LOGIN
“Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”
Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.
Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam kebersihan yang warnanya mulai pudar, kontras dengan meja kaca yang mengkilap dan jas mahal orang-orang yang mengelilinginya.
“Maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja,” ucapnya terbata. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. “Saya hanya membersihkan meja. Laptopnya menyala. Saya tidak menyentuh apa pun selain memindahkannya sedikit.”
“Tidak menyentuh katamu?” Pria berkacamata di depannya tersenyum tipis, dingin. “Lalu bagaimana folder kerja sama internasional itu bisa hilang setelah kamu masuk ruangan ini?”
Sabrina terdiam. Ia tahu dirinya tidak menekan apa pun. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ditampilkan di layar. Tapi siapa yang mau mendengarkan penjelasan petugas kebersihan? Keraguan mulai timbul di dalam dirinya.
“Data pendukung lengkap tidak bisa dibuka lagi,” lanjut pria itu. “Sistem mencatat ada aktivitas saat kamu berada di ruangan.”
“Sumpah, Pak. Saya tidak melakukan apapun dengan laptop itu,” kata Sabrina berusaha membela diri.
Namun, beberapa pasang mata memandangnya tajam. Tidak ada yang bertanya lebih lanjut untuk mendengar kalimatnya barusan. Seolah kesimpulan memang sudah ditentukan sejak awal.
“Jangan mengelak lagi. Kamu tahu nilai kerugiannya berapa?” suara pria itu meninggi. “Atau kamu bahkan paham apa yang dituduhkan ke kamu? Begitu Pak Kael menerima laporan, satu orang saja tidak cukup untuk disalahkan.”
Nama itu membuat udara di ruangan seakan menghilang. Kael Mahendra O’Shea.
Sabrina menunduk. Bahunya langsung turun.
“Kalau saya terbukti bersalah, saya akan bertanggung jawab,” katanya akhirnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Saya bisa lembur. Gaji saya boleh dipotong.”
Beberapa detik hening.
Lalu terdengar suara tawa kecil, pendek, dan sinis.
“Kamu ini staf outsourcing,” ujar seorang pria lain sambil menyilangkan tangan. “Kamu bahkan tidak tercatat sebagai aset perusahaan. Kesalahan ini terlalu besar untuk ditanggung orang sepertimu.”
Sabrina mengangkat kepala perlahan. Bibirnya bergetar. “Lalu… apa yang harus saya lakukan, Pak?”
“Sudahlah. Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi,” jawab pria berkacamata itu dengan suara datar. “Bagian HRD akan menghubungimu.”
“Tapi, Pak,” ucap Sabrina cepat. Langkahnya maju setengah langkah sebelum berhenti sendiri. “Tolong. Saya masih butuh pekerjaan ini.”
“Keluar,” potongnya tanpa menatap. “Kamu dipecat.”
Kalimat itu cukup menghancurkan segalanya.
Sabrina menunduk. Bahunya bergetar. Ia tidak ingat kapan terakhir kali menangis di depan orang lain. Mungkin sejak ia berhenti kuliah. Sejak hidupnya berubah menjadi rangkaian kos pindahan dan gaji yang selalu habis sebelum tanggal tua.
Malam menelannya saat ia melangkah keluar dari gedung itu. Angin Jakarta menusuk kulitnya. Lampu kota berkilau indah, ironis, seolah mengejek keterpurukannya. Sabrina berjalan tanpa tujuan. Sepatunya basah oleh sisa hujan sore. Kepalanya berdenyut, tubuhnya gemetar oleh lelah dan takut.
“Kenapa aku selalu salah sih,” bisiknya.
Ia berhenti di depan kaca gedung. Pantulan dirinya tampak asing. Wajah pucat. Mata sembab. Rambut kusut. Tidak cantik. Tidak berharga pula. Setidaknya itulah yang dunia selalu katakan padanya.
Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Satu pesan masuk tiba.
[Mbak Sab, kalau besok pagi belum bayar kos juga, kamarnya tolong segera dikosongkan ya. Masih banyak yang nanyain kosan saya nih.]
Lututnya melemas. Sabrina merosot duduk di trotoar. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak punya keluarga untuk dituju. Tidak punya tabungan. Tidak punya siapa pun.
Hanya satu nama yang terus terngiang dari percakapan sore tadi. Kael Mahendra O’Shea.
CEO dingin yang disebut-sebut bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu kalimat saja.
Biasanya, nama itu terlalu tinggi untuk didekati. Namun malam ini, harga diri Sabrina sudah runtuh lebih dulu. Dan saat tidak ada lagi yang bisa hilang, keberanian aneh pun muncul di tengah rasa takut yang melanda dirinya.
Di sinilah dia sekarang. Gerbang besi itu tampak menjulang tinggi dan megah. Sabrina berdiri di depannya dengan jantung berdebar liar. Pos satpam tampak terang dan steril. Ia mengusap sisa air mata sebelum memberanikan diri untuk melangkah mendekat.
“Permisi. Saya mau bertemu Pak Kael,” ucapnya pelan pada petugas keamanan.
Petugas itu menatapnya dari atas ke bawah. Seragam lusuh. Sepatu murah. Wajah yang lelah. “Apa Anda sudah punya janji?”
Sabrina menggeleng lemah.
“Maaf, Nona,” jawab sang petugas kemudian. “Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini.”
“Saya mohon, Pak. Ini penting.”
Petugas itu menggeleng. “Silakan pulang saja. Tuan Kael tidak akan mau menjumpai Anda. Jangan buang-buang waktu.”
Kalimat itu memukul lebih keras dari penolakan mana pun sebelumnya.
Sabrina berbalik badan. Langkahnya gontai, bahunya jatuh. Ia tak ingin menangis di depan gerbang rumah orang sekaya ini. Ia tak ingin terlihat semakin kecil.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, cahaya terang tiba-tiba menyinari gerbang utama. Sabrina refleks menoleh.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan masuk ke halaman luas rumah itu. Lampunya menyilaukan, bodinya mengilap, seperti dunia lain yang hanya bisa ia lihat dari jauh.
Security tadi pun langsung berdiri tegak. Mobil itu berhenti tak jauh dari gerbang. Pintu belakang terbuka.
Seorang perempuan tua turun dengan bantuan tongkat ramping berwarna cokelat tua. Rambutnya disanggul rapi, gaunnya sederhana tapi jelas mahal. Wajahnya berkerut halus, tapi sorot matanya hangat. Tidak dingin. Tidak merendahkan.
Perempuan itu menangkap pemandangan Sabrina yang berdiri terpaku, mata sembab, pipi yang basah oleh air mata.
“Kau baik-baik saja, Nak?” tanyanya.
Sabrina terkejut. “Sa-saya… maaf, Nyonya.”
Perempuan itu mendekat beberapa langkah. Tatapannya lembut, menelusuri wajah Sabrina yang pucat. “Kau menangis di depan rumah kami,” ucapnya pelan. “Ada yang bisa kubantu?”
Sabrina ragu. Jantungnya berdegup keras. Kesempatan ini terasa rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Jika ditolak juga, ia tidak tahu ke mana lagi harus pergi.
“Saya… saya ingin bertemu Pak Kael,” katanya akhirnya. Nama itu meluncur dari bibirnya dengan getaran halus.
Perempuan tua itu terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis. “Kau mengenal cucuku?”
Sabrina tercekat. “Cucu Anda?”
“Ya. Kael Mahendra O’Shea,” jawab perempuan itu tenang. “Dia cucuku.”
Dunia Sabrina terasa berputar sesaat.
“Namaku Nyonya Maureen,” lanjut perempuan itu. “Dan siapa namamu, Nak?”
“Sabrina, Nyonya.”
Nyonya Maureen mengangguk kecil. “Masuklah. Kau tidak seharusnya berdiri di luar dalam keadaan seperti ini.”
Security tadi terlihat hendak bicara, namun Nyonya Maureen mengangkat tangannya sedikit. Isyarat kecil yang langsung menghentikan segalanya.
Gerbang besi itu terbuka perlahan. Saat Sabrina melangkah masuk, kakinya terasa ringan sekaligus gemetar. Rumah yang bukan sekadar besar. Tampak sunyi, elegan, dan terasa dingin. Seperti tempat yang tidak memberi ruang bagi kesalahan.
Nyonya Maureen kemudian mempersilakannya duduk di ruang tamu.
“Minumlah dulu,” ucapnya lembut.
Sabrina menerima cangkir teh hangat dengan kedua tangan. Jarinya masih bergetar.
“Ceritakan ada apa, hmm?” tanya Nyonya Maureen kemudian.
Sabrina hendak membuka mulut, tetapi gagal begitu suara langkah berat terdengar dari luar. Pintu utama pun terbuka.
“Ada apa ini?”
Suara itu rendah dan dingin. Membuat cangkir di tangan Sabrina bergetar. Terlebih saat dia melihat bayangan tinggi menjulang di ambang pintu yang dalam sekejap berhasil mengubah aura di ruangan jadi mencekam.
“Itu pasti Kael,” ucap Nyonya Maureen tenang.
Langkah kaki pun mendekat, suaranya berhenti tak jauh dari ruang tamu.
Sabrina berdiri perlahan. Jantungnya berdegup liar. Ia memang belum pernah melihat wajah Kael Mahendra O’Shea. Namun, amarah lelaki itu sudah lebih dulu menyambutnya.
"Tidak. Aku belum tidur. Kenapa?" Kael yang padahal baru saja merebahkan diri di atas ranjangnya yang luas, sontak mendudukkan diri begitu menyambut panggilan telepon dari Sabrina. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar tenang dan tidak terlalu bersemangat."Datang saja," jawabnya santai sebelum memutus sambungan. Tak lama kemudian, bel pintu unitnya berbunyi. Begitu pintu dibuka, sosok Sabrina muncul dengan penampilan yang sangat jauh dari kesan formal. Gadis itu mengenakan kaos oblong berwarna kuning cerah dengan gambar bebek berenang di bagian perut. Celananya berbahan kaos dengan panjang sebetis, dan rambutnya dicepol asal-asalan. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, menambah kesan serius pada wajahnya yang tampak pucat. Tak lupa, sebuah laptop dipeluknya
Kael menutup pintu unit apartemennya dengan punggung bersandar pada kayu jati yang dingin. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang masih sedikit kotor karena noda jelaga. Ia senyam-senyum sendiri mengingat betapa gugupnya Sabrina melihatnya tanpa baju tadi. Namun, senyum itu segera berganti dengan decakan kesal."Sial, menaklukkan hati wanita itu jauh lebih sulit daripada mengakuisisi sepuluh perusahaan sekaligus," gumam Kael pelan. Ia menyentakkan tubuhnya dengan kasar. Meski ia merasa senang karena berhasil menciptakan sedikit gangguan di hati Sabrina, ia juga merasa konyol."Kalau dewan direksi tahu aku mencuci piring dengan celemek bunga demi sebuah perhatian, harga diriku benar-benar tamat," keluhnya sam
"Cepat pakai bajumu!" Sabrina berseru dengan suara yang bergetar gugup. Pandangannya sudah berpaling ke samping dengan satu telapak tangan yang menutupi sebagian wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke leher. Sabrina membelalak saat menyadari ruang tengah sudah sepi. Ganda dan Aliz entah sudah menghilang ke mana. Mungkin kakaknya itu cukup tahu diri untuk membawa Aliz menjauh dari drama dewasa yang mendadak berubah panas ini. Kini, hanya ada dia dan Kael di dapur yang sempit. Kael terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya terdengar begitu dekat, membuat bulu kuduk Sabrina meremang. Ia sangat menikmati pemandangan di depannya, wajah Sabrina yang memerah seperti kepiting rebus. Alih-alih menuruti perkataan Sabrina, pria i
Pintu apartemen terbuka lebar. Rama melangkah masuk dengan penampilan yang sangat rapi. Ia memakai kemeja biru muda yang disetrika licin dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Langkahnya langsung terhenti saat melihat ke arah meja makan. Di sana berdiri Kael Mahendra O’Shea. Sosok yang biasanya terlihat sangat berkuasa itu kini tampak berantakan. Kaos putihnya basah terkena cipratan air hingga memperlihatkan bentuk perutnya. Wajahnya terkena noda hitam, dan yang paling mencolok adalah celemek merah muda bergambar bunga milik Sabrina yang masih melilit pinggangnya."Maaf, Sab," Rama membuka suara dengan nada sopan namun terdengar mengejek. Ia menatap Kael dari atas ke bawah. "Aku tidak tahu kalau kau mempekerjakan asisten rumah tangga baru. Tapi seleramu soal seragam pelayan agak unik ya?" Suasana di ruangan itu langsung terasa sangat kaku. Sabrina melirik Kael yang rahangnya tampak mengeras. Tangan kanan Kael mengepal kuat sam
Sabrina berkacak pinggang di tengah dapur yang kini lebih mirip lokasi syuting film bencana bertema kuliner itu. Ia menoleh ke arah Ganda yang masih tertawa di ambang pintu."Bang Ganda, bawa Aliz mandi sekarang. Lihat, wajah dan bajunya sudah belepotan pasta cokelat begitu," perintah Sabrina tegas. Ganda segera mengangkat Aliz ke dalam gendongannya, masih sambil bersiul menggoda, sementara Aliz tertawa riang sambil melambaikan tangan kecilnya pada Kael. Namun, saat Kael hendak ikut melangkah keluar, Sabrina merentangkan tangannya di depan dada pria itu."Kau mau ke mana? Hukumanmu belum dimulai, Tuan O’Shea."Kael mengerutkan kening, menunjuk dirinya sendiri dengan spatula yang masih ia pegang. "Aku?""Iya, kau. Karena ini medan perangmu
Sabrina menghela napas panjang, mencoba mengabaikan denyut di pelipisnya yang mulai terasa nyut-nyutan. Ia tidak menyambut uluran tangan Kael yang penuh dengan plastik belanjaan, melainkan menunjuk ke arah laptopnya yang sudah menyala di atas meja kerja kecil di sudut ruangan."Maaf. Tapi jawaban dariku tetap tidak," ujar Sabrina dingin, berusaha mengembalikan benteng pertahanannya yang sempat goyah. "Pagi ini aku harus memeriksa tumpukan file proyek yang tertunda. Aku tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan atau kursus dadakan. Lebih baik kau pulang sekarang." Kael terpaku. Binar di matanya redup seketika, dan bahunya yang tegap merosot seakan baru saja dijatuhkan oleh vonis pengadilan paling berat. Penolakan itu telak, jujur, dan sangat menyakitkan bagi harga dirinya.&
"Iya, Pak. Apakah ada yang kurang?""Tidak. Terima kasih." Kael menjauhkan gawai dari telinganya. Layar itu meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang tampak tegang. Dengan gerakan cepat, ia meletakkan ponsel itu di
Setelah Gladis diusir dari ruangan, Kael masih terpaku pada meja kerjanya. Punggungnya menyandar pada kursi kulit ergonomis yang dingin, namun matanya tak lepas dari permukaan meja jati yang baru saja dibersihkan.&nb
Sabrina menarik napas panjang, menatap botol tanpa label yang kini berada di genggamannya. Di ruang kerja yang sunyi itu, ia perlahan mengenakan sarung tangan karet kuningnya. Bunyi karet yang beradu dengan kulit terdengar nyaring
Suara helaan napas Kael terdengar berat di tengah keheningan balkon yang dingin. Di hadapannya, Sabrina masih bersimpuh. Gadis itu menunduk dalam, menangkupkan kedua telapak tangannya dengan tubuh yang sedikit bergetar."Tu







