เข้าสู่ระบบSeratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.
Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas.Empat musim silih berganti, membuang luka lalu mendatangkan kebahagiaan. Mengusir kesulitan dengan kemudahan, serta menyingkirkan penghalang guna menghadirkan keberhasilan.Satu tahun berlalu. Bisnis manisan benang emas dan tanghulu yang memakai buah Hawthorn dan jujube, berhasil menarik banyak peminat sampai detik ini.Enam varian minuman seduh herbal dengan bahan utama pemanis gula pear, laris manis dipasaran.Prodak itu dinamai gula herbal.Pilihan prodak ada gula pear dengan campuran bunga osmanthus.Gula pear ditambah kurma jujube dan biji angkak.Gula pear dipadupadankan bersama bubuk kayu manis dan mint.Bubuk jahe dicampur gula per dan kurma jujube.Teh jasmin dan gula pear diberi tambahan kurma madu.Gula pear yang dikemas bersama bubuk ginseng putih, sari akar ilalang dan biji angkak.Semua sangat bagus bagi kekebalan imun dan daya tahan tubuh. Jika dimusim panas, gula herbal itu juga
Dengan menaiki kereta sewaan, Guang Fang bersama istri dan putrinya pergi keIbukota pusat.Begitu juga dengan Yuhan, Mu Yue, Zilong, tuan dan nyonya Wei tua.Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan."Kalian jalan-jalan saja, biar aku dan kakak ipar yang berjualan." titah Guang Fang pada istri, mertua dan istri Yuhan."Tidak, kami akan membantu kalian. Kalau mau melihat-lihat Ibukota dan berbelanja, lebih bagus bersama-sama." sahut nyonya Wei.Mereka pun mencari tempat.Setelah mendapatkan lokasi yang cocok lalu membayar pajak. Meja dan dagangan dikeluarkan dari cincin penyimpanan.Tanghulu disusun rapi pada tiang jerami, sementara manisannya tetap ditempatkan pada gentong tanah liat."Tanghulunya tuan, nyonya..! ada manisan juga."Teriak para orang dewasa menawarkan guna menarik pembeli.Guang Su Zhi dan Wei Zilong yang duduk dibangku kayu kecil, mencuri banyak perhatian pengguna
Seratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas." sahut riang Guang Fang.Langkah kedua pria rupawan itu nampak sangat ringan, dengan senyum dan tawa yang tak jua sudi luntur tersungging dibibir."Bagaimana kalau besok menjualnya keIbukota saja..? aku ingin mengajak istri dan putraku juga orangtua kita sekalian, mereka sudah lama tidak jalan-jalan." tanya Wei Yuhan."Ide bagus..! aku juga akan mengajak istri dan putriku." sahut Guang Fang bersemangat.Sesampainya dirumah, para istri dan orangtua sudah bersi
Guang Fang dan Wei Zihan masih tertegun linglung, memandangi cincin penyimpanan yang tergeletak diatas meja. Sampai mereka tak menyadari jika nenek tua telah hilang tanpa jejak diujung jalan desa.Kata-kata pesan wasiat dari nenek tua itu sebelum pamit, masing nyata terngiang digendang telinga."Didalamnya ada sesuatu yang sangat dibutuhkan putri kalian, berikan padanya ketika dia berusia sepuluh tahun.""Tapi ini sangat berharga, kami tidak bisa menerimanya." balas Guang Fang."Pertemuan kita sudah menjadi kehendak langit, kalian harus menerima dan menyimpannya dengan baik." jawab wanita tua mengusap lembut kepala Guang Su Zhi."Kelak putri kalian akan membawa perubahan bagi banyak orang, bimbing dan arahkan dia dengan benar. Jadikan putri kalian manusia yang berbudi luhur." lanjutnya.Guang Fang dan Wei Zihan cuma bisa patuh mengangguk lemah, menatap nenek tua dan Su Zhi bergantian."Jangan pernah kalian lepas gelang giok keselamatan ini dari tangan Zhi'er." ucap nenek membual agar
"Bu..Bu..Bu..!" Kedua kaki mungil itu bergetar, melangkah terhuyung menghampiri sang ibu yang sedang duduk bertumpu pada kedua lutut, merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Suara cadel menggemaskan, terlontar dari bibir kecil balita berusia satu tahun yang mulai belajar berjalan. HAP Tubuh gembulnya tenggelam dalam pelukan sang ibu, bibirnya terkikik geli menggemaskan, kala pipinya dihujani kecupan penuh kasih. "Putri ibu sangat hebat." Puji Wei Zihan berbinar, mengecup greget sang putri. Guang Su Zhi terkekeh geli "bu..bu...!" cicitnya lucu. Wajah Guang Fang terlipat jelek, bibirnya mengerucut protes. "Ayah terlupakan, sedih sekali." Ujarnya pura-pura merajuk, melipat kedua tangan didada. Wei Zihan dan Su Zhi terkekeh lagi. Su Zhi melepaskan diri dari dekapan sang ibu, berjalan tertatih menuju Guang Fang. "Yayah..!" Serunya cadel, memeluk ked
Dikediaman sederhana pasangan bahagia yang baru saja memiliki seorang putri, suasana hangat menyelimuti dipagi cerah ini. Angin berhembus lembut, membawa aroma kesegaran dari bunga bermekaran."Biar aku saja yang memasak." cegah Wei Zilan saat sang suami akan menyalakan api tungku."Kau masih harus beristirahat, duduk saja bersama putri kita." balas Guang Fang."Aku sudah pulih." kata Wei Zilan "lagi pula cuma memasak, itu bukan pekerjaan yang berat."Netra lentik itu bergetar lirih, selaras dengan senyuman manis yang tergores ranum. Semua menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.Guang Fang pun mengalah, ia memilih mengerjakan yang lain. Mencuci pakaian, menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong-gentong tanah liat, membersihkan rumah serta halaman.Setelahnya ia memanen tomat, sayuran hijau, kentang, dikebun belakang kediaman. Tumbuhan lama yang sudah tidak produktif dibersihkan, tanah digembarkan kemudian ditanami la







