MasukPagi itu, sinar matahari Jakarta menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Sabrina, membawa kehangatan yang kontras dengan sisa-isa ketegangan di bioskop semalam. Ia terbangun dengan jantung yang masih sedikit berdebar. Bayangan wajah Kael yang pucat pasi dan genggaman tangannya yang sedingin es terus berputar di kepalanya. Namun, di balik rasa cemas itu, ada seulas senyum tipis di bibirnya.
&n
Pekikan tertahan dari Sabrina itu refleks membuat Kael menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, membawa SUV hitamnya meluncur pelan menjauhi pembatas gerbang Zona Karnivora. Di luar kaca jendela, macan tutul besar yang sempat menempelkan cakar gempalnya itu melompat turun dengan anggun, kembali melebur bersama rimbunnya semak-semak, meninggalkan jejak napas berembun di kaca mobil yang perlahan memudar seiring laju kendaraan."Wah!!" seru Aliz dari kursi belakang, melompat-lompat kecil di pangkuan Adrian tanpa rasa takut sedikit pun.Kael melirik spion tengah, mengulas senyum tipis yang dipaksakan demi menenangkan suasana. "Iya, Aliz. Dia hanya ingin menyapa saja.""Kael, kau tidak apa-apa?" tanya Sabrina, menyandarkan punggungnya pada jok mobil sembari mengusap dadanya yang naik turun. "Jantungku hampir copot melihatnya tadi."
"Aliz lapar ya? Ikut Opa sebentar yuk, kita lihat burung di sebelah sana sambil cari susu hangat. Mama Sabi sedang lelah." Suara barusan menjadi penanda bahwa Adrian langsung bergerak cepat. Pria paruh baya itu menggendong Aliz yang masih sesenggukan menjauh dari area meja makan, memotong tantrum sang cucu sebelum kalimat polosnya melukai perasaan Sabrina lebih dalam lagi. Adrian menarik napas berat, menyadari bahwa kehadiran Gladis sebagai calon ibu baru di hidup Aliz memang mulai memicu gesekan emosional dan pembagian peran yang membingungkan bagi ingatan balita tersebut. Begitu Adrian dan Aliz menghilang dari pandangan, Kael tidak membuang waktu. Ia langsung berpindah tempat duduk ke kursi lipat di sebelah Sabrina. Tanpa memedulikan gengsi atau suasana terbuka di sekitar perkemahan, tangan k
"Hei, jangan berpikir kalau aku sedang memaksamu atau menuntut sesuatu," ucap Kael dengan nada suara yang mendadak terdengar sedikit terbakar kegugupan. Ia berdeham pendek, mencoba menetralkan debar di dadanya sebelum melanjutkan dengan kalimat yang sedikit terbata-bata. Ia la bahkan meremas lembut kedua tangan Sabrina. "Aku... aku hanya ingin kita bertukar pikiran. Yaa, semacam itulah." Sungguh, di dalam benak Kael saat ini, ada rasa takut yang teramat besar yang mendadak menyergap jiwanya. Kael tahu betul seberapa dalam luka yang tersimpan di dalam diri gadis itu. Ia mendadak cemas jika pertanyaannya barusan justru bertindak seperti pemicu yang membangkitkan kembali trauma masa lalu Sabrina yang ia tahu belum benar-benar pergi sepenuhnya. Namun, alih-alih meledak marah, tersinggung, atau menu
Kabut tipis khas pegunungan masih menyelimuti area perkemahan Taman Safari saat matahari perlahan menyembul dari balik bukit. Udara pagi yang segar dan aroma tanah basah seketika mengusir sisa-sisa ketegangan malam tadi. Di dekat area padang rumput yang tak jauh dari tenda, suara tawa melengking Aliz terdengar bersahutan dengan anak-anak seusianya yang juga sedang berlibur di sana. Adrian tampak berdiri tidak jauh dari cucunya, mengawasi dengan senyum hangat sembari sesekali melambaikan tangan tatkala Aliz memamerkan mainannya kepada teman-teman barunya. Sementara itu, di depan tenda utama, suasana domestik yang jauh lebih tenang sedang tercipta. Sebuah meja lipat kecil telah digelar di atas tikar. Kael baru saja selesai menata beberapa piring dan gelas plastik, lalu memi
“Belum tidur?” Sapaan barusan membuat Kael langsung mendudukkan diri, mulutnya menganga sebentar lalu terkatup lagi. Adrian tersenyum tipis. Sorot lampu senter di tangannya perlahan diturunkan, menyisakan bias temaram yang menerangi wajah kaku Kael di ambang pintu tenda. Pria paruh baya itu menurunkan tangannya dari dada, lalu menatap Kael dengan gelengan kepala samar."Kau mengira siapa yang datang, Tuan Muda? Sabi ‘kah?" tanya Adrian, suaranya berat dan mengintimidasi, seketika membungkam kalimat Kael yang sempat menggantung di udara. Kael berdeham pendek, buru-buru menguasai riak wajahnya demi mengembalikan wibawa formalnya sebagai seorang CEO. "Maaf atas kelancangannya, Tuan. Aku pikir ada hewan liar yang mendekat.""Hewan liar t
Kemacetan sore menuju arah luar kota terasa begitu menjemukan. Di dalam kabin SUV hitam milik Kael yang kedap suara, Aliz yang duduk di baris belakang bersama Sabrina mulai merasa bosan setelah menghabiskan dua judul film kartun. Bocah berusia dua setengah tahun itu mulai bergerak gelisah, membolak-balik boneka jerapahnya, sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya menatap ke arah spion tengah. Cukup lama Aliz memperhatikan pantulan di kaca kecil itu, sampai akhirnya ia menunjuk ke depan dengan dahi mengernyit polos."Om... kenapa lihat Mama terrrus?" tanyanya dengan pelafalan huruf R yang begitu khas karena memang ia baru saja membiasakan diri dengan lidahnya. Pertanyaan super jujur dari mulut mungil i
"Awas kau ya!!" Suara Sabrina melengking, memecah keheningan jalanan perumahan yang mulai gelap. Ia tidak lari. Tangannya merogoh tas, menarik keluar payung lipat besi, lalu berbalik dengan cepat. Amarah yang tersisa dari k
Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos
"Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb
"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu







