MasukKael menatap Sabrina dengan tatapan penuh intimidasi. Pertanyaan sederhana tentang insomnia itu seolah menjadi palu yang mencoba menghantam dinding privasi yang ia bangun selama puluhan tahun. Matanya menyipit, bibirnya membentuk garis lurus yang angkuh.
“Insomnia?” Kael mengulang kata itu dengan nada merendahkan. “Kau pikir kau siapa, bisa bertanya hal sepersonal itu?”
&
"Gladis," suara Kael terdengar parau saat ia menghubungi sekretarisnya lewat sambungan internal kamar hotel. "Cari tahu di mana lokasi laboratorium utama mereka. Aku tahu mereka berbasis di Berlin, tapi mereka pasti punya kantor perwakilan di Zurich ini selama pameran berlangsung. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Aku ingin tahu siapa orang di balik formula ini." Keesokan paginya, di dalam limosin mewah yang membelah jalanan Zurich yang tertutup salju tipis, Gladis duduk dengan wajah tegang. Ia masih merasakan panas di pipinya setiap kali mengingat hinaan Ganda di malam gala. Sebagai bentuk pembalasan, ia bekerja dua kali lebih keras untuk menguliti rahasia Pratama Group."Kael, akses menuju sang inovator dijaga ketat oleh firma hukum elit," lapor Gladis sambil menyerahkan tabletnya saat mereka menuju kantor sementara Pratama di pusat kota. "Data pribadinya dikunci rapat. Bahkan para peneliti senior tidak pernah menyebut namanya. Mereka hanya memanggiln
Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Zurich memantulkan kemewahan yang menyesakkan. Di tengah denting gelas sampanye, paviliun Pratama Group berdiri angkuh. Ganda memegang sebuah tabung kecil berisi cairan polimer bening yang berkilau di bawah lampu sorot."Material ini bukan sekadar penemuan, ini adalah masa depan industri otomotif dunia," suara Ganda bergema penuh otoritas. Kael O’Shea melangkah maju, membelah kerumunan dengan auranya yang mengintimidasi."Presentasi yang cukup dramatis, Ganda. Aku ingin spesifikasi teknisnya. Jika material ini sehebat klaimmu, O’Shea Corp siap membicarakan kontrak eksklusif." Ganda menoleh, senyum tipis yang menghina tersungging di bibirnya. Ia melirik jam tangan Patek Philippe edisi terbatas di pergelangan tangannya, sebuah simbol kesuksesan yang mustahil ia miliki saat perusahaannya nyaris kolaps beberapa musim lalu."Eksklusif? Kau terlambat, Kael. Slot untuk Asia sudah hampir habis dipesan oleh konsorsium
"Saya bisa jalan sendiri." Suara Sabrina serak, nyaris habis, namun ada sisa harga diri yang tajam saat para pelayan O’Shea hendak menyentuh lengannya. Ia melangkah keluar dari ruang medis dengan tungkai yang bergetar hebat. Victor yang berdiri di ujung koridor, menunduk dalam tanpa berani menatap matanya. Sabrina tidak menoleh. Matanya terus mencuri pandang ke lantai dua, tertuju pada jendela ruang kerja Kael. Tirai itu tertutup rapat. Pria itu tidak muncul. Hingga kaki Sabrina menginjak helipad di halaman belakang untuk transit menuju bandara, jendela itu tetap bisu."Nona, jet pribadi sudah menunggu di Halim. Semuanya sudah siap," ujar Victor sembari membukakan pintu kabin helikopter. Sabrina berhenti di anak tangga terakhir. Ia menatap rumah megah yang selama beberapa bulan ini menjadi penjara sekaligus tempat hatinya hancur. Di balik jendela lantai dua, ia menangkap bayangan siluet yang berdiri kaku."Dia ada di sana ‘kan?" bisik Sabrina entah
Badai semalam memang telah reda, menyisakan dedaunan basah dan aroma tanah yang lembap, namun kehampaan yang ditinggalkannya terasa jauh lebih menyesakkan daripada gemuruh petir. Kael masih terduduk mematung di kursi besi di depan ruang medis. Punggungnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini tampak melengkung. Sementara Victor sudah beberapa kali mendekat, menyarankan agar tuannya itu setidaknya membasuh wajah atau beristirahat sejenak di kamar, namun Kael hanya membisu. Matanya yang merah meredup, menatap kosong pada pintu kayu yang tertutup rapat. Kalimat neneknya beberapa saat lalu terus berputar di kepala seperti kaset rusak yang menyakitkan. Dalam keheningan fajar itu, Kael akhirnya dipaksa be
"Jika kau melangkah keluar dari pintu ini, maka kau kalah!" Nyonya Maureen berkata dengan nada yang meninggi, bergema di antara dinding beton yang lembap."Kau mengakui bahwa kau adalah pengecut yang tidak sanggup menuntaskan dendam darahmu sendiri. Kau menghina ingatan orang tuamu demi putri dari pria yang menghancurkan mereka!" tambahnya kemudian."Aku tidak peduli!" raung Kael, suaranya pecah oleh sesak yang menyumbat tenggorokan. "Persetan dengan kemenangan! Persetan dengan martabat O'Shea jika harganya adalah nyawa wanita ini! Minggir, Grandma!" Untuk pertama kalinya, Kael berani menatap neneknya dengan binar pemberontakan yang murni. Ia tidak lagi peduli pada otoritas yang selama ini ia puja. Baginya, dunia saat ini hanya sebatas napas lemah Sabrina yang menerpa lehernya.
Ruang kerja Kael diselimuti kegelapan yang pekat, hanya menyisakan siluet perabotan kayu ek yang kaku di bawah siraman cahaya bulan dari jendela besar. Kael duduk mematung di balik meja kebesarannya, namun pikirannya tidak tertuju pada tumpukan dokumen yang menuntut tanda tangannya. Setiap kali detak jam dinding berbunyi, dentumannya seolah menghujam dada Kael, mengingatkannya pada detik-detik yang merayap menyiksa Sabrina di bawah sana. Kael nyaris membanting gelas kristal di tangannya hingga remuk. Ia tahu neneknya sedang mengujinya. Meskipun begitu, tetap saja hatinya gundah. Sementara di sisi lain rumah, Gladis melangkah dengan keanggunan yang dipaksakan menuju kamar Nyonya Maureen. Ia merasa berada di atas angin, yakin bahwa kepatuhan Kael pada perintah sang nenek ad







