkan Mas Renji dulu.”
Setelah pemuda itu duduk di kursi teras, Nilna langsung masuk dan menuju lantai dua. Ia mengetuk pintu ruang kerja Renji sambil terus mengingat wajah pria tadi.
“Mas, ada yang cari,” kata Nilna sambil mengetuk pintu sekali lagi.
“Siapa?” Suara Renji muncul dari balik pintu yang masih tertutup.
“Eum, laki-laki tapi gak tahu namanya,” jawab Nilna apa adanya.
Akhirnya, Renji membuka pintu dengan tatapan kesal. “Lain kali tanya dulu siapa namanya. Gak tahu siapa, tapi berani nyuruh masuk rumah!”
“Iya maaf, Mas,” jawab Nilna sambil menundukkan kepalanya. Setelah itu, ia hanya bisa buru-buru kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Ketika Nilna sibuk di dapur, Renji sempat berteriak menyuruh Nilna membawakan minum. Dengan langkah cepat, Nilna menyiapkan dua gelas teh dingin, lalu membawanya ke teras.
Saat gelas diletakkan, Nilna bisa merasakan tatapan pria itu menempel terlalu lama. Pandangan pria itu sempat berhenti di wajahnya, lalu turun ke bahunya, ke bagian bajunya yang sedikit robek tanpa ia sadari.
“Pembantumu cantik juga, ya,” ujar Reyhan, tamu yang ternyata adalah teman Renji, seolah tak ada maksud apa pun.
Belum sempat Nilna bereaksi, suara Renji sudah lebih dulu memotong, tajam dan dingin.
“Cantik?” Ia tertawa pendek. “Gak usah dilebih-lebihin. Pembantu ya pembantu, gak pantas dibilang begitu.”
Nada suaranya terdengar merendahkan, membuat Nilna merasa semakin tak berarti karena lagi-lagi ia tak diakui sebagai seorang istri di depan orang lain.
Nilna menunduk lebih dalam, jemarinya mencengkeram baki kosong. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya berdiri diam, menerima semuanya, lalu perlahan melangkah pergi.
Belum jauh Nilna melangkah, ia kembali mendengar suara pria itu.
“Tapi memang cantik loh, sayang kalau berakhir jadi pembantu saja.”
BRAK!
Nilna terkejut ketika mendengar suara meja yang digebrak agak keras. Ia menoleh sedikit dan melihat Renji menatap pria itu dengan wajah kesal.
“Sudah kubilang, dia itu cuma pembantu kampung, Reyhan. Kenapa juga masih aja dibahas dan dipuji,” kata Renji dengan nada suara tidak suka.
“Ck, kamu ini kenapa? Aku hanya bilang pembantumu cantik, kenapa sampai menggebrak meja,” sahut pria itu sambil berdecak pelan. “Lagian, selama ini kan kita memang suka berbagi perempuan. Masa sama pembantu aja gak terima gitu.”
Nilna tidak sanggup mendengar kelanjutannya. Kata-kata pria itu menusuk terlalu dalam, membuat dadanya terasa sesak. Ia memilih masuk ke dalam rumah, melangkah cepat seolah ingin menjauh dari suara-suara yang meremukkan hatinya.
Pintu dapur baru saja tertutup ketika langkah berat menyusul dari belakang. Renji muncul dengan wajah merah padam.
“Kamu sengaja, ya?” bentaknya. “Pakai baju kayak gitu, robek segala, buat godain temanku?”
“Aku bisa bicara sebentar dengan pengacaranya?" Lelaki itu bicara tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa berubah dalam satu detik.Nilna yang semula berdiri duduk bersandar, langsung menoleh. Matanya membesar. Napasnya tertahan tanpa sadar."Daddy kok ke sini? Katanya nggak sempat waktu aku minta tolong?""Aku cuma ngerasa nggak enak. Biasanya kamu tak pernah minta tolong. Kok tumben?"Lelaki itu berdiri tegap dekat ambang pintu. Kemeja gelap membalut tubuhnya rapi, aura dingin menguar tanpa perlu usaha. Tatapannya tidak berpindah. Sejak masuk, hanya tertuju pada satu orang.Nilna.Pengacara Reyhan sempat terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Silakan, Pak.”Reyhan mengernyit tipis, tapi tidak langsung menyela. Sorot matanya bergeser cepat, mengamati ayahnya. "Tumben," gumannya terdengar Nilna yang di dekatnya.Nilna meremas jemarinya sendiri. Perasaan aneh merayap pelan. Tidak nyaman. Tidak sepenuhnya takut, tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia pahami dengan mu
“Aku belum sempat memberinya nama, Bu…”Suara Nilna pelan, nyaris hilang tersapu isaknya sendiri.Rea yang sudah setengah berbalik langsung menoleh. Wajahnya kembali runtuh. Bayi kecil dalam pelukannya bergerak ringan, seperti merespons suara yang begitu akrab.“Belum…?” ulang Rea lirih.Nilna menggeleng. Bibirnya bergetar. “Selama ini aku… takut terlalu berharap,” katanya, terbata. “Bahkan sekarang aku makin akut… kalau aku memberinya nama… aku makin tidak sanggup melepas.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Kesedihan itu seolah menekan dada siapa saja yang mendengar pengakuan itu.Reyhan menunduk sebentar. Tangannya kembali mengepal. Kalimat itu seperti menampar sesuatu dalam dirinya. Ada jeda panjang yang tidak berani ia isi dengan kata-kata sembarangan.“Dia berhak punya nama,” lanjut Nilna, lebih pelan. “Nama yang baik. Nama yang… tidak membawa luka.”Rea mendekap bayi itu lebih erat. Air matanya kembali jatuh, menetes pelan ke kain kecil yang membungkus tubuh mungil itu.
“Kenapa belum istirahat?” Suara tegas, terdengar Nilna tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Seorang petugas rutan berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, sorot matanya menilai satu per satu isi ruangan. “Ibu baru saja melahirkan. Butuh istirahat,” lanjutnya, nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana berubah dingin. Rea langsung berdiri. “Maaf, Bu. Kami hanya… sebentar.” Petugas itu melangkah masuk. Pandangannya berhenti pada bayi yang masih terbaring kecil, lalu beralih ke Nilna yang tampak pucat. “Waktu jenguk seharusnya selesai,” kata petugas itu, singkat. Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah tubuh mereka menolak kenyataan bahwa waktu benar-benar habis. Nilna menunduk. Tangannya masih memegang ujung selimut yang membungkus bayinya. Jari-jarinya gemetar. “Sebentar saja…” Suara Nilna hampir tidak terdengar. “Tolong.” Petugas itu menghela napas pelan. “Tidak bisa lama. Anda harus istirahat." Rea menatap Nilna. Ia melangkah mendek
Nilna menatap bingung. “Izin… apa?” Rea kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya. “Ibu ingin membawa bayi ini keluar dari sini.” Jantung Nilna seperti berhenti sesaat. Matanya melebar. Sedetikpun ia tak pernah bisa membayangkan jika ia harus terpisah dari buah hatinya. “Apa… saya tidak salah dengar, Bu? Dia putri saya. Dan mungkin, putri saya satu-satunya." “Ibu nggak akan mengeluarkan kamu dari hidupnya. Ibu akan tetap mengenalkan kalau kamu ibunya. Ibu hanya akan akan membawanya ke keluarga Ibu.” Suara Rea tenang, tapi tegas. “Dia tidak pantas tumbuh di tempat seperti ini.” Nilna membeku. Tangannya yang tadi menggenggam selimut perlahan mengencang. “Bagaimana mungkin saya pisah dari anak saya, Bu?” “Ibu tahu itu sulit.” Rea menjawab cepat. “Justru karena itu, Ibu ingin memberikan hidup yang lebih baik untuknya.” Air mata Nilna mengalir lagi. Kali ini lebih deras. “Saya…” suaranya gemetar. “Saya belum siap berpisah.” Rea menunduk sebentar, lalu kembali mena
Rea memeluknya erat. Air mata wanita itu luruh. "Tenang, Nilna. Tenang." Nilna masih terisak. "Aku bukan ibu yang baik. Aku... melahirkan dia di sini. Dia pasti malu. Teman-temannya kelak akan menghina dia." Bahu Nilna terguncang. “Jangan takut apa pun, Nilna. Jamgan takut." Rea menghabus air matanya yang juga tak berhenti menetes. Suara itu lembut, namun kuat. Pelukan Rea terasa hangat, menahan tubuh Nilna yang masih gemetar. "Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat setelah kamu berjuang melahirkannya." Nilna menutup mata sesaat. Seharusnya dalam kondisi normal dia sudah tertidur. Tetapi tidak bagi Nilna. Pikiran yang kacau membuat matanya tak jua terpejam. Napasnya belum stabil. Dada naik turun cepat, seolah masih mengejar detik-detik panjang yang baru saja ia lewati. “Bu…” Suara Nilna parau, hampir hilang. “Kenapa… selama ini Ibu pakai cadar? Kalau nggak salah, dulu Ibu nggak berhijab 'kan?" Rea terdiam. Tangannya yang tadi mengusap punggung Nilna berhenti sebentar. Ada jeda y
"Cepat!” wanita itu terus menggedor. “Buka pintunya sekarang!”Beberapa orang yang bertugas, dengan panik langsung mendekat. Suasana berubah kacau"Mbak, bertahan, ya."Nilna tak dapat menjawab. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kunci berderak. Pintu terbuka dengan bunyi keras."Nilna... " Teriak wanita itu langsung menghambur masuk dan memeluk Nilna. Tak terasa cadarnya tersangkut di pintu besi saat ia menerobos masuk. Nilna yang kesakitan menatap kaget. "Nyonya?""Cepat, cepat.... kalian tangani." Dia begitu panik saat melihat ada cairan merembes di baju yang Nilna pakai. "Tarik nafas, Nilna. Kamu harus kuat."Nilna masih menatapnya tak percaya. Wanita itu seolah tak lagi perduli dengan cadar yang telah terlepas dari mukanya. "Belum… belum waktunya, Bu,” bisik Nilna lemah sambil menatap wanita yang memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, rasa itu datang tanpa peduli. Datang lagi dan lagi. Lebih keras.“Ahhh ....” Jeritan itu pecah. Nilna tak lagi dapat menahan r







