LOGINKael melangkah keluar dari pintu jet pribadinya, disambut oleh udara lembap yang khas dan deru mesin pesawat di landasan pacu Bandara Seletar. Langkah kakinya yang tegas bergema di lantai aspal, dikelilingi oleh empat pria berpostur tegap dengan setelan jas hitam yang tampak kontras dengan cerahnya langit pagi.
Wajah Kael tampak kaku, sisa-sisa trauma da
"Ma, apa Mama tidak ada rasa kasihan sedikit saja padaku?" tanya Gladis dengan suara sedikit bergetar, menatap wanita yang selama ini ia panggil Ibu dengan tatapan memohon yang hancur."Jangan jadi gadis cengeng! Sekarang beri tahu apa yang akan kau balas pada kami atas semua kemewahan yang sudah kau nikmati?" bentak mama angkatnya, mengabaikan fakta bahwa Gladis baru saja melewati malam yang traumatis. Ganda yang sejak tadi bersedekap di samping Gladis langsung memotong pembicaraan dengan nada sarkastik yang kental."Wah, Nyonya, aku baru tahu kalau di rumah sakit ini ada jasa jual beli manusia. Kirain cuma jualan obat," sindir Ganda telak."Diam kau! Jangan ikut campur!" sentak wanita tadi dengan wajah memerah menahan amuk. Ia menatap Ganda dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Memangnya kau siapa, hah? Berani sekali mengatur urusan keluarga kami!""Ak
Suasana intim yang baru saja terbangun di ruang tamu tadi hancur seketika oleh suara nyaring ponsel Kael. Di tengah apartemen yang hening, dering itu terdengar begitu keras, seolah menarik paksa keduanya kembali ke realitas yang rumit. Sabrina, yang sedetik lalu nyaris luluh dalam pesona Kael, langsung tersentak dan memalingkan wajahnya yang memerah. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Kael dengan gerakan canggung."Aku... aku lupa ada pakaian kotor Aliz yang masih tertinggal di kamar mandi," gumam Sabrina tanpa berani menatap mata Kael. Tanpa menunggu jawaban, ia lekas beranjak, melarikan diri dari atmosfer yang terlalu menyesakkan bagi jantungnya. Kael mendesah frustrasi, merutuki siapa pun yang berani mengganggunya di waktu yang sangat tidak tepat ini. Ia merogoh saku, melihat nama Victor terpampang di layar gawainya. Dengan wajah mengeras, ia menggeser ikon hijau."Ada apa?" bentak Kael kesal, suaranya rendah namun penuh penekanan."Maaf, Tua
Keheningan di ruang tamu apartemen itu terasa begitu padat, seolah udara pun enggan bergerak di antara Sabrina dan Kael. Sabrina masih berdiri mematung di dekat meja makan, sementara Kael mulai melangkah. Setiap derap langkah pria itu terdengar pelan namun pasti, mengikis jarak yang selama ini Sabrina bangun dengan susah payah. Kael berhenti tepat di depan Sabrina, begitu dekat hingga ujung sepatunya dan sendal sang gadis nyaris bersentuhan. Sabrina bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Kael, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang khas, sedikit woody dan fresh, namun kini bercampur dengan sisa ketegangan hari itu. Wangi yang dulu selalu membuatnya merasa aman, kini justru membuat pertahanannya goyah. Sabrina berusaha tetap tegak, mendongak untuk menantang tatapan Kael meski jemarinya yang meremas pinggiran meja mulai gemetar. Ia bingung, separuh hatinya ingin mendorong pria ini keluar agar rasa sesaknya hilang, namun s
Gladis mengusap kasar air matanya yang terus mengalir, meninggalkan jejak kemerahan di pipinya yang pucat. Ia menarik napas dalam-dalam ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar rumah sakit. Dengan cepat, ia mencoba merapikan penampilannya yang berantakan dan duduk tegak. Dalam hatinya, ia sangat yakin bahwa pria yang meneleponnya tadi telah sampai dengan napas memburu karena khawatir."Masuk saja," ucap Gladis dengan suara serak. Pintu terbuka, namun binar harapan di mata Gladis padam seketika. Wajahnya langsung berubah kesal, urat-urat di lehernya menegang karena kecewa yang luar biasa."Mana Kael?" tanya Gladis galak, suaranya naik satu oktaf."Dia sedang pa
Sabrina menarik napas panjang, mencoba menata kembali serpihan harga dirinya sebelum memutar knop pintu kamar. Di luar, di ruang tamu kecil apartemennya, sosok pria yang sejak pagi tadi mengacaukan emosinya sedang menunggu. Ia melihat Kael berdiri seketika begitu pintu terbuka. Penampilan pria itu tidak lagi serapi biasanya; kemeja polonya tampak kusut dan ada guratan kelelahan yang sangat dalam di wajahnya."Sab," panggil Kael lirih. Langkahnya tertahan saat melihat tatapan dingin Sabrina. Sabrina berjalan melewati Kael menuju meja makan, seolah pria itu hanya pajangan ruangan. Ia menuangkan air putih ke gelas dengan tangan yang diusahakan tetap tenang."Kenapa belum pulang? Ayah bilang kau sudah menunggu dua jam.
Sabrina menutup pintu apartemen dengan tenaga yang tersisa sedikit. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mencoba mengatur napas yang terasa tidak teratur. Hunian itu sangat sepi, sebuah keheningan yang ia syukuri karena ia tidak perlu berpura-pura baik-baik saja di depan siapa pun saat ini. Tadi, Ganda sudah mengirimkan pesan singkat bahwa ia mengajak Aliz ke bandara. Mereka menjemput ayah mereka, yang akhirnya tiba di Jakarta sore ini. Sabrina berjalan gontai menuju kamarnya. Bayangan kejadian di rumah sakit tadi terus berulang di kepalanya. Suara tangis Gladis dan permintaan wanita itu agar Kael menikahinya terasa seperti beban yang sangat berat. Sabrina melepaskan kaos navy milik Kael yang melilit pinggangnya. Ia melipat pakaian pria itu dan menaruhnya di dalam
Jantung Sabrina berdegup liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Sosok pria di bawah lampu jalan itu, siluet yang menyalakan rokok dengan kemiringan kepala yang begitu spesifik, terlalu identik dengan han
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek
Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut







