Share

75. TAHU DARI MANA?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-03-14 15:42:04

            Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Namun, lambung Sabrina masih terasa seperti disayat sembilu. Efek seblak sialan itu belum sepenuhnya hilang, meninggalkan rasa perih yang membuatnya menyerah pada kantuk. Dengan langkah gontai dan tenggorokan kering, ia keluar dari kamar, berniat menuju dapur untuk mencari air hangat.

            Lantai marmer yang dingin menyen

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   286. HANYA MENGINGATKAN

    “Kau membuntuti kami?” tuding Kael langsung, suaranya sedingin es dengan tatapan penuh intimidasi.Rosaleen menggeleng cepat lalu menjawab, “Aku hanya sedang berusaha mengingatkan jadwalmu saja. Seharusnya kau berterima kasih karena ini. Aku bahkan tidak menyelonong masuk seperti sebelumnya ‘kan?”"Sialan," umpat Kael lirih di dalam hati. Rahangnya mengeras sempurna saat menyadari bahwa pernyataan Rosaleen kali ini memang benar. Idenya yang menyuruh Victor pulang cepat sore tadi demi memberikan asistennya itu waktu bersama sang istri, kini berbalik menjadi bumerang. Kael benar-benar merutuki dirinya sendiri karena telah melupakan jadwal krusial perusahaan akibat terlalu terbuai asmara dan rasa bahagianya bersama Sabrina sejak dar

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   285. PERKARA SENDOK

    Sabrina buru-buru membekap mulut Kael dengan telapak tangan sambil melirik panik ke meja-meja sebelah yang mulai berbisik. Wajahnya dipastikan sudah semerah stroberi di atas piringnya. Tatapan beberapa pengunjung restoran yang sempat tertuju ke arah mereka membuat Sabrina ingin rasanya menghilang dari bumi detik itu juga."Kael! Kecilkan suaramu! Bisa-bisanya kau mengatakan hal memalukan seperti itu di tempat umum?!" bisik Sabrina dengan nada mendesis, menuntut penjelasan atas kelancangan ucapan kekasihnya. Kael menurunkan tangan Sabrina dari mulutnya dengan santai, tetapi tatapannya masih merajuk. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura mengintimidasi itu kini melunak menjadi ekspresi defensif yang teramat konyol. Pria itu menolak memakan apa pun lagi, menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu bersedekap dada dengan rahang yang mengeras tanda tersinggung."Aku hanya mengatakan fakta," ketus Kael rendah, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar yang men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   284. BUKA WAJAHMU

    Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat kabin laboratorium steril itu mendadak terasa begitu hangat. Sabrina bisa merasakan deru napas Kael yang menyapu permukaan kulit wajahnya, menghantarkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduknya meremang."A-aku tidak bohong," elak Sabrina, mencoba menegakkan punggungnya yang bersandar pasrah pada kursi kerja. "Tanya saja pada Stella kalau tidak percaya.” Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum tipis yang teramat tampan terukir di wajahnya. Sebelum Sabrina sempat membuka mulut untuk kembali membela diri, Kael menundukkan kepala dan mengecup singkat bibir ranum gadis itu.Cup."Kael!" protes Sabrina setengah berbisik, matanya membelalak sempurna lantaran terkejut dengan serangan manis yang begitu tiba-tiba. "Ini di laboratorium! Bagaimana k

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   283. APA INI MIMPI?

    Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang biasanya menutup diri di balik dinding pertahanan yang tebal, barusan merengek manja dan mengaku merindukannya di depan layar ponsel. Hingga suara deheman dari Teguh dan decakan pelan Sabrina di seberang panggilan membuat pria berwajah tegas itu berkedip cepat, tersadar dari lamunan instannya."Kalau kau sibuk ya sudah. Aku pulang saja," kata Sabrina kemudian, nada suaranya mendadak berubah gengsi karena menyadari atmosfer canggung di ruangan Kael."Tunggu aku di sana." Itulah balasan Kael yang lekas mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Dalam hitungan detik, pipinya terasa panas. Jangan tanyakan bagaimana penampilan atau ekspresi sang Direktur Utama O'Shea

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   282. BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI

    Ponsel di tangan Sabrina terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan darahnya yang mendadak berdesir panas akibat foto provokatif yang baru saja diterimanya. Selama beberapa detik, napasnya tertahan di tenggorokan. Rasa cemas dan cemburu yang paling primitif nyaris saja menariknya kembali ke dalam cangkang pertahanan diri yang membuatnya ingin mematikan ponsel, mengunci diri di laboratorium, dan mungkin saja akan mengabaikan Kael seperti yang biasa ia lakukan jika menghadapi konflik emosional sebelumnya. Namun, Sabrina menarik napas sedalam mungkin. Ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium, memaksa logikanya untuk mengambil alih kendali. Tidak. Ia menolak menjadi wanita lemah yang langsung hancur hanya karena foto dari nomor asing. Setelah apa yang terjadi di bahu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   281. RASA CEMAS

    "Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong Aliz yang sudah kembali memejamkan mata di ceruk lehernya. "Lebih baik kau segera istirahat, Sabi. Biar Aliz tidur denganku di kamar sebelah malam ini. Dan Kael, sepertinya kau juga harus pulang.""Terima kasih, Ganda," ucap Kael tulus. Setelah Ganda melangkah masuk ke dalam kamar, Kael beralih sepenuhnya pada Sabrina. Ia meraih kedua tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jangan pikirkan u

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   35. KEHABISAN NAPAS

    "Grandma!" raungan Kael pecah. Ia tidak mengejar penyusup itu. Fokusnya tunggal. Di samping tempat tidur jati yang megah, Nyonya Maureen tergeletak tak berdaya di atas karpet Persia yang mahal. Vas bunga porselen di dekatny

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   34. SIAPA ITU?

    Suara desis dari lubang ventilasi di langit-langit ruang kerja itu mendadak berubah nada. Bukan lagi hembusan udara sejuk yang keluar, melainkan bunyi sedotan mekanis yang berat dan konstan.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   33. KENAPA TANGAN TUAN GEMETAR?

    Bunyi klik kunci yang diputar Kael terasa seperti dentuman palu hakim di telinga Sabrina. Gadis itu mematung, kapas beralkohol masih menempel di lehernya, sementara matanya membelalak menatap punggung lebar Kael yang kini bersanda

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   31. BUAT SAYA

    "Kalian lama sekali," desis Kael dengan suara rendah yang mengiris udara. Matanya yang keabuan menatap tajam ke arah komandan tim keamanan yang baru saja melompat turun dari mobil taktis. "Satu menit lebih lambat, dan kalian hanya akan menemukan tumpukan abu di gedung ini."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status