مشاركة

PART 06

مؤلف: Kalang Langit
last update آخر تحديث: 2026-02-28 12:10:03

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.”

    “Hm …”

      Harun  lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya.

    “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip.

       Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?”

     “Te-tentu, Eyang ….”

     Lagi-lagi Eyang Jabal Wening tersenyum, mengangguk pelan, dan merentangkan kedua tangannya.

     Walau dengan perasaam ragu-ragu, Harun melangkah maju, menyambut pelukan dari laki-laki sepuh itu. Cukup lama, sebelum sang guru merenggangkan pelukannya, dan ia pun melepaskan pelukannya.

      Selanjutnya ia kembali menatap wajah sang calon gurunya di hadapannya. Beliau sudah sepuh, namun wajahnya masih terlihat muda tanpa keriput sedikit pun, walau rambut dan janggut panjangnya sudah tidak selembar pun yang berwarna hitam. Cahaya matanya pun masih tampak jernih.  Ya, laki-laki tua itu memiliki wajah yang klimis bercahaya. Tetapi satu hal yang aneh pada laki-laki tua itu. Bulu matanya berwarna hitam. Giginya juga masih berbaris rapi dan putih. Seumpama rambut dan janggutnya dicukur rapi lalu disemir, maka wajah itu lebih mirip laki-laki yang berusia tiga lima hingga empat puluhan tahun. Mungkin, pikir Harun, eyang gurunya itu masih tampak mudah karena beliau sudah berada di alam yang berbeda. Tetapi herannya, saat ia memeluknya barusan, ia seolah-olah tidak sedang memeluk mahluk yang berwujud materi padat. Sangat lembut, sehingga ia seperti sedang memeluk mantel bulu yang sangat lembut.

    “I-iya, Eyang, aku sangat siap …!”

     “Hm. Eyang sangat prihatin atas apa yang telah engkau alami. Tindakan zalim itu benar-benar membuatmu sangat menderita.”

      “Iya, Eyang. Untunglah ada Eyang yang menolong aku. Jadi aku bisa siuman kembali dalam kondisi yang normal seperti ini.”

     “Kau lihatlah di belakangmu.”

     Ketika Harun menoleh ke belakang, ia langsung melonjak kaget. Ia melihat kondisi raganya yang sangat memprihatinkan.

    “Jadi … yang sedang berbicara dengan Eyang Jabal saat ini adalah nyawa atau roh, Eyang?”

    “Tidak. Itu ada sukmamu. Kelak, kamu akan terbiasa untuk meninggalkan ragamu. Itu yang disebut meraga sukma atau rogo sukmo. Namun untuk melakukan itu, kamu harus tekun berlatih konsentrasi, sampai kamu mencapai level konsentrasi tingkat tinggi. Lewat konsentrasi tingkat tinggi itulah kamu bisa melakukan rogo sukmo. Sebenarnya, level konsentrasi itu masih ada yang lebih tinggi lagi, yaitu konsentrasi level pamungkas, atau yang tertinggi. Namun kelak kamu akan memahaminya, muridku.”

     “Baik, Eyang.”

     “Ada dua hal yang ingin Eyang anjurkan kepadamu, muridku. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah, mengabdi dulu pada sebuah keluarga. Semoga dari situ masa depanmu akan terbuka seluas-luasnya. Hal kedua adalah, kelak kamu harus melakukan sebuah pertjalanan waktu. Melalui tugas itu, maka gerbang masa depanmu akan terbuka jauh lebih besar lagi.”

     Harun memikirkan dua hal yang dikatakan oleh sang calon gurunya itu secara dalam-dalam. Tentu untuk saat itu ia sama sekali tidak paham maksud dari anjuran itu, yaitu mengabdi pada sebuah keluarga dan melakukan sebuah misi perjalanan waktu. Namun demikian, kendati ia belum benar-benar paham maksud dari dua anjuran itu–terutama tentang misi perjalanan waktu--ia pun menjawab ucapan sang calon gurunya dengan dengan sebuah anggukan dan kalimat tegas, bahwa kelak ia akan mengikuti anjuran itu.

     “Baik, Eyang, aku akan melaksanakan apa yang Eyang anjurkan.”

     “Hm. Sekarang, kamu masuklah kembali ke dalam ragamu, muridku. Insha Allah, kondisimu akan kembali seperti semula.”

    Tentu Harun masih merasa bingung tentang cara untuk kembali ke raganya. Lalu ia bertanya, “Bagaimana cara aku untuk kembali ke ragaku, Eyang?”

      “Pejamkan matamu dan berniat untuk kembali ke ragamu.”

     Harun mengikuti petujuk sang guru. Dan ia mendengarkan perintah Eyang Jabal Wening  agar ia membuka kedua matanya. Ia melakukannya. Ia cukup kaget. Karena ternyata ia telah berhasil menempati kembali raganya.

     Namun untuk beberapa saat lamanya ia menjerit sejadi-jadinya seperti orang yang sangat kesakitan dan menderita. Tetapi itu tak  berlangsung lama. Penderitaan itu berangsur-angsung berkurang lalu menghilang bersama pulihnya keadaan raganya.

     “Kok kondisiku telah pulih kembali seperti sedia kala, Eyang?”

      Eyang Jabal Wening tersenyum melihat sang calon muridnya yang dilanda keheranan dan kesenangan.

     “Kamu belum waktunya untuk meninggalkan duniamu, muridku. Usiamu masih sangat panjang. Namun demikian, Eyang akan mewariskan ilmu-ilmu pamungkas yang Eyang miliki, seperti yang Eyang sebutkan barusan.  Setelah menerima transferan ilmu-ilmu Eyang, maka kamu akan memiliki banyak kemampuan yang tak dimiliki oleh siapa pun. Tetapi ingat, kamu tetap rendah hati. Tolonglah orang dengan hati ikhlas tanpa pamrih. Jika engkau melakukan segala hal dengan nawaitu demi akheratmu, maka dunia akan mengikuti dan memuliakanmu. Jadi, lakukan dengan keikhlasan tanpa mengarapkan imbalan atau bayaran atas kebaikan yang kamu berikan, kecuali jika pemberian itu berupa hadiah.”

      “Ba-baiklah, Eyang. Nasihat Eyang Jabal akan aku jadikan sebagai azimatku,” sahut Harun sembari mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.

      Saat Harun mengangkat wajahnya, tiba-tiba cahaya putih yang sangat terang langsung membuat pandangannya memudar. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, sebuah cahaya yang merupakan gabungan berbagai warna seperti membungkus dirinya lalu membawanya pergi dengan putaran yang sangat cepat. Putaran itu membuatnya kembali tak mengingat apa-apa lagi.

      Entah berapa lama ia mengalami kondisi itu. Tiba-tiba ia merasakan dirinya seolah-olah seperti baru bangun dari tidur. Seharusnya ia menikmati kondisi segarnya dengan tetap memejamkan kedua matanya.

     Akan tetapi ia tiba-tiba menyadari semua apa yang ia alami tadi. Dan itu membuatnya tiba-tiba membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di sebuah tempat yang asing. Serta-merta ia bangkit duduk.

     Ternyata saat itu ia berada dalam sebuah dasar tebing. Tempat itu mirip-mirip bagian dari bekas sungai. Namun tidak panjang. Sepertinya bagian sungai itu telah diratakan. Kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia mengingat kembali peristiwa penyerangan dan penyiksaan brutal terhadap dirinya oleh dua laki-laki yang membuatnya benar-benar dibuat cedera dan menderita sepenuhnya hingga tak sadarkan diri. Ia langsung meraba-raba wajahnya, dan juga mengamati setiap bagian pada tubuhnya.

     “Subhanallah, aku tak mengalami cedera sedikit pun? Aku dalam kondisi baik-baik saja. Kondisiku benar-benar utuh dan pulih persis seperti yang kulihat dalam mimpiku barusan. Bahkan aku merasakan tenagaku malah menjadi jauh lebih segar dan kuat.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 07

    Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 06

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 05

    Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 04

    Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 03

    Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 02

    Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status