Mag-log inNilna terkejut."Kenapa kamar itu terbuka?"Entah kenapa ada sesuatu yang mendoorng Nilna mendekati kamar itu.Pintu yang terbuka sedikit tadi terdorong lebih lebar oleh tangan Nilna. Ia melangkah masuk tanpa sadar, seolah ada sesuatu yang menariknya ke dalam. Ruangan itu langsung menyambutnya dengan keheningan yang berbeda. Bukan kosong. Justru penuh. Terlalu penuh.Matanya langsung terpaku pada satu titik.Sebuah foto besar di dinding.Langkahnya terhenti.“Ibu…?”Suara itu keluar pelan, nyaris seperti napas yang tersangkut.“Ibu… kenapa…? "Ia mendekat perlahan, jemarinya terangkat dan menyentuh kaca bingkai itu. Wanita dalam foto itu tersenyum lembut, wajahnya teduh, perutnya membesar, jelas sedang mengandung. Tidak mungkin salah. Itu ibunya."Kenapa ada foto Ibu di sini?"Napas Nilna mulai tidak teratur. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini seperti hilang arah, kini perlahan menemukan jalannya.Ia menoleh, pandangannya mulai menyapu ruangan itu lebi
Reyhan melangkah lebih dulu, "Masuk," ucapnya pelan.Nilna mendekat. Langkahnya otomatis terhenti. Kamar itu luas. Namun, bukan itu yang membuatnya diam. Dinding di bagian belakang... bukan dinding biasa. Kaca besar membentang dari sisi ke sisi, memperlihatkan pemandangan yang membuat napasnya tertahan.Kolam kecil dengan air jernih terbentang di luar, dihiasi ikan-ikan kecil yang bergerak lincah. Di tengahnya, air mancur memercik pelan, menciptakan suara gemericik yang menenangkan. Di sekelilingnya, taman tertata rapi, hijau, hidup, dan terasa begitu dekat, seolah bisa disentuh dari dalam kamar.Cahaya alami masuk tanpa hambatan, memantulkan bayangan air ke langit-langit kamar."Mas..." suara Nilna nyaris hilang.Ia melangkah mendekati kaca, matanya tidak lepas dari pemandangan itu. Jemarinya bahkan tanpa sadar menyentuh kaca, seolah memastikan ini nyata.Reyhan berdiri di belakangnya.Mengamati.Bukan pemandangan di luar... tapi reaksi Nilna."Itu... dari dulu juga?" tanya Nilna pe
Reyhan tidak segera menjawab. Justru menatap Nilna. Itu yang membuat perasaan Nilna semakin penasaran. Jemarinya yang tadi menggenggam kain perlahan melepas, lalu bergeser sedikit, menatap Reyhan, bahkan sekarang meringkuk di dadanya. “Kenapa kamu datang… terus jadi begini?” Nada suaranya tidak tinggi. Tidak juga menuduh. Tapi jelas, ada kebingungan yang tidak bisa ia sembunyikan. Reyhan terdiam. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi sorot matanya… bergeser. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang dari tadi sempat ia tahan. Hening kembali turun. Namun, kali ini bukan hening yang hangat. Lebih penuh pertanyaan. Reyhan menarik napas perlahan. Rahangnya sedikit mengeras sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu kembali lagi. “Aku…” ucapnya pelan. Berhenti. Seolah kata berikutnya sulit keluar. Nilna tidak menyela. Hanya menunggu. Detik berjalan lebih lambat dari biasanya. “Aku habis ketemu seseorang.” Kalimat itu akhirnya keluar. Dan seketika, sesuatu dalam diri Nilna te
“Nilna…”Suara Reyhan rendah, nyaris seperti hembusan napas yang tertahan. Tidak keras, tidak juga memaksa. Namun cukup membuat langkah Nilna terhenti.“Iya, Mas?”Nada suaranya ikut melembut tanpa sadar. Ada jeda tipis sebelum ia mendekat, seakan memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk memastikan apa yang sedang terjadi.Reyhan berdiri tidak jauh darinya. Bahunya tegap, tapi sorot matanya tidak setegas biasanya. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah Nilna lihat sejak awal pernikahan mereka.“Ada apa?” ulang Nilna pelan.Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh lengan pria itu. Namun berhenti beberapa senti sebelum kulit bertemu. Jemarinya menggantung, ragu.Reyhan tidak langsung menjawab.Tatapannya bergerak perlahan, menyusuri wajah Nilna seolah sedang membaca sesuatu yang sulit dijelaskan. Dari mata, turun ke pipi, lalu berhenti sejenak di bibir. Lama. Terlalu lama.Nilna menelan ludah.“Kamu... kenapa?” suaranya mengecil.Hening.Sunyi yang biasanya terasa c
Reyhan tidak menjawab, tapi tatapannya tidak lepas.Nilna terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena sakit. Karena penuh. Sesuatu dalam dirinya bergerak. Pelan, tapi pasti. Namun sebelum ia sempat memahami, Reyhan menariknya dalam pelukan. Gerakannya tidak tiba-tiba. Masih sama seperti sebelumnya. Hati-hati. Seolah masih memberi ruang.Kali ini, Nilna tidak membeku. Tangannya perlahan naik. Ragu. Lalu akhirnya bertumpu di dada Reyhan.Jarak mereka hilang. Tubuh mereka saling bersentuhan.Nilna memejamkan mata. Ia tidak merasa harus menjaga jarak. Tidak merasa harus menahan diri. Ia hanya… berada di sana. Dalam pelukan itu.Reyhan menghela napas panjang, seolah beban yang ia tahan selama ini sedikit terlepas. Tangannya menahan punggung Nilna dengan lembut. Tidak erat. Hanya cukup untuk memastikan… ia tidak pergi.Waktu kembali berjalan. Perlahan. Detik demi detik. Dan tanpa mereka sadari, jarak yang dulu terasa harus dijaga…sudah hilang. Bibir mereka salin bertaut. Nafas
Kalimat Reyhan menggantung.Nilna tidak langsung menoleh.“Aku khilaf,” lanjut Reyhan, suara lebih pelan. “Aku tidak akan ulangi.”Hening. Pisau di tangan Nilna berhenti memotong. Beberapa detik. Lalu ia meletakkannya.Pelan. Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini tidak dihindari.Ingatan tentang semalam menghantui Nilna lagi. Nilna mengalihkan pandangan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.Reyhan menelan ludah.“Kalau kamu tidak nyaman ...”“Aku tidak bilang tidak nyaman,” potong Nilna tanpa sadar. Reyhan reflek menatapnya. Kali ini lebih lama.Anaya mengeluarkan suara kecil, memecah ketegangan. Tangan mungilnya bergerak, meminta perhatian.Reyhan segera menggendongnya. Anaya menguap kecil. Rupanya tidak tidur malam hari membuat dia mengantuk. Reyhan mengayunnya pelan. Tak lama, Anaya sudah tertidur. “Tidurkan saja Anaya di kamar, Mas. Ayo makan,” ucap Nilna. Reyhan mengangguk pelan, lalu beranjak ke kamar. Dengan pelan, bayi montok itu diletakkan. Namun, jeritan
Nilna baru saja menyelesaikan makannya saat pintu apartemen terbuka. "Kamu belum tidur?"Suara Reyhan muncul bersamaan bunyi pintu yang tertutup pelan. Nada suaranya datar, lebih rendah daripada biasa. Jam dinding hampir menunjuk angka sembilan malam.Nilna tersentak. Ia segera berdiri dari sofa,
"Kamu dari mana? tanya Reyhan dengan penuh kekhawatiran. Ia berdiri beberapa langkah dari pintu, jas kerja masih melekat, dasi sudah terlepas. Matanya menyapu wajah Nilna, rambut kusut, mata sembap, napas belum sepenuhnya tenang.Nilna menutup pintu perlahan. Tangannya sempat menempel sebentar, sep
Arjun tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke wajah Nilna, seolah mencoba mengingat sesuatu yang nyaris terjangkau, tapi belum mau muncul.Namun, bagi Nilna, tatapan itu seolah menancap di dadanya, pertanyaan mulai tumbuh, "Apakah dia merasa aku telah mengganggu hidup putranya?"Pikiran Nil
Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Nilna diizinkan pulang. Keputusan itu seharusnya membuatnya lega, tapi justru ada kegugupan yang berdiam di dada, seperti seseorang yang melangkah keluar dari ruang aman menuju dunia yang belum sepenuhnya ramah."Pelan saja, Nil. Jangan dipaksa."Reyha







