Se connecterHarun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya.
Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun.
“Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu.
“Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang minta maaf ke lu, karena sudah ngrepotin.”
“Ah, gak ngrepotin kok, Run. Andaikata gua bisa membantu, wallahi, gua pasti akan bantu.”
Harun menghela nafasnya. Raut wajahnya yang tampan benar-benar terlihat kehilangan cahayanya. “Kira-kira di mana lagi ya aku harus meminta bantuan,” gumamnya, seolah-olah pada dirinya sendiri.
Julian yang mendengar itu tak menanggapi, namun dari raut wajahnya ia benar-benar merasa ikut prihatin. Bagaimana pun, Harun adalah sahabat baiknya di bangku SMA. Harun adalah bintang sekolah karena merupakan siswa berprestasi. Hanya sayangnya, ia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tetapi di sisi lain ia tak bisa untuk membantu.
“Ya udah, Jul, gua pamit dulu, ya?”
“Lu sekarang hendak ke mana?”
“Gua akan langsung ke rumah sakit, Jul.”
“Ya sudah, yang hati-hati ya, Run? Oh ya bentar ….”
Pemuda itu merogoh saku celananya. Ada selembar uang pecahan lima puluh ribu Rupiah di situ, dan ia memberikannya pada Harun. “Mudah-mudahan ini bermanfaat ya, Run?”
“Alhamdulillah, pasti sangat bermanfaat, Jul. Makasih, ya? Ya sudah, gua pamit, ya? Assalamualaikum.”
“Ya, yang hati-hati, Run. Waalaikumsalam.”
Harun mengayuh sepedanya. Ia akan kembali ke rumah sakit di mana sang ibu dirawat. Matahari telah berada tepat di atas kepalanya. Ia kembali ke rumah sakit.
Tiba di sana, salah seorang tetangga yang menunggu ibunya di emperan ruang ICCU menyambut kedatagangannya. Namanya Najwa. Gadis itu tidak berkata-kata, namun dari tatapan dan ekspresi wajahnya, Najwa seakan-akan bertanya tentang hasil kedatangannya di rumah Paman Hanif. Harun pun hanya menggeleng-geleng.
Justru pada saat itu pintu ruang ICCU dibuka oleh seseorang. Seorang dokter yang merawat ibunya keluar. Dokter itu membawa ekspresi mendung saat menatap ke arah Harun. Harun dan Najwa melangkah mendekati sang dokter.
Dan benar saja, dokter itu membawa kabar duka itu. Kabar duka yang membuat darah Harus terasa turun semuanya yang membuat pandangan buram dan kabur sebelum jatuh tak sadarkan diri.
***
Setelah tujuh hari ibunya wafat, Harun keluar dari rumahnya dan menuju ke rumahnya Najwa yang berjarak beberapa rumah dari rumahnya. Ia akan meminta izin kepada gadis itu untuk pergi mencari pekerjaan.
“Kamu mau mencari pekerjaan di mana, Dik Run?” tanya Najwa dengan tatapan iba kepada Harun.
“Belum tahu, Kak. Yang penting aku mengayuh saja dulu sepedaku. Mudah-mudahan nanti aku bisa mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan apa saja yang bisa cepat memberi hasil. Aku titip rumah ini ya, Kak? Dan doakan aku semoga bisa cepat mendapatkan pekerjaan.”
“Baiklah, Run. Kakak pasti mendoakan semoga Dik Harun segera mendapatkan pekerjaan. Kamu hati-hati ya di mana pun kamu berada. Ini sekedar buat sangu ya, Run. Gak banyak, sih.”
“Tidak usah, Kak. Kak Najwa sinpan saja.”
“Tidak, Run, kamu bawa.”
Harun melihat selembar uang pejahan lima puluh ribu Rupiah yang dilipat kecil yang diberikan oleh Najwa di telapak tangan kanannya. Ia pun mengangguk-angguk kecil dan mengucapkan terima kasih kepada gadis yang sangat baik itu.
“Terima kasih ya, Kak.”
“Sam,a-sama, Dik Harun. Kamu yang hati-hati, ya?”
“Insya Allah, Kak. Aku pamit, ya? Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.”
Harun sama sekali tidak memiliki hubungan famili dengan keluarga Najwa. Gadis itu hanyalah tetangga satu blok yang kebetulan sangat baik. Gadis yang berwajah manis itu sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh Harun. Di sela-sela kesibukannya mengurus usaha warung sembako milik ibunya, gadis alumni D2 jurusan administrasi niaga itu selalu menyempatkan diri untuk merawat mendiang Bu Kalsum, ibunya Harun.
Harun mengayuh sepedanya dengan hanya berbekal uang yang pernah diberikan oleh Julian beberapa hari yang lalu. Ia mengayuh sepeda otelnya ke arah barat. Ia bukan hanya membawa harapan dan juga perasaan yang kosong berselimut duka. Saat itu ia benar-benar hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggalkannya satu per satu buat selama-lamanya.
Ayahnya, Abdul Haris, tewas akibat terjangan dari arah samping oleh penerobos traffic light di sebuah perempatan. Tabrakan itu sangat kuat yang membuat tubuh Abdul Haris terlepar bersama sepeda motornya. Abdul Haris tewas dalam perjalanan menuju sebuah rumah sakit terdekat.
Tiba-tiba ia mendengarkan ucapan sang gurunya, Eyang Jabat Wening, bahwa di kamar sebelah ada seorang wanita muda yang sedang dizalimi oleh nseorang laki-laki yang berumur. Mendengar itu membuah Harun begitu geram. “Kamu pejamkan matamu, biat Eyang yang menghubungan mata batinmu ke kamar sebelah,” terdengar lagi suara Eyang Jabal Wening, yang langsung dilakukan oleh Harun. Ia seolah-olah merasakan sentuhan tangan halus pada wajahnya. Itu pasti tangannya sang guru. Tiba-tiba ia seperti membuka matanya dan melihat apa yang sedang terjadi di kamar sebelah. Di sana ada dua orang, laki-laki dan wanita muda, yang bertengkar dengan sengit. Wanita itu ia kenal karena pernah berada dalam satu lift bersama. Wanita muda itu tampak tak berdaya karena terus dih*jar oleh sang laki-laki di kamar mandi. Wajah wanita itu telah berlumuran darah. Kemungkinan kena pukulan, tendangan, atau bantingan. Saat ia menyaksikan laki-laki itu menyeret keluar si wanita dengan menar
Ia membuka kembali helm yang telah ia pakai, lalu berkaca pada kaca spion sepeda motornya. Ia benar-benar dibuat kaget. Ternyata pipinya terlihat normal kembali, sudah tak bengkak. Saat ia menepuk-nepuknya pun, rasa sakit itu sama sekali tak terasa lagi. Bahkan ketika ia menekankan langsung ujung jarinya pada gigi yang krowok, ia sama sekali tak merasakan sakit. Bahkan krowoknya sudah tak ada lagi. Ia meraba-raba kembali untuk memastikan bagian puncak giginya pun, ia benar-benar heran bercampur gembira. Puncak giginya terasa normal. Sudah tak ada lagi krowoknya. “Wah, ini benar-benar ajaib!” celetuknya pelan. “Berarti air ini benar-benar air yang sangat mujarab. Aku harus segera menuju rumah sakit. Bismillah.” Sesampai di rumah sakit kebetulan waktu besuk sudah dibuka. Ada ayah dan ibu mertuanya yang menunggu di bangku pangjang di depan ruang rawat. Zaki menyalami dan menciumi tangan keduanya. “Ibu Bapak sudah masuk melihat Isti?” “Barusan. Tadi Ibu nyuapin,”
Harun masih sempat mendengar jika wanita itu disambut oleh seseorang yang bersuara bariton. Mungkin pemilik suara itu laki-laki yang sudah berumur, di atas tiga puluhan tahun. Berada dalam kamar hotel, Harun menyempatkan dulu untuk mengamati seluruh bagian dari kamar yang sangat mewah itu. Kamar sejenis itu hanya ia pernah lihat di sinetron-sinetron. Ia kemudian melemparkan begitu saja tasnya di atas tempat tidur sebelum ia melepas sepatunya. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan posisi telentang. Ia menikmati kondisi itu sembari memejamkan kedua matanya. Tok … tok … tok… Ketukan di pintu kamar membuat ia membuka matanya. Dengan sedikit malas-malasan ia bangkit dan melangkah ke arah pintu. Ia mengira itu adalah si tukang ojek. Tetapi ketika ia mengintai melalui lobang intai yang diberi kaca, ia melihat wajah orang lain. Seorang pemuda berdiri di depan pintu. Tampaknya petugas hotel. Ia langsung membukakan pintunya. “
Yang tahu mengapa api itu tadi mendadak padam, hanya dua orang, yaitu ibu pemilik ruko dan anak gadisnya yang berada di lantai atas tadi. Bahkan petugas dinas kebakaran yang muncul kemudian merasa heran, mengapa api yang sedang berkobar tiba-tiba bisa padam seketika? Padahal saat itu sedang musim kemarau dan terik masih terasa sangat menyengat. Di tengah-tengah kerumunan, terlihat beberapa orang berusaha merangsek masuk. Ternyata mereka adalah sanak kadang dari keluarga yang mendapat musibah. Mereka pun langsung berpelukan dan sama-sama menangis haru. “Syukurlah kalian selamat. Untunglah pemadam kebekaran sigap dan cepat ….” “Bukan,” potong si ibu yang menjadi korban. “Kami diselamatklan oleh Mas … Lh, Mas penyelamat barusan ke mana?” Sekeluarga itu pun dibuat heran dan berusaha mencari ke mana-mana dengan menebarkan pandangan mereka. “Diselamatkan oleh Mas? Maksudnya seorang pemuda?” tanya laki-laki yang baru datang. “Iya. Dia yang tiba-tiba muncu
Dari mesjid komplek itu, ia kembali melangkah menyusuri trotoar di pusat kota bersama para pejalan kaki lainnya. Di kiri kanan jalan raya yang cukup lebar dan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang itu berdiri toko-toko, perkantoran, hotel, dan sebagainya. Pada malam hari, tempat itu dikenal sebagai tempat mejengnya para muda-mudi kota. Lokasinya di samping strategis, namun juga tempatnya bagus dan asri. Harun tak tahu, apakah pemkot juga telah mendukung dan memfasilitasi kawasan itu sebagai tempat mejengnya anak muda kota? Betapa tidak, kawasan itu tersedia berbagai fasilitas pendukung, seperti taman bunga memanjang di dua bahu jalan, bangku-bangku besi panjang yang bagus, san sebagainya. Sementara pada siang hari tentu kawasan itu tetap menjadi pusat kesibukan. Pada sebuah restoran Padang, sang pewarisnya Erang Jabal Wening itu mampir. Ia harus mengisi perutnya. Rumah makan itu cukup banyak pelanggannya. Namun masih ada satu dua meja-kursi yang kosong. Ket
Saat itu Harun telah tiba di sebuah taman kota. Tiba-tiba terdengar ada suara teriakan seorang ibu-ibu yang mengalami kecopetan. Namun Harun tidak menghentikan atau memelankan langkah kakinya. Karena saat itu ia sedang memikirkan banyak hal, terutama saat itu ia akan pergi ke mana. Akan tetapi teriakan itu makin dekat dan bukan saja satu orang yang berteriak. Ternyata copet itu berlari ke arahnya. Terpaksa Harun menghentikan langkahnya. Sang copet yang merupakan laki-laki muda larinya cukup kencang. Di belakangnya ia dikejar oleh banyak orang. Namun pengejar yang paling dekat dengan sang copet adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Jarak antara si copet dengan si gadis dan pemuda itu hanya sekitar sepuluh meter. Ketika copet itu akan melewatinya, Harun langsung menarik tubuhnya ke samping, membiarkan sang copet lewat di depannya. Ia tidak berusaha untuk menghentikan pelaku kriminal kelas receh itu dengan cara apa pun. Akan tetapi, ketika sang gadis pengejar







