LOGIN
“Hadiahnya satu peti emas!”
“Musnahlah kemiskinan di keluarga kita!” “Tidak akan pernah melarat selamanya!” Setelah teriakan itu menggema di rumah buruk Keluarga Tasumov, lantas semua anggota keluarga pun melemparkan pandangan menohok ke arah Aliyev. Bergeming, perlahan lirikan mata Aliyev menangkap wajah istrinya, Leila Tasumov. Bukannya membela Aliyev yang terpojok, Leila justru mengernyit dan berkata kasar. “Suamiku! Hadiahnya satu peti emas! Satu peti emas! Apa kau mengerti?” Ada sebuah sayembara besar di Negeri Holystan. Jika ada yang mampu mengalahkan Sang Pengawal Raja dalam oktagon, maka akan mendapatkan hadiah besar : Satu peti emas! Penguasa Holystan ingin menguji seberapa kuat pengawalnya, dan kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat lagi di negeri ini. Hadiahnya memang sangat besar, hanya saja itu akan menjadi sangat mustahil, sebab Sang Pengawal Raja adalah petarung terkuat. Maka sore ini Aliyev tertegun saat menyaksikan mertua, ipar, dan bahkan istrinya menyuruhnya agar mengikuti sayembara gila itu. Mertua pria, Zaur Tasumov, menatap ngeri dan berkata, “Kau masih punya waktu satu minggu untuk latihan!” Mertua wanita, Emina, berdiri sambil berkacak pinggang. “Kau punya pengalaman menjadi kuli selama dua tahun. Badan mu pasti kuat.” Ipar satu-satunya, Omar Tasumov, melempar telunjuknya seraya berkoar, “Tidak ada pilihan. Jika kau menolak, kau tidak akan dianggap lagi di keluarga ini!” Lagi, pandangan Aliyev mengarah ke istrinya berharap ada pembelaan. Namun, Leila malah tetap konsisten bersekutu dengan keluarganya. “Kau sudah setahun menganggur. Sudah terlalu banyak beban yang kau berikan padaku. Jadi seharusnya kau bisa paham sendiri!” Seakan-akan tubuh Aliyev diangkat ke langit kemudian dijatuhkan ke tanah. Terhempas, dan sakit. Kini pandangan Aliyev jatuh lemas ke lantai, pikirannya ke mana-mana. Tarikan napasnya cukup dalam, meresapi pilu yang menyiksa batinnya, menusuk sakit. Tidak ada pilihan bagi Aliyev selain mengikuti sayembara besar tersebut. Jika dia benar-benar berhasil, maka Keluarga Tasumov akan menjadi salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Satu peti emas adalah harta yang sangat besar dan dirasa tidak akan habis sampai tujuh turunan. Tapi bagi Aliyev sendiri pertarungan itu tidak mudah. Lagipula ada ratusan lainnya yang mendaftar. Peluang berhasil sangat kecil, bahkan baginya itu sangat mustahil. Dengan tangan gemetaran akhirnya Aliyev tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara. “Ayah mertua, tapi ….” Belum sempat Aliyev menyempurnakan kalimatnya, sekejap Zaur bangkit dari kursi, berdiri dengan marah seraya berkata marah : “Tidak ada pakai tapi-tapian! Keikutsertaan mu adalah mutlak di sayembara itu!” Zaur menatap mata menantunya dengan sangat bengis dan murka. “Tiga tahun kau jadi menantu sampah, menumpang, dan jadi benalu di rumah ini. Dan sekarang kau mau menolak perintah kami? Dasar tidak tahu diri!” dampratnya kasar. Aliyev tertunduk lesu, tidak berani menatap balik, dan tidak berani mengeluarkan satu kata pun. Ceritanya, sebenarnya antara Aliyev dan Leila sama-sama saling mencintai pada awalnya. Hanya saja, nasib buruk dan kemiskinan yang pada akhirnya merusak hubungan pernikahan antara mereka berdua. Hari demi hari terlewati, kebahagiaan tak kunjung datang, tak diberi momongan, tak diberi kekayaan. Puncaknya adalah hari ini. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya Keluarga Tasumov menuntut agar Aliyev bisa melakukan sesuatu demi kebahagiaan keluarga kecil ini. Mereka tak peduli apa pun hasilnya, setidaknya ada pembuktian bahwa Aliyev ingin mengubah nasib menjadi lebih baik. Tiba-tiba Leila bicara dengan nada tegas. “Jika kau tidak mau, aku akan sangat kecewa dan marah!” Sungguh ini masalah besar bagi Aliyev. Maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengikuti apa kata mereka. Dia diancam bakalan diusir dari rumah kalau menolak dan parahnya istrinya tambah muak padanya. Jadi jalan keluarnya adalah dia memang harus ikut sayembara, dan apa pun hasilnya, dia tidak tahu apa yang nanti terjadi. Maka selama satu pekan ke depan dia mempersiapkan diri sebisa mungkin. Dia berolahraga semampunya. Latihan meninju, gulat, dan sebagainya. Bukan cuma pada masalah dia tidak punya keahlian bela diri sama sekali, tetapi dia juga sangat minim pengalaman, kecuali pernah sekali berkelahi sama kakak iparnya dan sekali lagi waktu di pasar sama salah seorang penjual sayur lantaran dia diejek duluan. Selebihnya dia sangat tidak bisa diandalkan. Badannya kurus kering. Pukulannya lemah. Pergerakannya lambat. Dan jika dipukul sekali saja di bagian rahang oleh pria kuat, dia pasti pingsan. Namun, dia punya sedikit mental dan impian untuk tetap hidup bahagia bersama istrinya. *** Dan hari itu pun tiba. Siang hari di Negeri Holystan, lebih tepatnya di Arena Tarung MMA, ribuan orang memadati kursi penonton, menyaksikan betapa hebat Sang Pengawal Raja : Gadzi Kusanov. Dengan tinggi hampir dua meter dan bobot tak kurang dari 100 kg serta otot yang amat kekar dia sudah berhasil mengalahkan peserta ke-87 dari total 250. Tadi ada yang kalah KO hanya dengan satu terjangan, ada yang kalah dengan satu tinjuan, ada pula yang tercekik hampir mati. Semuanya kalah di hadapan Gadzi Kusanov. Di dalam oktagon, dia sangat perkasa. Sementara Raja Tamerlan duduk di kursi kehormatan sambil menikmati anggur manis. Sang Raja bangga terhadap pengawalnya, akan tetapi dia masih menunggu kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat daripada Gadzi untuk dijadikan pengawal. Raja rela mengeluarkan setetes hartanya berupa satu peti emas hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang lebih tangguh dari pada Gadzi. Di waktu bersamaan, di sisi gedung lainnya, Aliyev tengah gugup tak kentara, menunggu gilirannya tiba. Meskipun dia tahu bahwa dia tidak mungkin mati, namun masalahnya adalah tentang masa depannya bersama Leila. “Tadi aku sudah buatkan masakan daging kesukaan mu,” kata Leila. “Seharusnya kau tahu diri. Kalahkan dia dan bawa semua emas itu ke rumah!” Di sampingnya, Aliyev menegakkan bahu sembari menarik napas panjang, berupaya menyingkirkan rasa takut yang menerjang. Begitu ada panggilan nomor 105 tiba, akhirnya Aliyev berdiri, lalu berjalan dengan menguatkan diri, sementara Keluarga Tasumov yang ada di sana tak peduli apa pun hasilnya. Jika Aliyev menang, mereka akan kaya, atau jika Aliyev kalah, toh mereka akan senang karena sampah itu akan pergi. TRING!!! Ronde Pertama! Napas Aliyev termegap saat melihat badan raksasa itu berada di depannya dan siap menghancurkannya. Aliyev mundur dua langkah. Bukan mengatur kuda-kuda, tapi karena takut. Ah, batinnya, ini sungguh pertarungan yang konyol, sudah ada seratus empat orang yang kalah tadi, yang benar saja!? Gadzi menaikkan satu alis, menggerenyotkan bibir, lalu berkata remeh. “Kau seperti lalat. Kecil dan menjijikkan!” Bukan. Aliyev ibarat semut yang hendak diinjak gajah. Dia tahu bakal kalah. Tapi setidaknya gigit dulu. Serang dulu. Aliyev melompat dan melepas tinjuan lurus pas ke arah wajah. Wuuush! Namun, dia memukul angin sebab Gadzi cerdik dengan langsung menghindar. Sepersekian detik kemudian. BUG! Satu pukulan uppercut tepat mengarah ke dagu Aliyev sehingga membuatnya melayang ke udara. Ada bercak darah segar yang meluncur. Setelah itu Aliyev tergeletak. Kalah cepat sama seperti para peserta sebelumnya. Pertarungan selesai. Aliyev kalah memalukan. Dan yang lebih memalukan lagi adalah ketika berada di rumah Keluarga Tasumov, Aliyev pun dicecar habis-habisan. Semua orang memarahinya dengan penuh kesetanan. “Menantu sampah!” maki Zaur. “Menantu tak berguna!” cela Emina. “Ipar pecundang!” sergah Omar. Terakhir, Leila menatapnya dengan penuh kekecewaan. “Pergi kau dari sini!” Sebelum keluar dari rumah ini Aliyev memberikan sejumlah barang simpanan miliknya untuk istrinya yang meskipun kecil nilainya tapi setidaknya dia masih mau membuktikan bahwa dia masih cinta pada istrinya. *** Satu-satunya tempat yang Aliyev tuju adalah Gloristan, sebuah negeri yang mencetak petarung hebat, dan salah satu alumninya adalah Gadzi Sang Pengawal Raja. Maka dari itu dia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengubah dirinya sehebat mungkin. Dia telah bersumpah agar suatu hari nanti dia bisa membuktikan bahwa dia bukanlah sampah yang tak berguna. Dan dia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah petarung hebat yang begitu dihormati. Setelah lima tahun kemudian, akhirnya dia meninggalkan Gloristan dengan segala kerja keras dan disiplin. Badan yang dulunya kurus sekarang menjadi sangat kekar. Tidak ada lagi Aliyev yang lemah. Sekarang dia sudah menjadi sangat kuat. Di gerbang Negeri Holystan yang megah, di bawah terik mentari yang menyengat, sambil tersenyum dia berkata, “Bukan cuma satu peti emas, tapi satu gunung emas. Dan bukan sekedar menjadi Pengawal Raja, tapi aku akan menjadi Raja!”Raidov sudah mendominasi dua ronde sebelumnya, artinya dia cuma butuh lima menit lagi mempertahankan dominasi lalu bisa keluar sebagai pemenang, dan tidak terlalu banyak memikirkan strategi yang tidak begitu penting.Namun, itu semua hanya berada di dalam kepala Raidov sebab selama dua ronde sebelumnya Aliyev memang sengaja membuat Raidov tampil ganas. Pada awalnya dia bermain rapat dan selalu menjaga posisi, kemudian sengaja berada pada out of position guna mengetahui seberapa kencang serangan yang akan diterima.Dan setelah paham seperti apa permainan lawannya, maka di ronde terakhir ini dia tahu apa yang mesti dilakukan, yakni segera menuntaskan laga melalui cara yang biasanya Raidov kalah. Aliyev sudah mengkalkulasikan kapan dia mesti bertahan dan kapan mesti menyerang.“Rupanya kemampuan mu hanya segitu saja ya?!” cetus Raidov sambil meninju kedua tangannya dan siap bertempur kembali. “Pecundang!” ejeknya sombong.Ketika ronde tiga telah dimulai Raidov pun berjalan cepat dengan k
Aliyev gesit, cepat menutupi wajahnya dengan punggung tangannya. Serangan barusan memang kuat tapi pertahanan Aliyev lebih tangguh.Raidov langsung mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan balasan cepat dari Aliyev. Dia tidak menyangka kalau serangan kilat barusan dapat ditangkis secara sempurna oleh Aliyev. Dan dia pun tidak tahu kapan lagi dapat momentum bagus seperti tadi di tiga menit selanjutnya.Ketika mereka berdua sudah berada di posisi dadan kuda-kuda awal, mereka pun kembali siap dengan taktik dan serangan selanjutnya.Aliyev memberikan serangan kejut yang lumayan keras lewat tinjuan dan sepakan meskipun semuanya dapat diatasi dengan baik oleh Raidov.Setelah menyerang, Aliyev segera langsung bergeser ke kanan dengan tujuan lawannya kehilangan jalur serangan lurus, dengan kata lain Aliyev tidak mau terlalu lama berdiri sejajar dengan lawannya untuk menghalangi serangan balasan mendadak.Raidov mengganas memasuki menit tiga karena dia ingin segera menyelesaikan laga
Minggu malam di Arena MMA Holystan. Ribuan penonton memadati kursi penonton dan siap menyaksikan para jagoan mereka bertarung. Dua laga dilakoni cukup seru dari berbagai kelas lalu tibalah kini masuk pertarungan kelas berat.Bagi sebagian besar orang laga ini tampak kurang menarik karena menyajikan petarung di peringkat dua belas melawan seorang petarung debutan. Meski demikian, Tom menjanjikan pada para penonton bahwa laga ini tak kalah seru jika dibandingkan dengan perebutan sabuk juara. Alasannya adalah Aliyev sang pendatang baru. Tom memberi tahu bahwa HolyMMA telah menemukan petarung baru yang siap merebut sabuk juara nantinya. Publik pun bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya Aliyev dan mengapa Tom begitu menjagokan nya. Semua penonton pun berdiri saat Aliyev keluar dari lorong menuju oktagon, menyaksikannya dengan penuh antusias. Sebelumnya mereka melihat Aliyev di TV dan media sosial, kini mereka melihatnya secara langsung. Para penonton berkomentar : “Badannya lebih b
Aliyev melanjutkan, “Aku akan mengalahkannya di ronde tiga. Tidak ada alasan kenapa aku bisa kalah darinya. Jika aku kalah, maka aku sangat tidak layak berada di kompetisi ini.”Sang peringkat dua belas semakin kepanasan dan karena tidak mau terus-terusan dipermalukan akhirnya Raidov mengambil mic dan berkata, “Sebelum kau mengalahkanku di ronde tiga, aku yang akan menghabisi mu di ronde pertama. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa menang melawan mu di ronde pertama. Ingat itu baik-baik.”Aliyev senyum dan menjawab dengan santai, “Dengarlah. Dia akan mengalahkanku pada ronde pertama. Jika itu benar-benar terjadi, dipastikan aku akan keluar dari kompetisi ini. Tom, catat omongannya.”Maka dengan penuh penghormatan Tom menjawab, “Baik. Kita semua menjadi saksi bahwa Aliyev menang di ronde tiga atau Raidov menang di ronde pertama.”Raidov tidak mau kalah mental, jadi makanya dia berdiri dan meneriaki para wartawan agar segera bertanya padanya.Namun sayangnya tidak ada satu pun ada
Ini adalah hari konferensi pers perdana Aliyev di HolyMMA.Sebagai pendatang baru, Aliyev dianggap kuda hitam medioker bukan hanya oleh media setempat, tapi juga oleh lawannya.Raidov mengambol mic lalu bicara walaupun belum ada wartawan yang melempar pertanyaan. Dia bicara dengan sangat sombong.“Peringkat dua belas Heavyweight melawan pendatang baru? Yang benar saja?! Hei Tom, ayolah! Apakah pertandingan ini bakal ada penontonnya nanti?”Tom yang menugaskan dirinya secara khusus dalam sesi wawancara ini cuma senyum saat menyaksikan betapa congkaknya Raidov. Tom saat ini berada di tengah-tengah antara Raidov dan Aliyev, menjadi penengah antara dua petarung dan wartawan yang ingin bertanya.Raidov mengangkat kakinya di atas meja lalu berkoar lagi. “Masih ada banyak lawan lemah yang pantas untuk pria asing ini, Tom. Bukankah kau punya petarung peringkat tiga puluhan untuk melawannya? Kenapa harus yang peringkat dua belas? Jujur bagiku ini terasa penghinaan bagiku!”Meskipun sampai saat
Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida
Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah
Aliyev tidak bodoh. Sepuluh juta dolar terlalu banyak untuk membangun sebuah Gym kecil-kecilan. Kecuali kalau membangun Gym berskala besar di tengah kota.“Terlalu besar,” katanya.Omar tertawa pahit. “Bilang saja kalau kau tidak punya uang sebanyak itu, Aliyev. Sudahlah kau jangan memberi harapan
Aliyev kesal karena selama dia mengirim uang buat istrinya namun ternyata uang itu bukan cuma buat nafkah istrinya saja tetapi malah untuk tiga orang lainnya termasuk pria pemalas ini.Karena itu dia menumpahkan kekesalannya saat ini di hadapan orangnya secara langsung.“Seharusnya kau yang bekerja
Nama Zukhov begitu melekat di benak Aliyev saat ini. Sosok yang digadang-gadang bakal menjadi calon suami Leila. Dia bertanya sendiri siapakah orang yang dimaksud. Malam hari itu dia memutuskan untuk menginap di hotel untuk beristirahat dan keesokan paginya dia menemui Tom. To







