Share

2. JANGAN LANCANG!

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2026-01-05 23:50:06

Bayangan tinggi itu tidak bergerak, tetapi kehadirannya menekan ruangan seperti dinding yang mendadak menyempit. Lampu gantung di ruang tamu terasa lebih redup. Udara berubah dingin.

            Sabrina berdiri kaku. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar. Napasnya tertahan saat langkah kaki berat itu bergerak mendekat, pelan namun penuh tekanan.

Sosok itu akhirnya keluar dari bayangan.

            Tinggi. Tegap. Bahu lebar dibalut setelan jas gelap yang rapi sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang mengeras, sepasang mata abu-abu gelap menatap lurus ke arah Sabrina tanpa ekspresi ramah sedikit pun.

            Kael Mahendra O’Shea. Pria yang namanya menghantui Sabrina sejak sore tadi kini berdiri hanya beberapa meter darinya.

“Kenapa ada orang asing di rumah ini?” Suaranya masih terdengar rendah, dingin, dan memerintah.

Sabrina refleks menunduk. Lututnya terasa melemah, tapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.

“Kael,” suara Nyonya Maureen terdengar lebih dulu, tenang namun berwibawa. “Kau sudah pulang.”

            Kael tidak menjawab. Tatapannya tidak lepas dari Sabrina. Dari seragam kebersihan yang masih ia kenakan hingga wajah pucat yang jelas belum kering dari air mata.

“Siapa dia, Grandma?” tanyanya akhirnya.

            Nada datar itu justru membuat dada Sabrina semakin sesak.

Sabrina membuka mulut, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Dia tamu kita,” jawab Nyonya Maureen sebelum Sabrina sempat bicara. “Dan dia datang dengan urusan penting.”

Kael mendengus pelan. “Rumah ini bukan tempat menerima tamu sembarangan, Grandma.”

Kata sembarangan terasa seperti dorongan keras ke dada Sabrina.

“Aku tidak sembarangan,” balas Nyonya Maureen, kali ini sedikit lebih tegas. “Gadis ini datang karena masalah di perusahaanmu.”

Kael menoleh tajam. “Perusahaan?”

Sabrina tahu ini saatnya bicara. Jika ia diam, harapannya akan benar-benar lenyap.

“Saya Sabrina Putri, Pak,” ucapnya cepat, suaranya bergetar tapi ia memaksa setiap kata keluar. “Saya staf kebersihan di O’Shea Tower.”

Alis Kael terangkat tipis. Bukan tertarik. Lebih seperti tidak percaya.

“Kalau soal pekerjaan, kau salah tempat,” katanya dingin. “Aku tidak menangani urusan staf outsourcing.”

“Sa-saya sudah mencoba semua jalur, Pak,” sambung Sabrina sebelum keberaniannya runtuh. “HRD, manajemen gedung. Tapi tidak ada yang mau mendengarkan saya.”

Kael tertawa pendek tanpa humor. “Lalu kau pikir dengan datang ke rumahku adalah ide yang masuk akal?”

Sabrina menggigit bibirnya. Tangannya mengepal lebih kuat.

“Saya tidak punya pilihan lain,” ucapnya pelan.

“Kita semua punya pilihan,” balas Kael tajam. “Dan pilihanmu malam ini sungguh lancang.”

Nyonya Maureen mengetukkan tongkatnya perlahan ke lantai. “Kael.”

Kael menghela napas kasar. “Grandma, aku lelah. Aku tidak ingin masalah kantor masuk ke rumah.”

“Aku juga tidak ingin melihat orang kecil dihancurkan tanpa didengar,” jawab Nyonya Maureen tenang.

Kael kembali menatap Sabrina. Kali ini lebih dingin.

“Kau tahu apa akibat dari ‘masalah’ yang kau bawa?” tanyanya. “Satu laporan saja bisa mengguncang kepercayaan mitra. Reputasi perusahaan yang bukan mainan.”

Sabrina mengangguk cepat. “Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak melakukannya.”

Kael tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti ejekan.

“Semua orang bilang begitu.”

“Sumpah, Pak,” suara Sabrina pecah, tapi ia tetap berdiri. “Saya hanya menggeser laptop itu sedikit saja. Saya tidak menghapus apa pun. Saya bahkan tidak mengerti isinya.”

Kael menatapnya tanpa berkedip.

“Log sistem mencatat semuanya,” katanya dingin. “Dan kau satu-satunya orang di ruangan itu.”

Sabrina menggeleng pelan. Bahunya turun, tetapi matanya tetap terangkat.

“Pak, saya dijadikan kambing hitam,” ucapnya lirih. “Saya tahu posisi saya rendah. Tapi saya tidak berbohong.”

            Kael melangkah satu langkah maju. Jarak di antara mereka menyempit. Aura dingin itu terasa lebih nyata.

“Kau datang ke rumahku, menuduh sistem perusahaanku salah, dan berharap aku percaya begitu saja?” katanya pelan namun menekan. “Berani sekali kau.”

Sabrina mundur setengah langkah sebelum berhenti. Punggungnya menegang.

“Saya tidak minta dibela,” katanya nyaris berbisik. “Saya cuma minta didengar.”

Hening jatuh di ruangan itu.

Kael memalingkan wajahnya sebentar, lalu kembali menatap Nyonya Maureen.

“Grandma, ini tidak pantas,” katanya tegas. “Aku akan memanggil security. Dia harus pergi sekarang.”

Sabrina menunduk. Dadanya terasa kosong. Namun, ia tidak bergerak.

“Tidak,” ujar Nyonya Maureen.

Satu kata itu membuat Kael menoleh tajam.

“Kau bahkan belum mendengarkan ceritanya dengan utuh,” lanjut perempuan tua itu. “Gadis ini datang ke sini dengan sisa keberaniannya.”

Kael menghela napas berat. “Aku tidak punya kewajiban untuk itu.”

“Tapi kau pasti punya hati nurani,” balas Nyonya Maureen.

Kael terdiam sesaat. Rahangnya mengeras.

“Dia sudah membuat kesalahan,” katanya akhirnya.

“Dan apa kau tidak pernah melakukan kesalahan juga?” potong Nyonya Maureen tajam.

            Sabrina menahan napas. Ia bisa merasakan ketegangan itu berputar di antara dua generasi.

Kael menoleh kembali padanya. Tatapannya dingin, menilai, seperti memutuskan sesuatu.

“Aku tidak akan mempekerjakan orang yang membawa masalah,” katanya. “Apalagi orang yang menerobos rumahku.”

Ia menoleh ke arah pintu. “Pergi sebelum aku berubah pikiran.”

Setiap kata terasa seperti pisau tipis yang mengiris perlahan.

“Kael,” Nyonya Maureen memperingatkan.

Namun, Kael tidak berhenti. Terlebih saat melihat Sabrina yang masih mematung di tempatnya. “Kau pikir ini tempat mengadu nasib, hah?? Atau kau sengaja memanfaatkan kemurahan hati orang tua seperti nenekku?”

Wajah Sabrina langsung memucat. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu, Pak. Saya tidak berniat…”

“Lalu apa?” Kael mendekat satu langkah. Ruangan terasa menyempit. “Apa tujuanmu ke sini?”

Sabrina menarik napas dalam-dalam. Jika ia mundur sekarang, ia akan kehilangan segalanya.

“Saya hanya ingin keadilan,” katanya pelan, namun jelas.

Hening jatuh. Berat. Menyesakkan.

            Nyonya Maureen berdiri di antara mereka. Tubuhnya memang rapuh, tetapi sikapnya tidak goyah sedikit pun.

“Jangan begitu,” katanya.

Kael menatap neneknya, jelas terkejut. “Grandma—”

“Aku tidak menyuruhmu memaafkannya,” potong Nyonya Maureen. “Aku hanya meminta kau tidak bertindak semena-mena.”

“Dia melanggar batas,” sahut Kael. “Dan aku tidak mentoleransi itu.”

“Dan kau melupakan satu hal,” balas Nyonya Maureen tenang. “Dia datang ke sini bukan karena keinginannya, tapi karena terpaksa.”

Kael terdiam sesaat. Namun sorot matanya tetap keras.

“Dia boleh pergi setelah ini,” kata Kael. “Tapi jangan harap ada keringanan.”

Sabrina mengangkat kepala perlahan. “Kalau saya dipecat malam ini,” ucapnya lirih, “besok pagi saya tidak punya tempat untuk pulang.”

Keheningan kembali jatuh. Kael memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras.

“Itu bukan urusanku,” katanya dingin.

Nyonya Maureen menghela napas panjang. “Kael,” ucapnya perlahan, namun sarat makna. “Apa kau masih menganggap aku ini nenekmu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   6. SEJAK KAPAN?

    Jam dinding di ruang ganti menunjukkan pukul 06.50 pagi. Sabrina sudah berdiri di depan loker, seragam OB-nya rapi seperti biasa. Rambut hitamnya diikat sederhana, wajahnya masih menyisakan lelah yang belum sempat disembunyikan. Ia menarik napas pelan sebelum mendorong troli kebersihan keluar ruangan. Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu menyala terang, memantulkan lantai marmer yang dingin. Bau cairan pembersih menyeruak, bau yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.“Pagi, Sab.”Rani muncul dari arah pantry, membawa sapu dan ember kecil. Langkahnya santai.“Pagi,” jawab Sabrina sambil terus berjalan.Rani memperhatikannya lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa sih? Mukamu pucat banget.”“Kurang tidur,” jawab Sabrina singkat.“Kamu itu tiap hari kurang tidur,” Rani mendecak. “Tapi hari ini beda. Kayak habis mikir berat. Padahal kemarin ‘kan libur. Harusnya senang dong karena masih bisa kerja lagi.”Sabrina tersenyum tipis. “Iya ya, Ran. Kamu benar juga.”

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   5. AKU TIDAK SETUJU

    “Grandma tidak bisa menjadikan empati sebagai standar keputusan.”“Aku sedang tidak berempati,” balas Maureen dengan ketenangan yang kontras. Ia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia belum kehilangan kendali atas hidupnya. “Aku sedang memilih orang yang bisa kupercaya.”Kael mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. “Percaya? Bahkan Grandma baru mengenalnya beberapa jam. Dia hanya seorang Office Boy dari divisi kebersihan kantorku. Kita tidak tahu latar belakangnya, motivasinya, atau apa yang dia incar.” “Dan dalam beberapa jam itu,” potong Maureen, “dia terjaga dua kali saat aku kesakitan. Dia tidak panik. Tidak memanggil-manggilmu. Tidak membuat keributan. Dia duduk di kursi itu,” telunjuknya mengarah ke sudut kamar, “dan tetap di sana sampai aku bisa bernapas normal.”“Aku tetap tidak setuju.” Suara Kael memecah pagi yang masih terlalu sunyi untuk perdebatan. Jasnya sudah rapi, jam tangannya berkilau dingin, s

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   4. KENAPA HARUS DIA??

    Sabrina terbangun dengan napas tersentak. Bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena tubuhnya tenggelam di sesuatu yang terlalu empuk. Terlalu hangat, terlalu tidak masuk akal untuk hidupnya. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih dengan ukiran halus. Tirai tebal berwarna gading. Aroma samar yang menenangkan, seperti teh chamomile dan kayu manis. Bukan bau lembap kamar kosnya. Bukan pula bau cairan pembersih yang biasa menempel di seragamnya. Sabrina menegang. Ingatan semalam menghantamnya sekaligus. Rumah besar itu.Tatapan dingin Kael. Dan tubuh rapuh Nyonya Maureen yang terhuyung sambil memegangi dada. Ia menoleh ke samping. Nyonya Maureen tidak ada di ranjang. Jantung Sabrina berdegup lebih cepat. Ia langsung duduk, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Seragam kebersihan itu masih melekat di tubuhnya. Tampak kusut, tapi utuh. Ia menghela napas lega kecil. Beberapa saat setelahnya pintu kama

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   3. TIDAK BISA MENOLAK

    Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin. Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.” Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.” Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   2. JANGAN LANCANG!

    Bayangan tinggi itu tidak bergerak, tetapi kehadirannya menekan ruangan seperti dinding yang mendadak menyempit. Lampu gantung di ruang tamu terasa lebih redup. Udara berubah dingin. Sabrina berdiri kaku. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar. Napasnya tertahan saat langkah kaki berat itu bergerak mendekat, pelan namun penuh tekanan.Sosok itu akhirnya keluar dari bayangan. Tinggi. Tegap. Bahu lebar dibalut setelan jas gelap yang rapi sempurna. Wajahnya tegas dengan rahang mengeras, sepasang mata abu-abu gelap menatap lurus ke arah Sabrina tanpa ekspresi ramah sedikit pun. Kael Mahendra O’Shea. Pria yang namanya menghantui Sabrina sejak sore tadi kini berdiri hanya beberapa meter darinya.“Kenapa ada orang asing di rumah ini?” Suaranya masih terdengar rendah, dingin, dan memerintah.Sabrina refleks menunduk. Lututnya terasa melemah, tapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.“Kael,” suara Nyonya Maureen terdengar lebih dulu, tenang namun be

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   1. KESALAHAN FATAL

    “Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam kebersihan yang warnanya mulai pudar, kontras dengan meja kaca yang mengkilap dan jas mahal orang-orang yang mengelilinginya.“Maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja,” ucapnya terbata. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. “Saya hanya membersihkan meja. Laptopnya menyala. Saya tidak menyentuh apa pun selain memindahkannya sedikit.”“Tidak menyentuh katamu?” Pria berkacamata di depannya tersenyum tipis, dingin. “Lalu bagaimana folder kerja sama internasional itu bisa hilang setelah kamu masuk ruangan ini?” Sabrina terdiam. Ia tahu dirinya tidak menekan apa pun. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ditampilkan di layar. Tapi siapa yang ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status