Share

227. APA MAUMU?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-05-05 15:21:47

            Di dalam kabin mobil yang kedap suara, satu-satunya hal yang memenuhi telinga Sabrina adalah degup jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia kembali menatap layar ponsel, menelusuri riwayat panggilan tak terjawab kepada Ganda yang kini jumlahnya sudah tidak masuk akal.

            Dengan tangan sedikit gemetar, Sabrina mencoba menghubungi sang ayah. Nada sambung t

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   228. JANGAN BERPIKIR DANGKAL!

    Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di lorong rumah sakit berkelas di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana dinding-dindingnya dilapisi marmer dan keheningan adalah komoditas mahal. Ganda duduk di samping Gladis, menatap lurus ke arah pintu ruang spesialis yang masih tertutup rapat."Seharusnya kau tidak perlu mengaku jadi pacarku di depan mama. Itu hanya membuatku semakin menyedihkan. Mereka pasti akan menuntutmu," bisik Gladis, suaranya parau dan jemarinya bertaut gelisah."Menuntut apa?" tantang Ganda begitu santai, menyandarkan punggungnya tanpa beban.Gladis menoleh, menatap pria di sampingnya dengan pandangan nanar. "Kau bukan pekerja serabutan. Kau anak konglomerat. Cepat atau lambat mama pasti akan tahu siapa kau sebenarnya. Dia pasti akan menuntutmu, seperti Kael dulu sebelum akhirnya aku divonis mengidap sindrom ini.""Sudahlah. Jangan berpikir terlalu jauh," sela Ganda datar

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   227. APA MAUMU?

    Di dalam kabin mobil yang kedap suara, satu-satunya hal yang memenuhi telinga Sabrina adalah degup jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia kembali menatap layar ponsel, menelusuri riwayat panggilan tak terjawab kepada Ganda yang kini jumlahnya sudah tidak masuk akal. Dengan tangan sedikit gemetar, Sabrina mencoba menghubungi sang ayah. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara berat yang akrab menyapa di ujung sana."Ayah tidak tahu, Sayang. Ganda belum menghubungi ayah sejak tadi pagi," jawab Adrian di tengah kebisingan latar belakang bandara. Tampaknya pria itu baru saja tiba di terminal keberangkatan untuk penerbangan ke Singapura. "Ada apa? Suaramu terdengar cemas. Kau perlu bantuan ayah?"Sabrina memaksakan sebuah senyum kecut, meski ia tahu sang ayah tak bisa melihatnya. "Tidak, Yah. Aku masih bisa mengatasinya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   226. DIA TIDAK MAU MENIKAH

    "Kau terlalu serakah. Seharusnya kau ambil satu saja," komentar Nyonya Maureen memecah kesunyian di dalam kabin mobil mewah itu, sesaat setelah mereka baru saja selesai mengantarkan Sabrina kembali ke apartemennya. Nyonya Maureen melirik ronce melati yang masih menggantung di dasbor dengan tatapan jenaka. Ia tahu betul mitos di balik bunga itu, dan ia tahu lebih baik lagi betapa konyolnya sang cucu karena telah mengambil seluruh rangkaian melati pengantin milik orang lain. Namun, Kael hanya diam. Ia tetap fokus pada kemudi, mengarahkan mobil menuju kediaman megah keluarga O’Shea. Wajahnya tidak bersemangat. Tidak ada binar kemenangan meskipun ia baru saja menghabiskan waktu seharian bersama Sabrina."Ayolah! Apalagi yang bisa kubantu?" tanya sang nenek lagi, suaranya melembut. Ia bisa merasakan kegundahan yang memancar dari

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   225. TENTANG PERNIKAHAN

    Bayangan tentang masa kecil bagi Sabrina bukanlah tawa dan canda di meja makan, melainkan tangisan sang ibu yang sering ditinggal oleh ayahnya. Di sudut ingatannya yang paling gelap, ia masih bisa mendengar isak tangis ibunya yang tertahan di balik bantal, sementara ia dan Ganda bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, saling menggenggam tangan seolah dunia akan runtuh jika mereka melepaskannya. Ya. Sabrina tumbuh besar menyaksikan bagaimana pernikahan hanyalah sebuah transaksi atau penjara. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana Ganda harus mengorbankan perasaannya dan terpaksa menikah hanya demi keuntungan bisnis keluarga yang nyaris karam. Baginya, janji suci tak lebih dari sekadar kontrak yang siap dikhianati, dan cinta hanyalah kata manis untuk menutupi dominasi satu pihak atas pihak lainnya.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   224. AKU TIDAK BERCANDA

    "Jangan katakan padaku kalau kau yang mengambil ini.” Sabrina berucap dengan nada yang bergetar antara tidak percaya dan geli. Ia mengangkat roncean melati tadi dengan ujung jarinya, membiarkan bunga-bunga putih yang mulai layu namun tetap harum itu menggantung di udara kabin mobil yang dingin. Aroma melati yang semula terasa menenangkan, kini mendadak membuat suasana di dalam mobil mewah itu terasa sesak oleh kecurigaan. Kael tetap bergeming. Pandangannya lurus ke depan, mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sedikit berlebihan. Indikator kecepatan di dasbor menunjukkan angka yang stabil, namun ketenangan wajah Kael sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi di balik telinganya yang mulai memerah panas."Kael, aku serius. Kau sudah membuat satu desa panik! Perias itu hampir menangis karena mengira ada roh halus yang menyembunyikannya," tuntut Sabrina lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi."Mungkin itu melati lain. Victo

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   223. DRAMA BUNGA MELATI

    Suasana di hajatan itu berubah menjadi keributan kecil yang mulai merembet ke telinga para tamu. Pak Dadang tampak pucat pasi, sementara sang perias terus menggumamkan do’a-do’a tolak bala sambil mencari ke kolong meja."Bagaimana ini? Acara harus segera dimulai!" bisik salah satu bibi Teguh dengan nada panik.qNamun, di tengah kepanikan itu, deru mesin motor terdengar mendekat dengan cepat ke arah tenda. Tak lama kemudian, Victor dan Teguh muncul dari kerumunan dengan napas tersengal. Di tangan Victor, sebuah kotak beludru terbuka memperlihatkan roncean melati yang masih sangat segar, bahkan butiran embunnya masih terlihat berkilau di bawah lampu tenda."Ini melatinya, Pak!" seru Teguh sambil menyerahkan bunga itu kepada perias. Semua orang di sana terperangah. Mereka kagum dengan gerak cepat Kael yang ternyata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   23. DASAR PLIN-PLAN

    Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   22. BUKAN DIA ORANGNYA

    Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   21. HANYA SAMPAI BULAN DEPAN

    “Abang tahu enggak. Gara-gara foto kita kemarin bosku malah besar. Dia jadi salah sangka.”“Halah! Cuma foto doang kok.”“Tapi ‘kan, Bang..”“Udah ya, Sab

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   18. DARI MANA DIA TAHU?

    Setelah Gladis diusir dari ruangan, Kael masih terpaku pada meja kerjanya. Punggungnya menyandar pada kursi kulit ergonomis yang dingin, namun matanya tak lepas dari permukaan meja jati yang baru saja dibersihkan.&nb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status