เข้าสู่ระบบBayangan tinggi itu tidak bergerak, tetapi kehadirannya menekan ruangan seperti dinding yang mendadak menyempit. Lampu gantung di ruang tamu terasa lebih redup. Udara berubah dingin.
Sabrina berdiri kaku. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar. Napasnya tertahan saat langkah kaki berat itu bergerak mendekat, pelan namun penuh tekanan.
Sosok itu akhirnya keluar dari bayangan.
Tinggi. Tegap. Bahu lebar dibalut setelan jas gelap yang rapi sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang mengeras, sepasang mata abu-abu gelap menatap lurus ke arah Sabrina tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
Kael Mahendra O’Shea. Pria yang namanya menghantui Sabrina sejak sore tadi kini berdiri hanya beberapa meter darinya.
“Kenapa ada orang asing di rumah ini?” Suaranya masih terdengar rendah, dingin, dan memerintah.
Sabrina refleks menunduk. Lututnya terasa melemah, tapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.
“Kael,” suara Nyonya Maureen terdengar lebih dulu, tenang namun berwibawa. “Kau sudah pulang.”
Kael tidak menjawab. Tatapannya tidak lepas dari Sabrina. Dari seragam kebersihan yang masih ia kenakan hingga wajah pucat yang jelas belum kering dari air mata.
“Siapa dia, Grandma?” tanyanya akhirnya.
Nada datar itu justru membuat dada Sabrina semakin sesak.
Sabrina membuka mulut, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan.
“Dia tamu kita,” jawab Nyonya Maureen sebelum Sabrina sempat bicara. “Dan dia datang dengan urusan penting.”
Kael mendengus pelan. “Rumah ini bukan tempat menerima tamu sembarangan, Grandma.”
Kata sembarangan terasa seperti dorongan keras ke dada Sabrina.
“Aku tidak sembarangan,” balas Nyonya Maureen, kali ini sedikit lebih tegas. “Gadis ini datang karena masalah di perusahaanmu.”
Kael menoleh tajam. “Perusahaan?”
Sabrina tahu ini saatnya bicara. Jika ia diam, harapannya akan benar-benar lenyap.
“Saya Sabrina Putri, Pak,” ucapnya cepat, suaranya bergetar tapi ia memaksa setiap kata keluar. “Saya staf kebersihan di O’Shea Tower.”
Alis Kael terangkat tipis. Bukan tertarik. Lebih seperti tidak percaya.
“Kalau soal pekerjaan, kau salah tempat,” katanya dingin. “Aku tidak menangani urusan staf outsourcing.”
“Sa-saya sudah mencoba semua jalur, Pak,” sambung Sabrina sebelum keberaniannya runtuh. “HRD, manajemen gedung. Tapi tidak ada yang mau mendengarkan saya.”
Kael tertawa pendek tanpa humor. “Lalu kau pikir dengan datang ke rumahku adalah ide yang masuk akal?”
Sabrina menggigit bibirnya. Tangannya mengepal lebih kuat.
“Saya tidak punya pilihan lain,” ucapnya pelan.
“Kita semua punya pilihan,” balas Kael tajam. “Dan pilihanmu malam ini sungguh lancang.”
Nyonya Maureen mengetukkan tongkatnya perlahan ke lantai. “Kael.”
Kael menghela napas kasar. “Grandma, aku lelah. Aku tidak ingin masalah kantor masuk ke rumah.”
“Aku juga tidak ingin melihat orang kecil dihancurkan tanpa didengar,” jawab Nyonya Maureen tenang.
Kael kembali menatap Sabrina. Kali ini lebih dingin.
“Kau tahu apa akibat dari ‘masalah’ yang kau bawa?” tanyanya. “Satu laporan saja bisa mengguncang kepercayaan mitra. Reputasi perusahaan yang bukan mainan.”
Sabrina mengangguk cepat. “Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak melakukannya.”
Kael tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti ejekan.
“Semua orang bilang begitu.”
“Sumpah, Pak,” suara Sabrina pecah, tapi ia tetap berdiri. “Saya hanya menggeser laptop itu sedikit saja. Saya tidak menghapus apa pun. Saya bahkan tidak mengerti isinya.”
Kael menatapnya tanpa berkedip.
“Log sistem mencatat semuanya,” katanya dingin. “Dan kau satu-satunya orang di ruangan itu.”
Sabrina menggeleng pelan. Bahunya turun, tetapi matanya tetap terangkat.
“Pak, saya dijadikan kambing hitam,” ucapnya lirih. “Saya tahu posisi saya rendah. Tapi saya tidak berbohong.”
Kael melangkah satu langkah maju. Jarak di antara mereka menyempit. Aura dingin itu terasa lebih nyata.
“Kau datang ke rumahku, menuduh sistem perusahaanku salah, dan berharap aku percaya begitu saja?” katanya pelan namun menekan. “Berani sekali kau.”
Sabrina mundur setengah langkah sebelum berhenti. Punggungnya menegang.
“Saya tidak minta dibela,” katanya nyaris berbisik. “Saya cuma minta didengar.”
Hening jatuh di ruangan itu.
Kael memalingkan wajahnya sebentar, lalu kembali menatap Nyonya Maureen.
“Grandma, ini tidak pantas,” katanya tegas. “Aku akan memanggil security. Dia harus pergi sekarang.”
Sabrina menunduk. Dadanya terasa kosong. Namun, ia tidak bergerak.
“Tidak,” ujar Nyonya Maureen.
Satu kata itu membuat Kael menoleh tajam.
“Kau bahkan belum mendengarkan ceritanya dengan utuh,” lanjut perempuan tua itu. “Gadis ini datang ke sini dengan sisa keberaniannya.”
Kael menghela napas berat. “Aku tidak punya kewajiban untuk itu.”
“Tapi kau pasti punya hati nurani,” balas Nyonya Maureen.
Kael terdiam sesaat. Rahangnya mengeras.
“Dia sudah membuat kesalahan,” katanya akhirnya.
“Dan apa kau tidak pernah melakukan kesalahan juga?” potong Nyonya Maureen tajam.
Sabrina menahan napas. Ia bisa merasakan ketegangan itu berputar di antara dua generasi.
Kael menoleh kembali padanya. Tatapannya dingin, menilai, seperti memutuskan sesuatu.
“Aku tidak akan mempekerjakan orang yang membawa masalah,” katanya. “Apalagi orang yang menerobos rumahku.”
Ia menoleh ke arah pintu. “Pergi sebelum aku berubah pikiran.”
Setiap kata terasa seperti pisau tipis yang mengiris perlahan.
“Kael,” Nyonya Maureen memperingatkan.
Namun, Kael tidak berhenti. Terlebih saat melihat Sabrina yang masih mematung di tempatnya. “Kau pikir ini tempat mengadu nasib, hah?? Atau kau sengaja memanfaatkan kemurahan hati orang tua seperti nenekku?”
Wajah Sabrina langsung memucat. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu, Pak. Saya tidak berniat…”
“Lalu apa?” Kael mendekat satu langkah. Ruangan terasa menyempit. “Apa tujuanmu ke sini?”
Sabrina menarik napas dalam-dalam. Jika ia mundur sekarang, ia akan kehilangan segalanya.
“Saya hanya ingin keadilan,” katanya pelan, namun jelas.
Hening jatuh. Berat. Menyesakkan.
Nyonya Maureen berdiri di antara mereka. Tubuhnya memang rapuh, tetapi sikapnya tidak goyah sedikit pun.
“Jangan begitu,” katanya.
Kael menatap neneknya, jelas terkejut. “Grandma—”
“Aku tidak menyuruhmu memaafkannya,” potong Nyonya Maureen. “Aku hanya meminta kau tidak bertindak semena-mena.”
“Dia melanggar batas,” sahut Kael. “Dan aku tidak mentoleransi itu.”
“Dan kau melupakan satu hal,” balas Nyonya Maureen tenang. “Dia datang ke sini bukan karena keinginannya, tapi karena terpaksa.”
Kael terdiam sesaat. Namun sorot matanya tetap keras.
“Dia boleh pergi setelah ini,” kata Kael. “Tapi jangan harap ada keringanan.”
Sabrina mengangkat kepala perlahan. “Kalau saya dipecat malam ini,” ucapnya lirih, “besok pagi saya tidak punya tempat untuk pulang.”
Keheningan kembali jatuh. Kael memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras.
“Itu bukan urusanku,” katanya dingin.
Nyonya Maureen menghela napas panjang. “Kael,” ucapnya perlahan, namun sarat makna. “Apa kau masih menganggap aku ini nenekmu?”
Jeritan kecil Sabrina teredam begitu saja ketika Kael menarik tubuhnya mendekat, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka. Alih-alih menjawab protes istrinya, Kael justru menyeringai tipis, lalu menundukkan kepala. Detik berikutnya, dia melancarkan jurus maut yang paling tidak bisa ditolak oleh Sabrina; melakukan tarian lidah yang lembut namun menuntut di ceruk leher wanita itu. "Kael... geli... stop, ah!" Sabrina menggeliat, mencoba menjauhkan lehernya yang sensitif. Namun, cengkeraman tangan Kael di pinggangnya justru semakin erat, mengunci posisinya dengan sempurna di dalam kepungan busa hangat. "Ini hukuman karena kau berani kabur ke sini, Sayang," bisik Kael parau, suaranya terdengar sangat seksi tepat di lubang telinga Sabrina. Sentuhan lidahnya berpindah dari ceruk leher naik ke daun telinga, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat bulu kuduk Sabrina meremang seketika. "Aku tidak kabur, aku hanya... ahh... Kael, dengar dulu..ssh" Kalimat Sabrina kembali te
"Grandma! Ke mana Sabrina dan Noah?" Nyonya Maureen menghela napas pelan lalu geleng-geleng kepala melihat wajah cucunya yang tampak kusut masai usai pulang dari kantor klan."Apa dia merajuk lagi? Apa dia kabur?" tanya Kael beruntun dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan."Menurutmu?" Nyonya Maureen malah balik bertanya dengan tenang, sengaja membuat Kael semakin kelabakan. Kael memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening, sementara Teguh yang berdiri di belakang bosnya hanya menahan senyum sekuat tenaga. Sudah enam bulan berlalu sejak mereka kembali dari Singapura, dan dinamika rumah tangga ini selalu berhasil membuat asisten pribadi itu terhibur di sisa harinya."Kenapa dia seringkali begitu?" keluh Kael lirih, t
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Singapura sebelum terbang kembali ke Jakarta sore nanti. Namun, sebelum menuju bandara, ada satu tempat yang harus mereka kunjungi. Kael berjalan paling depan sembari menggendong Noah dengan sangat protektif di dalam dekapannya, memastikan bayinya terlindung dari embusan angin. Di sampingnya, Sabrina melangkah perlahan didampingi oleh Nyonya Maureen, Ganda, Gladis, dan juga Aliz yang sengaja meluangkan waktu untuk ikut mengantar kepergian mereka. Langkah Sabrina terhenti tepat di depan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama Adrian. Keheningan seketika menyergap. Aliz bergerak maju selangkah, dengan telaten membantu membawakan keranjang berisi bunga segar dan menyerahkannya kepada Sabrina."Ini bunganya, Mama Sabi,"
Tawaran barusan kedua mata Sabrina membola sempurna. Ada kerinduan yang membuncah, sekaligus ketakutan yang mendalam."Tapi... dia sangat kecil, Sus. Bagaimana kalau gerakanku justru menyakitinya?" cicit Sabrina cemas."Hei, dengarkan aku," bisik Kael lembut, menatap lurus ke dalam netra Sabrina. "Tidak ada tempat yang lebih aman untuk Noah selain di dalam pelukan ibunya sendiri. Kau tidak perlu takut, Sayang." Sabrina menarik napas panjang lalu mengangguk. Kael dengan sabar membantu membuka kancing atas pakaian rumah sakit istrinya. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, perawat mengangkat tubuh mungil itu dari inkubator, menjaga agar semua selang medis tetap aman, lalu meletakkannya perlahan di atas dada telanjang Sabrina.
"Ini adalah efek bendungan ASI, Bu. Payudara Anda bengkak dan mengeras karena produksi ASI sudah mulai berjalan, tetapi belum ada pengosongan selama Anda tidak sadarkan diri." Penjelasan dari dokter jaga yang datang beberapa menit kemudian membuat Kael sedikit bernapas lega, meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang. Dokter paruh baya itu memeriksa kondisi Sabrina dengan cekatan sebelum meresepkan kompres hangat dan obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui."Terlebih Anda baru saja sadar dari koma pasca-operasi tiga minggu lalu, perubahan hormon dalam tubuh Anda sedang bekerja sangat aktif," tambah dokter itu sembari menoleh ke arah perawat di sampingnya. "Perawat akan membantu Anda meredakan bengkaknya malam ini dengan teknik pemijatan lembut dan stimulasi laktasi."
Kael berkedip cepat. Dia ingin memastikan apakah telinganya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur atau wanita di atas ranjang itu memang baru saja mengucapkan kata-kata yang paling ingin didengarnya di dunia ini. Kael langsung mendekat ke sisi ranjang. Napasnya tertahan di tenggorokan saat dia berusaha menyelami netra wanita yang sangat dicintainya itu. Tidak ada lagi binar canggung atau tatapan asing yang beberapa jam lalu sempat membuatnya ingin gila. Yang ada di sana kini hanyalah binar usil, kehangatan, dan sedikit rasa bersalah yang terpancar nyata.“Kau…”"Ya. Tentu saja aku masih mengingatmu. Bagaimana bisa aku..." Ucapan Sabrina terputus begitu saja. Kael tanpa ab
“Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memili
Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk. Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna
Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitu
“Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam







