LOGIN"Terima kasih karena Anda tidak meneruskan dendam ini... demi cucu Anda, demi Sabrina," ucap Adrian dengan suara yang teramat parau, memecah keheningan pekat di dalam ruangan tersebut.
Namun, tidak ada jawaban dari balik meja kerja. Nyonya Maureen hanya diam mematung, membiarkan keheningan malam yang dingin menelan ucapan penuh penyesalan tadi. Wanita tua itu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Sepasang matanya yan
"Masih ada banyak waktu sebelum jam sebelas. Satu jam lagi. Apa kau akan duduk seperti pengawas ujian di sofa sana?" tanya Kael, memecah keheningan kamarnya yang sepi.Sabrina yang semula sibuk dengan ponselnya menatap Kael sebentar, lalu mengangguk singkat. "Iya. Aku harus memastikan kau tidak bertingkah aneh sampai jam sebelas nanti."Namun, Kael tidak menyerah begitu saja untuk menarik perhatian gadis itu. "Lagi pula memangnya kenapa kalau kau tidur di sini? Bukankah kita pernah tidur bersama?""Jangan bicara sembarangan!" sentak Sabrina dengan wajah yang sudah memerah lantaran malu. Ia menatap Kael dengan gusar dari seberang sofa."Memang begitu kenyataannya," ujar Kael dengan santai sambil membetulkan posisi duduknya di ranjang. "Bahkan kau tidur di pelukanku waktu itu. Kau lupa?""Itu tidak sengaja ya! Waktu itu keadaannya tidak kondusif," sergah Sabrina cepat, mencoba membela harga dirinya yang mulai tersudut. “Aku tidak akan bertingka
Sabrina mengusap air matanya dengan cepat, mencoba menghalau sisa-sisa sesak yang sempat menguasai dadanya. Sementara itu, Nyonya Maureen tersenyum hangat, sebuah ekspresi yang seketika mencairkan atmosfer dingin yang sempat membekukan koridor tersebut."Kalian tinggallah di sini dulu," kata Nyonya Maureen kemudian, memecah keheningan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan perlindungan. "Kondisi di luar sana belum kondusif. Semua demi kebaikan kita bersama." Tanpa banyak kata, Adrian mengangguk pasrah. Pria paruh baya itu menyadari bahwa di bawah atap kediaman O'Shea, keselamatannya dan sang putri jauh lebih terjamin. Setelahnya, Nyonya Maureen menoleh ke arah tangan kanannya yang sejak tadi berdiri siaga. Ia menyuruh Teguh mengantarkan Adrian ke kamar tamu dan memberikan pakaian pengga
"Terima kasih karena Anda tidak meneruskan dendam ini... demi cucu Anda, demi Sabrina," ucap Adrian dengan suara yang teramat parau, memecah keheningan pekat di dalam ruangan tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari balik meja kerja. Nyonya Maureen hanya diam mematung, membiarkan keheningan malam yang dingin menelan ucapan penuh penyesalan tadi. Wanita tua itu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Sepasang matanya yang sedingin es tetap menatap lurus, mengunci figur Adrian dengan keangkuhan khas seorang O'Shea yang terluka. Diamnya Nyonya Maureen jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Di balik dinding, air mata Sabrina luruh tanpa suara. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihimpit oleh beban raksasa yang tak kasatmata. Ia tahu betul sejarah kelam itu, ia tahu dosa besar apa yang telah diperbuat oleh ayahnya di
Kamar tidur utama di lantai atas kediaman O'Shea diselimuti oleh keheningan yang menenangkan. Jauh dari sisa-sisa ketegangan yang mencekam di Pelabuhan Merak, ruangan bernuansa hangat itu kini menjadi saksi bisu dari sebuah proses pemulihan. Kondisi Kael semakin membaik dari jam ke jam, sebuah mukjizat medis yang berhasil terwujud berkat terapi detoksifikasi hibrida yang dirancang secara cermat oleh Sabrina dan dokter ahli. Kael kini sudah bisa duduk bersandar di sandaran ranjangnya yang megah. Sepasang mata elangnya yang perlahan kembali memancarkan binar tegas, kini bergerak lembut memperhatikan Sabrina yang berdiri di sisi tempat tidur. Gadis itu baru saja selesai mengganti botol cairan infus dengan gerakan yang sangat berhati-hati, namun gurat kelelahan yang teramat sangat di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Lingkaran hitam tipis di bawah
“Jangan bicara dulu,” isak Sabrina saat Kael hendak membuka mulut lagi untuk mengulang kalimatnya yang tak jelas tadi. Kael pun menurut. Dia mengatupkan bibir lalu membiarkan gadis yang dicintainnya itu melampiaskan perasaan leganya. Sabrina mempererat dekapannya, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar mereka demi merasakan detak jantung Kael yang perlahan kembali normal di dadanya. Di tengah situasi rumah yang mulai terkendali itu, Teguh melepaskan napas lega setelah sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari Merak."Nona Sabrina, Tuan Kael... tim dari Victor baru saja mengirim laporan. Penyusup di pelabuhan tadi sudah berhasil diringkus berkat bantuan pelacakan jarak jauh dari Ganda."&
"Angkatlah, Nyonya... Kumohon, angkat teleponnya!" seru Sabrina dengan nada panik yang tak lagi bisa disembunyikannya. Jemarinya terus menekan tombol panggil ulang pada layar ponselnya, mencoba menghubungi saluran telepon utama rumah O'Shea dan ponsel pribadi Nyonya Maureen secara bergantian. Namun, yang terdengar hanyalah nada sambung kosong yang monoton. Di kursi kemudi, Teguh menginjak pedal gas sedalam mungkin, memacu SUV hitam itu keluar dari kawasan Pelabuhan Merak menuju tol Jakarta dengan kecepatan maksimal. Sementara di kursi belakang, Kael bersandar lemas dengan napas yang mulai teratur namun matanya masih terpejam rapat. Adrian yang duduk di samping Sabrina akhirnya membuka suara dengan nada dingin.
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?
Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina
"Kael, kau dengar aku tidak sih?" Gladis akhirnya meledak. Bahasa formalnya menguap, digantikan nada merajuk yang biasa ia gunakan saat mereka hanya berdua. "Keputusanmu memindahkan si OB itu ke ruanganmu benar-benar konyol. Semua orang di kantor membicarakannya. Mereka akan mengira aku tidak bec
Kael yang memiliki pendengaran tajam seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatap Sabrina dengan penuh selidik.







