LOGIN“Anaya… jangan takut… ini Daddy…”Suara Reyhan pelan, berusaha menenangkan.Ayaka berdiri beberapa langkah, tangannya menggantung kaku. Wajahnya hancur. Mata yang tadi penuh harap kini hanya menyisakan kepedihan yang nyata.“Dia… takut sama aku…” bisiknya lirih.Tidak ada yang langsung menjawab.Nilna menunduk. Dadanya kembali sesak. Tangannya refleks memegang ujung baju Reyhan, mencari pegangan.“Aku cuma mau gendong…” suara Ayaka bergetar. “Cuma sebentar…”Reyhan tidak menjawab. Ia hanya mengusap punggung Anaya pelan, fokus menenangkan anaknya.Tangis itu benar-benar reda. Namun, wajah kecil itu masih terlihat tegang, seolah menyimpan sisa ketakutan yang belum hilang.Ayaka mundur selangkah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Ini… salah aku…” ucapnya pelan. “Semua salah aku…”Nini yang sejak tadi diam, akhirnya maju satu langkah. Wajahnya tidak lagi sekadar tegang. Ada amarah lama yang ikut terangkat.“Sekarang baru sadar?” suaranya tajam.“Nini…” Sammy, suami Nini, mencoba mena
Nama itu membuat Nilna ikut menoleh. Dunia seolah berhenti lagi. Pria itu… memang Renji. Masa lalu yang seharusnya sudah selesai.Di sampingnya… Keysha sedang menggendong bayinya.Reyhan melangkah maju tanpa sadar.“Renji.”Suara itu membuat pria tersebut berhenti. Ia menoleh. Mata mereka bertemu. Beberapa detik tidak ada yang bergerak.Keysha ikut menoleh, lalu sedikit terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan mereka.Suasana langsung berubah canggung.Nilna berdiri di belakang Reyhan. Tubuhnya sedikit kaku. Tangannya refleks memegang lengan Reyhan.Nini memandang Rea seolah bertanya.Arjun mengernyit. " Dia Renji yang pernah menikah dengan Nilna." Seolah paham maksud tatapan Nini, Arjun menjelaskan.Reyhan mendekat satu langkah lagi. Tatapannya turun ke bayi di gendongan Keysha. Anak lelaki itu tenang. Matanya yang biru, terbuka, menatap sekitar dengan polos.“Ini…” suara Reyhan serak. “Anak kalian?”Renji tidak langsung menjawab.Keysha mengeratkan tangannya di gendongan ba
Kedua wanita itu salin menggenggam tangan sambil tersenyum tanpa sadar, sampai akhirnyaa mereka salin melepaskan diri dan canggung hinggah kendaraan sampai di rumah sakit. “Dok, tolong… istri saya muntah dan lemah,” suara Reyhan terdengar khawatir begitu pintu klinik terbuka. Langkahnya panjang, napasnya belum beraturan. Tubuh Nilna terkulai lemah dalam gendongannya. Kepalanya terayun pelan setiap kali Reyhan bergerak, membuat jantung pria itu semakin tidak tenang. Seorang perawat berlari menghampiri. “Bawa ke ruang periksa, cepat.” Arjun langsung membuka jalan. “Sini, lewat sini!” Kursi roda didorong tergesa. Reyhan menurunkan Nilna dengan hati-hati, meski tangannya masih enggan melepas. Jari-jarinya sempat menahan pipi wanita itu, seolah memastikan ia benar-benar masih bernapas. “Nilna… dengar aku… kita sudah sampai,” bisiknya “Mas… jangan panik… aku masih sadar.” Suara Nilna pelan, hampir tenggelam oleh bunyi roda brankar yang bergerak cepat. Lampu putih UGD berderet di ata
.“Ibu sudah belajar bahagia,” lanjut Nilna, napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Sekarang... giliran kalian.”Arjun mengernyit. “Maksud kamu?”Nilna tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Perlahan. Lalu tanpa aba-aba, ia meraih tangan Rea... dan tangan Arjun.Keduanya terkejut.“Nilna...” bisik Rea.Namun Nilna tidak berhenti. Ia menyatukan kedua tangan itu. Menggenggamnya kuat, seolah tidak ingin mereka saling menjauh lagi.“Kalian juga harus bahagia,” ucap Nilna. Kalimat itu sederhana, tapi seperti sesuatu yang berarti di antara mereka.“Jangan hidup setengah-setengah cuma karena masa lalu,” lanjut Nilna. “Daddy... Mommy...”Kata itu membuat Rea tersentak.“Jadilah suami istri yang beneran.”Sunyi mendadak menekan. Tidak ada yang langsung menjawab.Arjun menatap tangan yang kini tergenggam dengan tangan Rea. Jari-jarinya kaku. Seolah belum tahu harus menerima atau melepaskan.Rea menunduk. Air mata jatuh satu per satu. Namun kali ini bukan karena luka lama. Ada r
“Apa yang kamu maksud dengan kalimat barusan, Nini?”Suara Arjun pecah lebih dulu. Serak, bergetar, seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam. Tangannya masih mengepal sejak sosok itu muncul. Sorot matanya tak lepas dari perempuan yang berdiri di ambang pintu.Nini.Perempuan itu melangkah masuk perlahan. Wajahnya tidak lagi seperti dulu yang penuh luka. Ada senyum tipis, tenang, bahkan hangat. Di sampingnya, seorang pria muda berdiri tegap, satu tangan memeluk bahunya, seolah menjadi sandaran yang nyata. Dalam gendongannya, seorang bayi laki-laki terlelap, wajahnya merah muda, napasnya halus.Kontras sekali dengan keguncangan Arjun.“Lama ya, Mas,” ucap Nini pelan.Nilna membeku. Kata itu... Mas. Cara menyebut itu terlalu akrab. Terlalu dalam.Reyhan menatap bergantian. Ke Arjun. Ke perempuan itu. Lalu ke bayi dalam gendongan. Ada sesuatu yang mulai ia pahami, tapi belum sepenuhnya jelas.Arjun melangkah satu langkah maju. Kakinya sempat goyah, namun ia paksa berdiri tegak.
“Apa maksudnya… kita bisa bersama?”Suara Nilna serak. Tidak keras, tapi memotong keheningan yang sejak tadi menekan dada semua orang. Matanya menatap Arjun tajam. Air mata masih menggantung, belum jatuh, seolah menunggu jawaban yang tepat sebelum akhirnya luruh.“Maksud Daddy apa?” lanjutnya, lebih tegas. “Kami ini… saudara, kan?”Kalimat itu langsung membuat Reyhan menegang.“Nilna... ”“Jangan!” potong Nilna cepat. Tatapannya masih terkunci pada Arjun. “Jelaskan dulu. Jangan bilang hal seperti itu… seolah semuanya baik-baik saja.”Arjun tidak langsung menjawab. Ia menatap Nilna lama. Tatapan yang penuh sesuatu.....penyesalan, rindu, juga kelegaan yang penuh.Rea melangkah satu langkah ke depan.“Sayang.…” Panggilan itu lembut. Hangat. Namun justru membuat Nilna semakin tidak nyaman.“Jangan panggil aku seperti itu dulu,” bisik Nilna.Rea terdiam.“Kalau semua ini benar…” lanjut Nilna, suaranya bergetar lagi, "aku dan dia…” ia melirik Reyhan sekilas, “…itu salah.”Reyhan menutup m
"Kamu dari mana? tanya Reyhan dengan penuh kekhawatiran. Ia berdiri beberapa langkah dari pintu, jas kerja masih melekat, dasi sudah terlepas. Matanya menyapu wajah Nilna, rambut kusut, mata sembap, napas belum sepenuhnya tenang.Nilna menutup pintu perlahan. Tangannya sempat menempel sebentar, sep
Arjun tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke wajah Nilna, seolah mencoba mengingat sesuatu yang nyaris terjangkau, tapi belum mau muncul.Namun, bagi Nilna, tatapan itu seolah menancap di dadanya, pertanyaan mulai tumbuh, "Apakah dia merasa aku telah mengganggu hidup putranya?"Pikiran Nil
Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Nilna diizinkan pulang. Keputusan itu seharusnya membuatnya lega, tapi justru ada kegugupan yang berdiam di dada, seperti seseorang yang melangkah keluar dari ruang aman menuju dunia yang belum sepenuhnya ramah."Pelan saja, Nil. Jangan dipaksa."Reyha
Ada rasa was-was, terlebih saat terdengar ketukan pelan. Tidak keras, tidak terburu-buru, tapi cukup untuk membuat jantung Nilna berhenti sesaat.Tok. Tok.Bukan suara pintu kamar yang biasa diketuk perawat. Irama itu berbeda. Lebih ragu.Nilna membuka mata lebar-lebar. Nafasnya tercekat. Tanganny







