MasukKael berkedip cepat. Dia ingin memastikan apakah telinganya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur atau wanita di atas ranjang itu memang baru saja mengucapkan kata-kata yang paling ingin didengarnya di dunia ini. Kael langsung mendekat ke sisi ranjang. Napasnya tertahan di tenggorokan saat dia berusaha menyelami netra wanita yang sangat dicintainya itu. Tidak ada lagi binar canggung atau tatapan asing yang beberapa jam lalu sempat membuatnya ingin gila. Yang ada di sana kini hanyalah binar usil, kehangatan, dan sedikit rasa bersalah yang terpancar nyata.“Kau…”"Ya. Tentu saja aku masih mengingatmu. Bagaimana bisa aku..." Ucapan Sabrina terputus begitu saja. Kael tanpa ab
"Kami akan jadwalkan pemeriksaan lanjutan. Mohon Anda tenang dulu." Kalimat penenang dari dokter spesialis saraf itu sama sekali tidak mendarat dengan baik di telinga Kael. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa mencekik. Dunianya yang baru saja terasa cerah ketika mendengar kabar Sabrina sadar, kini mendadak runtuh ke titik paling dasar dalam hitungan detik."Tapi kenapa dia hanya tidak mengingat saya saja, Dokter?" tanya Kael dengan nada frustrasi yang tidak lagi bisa disembunyikannya. Suaranya serak, bergetar menahan desakan emosi yang campur aduk antara cemas, tidak percaya, dan takut yang luar biasa. "Dia mengenali semuanya. Kenapa hanya aku yang dianggap asing olehnya?""Mungkin karena kau yang membuat lukanya terlalu dalam," celetuk Ganda tiba-tiba dari sudut ruangan.&nb
"Ayah jahat!! Kenapa meninggalkanku?" Sabrina masih tersedu menatap wajah sang ayah yang berdiri di seberangnya. Ruangan itu tampak begitu putih, luas, dan tanpa batas, menyisakan kerinduan yang mendalam di dada Sabrina. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat ke arah mereka. Seketika Sabrina ternganga. Senyum di wajah cantik wanita yang baru datang itu adalah senyum yang sudah sangat lama ia rindukan di dalam hidupnya."Ibu..." Sosok wanita itu kini tersenyum manis sembari menggandeng erat tangan Adrian. Keduanya berdiri berdampingan, menatap Sabrina dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang."Ayah, kenapa meninggalkanku secepat in
Di dalam ruangan NICU, Kael berdiri mematung di depan inkubator. Di balik dinding kaca itu, sesosok tubuh yang sangat mungil terbaring. Bayi laki-laki itu tampak begitu ringkih dengan kulit kemerahan, terhubung pada selang respirator dan berbagai kabel pemantau di dadanya. Alat-alat itu terpasang kuat untuk membantu paru-parunya yang belum matang sempurna. Kael perlahan memasukkan kedua tangannya melalui lubang inkubator yang sudah disterilkan. Jarinya gemetar saat mendekati jemari kecil sang putra yang berukuran mungkin tak lebih besar dari jari kelingking dirinya. Begitu kulit mereka bersentuhan, ada rasa hangat yang menjalar, meruntuhkan seluruh pertahanan Kael."Hai, ini ...Daddy." Suara Kael bergetar hebat bersamaan
"Kalau sesuatu terjadi, tolong …selamatkan anak kita." Suara Sabrina terdengar sangat lirih, terputus-putus di antara deru napasnya yang pendek dan berat di atas bangsal yang sedang didorong cepat menyusuri koridor rumah sakit. Cengkeraman jemarinya pada lengan Kael terasa begitu lemah."Tidak!" bantah Kael dengan suara putus asa. Air matanya meluncur deras memandangi wajah Sabrina yang memucat. Pria itu ikut berlari secepat mungkin di sisi ranjang demi tetap bisa menggenggam telapak tangan sang istri. “Jangan bilang begitu! Tidak boleh! Kalian berdua harus selamat!" Namun, Sabrina tidak lagi berkata apa pun. Sepasang matanya perlahan meredup dan terpejam rapat saat tim medis mendorong tubuhnya melintasi batas pintu ruang operasi. Kael yang mulai kehilangan kendali mencoba ikut merangsek masuk ke dalam ruangan steril tersebut, tetapi langkahnya langsung dihadang oleh dua perawat pria. Dokter spesialis yang memimpin tindakan menahan dada Kael dengan
Kael masih terpaku di dekat ambang pintu. Dia tidak berani melangkah lebih dekat. Rasa bersalah membuat seluruh persendiannya terasa lumpuh dan kaku. Namun, mau sampai kapan? Pada akhirnya Kael memandangi wajah Sabrina yang sembab, lalu beralih pada perut buncit istrinya itu. Hatinya sesak mendapati Sabrina harus menanggung beban duka dalam keadaan hamil besar bagini. Kael teringat bagaimana perjuangan panjang yang telah mereka lalui untuk sampai di titik ini. Tiga tahun terpisah dalam jurang kesalahpahaman yang menyiksa, saling menyakiti dalam keangkuhan, hingga akhirnya takdir melunakkan hati mereka untuk menjalani hidup bersama. Sabrina adalah poros dunianya, satu-satunya alasan Kael bertahan di tengah kejamnya ajang balas dendam di masa lalu. Namun kini, melihat kerapuhan istrinya, Kael dirayapi ketakutan luar biasa. Dia sadar bahwa cinta mereka selalu dikelilingi badai, dan kali ini, dia takut apa yang terlah terjadi a
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?
Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,
Dua hari kemudian...Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli keb
“Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memili







