LOGIN"Aku hanya mau ke kantor, Mas Teguh," ujar Sabrina dengan nada frustrasi. Ia sudah rapi dengan setelan kerjanya, tas kulit tersampir di bahu, namun langkahnya dihadang oleh tubuh tegap Teguh yang berdiri kokoh di depan pintu utama.Teguh tidak bergeming sedikit pun, wajahnya sekaku beton. "Maaf, Mbak Sabrina. Perintah Tuan Kael tidak bisa dibantah. Untuk sementara waktu, Mbak dilarang meninggalkan area rumah."Sabrina menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca karena bingung dan merasa tertekan. "Tapi kenapa?”"Keamanan Anda adalah prioritas utama Tuan saat ini, Mbak. Mohon kerja samanya," tegas Teguh lagi, tanpa memberikan celah sedikit pun.“Tapi, Mas..”"Jangan berteriak di pagi hari, Sabrina. Itu tidak sopan," ucap Gladis datar, matanya menyapu penampilan Sabrina yang sudah rapi.Sabrina menoleh cepat.
Lantai basemen kediaman O’Shea tidak hanya berisi deretan mobil mewah. Di balik dinding kedap suara yang tersamar sebagai rak anggur, terdapat sebuah lift baja yang membawa Kael turun ke unit komando rahasianya. Ruangan itu dingin, dipenuhi pendar biru dari belasan layar monitor yang melacak pergerakan satelit di atas Samudera Atlantik."Status The Valkyrie?" tanya Kael, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. Victor, yang muncul melalui sambungan video terenkripsi di layar utama, segera menggeser sebuah peta digital. "Kapal kargo itu baru saja melewati batas perairan internasional Hamburg, Tuan. Mereka menggunakan kode diplomatik lama milik mendiang ayah Anda, protokol 'Iron Hand' yang seharusnya sudah mati belasan tahun lalu."Kael mengepalkan rahangnya hingga urat lehernya menegang. "Berani-beraninya Adrian menggunaka
"Apalagi di bagian saat pelayan restoran itu terpeleset kulit pisang. Dia jatuh tepat di pangkuan bapak-bapak yang sedang melamar kekasihnya ‘kan?" Sabrina tertawa renyah, tubuhnya masih sedikit terguncang karena sisa geli yang tertinggal di perutnya. Kael tidak menahan senyumnya kali ini. Ia menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di jendela mobil. "Bagian itu konyol. Tapi wajah pria yang membawa cincin itu jauh lebih lucu. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu, bukan melihat pelayan.""Benar! Matanya hampir keluar dari kelopak," sahut Sabrina sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa. "Sudah lama saya tidak tertawa sampai sesak napas seperti ini. Terima kasih, Tuan. Ternyata Anda punya selera humor juga."Kael hanya mendengus rendah, namun ta
"Tuan, kenapa kita ke sini lagi?" Sabrina bertanya dengan suara pelan, hampir ragu. Mereka berdiri di depan fasad bioskop yang sama dengan malam traumatis itu. Cahaya neon warna-warni menyinari wajahnya yang masih menyisakan sedikit jejak pucat di bawah sapuan riasan tipis.Kael menatapnya sekilas, ekspresinya tetap datar dan sulit dibaca seperti biasa."Mengganti jadwal kemarin yang berantakan," jawabnya dingin. Namun, kontras dengan suaranya, tangannya bergerak dengan kelembutan yang tak terduga, menyentuh punggung Sabrina untuk mengajaknya melangkah masuk ke dalam lobi. "Kali ini pilih genre komedi. Tidak ada adegan gelap, tidak ada kejar-kejaran, dan tidak ada kejutan yang tidak perlu." Sabrina tersenyum kecil. Meski hatinya masih sering berdegup kencang mengingat apa yang per
"Jangan biarkan satu kendaraan pun keluar dari gerbang utama!" Suara Kael menggelegar di ruang kendali CCTV, memantul di dinding kedap suara yang kini terasa menyesakkan. Napasnya memburu, dasinya sudah tersampir entah di mana, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka paksa. Matanya yang merah menatap belasan layar monitor dengan tatapan liar seorang predator yang kehilangan mangsanya."Maaf, Tuan. Sinyal ponsel Nona Sabrina terputus tepat di area koridor servis lantai empat puluh dua. Sensor kamera di sana sedang dalam pemeliharaan rutin," lapor kepala keamanan dengan suara bergetar. Ketakutan pria itu bukan pada penyusup, melainkan pada aura mematikan yang terpancar dari tubuh Kael. Kael menghantam meja kendali dengan tinjunya."Pemeliharaan rutin?! Di saat seperti ini?! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan memas
"Tiga kontainer di Hamburg sudah tertahan, Tuan. Bea cukai Jerman tidak akan melepasnya dalam waktu dekat." Suara serak Victor memecah keheningan fajar di lantai teratas gedung O’Shea Group. Kael tidak menyalakan lampu utama, hanya cahaya biru dari layar monitor yang menyinari wajahnya, menciptakan bayangan tajam yang membuatnya tampak seperti patung pualam yang dingin. Kael menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin, matanya tak lepas dari peta digital pelabuhan peti kemas di layar. "Berapa lama kerugiannya mulai terasa, Victor?""Dua puluh empat jam, Tuan. Adrian Pratama akan mulai menerima panggilan panik dari para investor konsorsiumnya pagi ini waktu Berlin," jawab Victor melalui sambungan telepon terenkripsi."Bagus," desis Kael, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya kehila







