MasukKeheningan yang dingin menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Jemari Kael masih melingkar di pergelangan tangan Sabrina. Sebuah cengkeraman yang tidak menyakiti, namun penuh dengan klaim kepemilikan yang tak terucap. Tatapan mata abu-abunya seolah menuntut jawaban atas pengkhianatan kecil yang dirasakannya; fakta bahwa Sabrina lebih memilih otoritas Neneknya daripada perintah mutlak darinya.
&n
"Aku pikir itu terserah keduanya saja. Sebagai orangtua kita hanya bisa mendukung," ungkap Adrian sambil tersenyum pada Sabrina, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak membeku pasca-pertanyaan di luar dugaan barusan. Nyonya Maureen mengedarkan pandangannya pada Sabrina dan Kael secara bergantian, mengamati kediaman sejenak sebelum akhirnya ia terkekeh pelan. "Benar juga. Mungkin aku yang terlalu buru-buru. Maklum saja, aku takut malaikat maut menjemputku sebelum cucu kesayanganku ini menikah.""Grandma?" tegur Kael refleks, keningnya berkerut dalam mendengar seloroh sang nenek yang terdengar terlalu ekstrem di tengah meja makan. Semenjak perbincangan sensitif tentang pernikahan itu bergulir, atmosfer di sekitar Sabrina langsung berubah drastis. Gadis itu menjadi jauh lebih banyak diam. 
Tanpa memedulikan tatapan bingung dari semua orang yang sedang berdiri di dekat meja makan tersebut, Kael melangkah lebar memangkas jarak. Langkahnya yang tergesa-gesa itu langsung berhenti tepat di hadapan Sabrina. Sebelum gadis itu sempat menaruh cangkir porselen di tangannya, Kael langsung menarik Sabrina ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa sang gadis nyata dan tidak menghilang ditelan kegelapan seperti di dalam mimpi buruknya tadi. Sabrina tersentak kaget, wajahnya mendadak merona merah akibat luapan emosi Kael yang begitu tiba-tiba."Kael, lepas... ada Ayah dan Nyonya Maureen!" bisik Sabrina setengah memprotes, mencoba mendorong pelan dada bidang Kael karena merasa sangat tidak nyaman ditonton oleh keluarga mereka. “Apa kau ti
"Sabrina!" pekiknya dengan suara serak menahan panik. Kael terbangun dengan sentakan hebat dan napas yang memburu tidak beraturan di dalam keheningan kamar. Ia mendapati pelipisnya basah oleh keringat dingin, sementara dadanya berdenyut menyakitkan oleh sisa kengerian fajar yang rupanya sudah mulai menyingsing, menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Napas Kael masih memburu-buru saat matanya mengedar ke setiap sudut ruangan. Ia tak tahu entah barusan itu berada dalam pengaruh mimpi buruk atau apa, tetapi rasa takut yang mencengkeram ulu hatinya terasa begitu nyata. Terlebih saat ia meraba sisi ranjang di sebelahnya dan mendapati ruang itu kosong. Benar. Sang gadis tidak ada di sekitarnya, tidak juga terlihat di sofa tempatnya tertidur semalam. K
"Masih ada banyak waktu sebelum jam sebelas. Satu jam lagi. Apa kau akan duduk seperti pengawas ujian di sofa sana?" tanya Kael, memecah keheningan kamarnya yang sepi.Sabrina yang semula sibuk dengan ponselnya menatap Kael sebentar, lalu mengangguk singkat. "Iya. Aku harus memastikan kau tidak bertingkah aneh sampai jam sebelas nanti."Namun, Kael tidak menyerah begitu saja untuk menarik perhatian gadis itu. "Lagi pula memangnya kenapa kalau kau tidur di sini? Bukankah kita pernah tidur bersama?""Jangan bicara sembarangan!" sentak Sabrina dengan wajah yang sudah memerah lantaran malu. Ia menatap Kael dengan gusar dari seberang sofa."Memang begitu kenyataannya," ujar Kael dengan santai sambil membetulkan posisi duduknya di ranjang. "Bahkan kau tidur di pelukanku waktu itu. Kau lupa?""Itu tidak sengaja ya! Waktu itu keadaannya tidak kondusif," sergah Sabrina cepat, mencoba membela harga dirinya yang mulai tersudut. “Aku tidak akan bertingka
Sabrina mengusap air matanya dengan cepat, mencoba menghalau sisa-sisa sesak yang sempat menguasai dadanya. Sementara itu, Nyonya Maureen tersenyum hangat, sebuah ekspresi yang seketika mencairkan atmosfer dingin yang sempat membekukan koridor tersebut."Kalian tinggallah di sini dulu," kata Nyonya Maureen kemudian, memecah keheningan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan perlindungan. "Kondisi di luar sana belum kondusif. Semua demi kebaikan kita bersama." Tanpa banyak kata, Adrian mengangguk pasrah. Pria paruh baya itu menyadari bahwa di bawah atap kediaman O'Shea, keselamatannya dan sang putri jauh lebih terjamin. Setelahnya, Nyonya Maureen menoleh ke arah tangan kanannya yang sejak tadi berdiri siaga. Ia menyuruh Teguh mengantarkan Adrian ke kamar tamu dan memberikan pakaian pengga
"Terima kasih karena Anda tidak meneruskan dendam ini... demi cucu Anda, demi Sabrina," ucap Adrian dengan suara yang teramat parau, memecah keheningan pekat di dalam ruangan tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari balik meja kerja. Nyonya Maureen hanya diam mematung, membiarkan keheningan malam yang dingin menelan ucapan penuh penyesalan tadi. Wanita tua itu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Sepasang matanya yang sedingin es tetap menatap lurus, mengunci figur Adrian dengan keangkuhan khas seorang O'Shea yang terluka. Diamnya Nyonya Maureen jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Di balik dinding, air mata Sabrina luruh tanpa suara. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihimpit oleh beban raksasa yang tak kasatmata. Ia tahu betul sejarah kelam itu, ia tahu dosa besar apa yang telah diperbuat oleh ayahnya di
"Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb
"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu
Kael memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan sisa kewarasan yang kian menipis.“Kita mau ke mana, hmm?” Kael hanya berdecak sebagai respon dari pertanyaan bernada bahaya barusan.“Tuan?” rengek Sabrina manja.“Kita akan ke apartemenku yang kemarin.”Sab
Ruangan VIP Lounge yang semula terasa lapang mendadak menyempit bagi Kael. Pria itu terpaku di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh rencana logis di







