Share

SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK
SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK
Author: A mum to be

1. KESALAHAN FATAL

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-01-05 23:47:00

“Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”

Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.

Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam kebersihan yang warnanya mulai pudar, kontras dengan meja kaca yang mengkilap dan jas mahal orang-orang yang mengelilinginya.

“Maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja,” ucapnya terbata. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. “Saya hanya membersihkan meja. Laptopnya menyala. Saya tidak menyentuh apa pun selain memindahkannya sedikit.”

“Tidak menyentuh katamu?” Pria berkacamata di depannya tersenyum tipis, dingin. “Lalu bagaimana folder kerja sama internasional itu bisa hilang setelah kamu masuk ruangan ini?”

            Sabrina terdiam. Ia tahu dirinya tidak menekan apa pun. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ditampilkan di layar. Tapi siapa yang mau mendengarkan penjelasan petugas kebersihan? Keraguan mulai timbul di dalam dirinya.

“Data pendukung lengkap tidak bisa dibuka lagi,” lanjut pria itu. “Sistem mencatat ada aktivitas saat kamu berada di ruangan.”

“Sumpah, Pak. Saya tidak melakukan apapun dengan laptop itu,” kata Sabrina berusaha membela diri.

            Namun, beberapa pasang mata memandangnya tajam. Tidak ada yang bertanya lebih lanjut untuk mendengar kalimatnya barusan. Seolah kesimpulan memang sudah ditentukan sejak awal.

“Jangan mengelak lagi. Kamu tahu nilai kerugiannya berapa?” suara pria itu meninggi. “Atau kamu bahkan paham apa yang dituduhkan ke kamu? Begitu Pak Kael menerima laporan, satu orang saja tidak cukup untuk disalahkan.”

            Nama itu membuat udara di ruangan seakan menghilang. Kael Mahendra O’Shea.

Sabrina menunduk. Bahunya langsung turun.

“Kalau saya terbukti bersalah, saya akan bertanggung jawab,” katanya akhirnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Saya bisa lembur. Gaji saya boleh dipotong.”

Beberapa detik hening.

Lalu terdengar suara tawa kecil, pendek, dan sinis.

“Kamu ini staf outsourcing,” ujar seorang pria lain sambil menyilangkan tangan. “Kamu bahkan tidak tercatat sebagai aset perusahaan. Kesalahan ini terlalu besar untuk ditanggung orang sepertimu.”

Sabrina mengangkat kepala perlahan. Bibirnya bergetar. “Lalu… apa yang harus saya lakukan, Pak?”

“Sudahlah. Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi,” jawab pria berkacamata itu dengan suara datar. “Bagian HRD akan menghubungimu.”

“Tapi, Pak,” ucap Sabrina cepat. Langkahnya maju setengah langkah sebelum berhenti sendiri. “Tolong. Saya masih butuh pekerjaan ini.”

“Keluar,” potongnya tanpa menatap. “Kamu dipecat.”

            Kalimat itu cukup menghancurkan segalanya.

            Sabrina menunduk. Bahunya bergetar. Ia tidak ingat kapan terakhir kali menangis di depan orang lain. Mungkin sejak ia berhenti kuliah. Sejak hidupnya berubah menjadi rangkaian kos pindahan dan gaji yang selalu habis sebelum tanggal tua.

            Malam menelannya saat ia melangkah keluar dari gedung itu. Angin Jakarta menusuk kulitnya. Lampu kota berkilau indah, ironis, seolah mengejek keterpurukannya. Sabrina berjalan tanpa tujuan. Sepatunya basah oleh sisa hujan sore. Kepalanya berdenyut, tubuhnya gemetar oleh lelah dan takut.

“Kenapa aku selalu salah sih,” bisiknya.

            Ia berhenti di depan kaca gedung. Pantulan dirinya tampak asing. Wajah pucat. Mata sembab. Rambut kusut. Tidak cantik. Tidak berharga pula. Setidaknya itulah yang dunia selalu katakan padanya.

            Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Satu pesan masuk tiba.

[Mbak Sab, kalau besok pagi belum bayar kos juga, kamarnya tolong segera dikosongkan ya. Masih banyak yang nanyain kosan saya nih.]

            Lututnya melemas. Sabrina merosot duduk di trotoar. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak punya keluarga untuk dituju. Tidak punya tabungan. Tidak punya siapa pun.

            Hanya satu nama yang terus terngiang dari percakapan sore tadi. Kael Mahendra O’Shea.

CEO dingin yang disebut-sebut bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu kalimat saja.

            Biasanya, nama itu terlalu tinggi untuk didekati. Namun malam ini, harga diri Sabrina sudah runtuh lebih dulu. Dan saat tidak ada lagi yang bisa hilang, keberanian aneh pun muncul di tengah rasa takut yang melanda dirinya.

            Di sinilah dia sekarang. Gerbang besi itu tampak menjulang tinggi dan megah. Sabrina berdiri di depannya dengan jantung berdebar liar. Pos satpam tampak terang dan steril. Ia mengusap sisa air mata sebelum memberanikan diri untuk melangkah mendekat.

“Permisi. Saya mau bertemu Pak Kael,” ucapnya pelan pada petugas keamanan.

Petugas itu menatapnya dari atas ke bawah. Seragam lusuh. Sepatu murah. Wajah yang lelah. “Apa Anda sudah punya janji?”

Sabrina menggeleng lemah.

“Maaf, Nona,” jawab sang petugas kemudian. “Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini.”

“Saya mohon, Pak. Ini penting.”

Petugas itu menggeleng. “Silakan pulang saja. Tuan Kael tidak akan mau menjumpai Anda. Jangan buang-buang waktu.”

            Kalimat itu memukul lebih keras dari penolakan mana pun sebelumnya.

            Sabrina berbalik badan. Langkahnya gontai, bahunya jatuh. Ia tak ingin menangis di depan gerbang rumah orang sekaya ini. Ia tak ingin terlihat semakin kecil.

            Namun baru beberapa langkah ia berjalan, cahaya terang tiba-tiba menyinari gerbang utama. Sabrina refleks menoleh.

            Sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan masuk ke halaman luas rumah itu. Lampunya menyilaukan, bodinya mengilap, seperti dunia lain yang hanya bisa ia lihat dari jauh.

            Security tadi pun langsung berdiri tegak. Mobil itu berhenti tak jauh dari gerbang. Pintu belakang terbuka.

            Seorang perempuan tua turun dengan bantuan tongkat ramping berwarna cokelat tua. Rambutnya disanggul rapi, gaunnya sederhana tapi jelas mahal. Wajahnya berkerut halus, tapi sorot matanya hangat. Tidak dingin. Tidak merendahkan.

            Perempuan itu menangkap pemandangan Sabrina yang berdiri terpaku, mata sembab, pipi yang basah oleh air mata.

“Kau baik-baik saja, Nak?” tanyanya.

Sabrina terkejut. “Sa-saya… maaf, Nyonya.”

            Perempuan itu mendekat beberapa langkah. Tatapannya lembut, menelusuri wajah Sabrina yang pucat. “Kau menangis di depan rumah kami,” ucapnya pelan. “Ada yang bisa kubantu?”

            Sabrina ragu. Jantungnya berdegup keras. Kesempatan ini terasa rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Jika ditolak juga, ia tidak tahu ke mana lagi harus pergi.

“Saya… saya ingin bertemu Pak Kael,” katanya akhirnya. Nama itu meluncur dari bibirnya dengan getaran halus.

Perempuan tua itu terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis. “Kau mengenal cucuku?”

Sabrina tercekat. “Cucu Anda?”

“Ya. Kael Mahendra O’Shea,” jawab perempuan itu tenang. “Dia cucuku.”

Dunia Sabrina terasa berputar sesaat.

“Namaku Nyonya Maureen,” lanjut perempuan itu. “Dan siapa namamu, Nak?”

“Sabrina, Nyonya.”

Nyonya Maureen mengangguk kecil. “Masuklah. Kau tidak seharusnya berdiri di luar dalam keadaan seperti ini.”

            Security tadi terlihat hendak bicara, namun Nyonya Maureen mengangkat tangannya sedikit. Isyarat kecil yang langsung menghentikan segalanya.

            Gerbang besi itu terbuka perlahan. Saat Sabrina melangkah masuk, kakinya terasa ringan sekaligus gemetar. Rumah yang bukan sekadar besar. Tampak sunyi, elegan, dan terasa dingin. Seperti tempat yang tidak memberi ruang bagi kesalahan.

            Nyonya Maureen kemudian mempersilakannya duduk di ruang tamu.

“Minumlah dulu,” ucapnya lembut.

Sabrina menerima cangkir teh hangat dengan kedua tangan. Jarinya masih bergetar.

“Ceritakan ada apa, hmm?” tanya Nyonya Maureen kemudian.

            Sabrina hendak membuka mulut, tetapi gagal begitu suara langkah berat terdengar dari luar. Pintu utama pun terbuka.

“Ada apa ini?”

            Suara itu rendah dan dingin. Membuat cangkir di tangan Sabrina bergetar. Terlebih saat dia melihat bayangan tinggi menjulang di ambang pintu yang dalam sekejap berhasil mengubah aura di ruangan jadi mencekam.

“Itu pasti Kael,” ucap Nyonya Maureen tenang.

            Langkah kaki pun mendekat, suaranya berhenti tak jauh dari ruang tamu.

            Sabrina berdiri perlahan. Jantungnya berdegup liar. Ia memang belum pernah melihat wajah Kael Mahendra O’Shea. Namun, amarah lelaki itu sudah lebih dulu menyambutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   228. JANGAN BERPIKIR DANGKAL!

    Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di lorong rumah sakit berkelas di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana dinding-dindingnya dilapisi marmer dan keheningan adalah komoditas mahal. Ganda duduk di samping Gladis, menatap lurus ke arah pintu ruang spesialis yang masih tertutup rapat."Seharusnya kau tidak perlu mengaku jadi pacarku di depan mama. Itu hanya membuatku semakin menyedihkan. Mereka pasti akan menuntutmu," bisik Gladis, suaranya parau dan jemarinya bertaut gelisah."Menuntut apa?" tantang Ganda begitu santai, menyandarkan punggungnya tanpa beban.Gladis menoleh, menatap pria di sampingnya dengan pandangan nanar. "Kau bukan pekerja serabutan. Kau anak konglomerat. Cepat atau lambat mama pasti akan tahu siapa kau sebenarnya. Dia pasti akan menuntutmu, seperti Kael dulu sebelum akhirnya aku divonis mengidap sindrom ini.""Sudahlah. Jangan berpikir terlalu jauh," sela Ganda datar

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   227. APA MAUMU?

    Di dalam kabin mobil yang kedap suara, satu-satunya hal yang memenuhi telinga Sabrina adalah degup jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia kembali menatap layar ponsel, menelusuri riwayat panggilan tak terjawab kepada Ganda yang kini jumlahnya sudah tidak masuk akal. Dengan tangan sedikit gemetar, Sabrina mencoba menghubungi sang ayah. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara berat yang akrab menyapa di ujung sana."Ayah tidak tahu, Sayang. Ganda belum menghubungi ayah sejak tadi pagi," jawab Adrian di tengah kebisingan latar belakang bandara. Tampaknya pria itu baru saja tiba di terminal keberangkatan untuk penerbangan ke Singapura. "Ada apa? Suaramu terdengar cemas. Kau perlu bantuan ayah?"Sabrina memaksakan sebuah senyum kecut, meski ia tahu sang ayah tak bisa melihatnya. "Tidak, Yah. Aku masih bisa mengatasinya

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   226. DIA TIDAK MAU MENIKAH

    "Kau terlalu serakah. Seharusnya kau ambil satu saja," komentar Nyonya Maureen memecah kesunyian di dalam kabin mobil mewah itu, sesaat setelah mereka baru saja selesai mengantarkan Sabrina kembali ke apartemennya. Nyonya Maureen melirik ronce melati yang masih menggantung di dasbor dengan tatapan jenaka. Ia tahu betul mitos di balik bunga itu, dan ia tahu lebih baik lagi betapa konyolnya sang cucu karena telah mengambil seluruh rangkaian melati pengantin milik orang lain. Namun, Kael hanya diam. Ia tetap fokus pada kemudi, mengarahkan mobil menuju kediaman megah keluarga O’Shea. Wajahnya tidak bersemangat. Tidak ada binar kemenangan meskipun ia baru saja menghabiskan waktu seharian bersama Sabrina."Ayolah! Apalagi yang bisa kubantu?" tanya sang nenek lagi, suaranya melembut. Ia bisa merasakan kegundahan yang memancar dari

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   225. TENTANG PERNIKAHAN

    Bayangan tentang masa kecil bagi Sabrina bukanlah tawa dan canda di meja makan, melainkan tangisan sang ibu yang sering ditinggal oleh ayahnya. Di sudut ingatannya yang paling gelap, ia masih bisa mendengar isak tangis ibunya yang tertahan di balik bantal, sementara ia dan Ganda bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, saling menggenggam tangan seolah dunia akan runtuh jika mereka melepaskannya. Ya. Sabrina tumbuh besar menyaksikan bagaimana pernikahan hanyalah sebuah transaksi atau penjara. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana Ganda harus mengorbankan perasaannya dan terpaksa menikah hanya demi keuntungan bisnis keluarga yang nyaris karam. Baginya, janji suci tak lebih dari sekadar kontrak yang siap dikhianati, dan cinta hanyalah kata manis untuk menutupi dominasi satu pihak atas pihak lainnya.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   224. AKU TIDAK BERCANDA

    "Jangan katakan padaku kalau kau yang mengambil ini.” Sabrina berucap dengan nada yang bergetar antara tidak percaya dan geli. Ia mengangkat roncean melati tadi dengan ujung jarinya, membiarkan bunga-bunga putih yang mulai layu namun tetap harum itu menggantung di udara kabin mobil yang dingin. Aroma melati yang semula terasa menenangkan, kini mendadak membuat suasana di dalam mobil mewah itu terasa sesak oleh kecurigaan. Kael tetap bergeming. Pandangannya lurus ke depan, mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sedikit berlebihan. Indikator kecepatan di dasbor menunjukkan angka yang stabil, namun ketenangan wajah Kael sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi di balik telinganya yang mulai memerah panas."Kael, aku serius. Kau sudah membuat satu desa panik! Perias itu hampir menangis karena mengira ada roh halus yang menyembunyikannya," tuntut Sabrina lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi."Mungkin itu melati lain. Victo

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   223. DRAMA BUNGA MELATI

    Suasana di hajatan itu berubah menjadi keributan kecil yang mulai merembet ke telinga para tamu. Pak Dadang tampak pucat pasi, sementara sang perias terus menggumamkan do’a-do’a tolak bala sambil mencari ke kolong meja."Bagaimana ini? Acara harus segera dimulai!" bisik salah satu bibi Teguh dengan nada panik.qNamun, di tengah kepanikan itu, deru mesin motor terdengar mendekat dengan cepat ke arah tenda. Tak lama kemudian, Victor dan Teguh muncul dari kerumunan dengan napas tersengal. Di tangan Victor, sebuah kotak beludru terbuka memperlihatkan roncean melati yang masih sangat segar, bahkan butiran embunnya masih terlihat berkilau di bawah lampu tenda."Ini melatinya, Pak!" seru Teguh sambil menyerahkan bunga itu kepada perias. Semua orang di sana terperangah. Mereka kagum dengan gerak cepat Kael yang ternyata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   88. KURANG HATI-HATI

    "Kau tidak dibayar untuk berpikir soal jadwal jalan-jalan, Sabrina," gumam Kael dingin. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih, gerakannya tenang namun menyimpan ketegangan yang nyata. "Masih ada pekerjaan yang harus kau rampungkan." Riko, yang duduk di hadapan Kael, tidak m

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   85. APA KABAR, BOCIL?

    Langkah kaki Kael terhenti tepat di depan pintu otomatis Terminal VIP Juanda. Udara panas Surabaya yang menyengat langsung menyapu wajah mereka, kontras dengan sisa dingin dari kabin jet pribadi yang baru saja mereka tinggalkan. Di depan sebuah sedan hitam mengkilap, seorang pria berdir

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   83. ITU TIDAK MENDESAK

    "Kau bercanda, ya? Dia hanya akan mengganggu kita di sana.” Ruang kerja Kael kini berubah menjadi ruang makan pribadi yang tegang. Jam istirahat telah tiba, dan Gladis secara otomatis menanggalkan sikap formalitasnya.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   82. MAKAN GAJI BUTA

    Sabrina langsung tersentak kaget. Tubuhnya berjengit kecil saat bunyi dentang besi gagang pel itu menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga di tengah lobi yang sunyi. Dengan napas yang menderu pendek, ia mencoba mengabaikan tatapan tajam Kael yang menghuj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status