LOGIN"Maksudku... itu... bau mulutmu," kilah Kael cepat, suaranya sedikit serak. Ia membuang muka, menatap deretan buku di belakang Sabrina seolah itu benda paling menarik di dunia. "Bau cabainya tercium sampai sini. Penciumanku sangat tajam."
Sabrina mematung. Pipinya mendadak terasa panas, bukan karena sisa pedas, melainkan rasa malu yang menghantam telak. Ia refleks menutup mulut dengan punggung tangannya.
Sebelum
"Kael!!" Jeritan Gladis melengking di antara desing peluru yang menghantam pilar beton koridor lantai dua. Namun, suaranya yang parau segera tenggelam oleh dentuman granat yang meledak di ujung lorong, menciptakan gelombang panas dan serpihan kaca yang berterbangan seperti hujan kristal yang mematikan. Gladis terhuyung, kruknya terlepas, dan ia nyaris terjerembap tepat saat bingkai jendela di sampingnya hancur berkeping-keping. Tepat sebelum pecahan kaca itu merobek kulitnya, sebuah tangan kekar menyambar bahu Gladis, menariknya dengan sentakan kasar hingga ia terseret ke bawah meja kayu jati yang kokoh di sudut koridor. Gladis terengah, matanya membelalak ketakutan mendapati sosok pria yang baru saja menyelamatkannya.“Kau??”
Suara sirine keamanan kediaman O’Shea menderu rendah, menyatu dengan gemuruh guntur yang mulai pecah di langit Jakarta. Di dalam ruang monitor yang kedap suara, Kael berdiri tegak, membelakangi kegelapan. Cahaya biru dari puluhan layar CCTV memantul di wajahnya, mempertegas garis rahang yang mengeras dan sorot mata yang tak lagi menyisakan ruang untuk belas kasih. Layar utama menampilkan kekacauan di gerbang depan. Sekelompok pria berpakaian taktis hitam dengan persenjataan lengkap bergerak dengan presisi militer. Kael mengenali pola serangan itu. Itu adalah unit bayaran terbaik milik Adrian Pratama."Tuan, pintu gerbang barat hampir jebol. Mereka menggunakan peledak termit," lapor Victor. Suaranya tenang, namun ada nada urgensi yang tertahan. Kael tidak berk
Sabrina duduk mematung di tepi ranjang. Jemarinya masih meremas syal biru tua yang kotor, satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan sisa-sisa kewarasan yang ada. Hingga kemudian..Brak! Pintu kamar terbanting keras ke dinding. Gladis berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya yang biasa tenang kini terdistorsi oleh amarah yang murni. Ia melangkah masuk dengan kruk yang berdentum keras di lantai kayu, setiap langkahnya seperti vonis mati. Gladis baru saja berdiri di balik pintu ruang kerja Kael yang sedikit terbuka, menguping percakapan dingin antara Kael dan Victor di ujung lorong tadi. Ia mendengar setiap detail tentang penyitaan aset, tentang dendam belasan tahun, dan yang paling mengerikan tentang identitas pria yang menyebabkan mobil orang tua K
Udara di ruang tengah kediaman O’Shea mendadak membeku, seolah seluruh oksigen telah dihisap keluar oleh kemurkaan yang meledak dalam kesunyian. Kael menyentakkan tangannya dari rahang Sabrina dengan gerakan kasar, seolah-olah kulit halus gadis itu baru saja menyengatnya dengan tegangan listrik ribuan volt yang menjijikkan. Ia mundur dua langkah besar, matanya menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi yang begitu ngeri, seperti baru saja menyentuh bangkai yang membusuk. Tanpa mengalihkan pandangan, Kael mengusapkan telapak tangan itu berkali-kali ke celana kainnya. Sebuah gestur penghinaan yang begitu dalam, merobek martabat Sabrina lebih telak daripada tamparan fisik mana pun."Biarkan dia di sini, Victor. Jangan biarkan dia keluar satu jengkal pun dari gerbang rumah ini," suara Kael terdengar rendah, namun setiap katanya tajam seperti bilah belati yang dihunus. Ia menatap lurus ke arah dinding kosong di belakang Sabrina, menolak memberikan kontak mata
"Aku akan membunuhnya." Suara Kael terdengar begitu tajam, memotong udara dingin di dalam kabin jet pribadi yang sedang membelah angkasa menuju Jakarta. Namun, di balik ketajaman itu, ada getaran serak yang tak bisa disembunyikan. Sebuah retakan kecil dari hati yang baru saja dihantam kenyataan paling pahit. Setelah berkata demikian, Kael membelakangi Victor, menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela pesawat. Victor menunduk takzim, lalu izin pamit undur diri ke bagian belakang kabin. Begitu merasa cukup jauh, ia segera mengangkat gawai yang sejak tadi bergetar di saku jasnya."Apa kami harus menyandera gadis itu? Saat ini posisi kami sudah..""Diamlah!" sahut Victor dengan bisikan yang menekan, memotong laporan anak buahnya di seberang telepon
Lantai granit di bawah kaki Kael terasa sedingin es, namun panas di dadanya tidak bisa diredam oleh sistem pendingin udara canggih di bunker Alpen, Swiss. Di hadapannya, layar-layar raksasa menampilkan peta digital jalur logistik Eropa yang kini dipenuhi tanda silang merah."Sita semua asetnya. Jangan sisakan satu peluru pun keluar dari perbatasan Jerman-Polandia," perintah Kael, suaranya parau namun tajam. "Aku ingin Adrian Pratama merasakan apa artinya kehilangan segalanya dalam semalam." Kael menatap arloji mewah di pergelangan tangannya. Detik yang bergerak terasa seperti detak jantung yang memburu. Firasatnya memburuk seiring dengan semakin dekatnya ia pada kemenangan di Eropa."Tuan, jika Anda pergi sekarang, Anda akan melewatkan pertemuan krusial dengan intelijen Jerman di Berlin," Victor memperingatkan melalui saluran audi







