Se connecterKael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin.
Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.
“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.”
Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.
“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.”
Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya sekilas, lalu menatap Sabrina lagi. Tatapan itu dingin, tajam, seperti sedang menghitung risiko.
“Kau datang ke rumah ini tanpa izin,” katanya pelan, namun tegas.
Sabrina mendongak perlahan. Jemarinya saling menggenggam kuat. “Saya tahu, Pak. Saya minta maaf.”
“Dan kau berharap apa setelah ini?” Kael melanjutkan. “Ingin aku akan merasa iba dan mengubah keputusanku? Begitu?”
“Saya tidak berharap apa pun,” jawab Sabrina jujur. Suaranya lirih, tapi tidak goyah. “Saya hanya ingin mengatakan yang sebenarnya.”
“Kebenaran versimu,” potong Kael dingin.
Sabrina terdiam. Ia tahu, apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan mengubah cara pandang pria itu padanya.
“Kael,” suara Nyonya Maureen memotong, tenang namun tegas. “Cukup.”
Kael menoleh. “Grandma, ini urusan perusahaan.”
“Tidak,” balasnya lembut. “Ini urusan manusia.”
Kael mendengus pelan. “Aku tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke hidup kita hanya karena cerita menyedihkan yang dibuat-buatnya.”
“Aku tidak memintamu mempekerjakannya kembali,” ujar Nyonya Maureen. “Aku hanya memintamu untuk tidak menghancurkan hidup seseorang sebelum kau yakin sepenuhnya kalau dia bersalah.”
Sabrina menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
Kael menatap neneknya lama. “Lalu apa yang Grandma mau dariku?” tanyanya akhirnya. Nada suaranya turun, tidak lembut, tapi menahan.
Nyonya Maureen tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh pada Sabrina. Tatapannya hangat, penuh empati yang membuat dada Sabrina kembali terasa nyeri.
“Beri dia kesempatan,” ucapnya pelan.
Kalimat itu meluncur sederhana, tanpa paksaan. Namun dampaknya terasa seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di bahu Kael.
“Tidak,” Kael menjawab singkat.
Sabrina refleks mengangkat kepala. “Nyonya, saya…”
“Diam dulu, Nak,” ucap Nyonya Maureen lembut.
Kael menggeleng. “Rumah ini bukan tempat eksperimen belas kasihan.”
“Aku tidak memintamu mengasihaninya,” balas Nyonya Maureen. “Aku meminta waktu agar dia membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.”
“Aku tidak setuju.”
Nyonya Maureen menghela napas berat lalu berkata, “Kau memang keras kepala.”
Hingga kemudian perempuan paruh baya itu terhuyung.
“Grandma?”
Kael bergerak cepat. Ia memapah neneknya ke sofa. Wajah Nyonya Maureen mendadak pucat, napasnya memburu. Tangannya naik ke dada.
“Aku tidak apa-apa,” katanya cepat, meski suaranya bergetar. “Dadaku hanya… sedikit nyeri.”
Sabrina terpaku. Jantungnya berdetak liar.
“Duduklah. Tarik napas pelan,” perintah Kael tegas. Untuk pertama kalinya, ketenangan itu retak.
Ia meraih ponsel. “Panggilkan dokter. Sekarang!”
Beberapa menit berikutnya dipenuhi ketegangan yang sunyi. Dokter pribadi keluarga datang dengan wajah serius. Pemeriksaan berlangsung cepat.
“Tekanan darahnya naik,” ujar dokter akhirnya. “Irama jantungnya tidak stabil. Emosi bisa memicu serangan.”
Kael mengepalkan tangan. “Apakah berbahaya?”
“Jika sendirian malam ini, iya,” jawab dokter jujur. “Nyonya Maureen tidak boleh sendirian.”
Keheningan jatuh berat.
“Aku akan memanggil perawat,” kata Kael tegas.
“Tidak,” Nyonya Maureen menolak pelan. “Aku tidak mau.”
Kael menatapnya tajam. “Ayolah, Grandma. Ini bukan soal mau atau tidak.”
Lalu, tanpa aba-aba, pandangan Nyonya Maureen jatuh pada Sabrina.
“Dia saja.”
Sabrina tersentak. “Nyonya…”
“Tidak,” Kael langsung memotong.
“Aku hanya minta satu malam,” ujar Nyonya Maureen. “Dia sudah di sini.”
“Dia tidak tahu apa-apa,” bantah Kael dengan sorot mata meremehkan pada Sabrina.
Namun, tindakannya tadi dibantah sang dokter. “Nyonya Maureen hanya butuh seseorang yang menemaninya untuk berjaga-jaga. Tidak perlu seorang perawat professional, Tuan.”
“Kau dengar itu ‘kan?” gumam Nyonya Maureen yang kemudian bisa bernapas lega.
Kael menutup mata sesaat.
“Ini sementara,” ucapnya akhirnya. “Satu malam.”
Sabrina tercekat. Tak tahu harus mengatakan apa.
“Bukan karena aku peduli,” lanjut Kael dingin. “Tapi karena kondisi Grandma.”
Ia menatap Sabrina tajam. “Kau tidak digaji di rumah ini. Kau tidak punya hak apa pun. Kau tetap bekerja di perusahaan sesuai kontrak sebagai gantinya.”
Sabrina mengangguk cepat. “Saya mengerti, Pak.”
“Begitu kondisinya stabil,” lanjut Kael, “kau harus pergi.”
“I-ya, Pak.”
Kael berbalik dan melangkah pergi.
Sabrina berdiri kaku, napasnya masih gemetar.
Nyonya Maureen menatapnya lembut. “Maafkan cucuku. Dia bersikap keras karena terbiasa membuat keputusan sendirian.”
Sabrina menggeleng pelan. “Saya yang seharusnya berterima kasih, Nyonya. Anda menyelamatkan saya supaya tidak dipecat.”
Malam itu, Sabrina duduk di kursi dekat kamar Nyonya Maureen. Lampu redup. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi, terlalu asing.
Sementara di balik pintu kamarnya, Kael berdiri diam. Tangannya langsung merogoh ponsel yang berada di saku celana.
“Cari tahu latar belakang perempuan itu!”
Jeritan kecil Sabrina teredam begitu saja ketika Kael menarik tubuhnya mendekat, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka. Alih-alih menjawab protes istrinya, Kael justru menyeringai tipis, lalu menundukkan kepala. Detik berikutnya, dia melancarkan jurus maut yang paling tidak bisa ditolak oleh Sabrina; melakukan tarian lidah yang lembut namun menuntut di ceruk leher wanita itu. "Kael... geli... stop, ah!" Sabrina menggeliat, mencoba menjauhkan lehernya yang sensitif. Namun, cengkeraman tangan Kael di pinggangnya justru semakin erat, mengunci posisinya dengan sempurna di dalam kepungan busa hangat. "Ini hukuman karena kau berani kabur ke sini, Sayang," bisik Kael parau, suaranya terdengar sangat seksi tepat di lubang telinga Sabrina. Sentuhan lidahnya berpindah dari ceruk leher naik ke daun telinga, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat bulu kuduk Sabrina meremang seketika. "Aku tidak kabur, aku hanya... ahh... Kael, dengar dulu..ssh" Kalimat Sabrina kembali te
"Grandma! Ke mana Sabrina dan Noah?" Nyonya Maureen menghela napas pelan lalu geleng-geleng kepala melihat wajah cucunya yang tampak kusut masai usai pulang dari kantor klan."Apa dia merajuk lagi? Apa dia kabur?" tanya Kael beruntun dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan."Menurutmu?" Nyonya Maureen malah balik bertanya dengan tenang, sengaja membuat Kael semakin kelabakan. Kael memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening, sementara Teguh yang berdiri di belakang bosnya hanya menahan senyum sekuat tenaga. Sudah enam bulan berlalu sejak mereka kembali dari Singapura, dan dinamika rumah tangga ini selalu berhasil membuat asisten pribadi itu terhibur di sisa harinya."Kenapa dia seringkali begitu?" keluh Kael lirih, t
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Singapura sebelum terbang kembali ke Jakarta sore nanti. Namun, sebelum menuju bandara, ada satu tempat yang harus mereka kunjungi. Kael berjalan paling depan sembari menggendong Noah dengan sangat protektif di dalam dekapannya, memastikan bayinya terlindung dari embusan angin. Di sampingnya, Sabrina melangkah perlahan didampingi oleh Nyonya Maureen, Ganda, Gladis, dan juga Aliz yang sengaja meluangkan waktu untuk ikut mengantar kepergian mereka. Langkah Sabrina terhenti tepat di depan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama Adrian. Keheningan seketika menyergap. Aliz bergerak maju selangkah, dengan telaten membantu membawakan keranjang berisi bunga segar dan menyerahkannya kepada Sabrina."Ini bunganya, Mama Sabi,"
Tawaran barusan kedua mata Sabrina membola sempurna. Ada kerinduan yang membuncah, sekaligus ketakutan yang mendalam."Tapi... dia sangat kecil, Sus. Bagaimana kalau gerakanku justru menyakitinya?" cicit Sabrina cemas."Hei, dengarkan aku," bisik Kael lembut, menatap lurus ke dalam netra Sabrina. "Tidak ada tempat yang lebih aman untuk Noah selain di dalam pelukan ibunya sendiri. Kau tidak perlu takut, Sayang." Sabrina menarik napas panjang lalu mengangguk. Kael dengan sabar membantu membuka kancing atas pakaian rumah sakit istrinya. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, perawat mengangkat tubuh mungil itu dari inkubator, menjaga agar semua selang medis tetap aman, lalu meletakkannya perlahan di atas dada telanjang Sabrina.
"Ini adalah efek bendungan ASI, Bu. Payudara Anda bengkak dan mengeras karena produksi ASI sudah mulai berjalan, tetapi belum ada pengosongan selama Anda tidak sadarkan diri." Penjelasan dari dokter jaga yang datang beberapa menit kemudian membuat Kael sedikit bernapas lega, meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang. Dokter paruh baya itu memeriksa kondisi Sabrina dengan cekatan sebelum meresepkan kompres hangat dan obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui."Terlebih Anda baru saja sadar dari koma pasca-operasi tiga minggu lalu, perubahan hormon dalam tubuh Anda sedang bekerja sangat aktif," tambah dokter itu sembari menoleh ke arah perawat di sampingnya. "Perawat akan membantu Anda meredakan bengkaknya malam ini dengan teknik pemijatan lembut dan stimulasi laktasi."
Kael berkedip cepat. Dia ingin memastikan apakah telinganya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur atau wanita di atas ranjang itu memang baru saja mengucapkan kata-kata yang paling ingin didengarnya di dunia ini. Kael langsung mendekat ke sisi ranjang. Napasnya tertahan di tenggorokan saat dia berusaha menyelami netra wanita yang sangat dicintainya itu. Tidak ada lagi binar canggung atau tatapan asing yang beberapa jam lalu sempat membuatnya ingin gila. Yang ada di sana kini hanyalah binar usil, kehangatan, dan sedikit rasa bersalah yang terpancar nyata.“Kau…”"Ya. Tentu saja aku masih mengingatmu. Bagaimana bisa aku..." Ucapan Sabrina terputus begitu saja. Kael tanpa ab
“Dasar ceroboh. Apa yang kamu lakukan, hah?!”Suara itu menghantam Sabrina tanpa ampun.Tubuhnya refleks menegang. Ruang rapat lantai dua puluh terasa terlalu luas dan dingin. Cahaya lampu putih menyilaukan mata, membuatnya sulit bernapas. Sabrina berdiri sendirian di tengah ruangan dengan seragam
"Pak Kael, area ini adalah ruang kerja profesional, bukan meja interogasi pribadi. Jika koordinasi proyek adalah alasan Anda di sini, silakan tunggu di ruang rapat. Stella, tolong siapkan berkasnya sekarang." 
Keheningan yang sempat tercipta di dalam lift mendadak pecah oleh ketegangan yang kasat mata begitu pintu berdenting terbuka. Cahaya lampu koridor yang temaram memantul pada lantai marmer, memperlihatkan kontras yang tajam antara dua pria yang kini saling melempar tatapan predator.
"Kakiku sudah tidak sakit lagi." Sabrina berucap dengan nada yang sengaja dikeraskan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Kael. Dengan sisa harga diri yang masih ada, Sabrina mencoba bertumpu pada kaki kanannya. Namun, baru saja beban tubuh berpindah







