INICIAR SESIÓNPagi itu, sinar matahari Jakarta menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Sabrina, membawa kehangatan yang kontras dengan sisa-isa ketegangan di bioskop semalam. Ia terbangun dengan jantung yang masih sedikit berdebar. Bayangan wajah Kael yang pucat pasi dan genggaman tangannya yang sedingin es terus berputar di kepalanya. Namun, di balik rasa cemas itu, ada seulas senyum tipis di bibirnya.
&n
Sabrina : [Kael... besok jam makan siang, apa ...kau sibuk? Aku ingin bertemu.] Kael mematung di tempat duduknya, menatap layar ponsel itu dengan sepasang mata yang membelalak sempurna, sementara jantungnya mendadak berdegup kencang dengan debaran yang teramat liar. Jemarinya yang semula kaku segera bergerak cepat di atas papan ketik, menolak membuang waktu bahkan untuk satu detik pun.Kael: [Aku tidak pernah sibuk jika itu untukmu. Di mana dan jam berapa?] Di ujung sana, Sabrina menghela napas panjang melihat balasan kilat tersebut. Rasa hangat sekaligus gugup merayapi dadanya sebelum ia mengetikkan sebuah nama restoran privat yang tenang di pusat kota. Keesokan harinya, suasana di lantai teratas gedung O'Shea Group mendadak berubah seratus delapan puluh de
Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan Sabrina dari kediaman O'Shea, namun atmosfer di sekelilingnya belum sepenuhnya membaik. Ruangan laboratorium yang biasanya menjadi tempat paling menenangkan kini terasa pengap. Di bawah pendar lampu neon, Sabrina menatap deretan formula kimia dan data riset di layar monitor, tetapi fokusnya terus pecah. Sesuai dengan kalimat terakhirnya, Kael benar-benar tidak mengirim pesan ataupun menelepon sama sekali. Ruang yang sempat diinginkan Sabrina kini justru terasa begitu hampa, dingin, dan perlahan-lahan menyiksanya dengan rasa sepi yang asing."Masih belum mau pulang, Sabi? Ini sudah lewat jam makan malam," sebuah suara familier memecah keheningan laboratorium. Ganda berjalan masuk sembari menggendong Aliz yang sudah setengah m
Setelah mobil sedan hitam itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang besi tinggi, Kael kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Aura di sekitarnya mendadak berubah dingin dan gusar, membuat para pelayan yang berpapasan dengannya refleks menundukkan kepala. Langkah lebarnya terhenti di ruang tengah saat sebuah suara berwibawa menginterupsi gerakannya yang hendak mengambil kunci mobil di atas meja konsol."Mau ke mana kau, Kael?" tanya Nyonya Maureen sembari menyesap tehnya yang mulai mendingin."Menyusulnya ke apartemen, Grandma. Aku tidak bisa membiarkannya pergi dalam keadaan seperti tadi," jawab Kael tanpa menoleh, suaranya terdengar serak oleh frustrasi yang tertahan.Nyonya Maureen meletakkan cangkir porselennya dengan ketukan pelan namun tegas. "Pria bodoh mengejar wanita yang sedang bersembunyi. Pria bijak memberinya r
"Aku pikir itu terserah keduanya saja. Sebagai orangtua kita hanya bisa mendukung," ungkap Adrian sambil tersenyum pada Sabrina, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak membeku pasca-pertanyaan di luar dugaan barusan. Nyonya Maureen mengedarkan pandangannya pada Sabrina dan Kael secara bergantian, mengamati kediaman sejenak sebelum akhirnya ia terkekeh pelan. "Benar juga. Mungkin aku yang terlalu buru-buru. Maklum saja, aku takut malaikat maut menjemputku sebelum cucu kesayanganku ini menikah.""Grandma?" tegur Kael refleks, keningnya berkerut dalam mendengar seloroh sang nenek yang terdengar terlalu ekstrem di tengah meja makan. Semenjak perbincangan sensitif tentang pernikahan itu bergulir, atmosfer di sekitar Sabrina langsung berubah drastis. Gadis itu menjadi jauh lebih banyak diam. 
Tanpa memedulikan tatapan bingung dari semua orang yang sedang berdiri di dekat meja makan tersebut, Kael melangkah lebar memangkas jarak. Langkahnya yang tergesa-gesa itu langsung berhenti tepat di hadapan Sabrina. Sebelum gadis itu sempat menaruh cangkir porselen di tangannya, Kael langsung menarik Sabrina ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa sang gadis nyata dan tidak menghilang ditelan kegelapan seperti di dalam mimpi buruknya tadi. Sabrina tersentak kaget, wajahnya mendadak merona merah akibat luapan emosi Kael yang begitu tiba-tiba."Kael, lepas... ada Ayah dan Nyonya Maureen!" bisik Sabrina setengah memprotes, mencoba mendorong pelan dada bidang Kael karena merasa sangat tidak nyaman ditonton oleh keluarga mereka. “Apa kau ti
"Sabrina!" pekiknya dengan suara serak menahan panik. Kael terbangun dengan sentakan hebat dan napas yang memburu tidak beraturan di dalam keheningan kamar. Ia mendapati pelipisnya basah oleh keringat dingin, sementara dadanya berdenyut menyakitkan oleh sisa kengerian fajar yang rupanya sudah mulai menyingsing, menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Napas Kael masih memburu-buru saat matanya mengedar ke setiap sudut ruangan. Ia tak tahu entah barusan itu berada dalam pengaruh mimpi buruk atau apa, tetapi rasa takut yang mencengkeram ulu hatinya terasa begitu nyata. Terlebih saat ia meraba sisi ranjang di sebelahnya dan mendapati ruang itu kosong. Benar. Sang gadis tidak ada di sekitarnya, tidak juga terlihat di sofa tempatnya tertidur semalam. K
"Kael, bisakah kau bantu aku membenarkan posisi dudukku? Pinggangku rasanya kaku sekali karena tidak boleh menggerakkan kaki kanan ini sama sekali. Sakitnya sampai ke saraf tulang belakang," rintih Gladis dengan suara yang sengaja dilemahkan, serak dan penuh permohonan.&
Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol terasa begitu panjang bagi Sabrina. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu flat berbunyi ritmis, menciptakan gema di antara dinding-dinding putih yang pucat. Ia berjalan
Malam di Surabaya kian larut, namun udara di dalam kabin sedan mewah itu terasa jauh lebih berat daripada kelembapan di luar sana. Kael mencengkeram kemudi dengan presisi yang kaku. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang memantulkan pendar lampu merkuri, sementara pikirannya entah
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu berubah drastis, seolah oksigen di dalamnya mendadak tersedot habis. Cengkeraman tangan Kael pada pergelangan tangan Sabrina tidak lagi terasa seperti bentuk kecemburuan, melainkan sebuah peringatan mati yang kaku. Sabrina bisa merasakan suhu tubuh







