Home / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 77. KELUARIN SAYANG!

Share

77. KELUARIN SAYANG!

last update Last Updated: 2025-12-30 19:07:34

“Surat-suratnya udah kamu siapin, Sayang?” tanya Nathan sore itu.

Ia berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk yang hanya melingkar rendah di pinggulnya, memamerkan garis perutnya yang atletis. Rambutnya masih lembap, menyisakan tetesan air yang jatuh perlahan melewati dadanya yang bidang.

“Udah semua, Sayang. Tinggal dibawa aja,” sahut Cindy lembut. Ia melirik Nathan melalui pantulan cermin, lalu tertawa kecil melihat betapa lekatnya tatapan pria itu padanya. “Kamu masih ingat, kan, gimana prosedur mendaftarkan pernikahan kita nanti?”

Cindy melanjutkan kegiatannya merapikan handuk yang melilit tubuhnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia mempererat ikatan handuk di atas dadanya agar tidak melorot, sebuah gerakan sederhana yang tanpa sadar mengundang pandangan lapar dari Nathan. Suasana sore itu terasa begitu hangat; bukan hanya karena uap air dari kamar mandi, melainkan karena janji masa depan yang kini terasa begitu nyata di depan mata.

“Apa yang nggak? Cara mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   98. KEBANGGAAN ORANG TUA SEDANG ASYIK DI HOTEL DENGAN WANITA PENGHIBUR

    ​“Morgan belum pulang, Pa?” tanya ibunya malam itu. Ia tampak sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya di depan cermin meja rias, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. ​“Belum kayaknya. Tapi tadi dia menelepon Papa, katanya lagi kumpul sama teman-temannya,” jawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca di atas ranjang. ​“Oh... begitu. Tapi dia siap, kan, untuk hari pertamanya besok? Jangan sampai dia malah nggak datang ke kantor,” ucap ibunya dengan nada cemas. Ia meletakkan kapas pembersihnya dan berbalik menatap suaminya. Bagi ibunya, citra Morgan di perusahaan adalah segalanya. ​“Pasti dia datang, Ma. Papa sudah bicara langsung dengannya tadi. Dia sudah memastikan sendiri kalau dia akan hadir di hari pertama,” ucap ayahnya dengan nada tenang, berusaha meredakan kegelisahan sang istri. ​Ayahnya menutup buku, lalu melepas kacamata bacanya. “Dia tahu betul seberapa besar taruhannya kali ini. Morgan nggak akan sebod

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   97. PENGANGGURAN

    ​“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu. ​Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa. ​“Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan. ​Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur. ​Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   96. KELUARGA NATHAN PANIK JIKA CINDY BERTEMU MORGAN?

    ​“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. ​“Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” ​Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. ​Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. ​“Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   95. MORGAN MENGIKUTI MEREKA.

    ​“Kenapa, Mas? Kayaknya dia panggil kamu tadi?” tanya Cindy heran saat melihat Nathan baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru. Nathan segera meletakkan bingkisan dari Morgan di bangku belakang tanpa kata. ​“Nggak, kok. Kita langsung pulang sekarang, Sayang,” ucap Nathan pendek. Wajahnya tampak tegang saat ia menyalakan mesin. Dengan gerakan cepat, ia memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedal gas cukup dalam. Bunyi mesin mobil sport itu mengaung keras di area parkir, sebelum melesat pergi meninggalkan lokasi. ​Di kejauhan, Morgan hanya berdiri diam dengan senyum miring yang penuh arti, memperhatikan mobil adiknya yang menjauh dengan kecepatan tinggi. ​“Lo takut, kan?” ucap Morgan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. ​Ia terkekeh tipis, merasa menang karena telah berhasil mengusik ketenangan Nathan. Morgan kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan duduk diam di sana sambil menatap lurus ke depan—merencanakan langkah selanjutnya untuk sang adik. ​“Sayang, d

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   94. JANJI APA YANG MELIBATKAN CINDY?

    ​“Apa kabar?” tanya Morgan saat melihat Nathan menghampirinya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya, namun tatapannya seolah sedang memindai setiap gerak-gerik sang adik. ​Mereka berjabat tangan erat, sebuah gestur formalitas keluarga yang kaku. “Kabar baik,” jawab Nathan singkat, membalas senyuman itu dengan keramahan yang dijaga. ​“Jadi... lo di sini juga?” tanya Morgan lagi. Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, sambil melirik penuh arti ke arah mobil Nathan di mana ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik kaca film yang gelap. ​“Kebetulan aja,” sahut Nathan santai. ​“Iya, ya... kebetulan yang bikin happy,” gumam Morgan. ​Nathan menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. “Kapan lo sampai di Indonesia?” ​Tak jauh berbeda dengan sang adik, Morgan tampak sangat tenang. Ia memainkan pemantik api di satu tangannya, sementara tangan lai

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   93. NATHAN DAN MORGAN BERTEMU DI TEMPAT PARKIR

    “Aku nggak nolak, Sayang. Aku cuma menunda aja,” jawab Nathan tenang. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, lalu kembali menyuap potongan daging berikutnya dengan santai.Cindy memperhatikannya sambil tersenyum simpul, ada binar jahil di matanya. “Tapi... kamu nggak sebal, kan, kita berakhir di hotel ini?” tanya Cindy, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi Nathan.Nathan tertawa singkat, kepalanya menggeleng pelan menanggapi keusilan wanitanya itu. “Jahil banget, sih. Ya jelas aja nggak, Sayang. Lagian kan... tujuan utama kita ke sini karena memang buat seks, terus kita lanjut sayang-sayangan sampai puas,” bisik Nathan dengan suara rendah yang menggoda.Ia menjangkau tangan Cindy di atas meja, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan wanita itu secara perlahan. Tatapannya mendalam, seolah menegaskan bahwa tidak ada pertemuan bisnis atau panggilan telepon dari kakaknya yang lebih penting daripada momen mereka berdua saat ini.“Dan menurut aku, tujuan itu ud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status