Beranda / Urban / SANG PETARUNG / 1. Sayembara

Share

SANG PETARUNG
SANG PETARUNG
Penulis: mic.assekop

1. Sayembara

Penulis: mic.assekop
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-22 10:41:37

“Hadiahnya satu peti emas!”

“Musnahlah kemiskinan di keluarga kita!”

“Tidak akan pernah melarat selamanya!”

Setelah teriakan itu menggema di rumah buruk Keluarga Tasumov, lantas semua anggota keluarga pun melemparkan pandangan menohok ke arah Aliyev. 

Bergeming, perlahan lirikan mata Aliyev menangkap wajah istrinya, Leila Tasumov. 

Bukannya membela Aliyev yang terpojok, Leila justru mengernyit dan berkata kasar. “Suamiku! Hadiahnya satu peti emas! Satu peti emas! Apa kau mengerti?”

Ada sebuah sayembara besar di Negeri Holystan. Jika ada yang mampu mengalahkan Sang Pengawal Raja dalam oktagon, maka akan mendapatkan hadiah besar : Satu peti emas! 

Penguasa Holystan ingin menguji seberapa kuat pengawalnya, dan kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat lagi di negeri ini. 

Hadiahnya memang sangat besar, hanya saja itu akan menjadi sangat mustahil, sebab Sang Pengawal Raja adalah petarung terkuat. 

Maka sore ini Aliyev tertegun saat menyaksikan mertua, ipar, dan bahkan istrinya menyuruhnya agar mengikuti sayembara gila itu. 

Mertua pria, Zaur Tasumov, menatap ngeri dan berkata, “Kau masih punya waktu satu minggu untuk latihan!”

Mertua wanita, Emina, berdiri sambil berkacak pinggang. “Kau punya pengalaman menjadi kuli selama dua tahun. Badan mu pasti kuat.”

Ipar satu-satunya, Omar Tasumov, melempar telunjuknya seraya berkoar, “Tidak ada pilihan. Jika kau menolak, kau tidak akan dianggap lagi di keluarga ini!”

Lagi, pandangan Aliyev mengarah ke istrinya berharap ada pembelaan. 

Namun, Leila malah tetap konsisten bersekutu dengan keluarganya. “Kau sudah setahun menganggur. Sudah terlalu banyak beban yang kau berikan padaku. Jadi seharusnya kau bisa paham sendiri!”

Seakan-akan tubuh Aliyev diangkat ke langit kemudian dijatuhkan ke tanah. Terhempas, dan sakit. 

Kini pandangan Aliyev jatuh lemas ke lantai, pikirannya ke mana-mana. 

Tarikan napasnya cukup dalam, meresapi pilu yang menyiksa batinnya, menusuk sakit. 

Tidak ada pilihan bagi Aliyev selain mengikuti sayembara besar tersebut. 

Jika dia benar-benar berhasil, maka Keluarga Tasumov akan menjadi salah satu keluarga terkaya di negeri ini. 

Satu peti emas adalah harta yang sangat besar dan dirasa tidak akan habis sampai tujuh turunan. 

Tapi bagi Aliyev sendiri pertarungan itu tidak mudah. Lagipula ada ratusan lainnya yang mendaftar. 

Peluang berhasil sangat kecil, bahkan baginya itu sangat mustahil. 

Dengan tangan gemetaran akhirnya Aliyev tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara. “Ayah mertua, tapi ….”

Belum sempat Aliyev menyempurnakan kalimatnya, sekejap Zaur bangkit dari kursi, berdiri dengan marah seraya berkata marah :

“Tidak ada pakai tapi-tapian! Keikutsertaan mu adalah mutlak di sayembara itu!”

Zaur menatap mata menantunya dengan sangat bengis dan murka. 

“Tiga tahun kau jadi menantu sampah, menumpang, dan jadi benalu di rumah ini. Dan sekarang kau mau menolak perintah kami? Dasar tidak tahu diri!” dampratnya kasar. 

Aliyev tertunduk lesu, tidak berani menatap balik, dan tidak berani mengeluarkan satu kata pun. 

Ceritanya, sebenarnya antara Aliyev dan Leila sama-sama saling mencintai pada awalnya. 

Hanya saja, nasib buruk dan kemiskinan yang pada akhirnya merusak hubungan pernikahan antara mereka berdua. 

Hari demi hari terlewati, kebahagiaan tak kunjung datang, tak diberi momongan, tak diberi kekayaan. 

Puncaknya adalah hari ini. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya Keluarga Tasumov menuntut agar Aliyev bisa melakukan sesuatu demi kebahagiaan keluarga kecil ini. 

Mereka tak peduli apa pun hasilnya, setidaknya ada pembuktian bahwa Aliyev ingin mengubah nasib menjadi lebih baik. 

Tiba-tiba Leila bicara dengan nada tegas. “Jika kau tidak mau, aku akan sangat kecewa dan marah!”

Sungguh ini masalah besar bagi Aliyev. Maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengikuti apa kata mereka. 

Dia diancam bakalan diusir dari rumah kalau menolak dan parahnya istrinya tambah muak padanya. 

Jadi jalan keluarnya adalah dia memang harus ikut sayembara, dan apa pun hasilnya, dia tidak tahu apa yang nanti terjadi. 

Maka selama satu pekan ke depan dia mempersiapkan diri sebisa mungkin. Dia berolahraga semampunya. Latihan meninju, gulat, dan sebagainya. 

Bukan cuma pada masalah dia tidak punya keahlian bela diri sama sekali, tetapi dia juga sangat minim pengalaman, kecuali pernah sekali berkelahi sama kakak iparnya dan sekali lagi waktu di pasar sama salah seorang penjual sayur lantaran dia diejek duluan. 

Selebihnya dia sangat tidak bisa diandalkan. 

Badannya kurus kering. 

Pukulannya lemah. 

Pergerakannya lambat. 

Dan jika dipukul sekali saja di bagian rahang oleh pria kuat, dia pasti pingsan. 

Namun, dia punya sedikit mental dan impian untuk tetap hidup bahagia bersama istrinya. 

***

Dan hari itu pun tiba. 

Siang hari di Negeri Holystan, lebih tepatnya di Arena Tarung MMA, ribuan orang memadati kursi penonton, menyaksikan betapa hebat Sang Pengawal Raja : Gadzi Kusanov. 

Dengan tinggi hampir dua meter dan bobot tak kurang dari 100 kg serta otot yang amat kekar dia sudah berhasil mengalahkan peserta ke-87 dari total 250.

Tadi ada yang kalah KO hanya dengan satu terjangan, ada yang kalah dengan satu tinjuan, ada pula yang tercekik hampir mati. 

Semuanya kalah di hadapan Gadzi Kusanov. 

Di dalam oktagon, dia sangat perkasa. 

Sementara Raja Tamerlan duduk di kursi kehormatan sambil menikmati anggur manis. 

Sang Raja bangga terhadap pengawalnya, akan tetapi dia masih menunggu kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat daripada Gadzi untuk dijadikan pengawal. 

Raja rela mengeluarkan setetes hartanya berupa satu peti emas hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang lebih tangguh dari pada Gadzi. 

Di waktu bersamaan, di sisi gedung lainnya, Aliyev tengah gugup tak kentara, menunggu gilirannya tiba. 

Meskipun dia tahu bahwa dia tidak mungkin mati, namun masalahnya adalah tentang masa depannya bersama Leila. 

“Tadi aku sudah buatkan masakan daging kesukaan mu,” kata Leila. “Seharusnya kau tahu diri. Kalahkan dia dan bawa semua emas itu ke rumah!”

Di sampingnya, Aliyev menegakkan bahu sembari menarik napas panjang, berupaya menyingkirkan rasa takut yang menerjang. 

Begitu ada panggilan nomor 105 tiba, akhirnya Aliyev berdiri, lalu berjalan dengan menguatkan diri, sementara Keluarga Tasumov yang ada di sana tak peduli apa pun hasilnya.

Jika Aliyev menang, mereka akan kaya, atau jika Aliyev kalah, toh mereka akan senang karena sampah itu akan pergi. 

TRING!!! 

Ronde Pertama! 

Napas Aliyev termegap saat melihat badan raksasa itu berada di depannya dan siap menghancurkannya. 

Aliyev mundur dua langkah. 

Bukan mengatur kuda-kuda, tapi karena takut. 

Ah, batinnya, ini sungguh pertarungan yang konyol, sudah ada seratus empat orang yang kalah tadi, yang benar saja!? 

Gadzi menaikkan satu alis, menggerenyotkan bibir, lalu berkata remeh. “Kau seperti lalat. Kecil dan menjijikkan!”

Bukan. 

Aliyev ibarat semut yang hendak diinjak gajah. Dia tahu bakal kalah. Tapi setidaknya gigit dulu. Serang dulu. 

Aliyev melompat dan melepas tinjuan lurus pas ke arah wajah. 

Wuuush!

Namun, dia memukul angin sebab Gadzi cerdik dengan langsung menghindar. 

Sepersekian detik kemudian. 

BUG! 

Satu pukulan uppercut tepat mengarah ke dagu Aliyev sehingga membuatnya melayang ke udara.  Ada bercak darah segar yang meluncur. 

Setelah itu Aliyev tergeletak. Kalah cepat sama seperti para peserta sebelumnya. 

Pertarungan selesai. Aliyev kalah memalukan. 

Dan yang lebih memalukan lagi adalah ketika berada di rumah Keluarga Tasumov, Aliyev pun dicecar habis-habisan. Semua orang memarahinya dengan penuh kesetanan. 

“Menantu sampah!” maki Zaur. 

“Menantu tak berguna!” cela Emina. 

“Ipar pecundang!” sergah Omar. 

Terakhir, Leila menatapnya dengan penuh kekecewaan. “Pergi kau dari sini!”

Sebelum keluar dari rumah ini Aliyev memberikan sejumlah barang simpanan miliknya untuk istrinya yang meskipun kecil nilainya tapi setidaknya dia masih mau membuktikan bahwa dia masih cinta pada istrinya. 

***

Satu-satunya tempat yang Aliyev tuju adalah Gloristan, sebuah negeri yang mencetak petarung hebat, dan salah satu alumninya adalah Gadzi Sang Pengawal Raja. 

Maka dari itu dia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengubah dirinya sehebat mungkin. 

Dia telah bersumpah agar suatu hari nanti dia bisa membuktikan bahwa dia bukanlah sampah yang tak berguna. 

Dan dia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah petarung hebat yang begitu dihormati. 

Setelah lima tahun kemudian, akhirnya dia meninggalkan Gloristan dengan segala kerja keras dan disiplin. 

Badan yang dulunya kurus sekarang menjadi sangat kekar. Tidak ada lagi Aliyev yang lemah. Sekarang dia sudah menjadi sangat kuat. 

Di gerbang Negeri Holystan yang megah, di bawah terik mentari yang menyengat, sambil tersenyum dia berkata, “Bukan cuma satu peti emas, tapi satu gunung emas. Dan bukan sekedar menjadi Pengawal Raja, tapi aku akan menjadi Raja!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SANG PETARUNG   21. Tugas besar dari sang guru

    Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida

  • SANG PETARUNG   20. Gloristan dan Kartu Hitam

    Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah hati dan tidak sombong memang tidak gampang. Terlebih pada orang yang sudah mendapatkan kekuatan, uang, popularitas, bahkan kekuasaan.Termasuk para petarung di atas ring. Hebat dan kuat saja tidaklah cukup tetapi mereka juga harus pandai dalam menjaga sikap, apalagi ini adalah zaman media sosial yang setiap orang gampang untuk naik dan gampang pula untuk tenggelam.Si petarung rendah hati yang sudah dianggap pemenang tidak merasa besar kepala. Dia justru menghampiri lawannya tadi yang sombong dan berkata dengan penuh respect, “Ini bukan tentang menang kalah semata, tapi tentang persaudaraan dan kemanusiaan. Terima kasih karena aku telah belajar banyak dari mu.”Mendengar itu, si petarung so

  • SANG PETARUNG   19. Petarung sombong vs Petarung rendah hati

    Pukulan itu pas dan tidak meleset sedikit pun.Namun Boyxev menjerit kesakitan karena dia yang kena pukul.Tom masih mengepalkan tangan dan siap meninju Boyxev untuk ke dua kali, namun Aliyev langsung mencegahnya.“Tom, tahan diri mu. Tidak usah buat keributan lagi. Kau adalah bagian dari acara ini dan termasuk dalam salah satu panelis.” Aliyev berusaha menenangkan Tom.Tom kepanasan saat tahu bahwa orang yang hendak berkelahi itu adalah Aliev. Dia tidak menyangka kalau Aliyev rupanya orang yang sedari tadi diolok-olok. Posisi Tom sekitar sepuluh meter dari kursi Aliyev.Keributan seperti ini sudah biasa, jadi makanya orang seperti Tom tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi masalahnya adalah yang ribut ini adalah Aliyev. Wajar dia marah besar dan ingin menghabisi Boyxev.“Pergi kau dari sini!” usir Tom.Boyxev tahu persis siapa Tom. Selain panelis, kadang juri, Tom juga terlibat dalam soal keamanan. Hampir semua orang tahu siapa Tom.Jadi ketika Boyxev diusir oleh Tom, Boyxev tidak b

  • SANG PETARUNG   18. Tidak semudah itu

    Tangan kiri Aliyev menangkap kepalan tangan Boyxev!Orang-orang di sana pun terpana. Dari mana Aliyev bisa sadar kalau dia mau dipukul dari belakang?Rupanya Aliyev merasakan getaran mencurigakan yang ada di belakang tubuhnya, lalu sepersekian detik kemudian sama seperti refleks kucing lantas Aliyev segera menangkis serangan itu.Boyxev yang sudah yakin kalau pukulannya pasti kena sontak terperangah. Putih matanya melebar dan mulutnya menganga. Tidak disangka pukulannya bisa ditangkis. Mustahil!Setelah tadi Boyxev ngomel panjang dan sempat mau main pukul, barulah Aliyev mau bersuara. “Silakan cari kursi lain jika kau ingin menonton lebih leluasa. Rata-rata para penonton di sini juga sama seperti mu. Pandangan mereka juga terhalang oleh orang di depannya. Aku pun juga sama. Jadi sebaiknya kau cari kursi lain atau bila perlu masuk sana ke oktagon.”Merasa diejek, Boyxev emosi. Dia menunjuk wajah Aliyev dan membentak, “Bjgn! Kau menyuruhku pindah kursi atau masuk ke oktagon? Sama saja k

  • SANG PETARUNG   17. Tetap tenang

    “Hei Bro! Menunduk sedikit! Kepala dan badan mu menghalangi pandanganku!” jerit seorang pria pas di belakang Aliyev.Aliyev berdiri dan memutar badannya lalu menjawab, “Tidak bisa. Aku tidak bisa menunduk seperti yang kau minta.” Aliyev tetap sopan dan kalem.Meskipun badannya sangat kekar dan mengerikan, dia tetap kalem dan rendah hati, bicaranya saja sangat santun.Pria bertopi yang merasa pandangannya dihalangi tadi lantas kaget karena orang di depannya ini tidak mau menuruti apa katanya. “Aku tidak bisa melihat dengan leluasa apa yang ada di arena tarung. Apa salahnya kau menunduk sedikit.”Masalanya adalah tubuh Alivey dengan tinggi 190 dan berat tak kurang dari 100 kg itu sulit untuk sedikit membungkuk.Aliyev membalasnya dengan santun, “Jangan salahkan aku, tapi salahkan posisi kursi yang ada. Kalau saja jarak antar kursinya lebih jauh tentu kau akan lebih leluasa. Lagi pula bukankah hampir semua orang menghadapi masalah sama seperti mu.”Aliyev yang saat ini berada agak tengah

  • SANG PETARUNG   16. Menonton MMA

    Omar menagih janji pada Aliyev sesuai dengan apa yang kemarin-kemarin pernah disampaikan bahwa Aliyev bakal mengeluarkan dana satu juta dolar untuk usaha Gym kecil-kecilan.Tepat di depan hotel tempat Aliyev tinggal Omar menagih janji itu. “Lelaki yang dipegang adalah omongannya. Jika kau bukan lelaki, silakan lupakan omongan mu waktu itu.”Aliyev bukanlah orang yang suka ingkar janji. Jika sudah mengatakan sesuatu maka dia tidak akan mengingkarinya.Kata Aliyev, “Bisnis ini akan tetap jadi milikku. Kau yang akan menjalaninya, Omar, dan kau dapat bayaran dariku. Jadi aku tidak meminjamkan mu uang atau modal.”“Baiklah kalau begitu perjanjiannya. Berapa bayaran yang akan aku terima?”“Kita lihat bagaimana bisnis itu berjalan nantinya. Aku yakin kau tidak akan kecewa.”“Aku minta bayaran besar. Apa kau sanggup?”Pasti Aliyev sanggup membayarnya.Aliyev menyuntikkan dana awal sebesar seratus ribu dolar dengan mengirimkannya ke rekening milik Omar.Ketika melihat uang sebanyak itu, bola m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status