مشاركة

PART 07

مؤلف: Kalang Langit
last update آخر تحديث: 2026-03-03 20:10:19

     Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu.

     “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!”

     Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja.

      Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing.

     “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.”

      Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tidak ada dalam sakunya. Bisa jadi ponselnya itu ikut disikat oleh pencuri sepedanya dan yang juga mengeroyoknya. Ia menghela nafas panjang dan dalam dan menggeleng-geleng pelan. Ketika ia mendongak ke atas langit, matahari tepat berada di atas kepalanya. Kira-kira saat itu sekitar pukul dua belas.

    Dan ada sesuatu yang tiba-tiba ia ingat. Tadi, ketika ia masuk ke dalam makam itu matahari sudah combing ke barat. “Kenapa mataharinya sekarang kembali di atas kepalaku? Atau … ini aku berada di hari yang berikutnya? Jika itu benar, berarti aku tak sadarkan diri cukup lama. Bisa satu hari, dua hari, atau lebih. Hm, sebaiknya aku segera pergi dari tempat yang akngker ini.”

     Harun pun melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba itu berhenti. Wajahnya mengerut seolah-olah sedang mengingat sesuatu.

    “Ajian Melipat Bumi dan Ajian Saipi Angin,” gumamnya. “Kedua ajian pamungkas itu tadi disebutkan oleh Eyang Jabal. Ajian Saipi Angin untuk bergerak dengan sangat cepat, sementara Ajian Melipat Bumi untuk berjalan dengan sangat cepat. Hm, apakah aku harus mencoba salah satu dari keduanya? Tapi aku harus menggunakan ajian yang mana? Mungkin aku harus menggunakan dulu Ajian Melipat Bumi. Hm, baiklah. Ajian Melipat Bumi ….”

    Setelah berucap demikian, Harun melangkah. Ia merasakan tubuhnya demikian ringan dan cepat. Ia hanya melangkah dengan langkah-langkah biasa, namun ajaibnya ia merasakan setiap satu langkahnya ia seperti telah melangkah jauh. Dan ajaibnya lagi, orang-orang yang ia lihat di sepajang perjalanan seolah-olah tidak memperhatikan dirinya. Atau bisa jadi orang-orang itu memang tidak sempat melihat kelebatannya?

   Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Ia menoleh ke arah belakang. Di perempatan jalan raya yang ramai telah terjadi kecelakaan lalu lintas. Dua buah sepeda motor bertabrakan. Tidak, satu sepeda motor menabrak sepeda motor lain yang melintasi ketika lampu merah sudah menyala.

    Harus segera melangkah ke arah TKP. Ia melihat ada lima orang yang tergelatak di bahu jalan. Dua orang laki-laki, dua orang wanita. Salah seorang wanita dalam kondisi tak sadarkan diri namun tetapi mendekap anak balitanya yang juga dalam kondisi tak sadar. Dua laki-laki juga dalam kondisi pingsan. Satu wanita lain juga kondisinya tidak jauh berbeda.

     Tidak ada yang berani menyentuh para korban itu. Para pengguna jalan hanya menghentikan kendaraan mereka untuk sesaat sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Namun sebagian badan jalan menjadi tempat tergeletaknya dua korban berikut sepeda motor mereka. Orang-orang itu bukannya tidak peduli, namun mereka hanya takut jika mereka memberikan pertolongan justru akan semakin memperparah sakitnya para korban. Karena bisa jadi ada tulang-tulang yang patah atau retak, yang jika digerakkan bisa makin memberikan efek yang tidak bagus.

    Tetapi Harun tidak tega melihat kondisi. Seolah-olah ada sebuah dorongan hatinya yang membuatnya langsung melangkah mendekati para korban itu. Ia memegang lengan salah seorang korban wanita dan anaknya dalam dekapannya. Ia dibuat kaget sendiri, karena ia menyaksikan tangannya bercahaya putih, dan cahaya itu mengalir pada seluruh tubuh kedua korban. Tak berselang lama, sang korban dan anaknya siuman dan langsung bangun terduduk dengan ekspresi seperti orang yang sedang kebingungan. Dan itu membuat semua orang yang melihat berteriak tertahan akibat merasa sangat keheranan.

     Menyadari bahwa ajian penyembuhnya telah aktif, Harun pun melangkah ke arah korban lain, yaitu wanita yang satunya lagi. Hal yang sama pun terjadi, wanita itu siuman dan duduk dengan wajah seperti orang linglung. Kedua korban lain yang ia jamah pun mengalami hal yang sama. Kelima korban itu langsung bangun dan menyingkir ke trotoar dalam kondisi sehat walafiat.

    Karena merasa diperhatikan oleh semua warga yang ada di sekitar lokasi itu, Harun seperti tersadar. Ia pun membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi dari tempat itu dengan langkah yang cepat. Namun hanya sesaat orang-orang melihat sosoknya, karena tak lama kemudian sosoknya tiba-tiba lenyap dari pandangan.

    “Siapa dia …?” tanya salah seorang warga, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun.

    “Iya, siapa dia?” timpal yang lain. “Tiba-tiba dia menghilang begitu saja.”

   “Saya yakin, dia bukan manusia. Dia seorang malaikat yang senagja datang untuk menolong para korban ini.”

    “Iya, saya setuju, Tidak mungkinlah manusia seperti kita memiliki kesaktian dan keajaiban yang luar biasa seperti itu.”

      Saat itu Harun telah merjalan di atas trotoar yang sudah cukup jauh dari TKP kecelakaan tadi. Di sepanjang trotoar tumbuh berjejer berjejer pohon flamboyan. Pohon-pohon itu membuat sinar matahari terhalang sehingga tak terasa panas teriknya. Pohon-pohon itu sedang berbunga, dan bunga-bunganya yang luruh telah memerahkan sisi jalan yang dilewati oleh Bagus. Beberapa kelopak dan bekas putik sari bunga ada yang jatuh menimpa kepala dan punggungnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 07

    Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 06

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 05

    Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 04

    Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 03

    Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 02

    Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status