Home / Romansa / SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS / 189. Keyakinan Reyhan

Share

189. Keyakinan Reyhan

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-04-21 14:10:49

Reyhan refleks menoleh ke Nilna. Wajah Nilna nampak tegang. Garis rahangnya kaku, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan di hadapan siapa pun di ruangan itu.

“Kamu masih ragu?” tanya Reyhan pelan. Hampir tidak terdengar selain oleh Nilna yang duduk tepat di sampingnya.

Nilna menoleh sedikit. Nafasnya belum stabil. Jari-jarinya masih menggenggam kain bajunya sendiri.

“Aku sudah bilang tadi,” lanjut Reyhan, suaranya tetap rendah. “Yang aku bisikkan itu bukan main-main.”

Tatapannya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   208. Ketika.....

    Reyhan tidak menjawab, tapi tatapannya tidak lepas.Nilna terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena sakit. Karena penuh. Sesuatu dalam dirinya bergerak. Pelan, tapi pasti. Namun sebelum ia sempat memahami, Reyhan menariknya dalam pelukan. Gerakannya tidak tiba-tiba. Masih sama seperti sebelumnya. Hati-hati. Seolah masih memberi ruang.Kali ini, Nilna tidak membeku. Tangannya perlahan naik. Ragu. Lalu akhirnya bertumpu di dada Reyhan.Jarak mereka hilang. Tubuh mereka saling bersentuhan.Nilna memejamkan mata. Ia tidak merasa harus menjaga jarak. Tidak merasa harus menahan diri. Ia hanya… berada di sana. Dalam pelukan itu.Reyhan menghela napas panjang, seolah beban yang ia tahan selama ini sedikit terlepas. Tangannya menahan punggung Nilna dengan lembut. Tidak erat. Hanya cukup untuk memastikan… ia tidak pergi.Waktu kembali berjalan. Perlahan. Detik demi detik. Dan tanpa mereka sadari, jarak yang dulu terasa harus dijaga…sudah hilang. Bibir mereka salin bertaut. Nafas

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   207.Ketila kata tak terucap

    Kalimat Reyhan menggantung.Nilna tidak langsung menoleh.“Aku khilaf,” lanjut Reyhan, suara lebih pelan. “Aku tidak akan ulangi.”Hening. Pisau di tangan Nilna berhenti memotong. Beberapa detik. Lalu ia meletakkannya.Pelan. Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini tidak dihindari.Ingatan tentang semalam menghantui Nilna lagi. Nilna mengalihkan pandangan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.Reyhan menelan ludah.“Kalau kamu tidak nyaman ...”“Aku tidak bilang tidak nyaman,” potong Nilna tanpa sadar. Reyhan reflek menatapnya. Kali ini lebih lama.Anaya mengeluarkan suara kecil, memecah ketegangan. Tangan mungilnya bergerak, meminta perhatian.Reyhan segera menggendongnya. Anaya menguap kecil. Rupanya tidak tidur malam hari membuat dia mengantuk. Reyhan mengayunnya pelan. Tak lama, Anaya sudah tertidur. “Tidurkan saja Anaya di kamar, Mas. Ayo makan,” ucap Nilna. Reyhan mengangguk pelan, lalu beranjak ke kamar. Dengan pelan, bayi montok itu diletakkan. Namun, jeritan

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   206. Saat canggung menguasai

    Akhirnya, tanpa banyak bicara, mereka duduk di atas tempat tidur yang sama. Jarak masih ada, tapi tidak sejauh sebelumnya. Anaya berada di tengah. Waktu berjalan. Suara kota dari kejauhan terdengar samar. Lampu kamar redup. Anaya akhirnya mulai mengantuk. Gerakannya melambat. Matanya setengah terpejam. Nilna tanpa sadar ikut merebahkan tubuh dengan serba salah. Dia yang tidak mengira Reyhan ikut tidur bersama mereka, mengenakan baju tidur. Beberapa menit kemudian, napas Nilna berubah teratur. Ia tertidur. Reyhan masih terjaga. Pandangan lelaki itu kembali jatuh ke wajah Nilna. Sama seperti di mobil, tapi kali ini lebih dekat. Jauh lebih dekat. Seoalh tidak ada lagi batas Anaya. Hanya jarak tipis yang bisa dihilangkan kapan saja. Reyhan menahan napas. Tangannya terangkat sedikit, seolah ingin menyentuh, tapi berhenti di atas kepala Nilna. Ia menatap lama. Lalu... perlahan, ia mendekat dengan sangat pelan. Hingga akhirnya, tanpa benar-benar berpikir, bibirnya menyentuh bibi

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   205. Saat dekat

    Reyhan mengangguk paham, namun Nilna mrnatap Arjun heran."Dad, sebenarnya ada apa di kamar itu?"Seketika Arjun menegang."Sebenarnya, aku mau ngajak Nilna tinggal di resort, tapi kayaknya perlu persiapan.""Apa? Resort? Di desa itu? Kamu yakin, Rey?" tanya Rea.Reyhan menatap Nilna sejenak. "Entah kenapa saat itu aku sudah membangun sebuah rumah di sana yang aku desain khusus. Cuma, kebali ke Nilna, dia mau di mana."Suara Reyhan terdengar pelan, nyaris tenggelam dalam sisa riuh yang belum benar-benar hilang.Nilna menatapnya sebentar. Lalu mengangguk kecil.“Aku ikut kamu saja.”"Kalau gitu, sementara kalian di penthouse. Soal pindah, urusan nanti."Tidak ada perdebatan lagi.Reyhan hanya mengangguk, lalu mengalihkan perhatian ke Anaya yang masih terlelap di pelukan pengasuh. Dengan hati-hati, ia mengambil bayi itu, memastikan kepala kecilnya tersangga dengan baik.“Ayo.”Langkah mereka menjauh dari tempat itu tanpa menoleh lagi.Mobil melaju meninggalkan area acara. Lampu-lampu ko

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   304. Syarat

    Nilna tidak langsung menjawab. Ia menatap Renji lama, seolah memastikan setiap kata yang akan keluar tidak akan bisa ditarik kembali.Di belakangnya, Reyhan mulai gelisah.“Nilna…” panggilnya pelan.Namun Nilna tidak menoleh. “Dia menipumu,” ucapnya akhirnya, seolah mencibir Renji.Hening. Benar-benar hening. Bahkan suara kamera pun seolah berhenti sesaat.Renji menatapnya tajam.“Apa?”“Keysha menipumu.” Kali ini lebih jelas. Lebih tegas.Renji menggeleng kecil.“Itu tidak masuk akal.”“Benarkah?” balas Nilna cepat.Tatapan mereka bertemu. Sama-sama tajam. Sama-sama tidak mau mundur.“Jangan mainkan hal seperti ini,” kata Renji, suaranya mulai berubah.Nilna mengangkat sedikit dagunya.“Kamu pikir aku seseorang yang pandai berbohong?”Renji terdiam. Wajahnya mulai kehilangan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan.“Apa yang kamu tahu?” tanyanya akhirnya.Nada suaranya tidak lagi santai. Lebih berat dan lebih menuntut.Nilna menatapnya tanpa berkedip.“Kamu benar-benar tidak sadar?

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   203. Menyesal

    "Rey...aku senang,” ujar Renji akhirnya. Nada suaranya berubah. Lebih pelan dan lebih dalam. “Karena akhirnya… kecuriganku dulu, sekarang, semuanya jelas.”Reyhan menatap bingung.Rea mengerutkan kening. “Maksudmu apa?”Renji tersenyum. Kali ini bukan senyum santai. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang terasa… seperti kepastian.Ia menatap Reyhan. Lalu beralih ke Nilna. Bergantian. Seolah menghubungkan dua titik yang sejak lama ia amati.“Kalian,” katanya perlahan, “sudah membuktikan sesuatu."Reyhan menegang. Nilna membeku.Para wartawan refleks mengangkat kamera lebih tinggi.Klik. Klik. Klik.Renji sedikit memiringkan kepala. Tatapannya tajam. Lurus.“Kalau kalian…” ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya, “memang sudah saling menyukai sejak dulu. Kamu, Nilna, telah selingkuh."Seketika, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas dengan normal. Genggaman Reyhan pada tangan Nilna semakin kuat.Namun kali ini… Nilna tidak membalas. Tangannya ding

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   48. Cemburu

    Nilna menoleh. Jantungnya melonjak. "Mas Reyhan?"Lelaki itu sudah berdiri tak jauh dari meja kayu warung, tubuhnya sedikit condong, sorot matanya menyimpan ragu yang tak segera sirna. Pakaian kasualnya tampak menunjukkan kelasnya. "Kok kamu ada di sini?" Reyhan menoleh sekitar, ragu. "Kamu kerja

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   47. Nilna?

    "Nilna, cukup! Kamu telah melampui batasan kamu!" Suara Ayaka memotong tajam, seperti pisau jatuh ke talenan. Ia sudah berdiri dekat pintu dapur, rambut tersisir rapi dengan mata menyapu Nilna dan Keysha.Nilna masih membuka mulutnya dengan napas yang masih bergetar, kata-kata yang hendak meluncu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   46. Terlalu lama

    "Dari mana saja kamu?" Suara itu membuat langkah Nilna terhenti setengah. Tangannya masih menggenggam kunci, ujungnya sudah hampir menyentuh lubang. Pintu rumah besar itu setengah tertutup, cahaya lampu ruang tamu merembes tipis, memotong bayangan lelaki yang berdiri tepat di depan pintu rumah meg

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   45. Curhat

    Nilna diam menunduk. Matanya menyapu warung Bu Maryam yang terletak di perumahan tipe 36. Di sebelahnya ada tanah kosong yang ia beri kanopi dan dijadikan warung sederhana. Rina mengajaknya duduk. "Bu, es teh lagi satu,ya." Nu Maryam segera menyapa. "E, ada Mbak Nilna, ya? Siap, Mbak. Tapi tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status