Beranda / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 81. CINDY, NATHAN, MORGAN, SATU TEMPAT MAKAN.

Share

81. CINDY, NATHAN, MORGAN, SATU TEMPAT MAKAN.

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 20:46:03

Morgan baru saja hendak melangkah mendekati Cindy, namun seruan teman-temannya yang riuh seketika mengubah arah langkahnya. Ia pun mengurungkan niat dan justru berbelok menuju kerumunan mereka.

“Belum datang makanannya, Sayang?” tanya Nathan yang baru saja kembali dari toilet restoran itu sembari menarik kursi di depan Cindy.

“Baru minuman aja, nih. Kopi hitam pesanan kamu, teh hangat punya aku, dan… jus mangga pesanan aku, sama…,” ucap Cindy sengaja menggantung kalimatnya. Ia menyebutkan deretan menu itu sembari menatap Nathan dengan mata yang berkilat jahil.

“Punya kamu semua itu?” sahut Nathan dengan wajah datar yang dipaksakan, namun nada suaranya justru mengkhianati ekspresinya sendiri.

“Hahaha!” Tawa Nathan akhirnya pecah juga, bersahutan dengan tawa renyah Cindy.

Keduanya tertawa riang malam itu, menciptakan gelembung kebahagiaan kecil di tengah riuhnya suasana restoran.

Di sudut lain, Morgan hanya terdiam mematung, menyaksikan keakraban mereka dengan perasaan yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   88. MENDADAK KE HOTEL?

    Usai melakukan transaksi dan mendapatkan surat jual beli serta bukti kepemilikan tunggal, kini keduanya resmi memiliki ruko mewah tersebut. Kepemilikan itu menjadi tonggak awal kebangkitan mereka setelah badai besar yang sempat menghantam.“Sayang... aku nggak sabar melihat ruko ini penuh dengan barang-barang yang mau aku jual nanti,” ucap Cindy sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.Keduanya duduk berdampingan di atas sofa yang merupakan bonus eksklusif dari pembelian ruko tersebut. Nathan merangkul bahu Cindy, membiarkan wanita itu menikmati kemenangannya sejenak.“Iya, Sayang. Kita pasti bakal punya kesibukan luar biasa setiap hari habis ini. Tapi... oh iya, kamu juga harus janji untuk nggak salah memilih supplier lagi. Kamu ingat, kan, dulu kamu pernah ditipu oleh teman kamu sendiri?” ucap Nathan, mengingatkan dengan nada yang lembut namun sarat akan ketegasan.Cindy mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana. “Iya,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   87. CINDY DAPAT RUKO BARU DARI NATHAN

    Pukul delapan pagi, Nathan dan Cindy sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Nathan yang membelah jalanan kota. Mereka sedang dalam perjalanan untuk meninjau sebuah ruko strategis yang akan dibeli Nathan sebagai hadiah sekaligus tempat usaha kecil untuk Cindy.“Supplier udah kamu hubungi, Sayang?” tanya Nathan sembari fokus mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap lembut jemari Cindy.“Udah, dong. Aku udah kirim surel semalam ke supplier pakaian yang bekerja sama dengan butik aku dulu. Dan... aku boleh nambah item lain nggak?” tanya Cindy ragu-ragu. Matanya sesekali melirik deretan katalog tas mewah di layar tabletnya.“Boleh aja, Sayang. Apa pun yang kamu butuh,” ucap Nathan tanpa ragu sedikit pun.“Yes! Aku mau menambah koleksi tas, sepatu, dan sandal. Tapi masalahnya... modalnya gimana, Sayang? Rata-rata supplier baru untuk aksesori meminta pembayaran di muka sebesar tujuh puluh persen karena aku belum punya rekam jejak kerja sama de

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   86. NATHAN ATAU MORGAN, SIAPA YANG LEBIH HANDAL?

    Pagi hari, berita mengenai Nathan yang secara sepihak mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaan ayahnya menjadi pembahasan utama di berbagai media bisnis. Banyak klien yang menyatakan kekecewaan mereka atas keputusan mendadak tersebut. Efek domino pun terjadi; sebagian pemegang saham mulai menarik modal mereka, sementara beberapa mitra besar memilih untuk membatalkan perjanjian baru.Di tengah kekacauan itu, ponsel Nathan berdering tanpa henti. Panggilan dari klien-klien loyal tampak mendesak, menuntut penjelasan langsung darinya.“Sayang, telepon kamu bunyi terus... jawab dulu,” ucap Cindy lembut. Pagi itu, ia tampak sibuk menyiapkan sarapan di dapur meski masih mengenakan lingerie seksi yang membalut tubuh indahnya.“Aku capek dari tadi terus menjawab 'halo' dan harus menjelaskan alasan ini itu,” keluh Nathan. Ia tampak tenang meski badai karier sedang menerjangnya. Hanya dengan mengenakan boxer tanpa atasan, ia duduk di meja makan, lalu akhirnya meraih ponselnya untuk menjawab pa

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   85. APARTEMEN

    “Janda? Um… kayaknya menarik juga tuh janda,” ucap Morgan sembari duduk santai bersandar pada sofa. Ia meraih sebatang rokok dari meja, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya ke udara dengan gestur yang sangat tenang.“Biasalah… jandanya itu… kebetulan mantan istrinya sendiri,” sahut Shella ketus. Ia mulai memunguti dan mengenakan kembali pakaian dalamnya yang tercecer di lantai, mencoba menutupi tubuhnya yang masih terasa panas.“Maksudnya?” tanya Morgan sembari tertawa pelan, merasa ada komedi di balik drama tersebut.“Pacar aku itu udah pernah menikah satu kali sama perempuan itu. Ternyata, setelah dia menjalin hubungan sama aku dan keluarga kami udah saling mengenal dengan sangat baik, si janda itu datang lagi. Dia rebut pacar aku lagi tepat di depan mata aku,” ucap Shella dengan suara bergetar. Ia terdiam sejenak saat bayangan wajah Cindy dan Nathan melintas di benaknya, memicu kobaran amarah yang sulit dipadamkan.“Hahaha!” Morgan tertawa lepas

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   84. DENGAN BANGGA SHELLA MENGAKU KALAU NATHAN KEKASIHNYA...

    “Ah… enak… terus, Mas… aah… ya… terus! Aaah… ini lebih enak, Mas… ouh… yes… lebih keras, Mas! Lebih kuat… aaaaah… terus!”Shella menjerit histeris, suaranya bersaing dengan dentum musik bervolume tinggi yang meredam segalanya. Morgan seolah kesetanan; ia terus mengocok miliknya dengan ritme yang kian brutal. Tubuh Shella terguncang hebat hingga sofa besar itu bergeser dan membentur dinding kedap suara. Di dalam ruangan remang yang hanya diterangi lampu tembak berwarna-warni yang memantul ke plafon, gairah mereka memuncak tanpa batas.“Kamu mau yang lebih… huh?” bisik Morgan terengah, napasnya terasa panas di ceruk leher Shella sementara ia terus memacu ritme.“Lakuin, Mas! Aku mau… ya… aku mau… aaah… cepatan, Mas!” Shella sudah kehilangan akal sehatnya, ia hanya ingin merasakan sensasi yang lebih gila lagi.Morgan tiba-tiba menarik miliknya hingga keluar, memamerkan pemandangan batang yang berkilat basah berlumuran lendir gairah. Dengan gerakan tangkas, Shella membalikkan tubuhnya. Ia

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   83. DIBAWAH PENGARUH ALKOHOL (2)

    Shella dan Morgan segera memesan sebuah ruangan VIP. Setelah mendapatkan kunci di tangan, keduanya berjalan menuju lift dengan tubuh yang saling berpelukan erat, sesekali berhenti untuk saling memagut bibir dengan panas.“Um…,” Shella melenguh pelan, menikmati ciuman itu sambil berjinjit demi mengimbangi tinggi tubuh Morgan. Hasrat mereka kian memuncak hingga pintu lift berdenting terbuka. Keduanya melangkah keluar dengan terburu-buru, tak sabar untuk segera memasuki ruangan privat tersebut.Begitu pintu ruangan VIP terbuka, Shella berlari kecil ke dalam. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah sembari menendang sepatunya hingga terlepas. Dengan gerakan menggoda, ia menjatuhkan tubuhnya, berbaring manja di atas sofa besar yang empuk.“Ayo… makan aku, Mas…,” ucapnya dengan nada serak yang menantang. Ia menatap Morgan penuh gairah sambil perlahan menarik tali gaun di bahunya, membiarkan kain itu merosot hingga bagian dadanya nyaris terekspos sepenuhnya di bawah lampu ruangan yang remang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status