LOGINDi saat kedua orang tuanya menaruh harapan besar, Morgan justru tengah tenggelam dalam kesenangan duniawi yang liar. Di sebuah kamar hotel mewah yang remang-remang, ia sedang menikmati servis panas dari seorang wanita cantik bertubuh seksi. “Aaah... hisap terus, Sayang... Um... yes... um...” Morgan mendesah panjang, suaranya memenuhi ruangan yang pengap oleh gairah. Ia duduk bersandar di sofa dengan kedua kaki terbuka lebar. Matanya terpejam kuat, sementara jemarinya meremas kasar rambut wanita yang tengah berlutut di hadapannya tanpa sehelai benang pun. Wanita itu bekerja dengan sangat telaten, memberikan hisapan yang teratur dan dalam, sesekali memainkan lidahnya di bagian sensitif bawah batang milik Morgan. “Um... um...” Wanita itu tampak sangat mahir, memberikan ritme yang membuat napas Morgan semakin memburu. Setiap gerakan bibir dan lidah wanita itu memberikan sensasi luar biasa yang membuat Morgan benar-benar puas. Baginya, ini adalah cara terbaik untuk merayakan "k
“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu. Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa. “Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan. Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur. Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam
“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. “Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. “Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu
“Kenapa, Mas? Kayaknya dia panggil kamu tadi?” tanya Cindy heran saat melihat Nathan baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru. Nathan segera meletakkan bingkisan dari Morgan di bangku belakang tanpa kata. “Nggak, kok. Kita langsung pulang sekarang, Sayang,” ucap Nathan pendek. Wajahnya tampak tegang saat ia menyalakan mesin. Dengan gerakan cepat, ia memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedal gas cukup dalam. Bunyi mesin mobil sport itu mengaung keras di area parkir, sebelum melesat pergi meninggalkan lokasi. Di kejauhan, Morgan hanya berdiri diam dengan senyum miring yang penuh arti, memperhatikan mobil adiknya yang menjauh dengan kecepatan tinggi. “Lo takut, kan?” ucap Morgan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia terkekeh tipis, merasa menang karena telah berhasil mengusik ketenangan Nathan. Morgan kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan duduk diam di sana sambil menatap lurus ke depan—merencanakan langkah selanjutnya untuk sang adik. “Sayang, d
“Apa kabar?” tanya Morgan saat melihat Nathan menghampirinya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya, namun tatapannya seolah sedang memindai setiap gerak-gerik sang adik. Mereka berjabat tangan erat, sebuah gestur formalitas keluarga yang kaku. “Kabar baik,” jawab Nathan singkat, membalas senyuman itu dengan keramahan yang dijaga. “Jadi... lo di sini juga?” tanya Morgan lagi. Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, sambil melirik penuh arti ke arah mobil Nathan di mana ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik kaca film yang gelap. “Kebetulan aja,” sahut Nathan santai. “Iya, ya... kebetulan yang bikin happy,” gumam Morgan. Nathan menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. “Kapan lo sampai di Indonesia?” Tak jauh berbeda dengan sang adik, Morgan tampak sangat tenang. Ia memainkan pemantik api di satu tangannya, sementara tangan lai
“Aku nggak nolak, Sayang. Aku cuma menunda aja,” jawab Nathan tenang. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, lalu kembali menyuap potongan daging berikutnya dengan santai.Cindy memperhatikannya sambil tersenyum simpul, ada binar jahil di matanya. “Tapi... kamu nggak sebal, kan, kita berakhir di hotel ini?” tanya Cindy, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi Nathan.Nathan tertawa singkat, kepalanya menggeleng pelan menanggapi keusilan wanitanya itu. “Jahil banget, sih. Ya jelas aja nggak, Sayang. Lagian kan... tujuan utama kita ke sini karena memang buat seks, terus kita lanjut sayang-sayangan sampai puas,” bisik Nathan dengan suara rendah yang menggoda.Ia menjangkau tangan Cindy di atas meja, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan wanita itu secara perlahan. Tatapannya mendalam, seolah menegaskan bahwa tidak ada pertemuan bisnis atau panggilan telepon dari kakaknya yang lebih penting daripada momen mereka berdua saat ini.“Dan menurut aku, tujuan itu ud







