MasukPagi pertama Gita di istana terasa begitu asing. Ia terbangun di kamar luas berukir emas, tirai putih menjuntai anggun, dan cahaya matahari menembus jendela kaca berwarna. Namun hatinya masih tertinggal di kamar kayu sederhana, tempat ia biasanya mendengar kokok ayam dan suara ibunya memanggil.
Suara langkah berderap pelan memecah lamunannya. Dayang-dayang masuk membawa baskom berisi air hangat. Gerakan mereka serentak, penuh aturan.
“Selir Gita, bersiaplah. Permaisuri memanggil Anda pagi ini,” ucap salah satu dengan nada sopan, namun tegas.Nama itu—Permaisuri. Hanya mendengarnya saja membuat tubuh Gita bergetar. Ia tahu, permaisuri bukan sekadar istri utama raja. Dialah wanita paling berkuasa di dalam istana setelah baginda.
Dengan langkah ragu, Gita mengikuti dayang menuju paviliun permaisuri. Bangunannya menjulang megah, dipenuhi tanaman bunga yang harum. Dua prajurit berdiri di gerbang, tombak mereka berkilau terkena sinar matahari. Gita menunduk dalam-dalam saat melewati mereka, mencoba menyembunyikan rasa gentarnya.
Di dalam aula, Permaisuri Dias sudah menunggu. Ia duduk di kursi ukir berhias permata, mengenakan gaun sutra merah tua yang memancarkan wibawa. Wajahnya memang cantik, tetapi sorot matanya tajam, menelanjangi siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
“Jadi, ini gadis desa yang dibawa masuk kemarin?” suara Dias terdengar datar, namun jelas mengandung sindiran.
Gita segera berlutut, menundukkan kepala. “Ampun, Permaisuri. Hamba memang berasal dari desa. Mohon bimbingannya.”
Tawa kecil meluncur dari bibir Dias. Namun tawanya tidak mengandung kehangatan. “Bimbingan? Kau pikir mudah menjadi bagian dari istana? Menjadi selir artinya kau hanya pelengkap, tidak lebih. Jangan pernah bermimpi mendekati raja. Baginda milikku—dan hanya milikku.”
Kata-kata itu menusuk dada Gita. Ia tidak pernah berniat merebut apa pun dari siapa pun, apalagi dari permaisuri. Tapi sejak awal, keberadaannya sudah dianggap ancaman.
“Aku mengerti, Permaisuri,” jawabnya lirih.Dias berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sehelai kain. Tatapannya menancap seperti belati. “Dengarkan baik-baik. Jika kau berani macam-macam, aku akan pastikan kau menyesal dilahirkan ke dunia ini.”
Jantung Gita berdegup kencang. Ia tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya, tetapi dalam hati ia tahu—hidup di istana akan penuh badai.
Siang itu, Gita kembali ke paviliunnya dengan langkah goyah. Dayang Sari, yang sejak pagi menemaninya, menatapnya prihatin.
“Selir Gita, jangan takut. Memang begitulah sifat Permaisuri Dias. Beliau tidak suka ada wanita lain di dekat Baginda. Tapi asal Anda berhati-hati, Anda akan selamat.”Gita menghela napas panjang. “Aku tidak pernah ingin bersaing dengan siapa pun, Sari. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang.”
Sari menunduk hormat, matanya berkaca-kaca. “Hati Anda tulus, Nyonya. Semoga Baginda suatu hari menyadarinya.”
Kata-kata itu meninggalkan hangat sesaat di dada Gita. Namun ia tahu, hangat itu rapuh.
Malam tiba. Suara genderang menggema dari aula utama. Dayang-dayang memberitahu bahwa Raja David mengadakan jamuan makan malam bersama pejabat istana, dan semua selir diperintahkan hadir.
Dengan pakaian biru muda sederhana, Gita memasuki aula yang terang benderang oleh obor dan lampu minyak. Meja panjang dipenuhi makanan mewah: daging panggang, buah segar, minuman berwarna keemasan.
Di sisi raja, Permaisuri Dias duduk anggun, tersenyum penuh kuasa. Selir lain yang lebih lama tinggal di istana duduk berjauhan, menatap Gita penuh selidik.
Gita menunduk memberi hormat. Raja David hanya melirik sekilas, dingin, lalu kembali berbicara dengan pejabat di sampingnya. Tidak ada senyum, tidak ada sambutan.
“Duduklah di sana, jauh dari Baginda. Kau masih baru, belajar dulu aturan istana,” ucap Dias dengan senyum tipis, namun nadanya mengandung perintah.
Gita menurut. Ia duduk di kursi paling ujung. Jamuan berlangsung meriah, penuh gelak tawa, tapi baginya semua terasa hampa. Sesekali ia mencuri pandang ke arah raja. Hanya sekali mata mereka bertemu—tatapan singkat, datar, tanpa makna. Namun tatapan itu cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Malam semakin larut. Sepulang dari jamuan, Gita duduk lama di teras paviliunnya. Angin membawa aroma bunga dari taman istana. Ia memeluk lutut, menatap bintang-bintang yang berkelip di langit.
Ia sudah tahu sejak awal: permaisuri menganggapnya musuh, raja bahkan tidak menganggapnya, dan selir lain memandangnya penuh iri. Jalan hidup di istana tidak akan pernah mudah.
Namun di balik rasa takutnya, ada keyakinan kecil yang mulai tumbuh. Ia tidak boleh menyerah.
Malam itu hanyalah langkah pertama—langkah kecil yang bisa menuntunnya pada kejayaan… atau menyeretnya ke dalam permainan berbahaya Permaisuri Dias.
Ruangan pertemuan istana itu terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena jumlah orangnya, tapi karena kebohongan yang memenuhinya. Raja Ayah berdiri di kepala ruangan. Matanya menatap satu per satu orang di hadapannya, seolah ingin memastikan siapa yang masih bisa ia percaya. Dias berdiri berhadapan dengannya. Di sampingnya, Ibu Dias menegakkan punggung, menolak terlihat kalah. David berada di tengah. Tidak sepenuhnya di sisi siapa pun. Dan justru itu yang paling menyakitkan. “Sekali lagi aku minta,” suara Raja Ayah berat, nyaris serak, “aku minta kejujuran. Bukan sebagai raja. Tapi sebagai kepala keluarga.” Dias tertawa getir. “Haa, Ayah lucu sekali,” katanya. “Keluarga?” Ibu Dias menyambar, “Benar, Dias. Sejak kapan kami dianggap keluarga di istana ini?” David menoleh cepat. “Ibu, itu tidak benar. Kalian keluarga istana.” “Tidak benar?” Dias menatapnya tajam. “Lalu sejak kapan kau benar-benar berdiri di sampingku, David?” David terdiam. Raja Ayah menghela napas panj
Aula kecil itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Tak ada yang duduk dengan nyaman. Tak ada yang benar-benar berdiri tegak.Semua menunggu.Dias berdiri di samping Ibunya. Tangannya mengepal sejak tadi, kukunya menekan telapak sendiri sampai nyeri. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya masih tajam karena menolak kalah, menolak runtuh, dan menolak mengaku.David berdiri berseberangan. Ia tidak lagi tahu sejak kapan dadanya mulai terasa kosong. Bukan karena tidak cinta—justru karena terlalu cinta sampai tak tahu lagi mana yang harus dipertahankan.Raja Ayah duduk di kursi utama. Wajahnya tampak jauh lebih lelah hari ini. Garis-garis lelah tak bisa lagi disembunyikan. Di sebelahnya, Ratu Ibu terbaring di kursi panjang, tubuhnya masih lemah, tapi matanya tajam, menyapu semua orang satu per satu.Gita berdiri agak di belakang. Ia tidak berani maju, tidak juga pergi. Sejak awal, ia seperti selalu berada di posisi itu: tidak sepenuhnya dianggap, tapi juga tidak bisa dihapuskan.Dan Dian, b
Aula istana yang semula riuh oleh bisik dan pertengkaran mendadak senyap ketika seorang warga melangkah masuk dengan tubuh gemetar. Pakaian lusuhnya kontras dengan kemewahan ruangan. Ia menunduk dalam-dalam sebelum berbicara, suaranya parau namun penuh tekad.“Ampun, Paduka. Hamba datang bukan untuk mencari belas kasihan. Hamba datang untuk mengatakan kebenaran.”Raja Ayah memberi isyarat agar ia bicara.Dengan tangan bergetar, warga itu mengangkat wajahnya.“Hamba dan beberapa warga lain, telah dipalak oleh Ibu Dias. Kami dipaksa menyerahkan hasil panen dan uang padanya, dengan ancaman nama istana.”Suara itu seperti petir di siang bolong.Ratu Ibu langsung berdiri, wajahnya murka. “Berani sekali kau membawa nama istana untuk dirimu sendiri!”“Ibu Dias bilang itu untuk kebutuhan Permaisuri dan keluarga istana ini,” lanjut warga itu, air matanya jatuh. “Kami takut.”Beberapa warga lain maju, menguatkan pengakuan itu. Satu demi satu kesaksian saling bertaut.Ibu Dias tertawa sinis. “Ha
Hasil pemeriksaan tabib itu seperti petir di tengah ruangan. Tak ada yang langsung bicara.Tabib itu menunduk, suaranya rendah namun jelas ketika ia mengulang kesimpulannya, seolah tahu kata-katanya akan mengubah segalanya. Bahwa kondisi rahim Dias memang sudah tidak memungkinkan untuk mengandung lagi. Bahwa secara medis, satu-satunya perempuan di istana yang masih sehat dan memungkinkan memberi keturunan adalah Selir Gita.Gita refleks mundur setapak. "Apa?" ucapnya, terkejut.Wajahnya pucat. Tangannya gemetar, seolah ingin menyangkal apa yang baru saja ia dengar. Ia sama sekali tidak berniat berada di titik itu. Tidak pernah.“Tidak, Tabib,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Aku tidak meminta ini.”Namun tak ada yang benar-benar mendengarnya.Ratu Ibu yang terbaring lemah di ranjang tiba-tiba menggerakkan tangannya. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala dengan keras kepala yang selama ini dikenal semua orang.“David, anak semata wayangku,” suaranya parau, namun penuh desakan. “K
Ruangan itu dipenuhi dan bisik-bisik yang terputus. Ratu Ibu terbaring di dipan, wajahnya pucat, matanya setengah terbuka. Meski tubuhnya lemah, amarahnya terasa nyata, seperti bara yang belum padam.“Apa… apa yang kalian ributkan?” suaranya serak, tapi cukup membuat semua orang terdiam.David menoleh cepat. “Ibu, aku mohon istirahat saja. Jangan bicara dulu,” katanya, tapi nada suaranya gagal menyembunyikan kemarahan yang mendidih. "Biar aku dan Ayah yang menyelesaikan semua ini.Ratu Ibu memaksa membuka mata lebih lebar. Pandangannya menyapu ruangan, Dias, Ibu Dias, Gita, Dian, Raja Ayah, dan Sari yang berdiri gemetar di sudut. “Aku belum mati,” ucapnya pelan. “Dan aku dengar, namaku disebut-sebut.”Sari tersentak mendengar ucapan itu. Lututnya nyaris menyerah. Gita segera meraih lengannya, menahannya agar tidak jatuh. “Tenang ya, Ri. Katakan yang sebenarnya,” bisik Gita, suaranya mantap meski dadanya sendiri berdebar.David melangkah maju. “Ibu jatuh setelah meminum minuman yang di
Sari akhirnya bersuara.Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, sebelum perlahan mengangkat kepalanya. Suaranya nyaris pecah ketika ia berkata,“Saya… saya melakukan itu atas perintah Ratu Ibu untuk membuat minuman tapi ada orang lain yg meminta mencampurkan bahan ke minuman itu.”Ruangan mendadak riuh.“Apa?” David melangkah maju satu langkah. “Apa yang kau katakan, Sari?”Raja Ayah langsung berdiri dari kursinya. “Jaga ucapanmu,” suaranya berat. “Ini tuduhan serius.”Gita menoleh cepat ke Sari. “Sari, kamu yakin dengan yang kamu katakan?”Dias justru tertawa. “Haha, hebat sekali,” katanya sambil bertepuk tangan pelan. “Sekarang Ratu Ibu yang diseret?”Ibunya ikut menyambar, suaranya keras dan tajam.“Jangan sembarang bicara, gadis! Kau tahu apa akibatnya memfitnah Ratu Ibu?”Sari menutup wajahnya dengan kedua tangan.“Saya tidak bermaksud memfitnah,” isaknya. “Saya hanya disuruh mengantarkan minuman. Saya tidak tahu isinya apa. Saya hanya menjalankan perintah.”“Perintah siapa?” tanya







