登入Hai, semua. Terima kasih sudah setia sampai saat ini ya. Kisah Sabrina dan Kael akan berakhir bulan ini, tapi kalau masih banyak yang minat aq pending sampai bulan depan nih. Aq kasih yang manis-manis dulu kali ya? Menurut kalian gimana? Komen dong hehe. :D
“Ahhh...Kael,” desah Sabrina lirih. Suaranya menggema pelan di dalam kamar mandi berukuran raksasa tersebut. Uap hangat mengepul tipis dari bathtub besar berbahan batu alam yang menghadap langsung ke arah laut lepas Pulau Socotra. Sabrina duduk bersandar menikmati pijatan di tepi bak, sementara Kael berlutut di belakangnya dengan bertelanjang dada, memperlihatkan otot punggungnya yang kokoh.“Bagian ini terasa sangat kaku dan tegang, Sayang. Kau pasti benar-benar kelelahan karena penerbangan panjang dari Kuala Lumpur dan Abu Dhabi tadi,” ucap Kael sembari menekan lembut otot belikat dan pundak Sabrina yang tampak memerah. Sabrina memejamkan mata erat-erat, menikmati setiap sentuhan hangat dari tangan suaminya yang perlahan menghilangkan rasa
Langkah kaki mereka akhirnya tiba di ambang pintu pesawat. Dua orang pramugari menyambut dengan bungkukan hormat yang sangat ramah.“Selamat datang di kabin First Class, Tuan dan Nyonya Kael. Mari saya antar ke kursi Anda,” sapa salah satu pramugari dengan senyum profesional yang merekah.Kael hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Sabrina. “Terima kasih.” Setelah beberapa jam penerbangan yang nyaman dari Kuala Lumpur, burung besi yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Abu Dhabi. Sebagai satu-satunya gerbang utama yang mengantarkan penerbangan khusus menuju Socotra, Kael sudah menyiapkan segalanya dengan sangat matang. Fasilitas VI
“T-Tuan Kael... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya! Demi Tuhan, saya benar-benar tidak tahu kalau dia bersikap kurang ajar kepada istri Anda.” Kael sama sekali tidak melayani jabat tangan atau tatapan memohon dari pria yang tampak frustrasi itu. Dia bahkan tidak sudi melirik sedikit pun ke arah Marsha yang wajahnya sudah berubah pucat pasi. Mengeluarkan kata-kata untuk meladeni wanita seperti Marsha hanya akan merendahkan martabatnya. Dengan posesif, tangan kekar Kael justru semakin merapatkan tubuh Sabrina ke dadanya, merangkul pinggang ramping sang istri dan menggandeng tangannya erat-erat.“S-saya mengaku salah karena tidak bisa mendidik wanita saya, Tuan Besar,” lanjut Tan Sri Farid, meraba-raba kata dengan panik. “Mohon maafkan kelancangan kami, jangan sangkut pautkan masalah ini dengan kontrak kerja sama kita di Kuala Lumpur.” Kael menghentikan langkahnya sejenak sebelum mereka benar-benar beranjak dari area transit tersebut. Tanpa mengubah
Alih-alih mengadu atau apa, Sabrina malah menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dia memberi kode agar Kael tetap tenang. Suaminya itu lantas melonggarkan cengkeramannya, namun tetap berdiri tegap di samping istrinya. Saat itulah Marsha mendongak dan seketika terpesona melihat Kael. Matanya melotot kagum memandangi wajah tampan, rahang tegas, dan perawakan tinggi tegap pria asing di hadapannya. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi sinis. Dia melangkah mendekat lalu berbisik di telinga Sabrina dengan nada mencibir, tanpa sadar kalau volume suaranya masih bisa didengar jelas oleh Kael.“Oh, jadi ini alasan kenapa lu keluyuran di sini ya, Sabri? Ternyata lu beralih profesi jadi ani-ani piaraan bule? Hahaha, miris banget.
“Ingat ya. Jangan sampai kau tumbang. Ingat umur!!” Suara Ganda terdengar menggelegar dari speaker ponsel yang tergeletak di atas nakas, memecah keheningan kamar dengan nada sindiran yang begitu renyah.“Aku tidak setua yang kau pikirkan, Ganda,” geram Kael dengan suara baritonnya yang serak, meremas selimut tebalnya dengan menahan kekesalan yang teramat sangat. Kalau saja pria di seberang telepon itu bukan kakak iparnya, Kael bersumpah sudah akan memaki dan menutup panggilan itu sejak detik pertama.Ganda justru terkekeh puas di seberang sana. “Kapten kapalmu sendiri yang melapor padaku kalau kau dan Sabrina langsung tepar bersama begitu tiba di vila. Makanya, kalau sedang sakit itu istirahat, jangan malah bertingkah seolah kau masih berusia dua p
Sabrina mencoba memalingkan wajahnya yang memerah, namun jemari Kael dengan lembut namun tegas menopang dagunya, memaksa sepasang manik mata mereka untuk kembali beradu.“Kau meragukan ketangguhanku hanya karena aku sedang demam, hmm?” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan begitu mengintimidasi ego kelaki-lakiannya.Sabrina menggeleng cepat dengan raut panik yang menggemaskan, lalu berkata, “Kau ini apa-apaan sih? Turunlah, badanmu berat sekali!” Kael yang sudah dilanda cemburu aneh itu malah kembali bersuara, mengabaikan protes istrinya. Seringai tipisnya terbit, penuh dengan kilat provokasi yang seksi. “Bagaimana kalau kita tes bersama, apakah tenagaku ini sudah sepenuhnya pulih atau belum?”
"Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb
"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu
Kael memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan sisa kewarasan yang kian menipis.“Kita mau ke mana, hmm?” Kael hanya berdecak sebagai respon dari pertanyaan bernada bahaya barusan.“Tuan?” rengek Sabrina manja.“Kita akan ke apartemenku yang kemarin.”Sab
Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G







