共有

3. TIDAK BISA MENOLAK

作者: A mum to be
last update 公開日: 2026-01-21 19:05:15

            Kael terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar keputusan malam ini. Sorot mata abu-abu gelap itu bergerak perlahan dari neneknya ke Sabrina, lalu kembali lagi. Tidak ada empati di sana. Hanya perhitungan yang dingin.

            Sementara Sabrina masih menunduk. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia berdiri di antara sofa mahal dan lampu kristal, merasa seperti noda kecil yang salah tempat. Setiap detik terasa menekan, seolah rumah ini sendiri menolaknya.

“Aku tidak mengatakan begitu,” ucap Kael akhirnya. Suaranya rendah, tertahan. “Tapi caramu bertindak seolah aku tidak punya suara di rumah ini, Grandma.”

            Nyonya Maureen menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada tongkat. Posturnya rapuh, namun wibawanya tetap utuh.

“Aku membiarkan gadis ini masuk,” katanya tenang. “Dan aku juga yang bertanggung jawab atas itu.”

            Kael menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya sekilas, lalu menatap Sabrina lagi. Tatapan itu dingin, tajam, seperti sedang menghitung risiko.

“Kau datang ke rumah ini tanpa izin,” katanya pelan, namun tegas.

Sabrina mendongak perlahan. Jemarinya saling menggenggam kuat. “Saya tahu, Pak. Saya minta maaf.”

“Dan kau berharap apa setelah ini?” Kael melanjutkan. “Ingin aku akan merasa iba dan mengubah keputusanku? Begitu?”

“Saya tidak berharap apa pun,” jawab Sabrina jujur. Suaranya lirih, tapi tidak goyah. “Saya hanya ingin mengatakan yang sebenarnya.”

“Kebenaran versimu,” potong Kael dingin.

Sabrina terdiam. Ia tahu, apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan mengubah cara pandang pria itu padanya.

“Kael,” suara Nyonya Maureen memotong, tenang namun tegas. “Cukup.”

Kael menoleh. “Grandma, ini urusan perusahaan.”

“Tidak,” balasnya lembut. “Ini urusan manusia.”

Kael mendengus pelan. “Aku tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke hidup kita hanya karena cerita menyedihkan yang dibuat-buatnya.”

“Aku tidak memintamu mempekerjakannya kembali,” ujar Nyonya Maureen. “Aku hanya memintamu untuk tidak menghancurkan hidup seseorang sebelum kau yakin sepenuhnya kalau dia bersalah.”

Sabrina menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

Kael menatap neneknya lama. “Lalu apa yang Grandma mau dariku?” tanyanya akhirnya. Nada suaranya turun, tidak lembut, tapi menahan.

            Nyonya Maureen tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh pada Sabrina. Tatapannya hangat, penuh empati yang membuat dada Sabrina kembali terasa nyeri.

“Beri dia kesempatan,” ucapnya pelan.

            Kalimat itu meluncur sederhana, tanpa paksaan. Namun dampaknya terasa seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di bahu Kael.

“Tidak,” Kael menjawab singkat.

Sabrina refleks mengangkat kepala. “Nyonya, saya…”

“Diam dulu, Nak,” ucap Nyonya Maureen lembut.

Kael menggeleng. “Rumah ini bukan tempat eksperimen belas kasihan.”

“Aku tidak memintamu mengasihaninya,” balas Nyonya Maureen. “Aku meminta waktu agar dia membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.”

“Aku tidak setuju.”

Nyonya Maureen menghela napas berat lalu berkata, “Kau memang keras kepala.”

            Hingga kemudian perempuan paruh baya itu terhuyung.

“Grandma?”

            Kael bergerak cepat. Ia memapah neneknya ke sofa. Wajah Nyonya Maureen mendadak pucat, napasnya memburu. Tangannya naik ke dada.

“Aku tidak apa-apa,” katanya cepat, meski suaranya bergetar. “Dadaku hanya… sedikit nyeri.”

Sabrina terpaku. Jantungnya berdetak liar.

“Duduklah. Tarik napas pelan,” perintah Kael tegas. Untuk pertama kalinya, ketenangan itu retak.

Ia meraih ponsel. “Panggilkan dokter. Sekarang!”

            Beberapa menit berikutnya dipenuhi ketegangan yang sunyi. Dokter pribadi keluarga datang dengan wajah serius. Pemeriksaan berlangsung cepat.

“Tekanan darahnya naik,” ujar dokter akhirnya. “Irama jantungnya tidak stabil. Emosi bisa memicu serangan.”

Kael mengepalkan tangan. “Apakah berbahaya?”

“Jika sendirian malam ini, iya,” jawab dokter jujur. “Nyonya Maureen tidak boleh sendirian.”

Keheningan jatuh berat.

“Aku akan memanggil perawat,” kata Kael tegas.

“Tidak,” Nyonya Maureen menolak pelan. “Aku tidak mau.”

Kael menatapnya tajam. “Ayolah, Grandma. Ini bukan soal mau atau tidak.”

Lalu, tanpa aba-aba, pandangan Nyonya Maureen jatuh pada Sabrina.

“Dia saja.”

Sabrina tersentak. “Nyonya…”

“Tidak,” Kael langsung memotong.

“Aku hanya minta satu malam,” ujar Nyonya Maureen. “Dia sudah di sini.”

“Dia tidak tahu apa-apa,” bantah Kael dengan sorot mata meremehkan pada Sabrina.

            Namun, tindakannya tadi dibantah sang dokter. “Nyonya Maureen hanya butuh seseorang yang menemaninya untuk berjaga-jaga. Tidak perlu seorang perawat professional, Tuan.”

“Kau dengar itu ‘kan?” gumam Nyonya Maureen yang kemudian bisa bernapas lega.

Kael menutup mata sesaat.

“Ini sementara,” ucapnya akhirnya. “Satu malam.”

Sabrina tercekat. Tak tahu harus mengatakan apa.

“Bukan karena aku peduli,” lanjut Kael dingin. “Tapi karena kondisi Grandma.”

Ia menatap Sabrina tajam.  “Kau tidak digaji di rumah ini. Kau tidak punya hak apa pun. Kau tetap bekerja di perusahaan sesuai kontrak sebagai gantinya.”

Sabrina mengangguk cepat. “Saya mengerti, Pak.”

“Begitu kondisinya stabil,” lanjut Kael, “kau harus pergi.”

“I-ya, Pak.”

Kael berbalik dan melangkah pergi.

            Sabrina berdiri kaku, napasnya masih gemetar.

Nyonya Maureen menatapnya lembut. “Maafkan cucuku. Dia bersikap keras karena terbiasa membuat keputusan sendirian.”

Sabrina menggeleng pelan. “Saya yang seharusnya berterima kasih, Nyonya. Anda menyelamatkan saya supaya tidak dipecat.”

            Malam itu, Sabrina duduk di kursi dekat kamar Nyonya Maureen. Lampu redup. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi, terlalu asing.

            Sementara di balik pintu kamarnya, Kael berdiri diam. Tangannya langsung merogoh ponsel yang berada di saku celana.

“Cari tahu latar belakang perempuan itu!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   360. CEMASNYA KAEL

    Mesin jet pribadi klan O’Shea menderu rendah, membelah kegelapan malam dan menembus lapisan awan di ketinggian puluhan ribu kaki. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, atmosfer dipenuhi ketegangan yang pekat. Tidak ada kehangatan domestik di sini; hanya ada tumpukan dokumen taktis, pancaran layar gawai yang terang, dan tiga pasang mata yang menatap lurus penuh kewaspadaan. Kael duduk bersandar di kursi penumpang utama, melonggarkan sedikit kerah kemeja taktisnya. Di sisi kiri, Teguh fokus mengetik sesuatu di laptop miliknya. Sementara di seberang meja bundar, Rosaleen menyilangkan kaki anggunnya, sesekali memeriksa senjata api laras pendek yang sengaja ia simpan di balik blazer gelapnya."Sinyal enkripsi sudah aman, Tuan O'Shea," lapor Teguh memeca

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   359. AKU HARUS PERGI

    "Kita pulang sekarang.”"Pulang? Sekarang?" Sabrina membelalakkan matanya, menahan lengan Kael saat pria itu sudah menariknya pelan menuju pintu keluar. "Lalu bagaimana dengan rencana kita ke bandara”"Batalkan kunjungan ke bandara, Sabrina. Kita harus kembali ke rumah sekarang juga," perintah Kael mutlak, tanpa memberikan ruang untuk bantahan."Tapi kenapa? Katakan padaku ada apa sebenarnya! Jangan membuatku bingung seperti ini, Kael!" protes Sabrina tertahan di tenggorokan karena Kael sudah merangkul pinggangnya dengan sangat erat, menuntunnya setengah menyeret menuju mobil mewah mereka yang sudah bersiap di lobi. Di dalam mobil, atmosfer mendadak menjadi begitu mencekam. Kael langsung memberi instruksi pada sopir dengan nada rendah yang kaku."Jalan sekarang. Lewat jalur cepat dan pastikan tim pengawal di belakang tetap merapat."Sabrina mengepalkan tangan di a

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   358. 21 MINGGU

    Empat bulan telah berlalu sejak kepergian Adrian, Aliz dan Ganda yang dipenuhi teka-teki. Waktu bergulir membawa perubahan besar pada fisik Sabrina. Kini, di usia kehamilannya yang telah menginjak dua puluh satu minggu, perutnya sudah tampak membuncit dengan sangat kentara di balik gaun hamil berwarna pastel yang longgar. Perasaan cemas yang dulu sempat membayangi, perlahan terkikis oleh perhatian Kael yang luar biasa protektif dan memanjakannya setiap hari. Sore ini, atmosfer di kediaman mewah milik Victor dan Anna terasa begitu hangat dan dipenuhi aroma khas bayi. Pasangan itu tengah menggelar acara syukuran atas kelahiran putri pertama mereka. Rumah yang didekorasi dengan balon-balon berwarna merah muda itu tampak ramai oleh beberapa kerabat dekat. Sabrina berdiri agak jauh dari kerumunan, jemarinya mengusap lembut permukaan perutnya sendiri yang sesekali memberikan kedutan pelan, yakni tendangan kecil dari buah hatinya. Sepasang mata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   357. MENJALANKAN RENCANA TERSEMBUNYI

    “Begitulah.”"Wah, trik sulap macam apa itu? Luar biasa sekali pesonamu sampai bisa bersekongkol dengan anak kecil!" goda Ganda. Adrian dan Nyonya Maureen ikut terkekeh melihat Kael yang biasanya tak tergoyahkan kini mati kutu di depan seluruh keluarga. Wajah tegas pria itu memerah tipis, sementara Sabrina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa melihat pemandangan langka tersebut. Untuk menghindari godaan Ganda yang makin menjadi-jadi, Kael langsung menyusun strategi. Tepat setelah makan malam keluarga yang hangat selesai, Kael merangkul pundak Sabrina dengan protektif. Begitu pintu kamar utama ditutup rapat, Sabrina tidak melepaskan Kael begitu saja. Sambil mendudukkan diri di tepi ranjang king size mereka, dia melipat kedua tangan di dada, menatap suaminya dengan pandangan menuntut penjelasan."Ayo mengakulah, Hubby. Kapan tepatnya kau merencanakan misi sulap ini, hmm?" tanya Sabrina dengan senyum penuh selidik. Kael

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   356. SEPERTI PAHLAWAN

    "Hei??" Di seberang jalan area parkir, seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kasual yang dilapisi blazer gelap tengah melangkah terburu-buru memangkas jarak. Napasnya agak terengah-engah, namun seulas senyum lega terbit di wajahnya begitu memastikan bahwa tebakannya tidak salah. Melihat ada pria lain yang mendekat dengan tatapan yang sepenuhnya tertuju pada istrinya, aura protektif Kael langsung bangkit seketika. Dengan gerakan sigap dia menggeser tubuh tingginya, berdiri kokoh layaknya benteng di depan Sabrina. Sorot mata elang Kael mendadak berubah sedingin es, mengunci pergerakan pria yang baru saja tiba di hadapan mereka itu."Sabi, astaga... ternyata benar ini kau," ujar Daniel, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Kael setelah merasakan intimidasi yang luar biasa dari pria di hadapannya. Daniel menelan ludah canggung, lalu beralih menatap Kael dengan sopan. "Maaf, Tuan O'Shea. Saya tidak bermaksud lancang mengejutkan istri Anda.""Ada

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   355. TIDAK PERNAH PUNYA TEMAN

    Pikiran Sabrina melayang jauh, menembus dinding-dinding masa lalunya yang kelabu. Berdiri di lobi kantor yang megah ini, ia mendadak disergap oleh sekelumit kesadaran yang getir. Selama ini, dia tidak benar-benar memiliki banyak teman. Hidup yang keras dan penuh perjuangan di masa lalu telah memaksa Sabrina untuk mengunci fokusnya hanya pada dua hal. Bekerja membanting tulang dan mengejar beasiswa demi bertahan hidup. Di saat gadis-gadis seusianya sibuk berkumpul, berbelanja, atau sekadar bergosip di kafe, Sabrina harus berlari dari satu tempat kerja paruh waktu ke tempat kerja lainnya. Pilihan hidup yang kaku itu membentuk tameng tak kasatmata di sekelilingnya. Jadilah tidak ada yang mau mendekat. Orang-orang menganggapnya terlalu sibuk, terlalu tertutup, atau mungkin terlalu membosankan untuk d

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   62. MELARIKAN DIRI??

    Kalimat itu meluncur dari bibir Nyonya Maureen dengan ketenangan yang menghina akal sehat sang cucu. Kael menggeram frustrasi, ia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara denting yang nyaring."G

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   61. SATU SUAP SAJA

    "Jangan berharap banyak. Aku jarang berada di sini," gumam Kael datar. Sabrina bangkit dari lantai, merapikan gaun sutra hitamnya yang kini sudah tidak berbentuk. Ia mendekat dengan langkah ragu, mengi

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   60. DIA KEMBALI

    Deru mesin mobil sport Kael membelah sunyinya jalanan protokol dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa mencekam. Kael mencengkeram kemudi, matanya terus melirik kaca spion setiap beberapa detik, memastikan tidak ada sorot lampu yang mengi

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   59. GADIS SMP

    Denting lonceng di pintu butik Le Vian terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Sabrina. Begitu mereka melangkah masuk, manajer butik langsung mengunci pintu kaca besar itu dari dalam dan membalik papan nama menjadi Closed. Di bawah pendar lampu kristal yang mewah, butik itu kini berubah m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status