Home / Romansa / SENDIAKALA / 05 RUMAH WARNA WARNI

Share

05 RUMAH WARNA WARNI

Author: Lila Oktavia
last update Huling Na-update: 2025-10-01 20:51:09

“Nduk, bagaimana dengan lamaran Ustaz Alif? Apa kamu sudah mendapatkan jawaban?” Pertanyaan ibu membuatku berhenti memilah baju dari almari yang baru saja kutata tadi malam. “Ibu lihat dari kemarin kamu seperti resah, Nduk. Apa karena jawaban dari lamaran Ustaz Alif?” Ibu kembali menyodorkan kalimat tanya padaku.

Aku mengambil asal baju yang dipegang oleh tanganku, kutarik dan kubawa untuk menghadap ibu yang sedang duduk di atas ranjang. Aku bingung harus dari mana menjawab pertanyaan ibu. Kutarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan kasar, berharap dengan demikian segala beban yang kubawa juga akan hilang.

“Apa Azahra tolak saja ya, Bu, lamaran dari Ustaz Alif?” Tanpa berpikir dua kali, mulutku melontarkan sebuah pernyataan.

Ibu memang terlihat terkejut, tapi tidak lama kemudian ia tersenyum, meraih tanganku untuk menuntunku duduk di sampingnya. Tatapan ibu yang seperti ini yang kurindu. Tatapan teduh yang dapat menenangkanku. Ini yang kucari. Perlahan risauku hilang, walaupun tak semuanya. “Azahra merasa kalau jawaban Tuhan untuk istikharah Azahra itu…” Aku menatap ibu lebih dalam, kemudian kugelengkan kepalaku pelan. “Dan ada beberapa hal yang membuat Azahra semakin yakin dengan jawaban ini,” imbuhku pelan-pelan.

“Nduk…” Ibu meraup wajahku dengan tangan yang tak terbilang halus. “Menikah itu ibadah paling panjang. Jadi carilah pasangan yang tepat untuk teman ibadah itu. Cuma kamu yang tahu baik dan buruk untuk dirimu sendiri. Jangan sampai salah melangkah, Nduk.”

Aku memperhatikan dengan saksama pesan yang ibu berikan. Mengait senyum simpul sambil mengangguk perlahan menyetujui apa yang barusan ibu sampaikan. Hanya dua patah kalimat yang ibu berikan, tapi itu saja sudah cukup bagiku untuk menjadi bahan pertimbangan. “Turuti saja nalurimu itu. Kalau memang masih ragu, coba shalat lagi, kemudian pasrahkan semuanya pada Allah. Jangan dipikir terlalu larut, cantikmu loh hilang.”

Aku terkekeh kecil mendengar kalimat terakhir ibu. “Nggih, Bu.”

“Ya sudah, siap-siap gih. Katanya mau diajak Mbak Aiza ke kliniknya.”

***

“Pak, saya minta tolong ini belikan belanjaan yang ada di list ini ya. Kalau sudah, nanti langsung jemput saya ke sini lagi.” Mbak Aiza memberikan sebuah catatan kepada sopir yang mengendarai mobil setelah ia menghentikan mobilnya.

“Oh, siap Bu.” Pak Hasan, sopir itu, mengangguk patuh sambil menerima daftar belanjaannya.

Kami keluar dari mobil dan langsung disuguhkan dengan bangunan indah yang terkesan elegan. Mata wanita mana yang tidak terbius untuk masuk ke sana? Akupun mengikuti langkah Mbak Aiza untuk masuk ke dalam bangunan itu.

“Selamat pagi, Bu.” Para pegawai berseragam itu menyapa kami dengan ramah.

Baru jam delapan pagi, tapi di lobi klinik kecantikan milik Mbak Aiza ini sudah banyak lalu-lalang manusia.

Di lobi ini memang ruang tunggu yang cocok. Disediakan beraneka jenis buku di rak yang berjajar rapi, dan kopi gratis. Ruangan luas yang didominasi warna rose gold ini mendukung ketenangan para bapak-bapak yang menunggu istrinya, atau teman yang menunggu temannya yang sedang melakukan perawatan.

Mbak Aiza mengajakku ke salah satu ruangan khusus, ruangan yang tidak begitu luas dari lobi di depan sana. Aku duduk di salah satu sofa kala Mbak Aiza mempersilahkanku untuk duduk. Salah seorang pegawai masuk ke dalam ruangan.

“Saya mau lihat pembukuan minggu ini,” begitu kalimat yang dikatakan pada Mbak Aiza, dan pegawai itu menyodorkan sebuah tablet kepada Mbak Aiza. Mbak Aiza memeriksa dengan teliti benda yang dibawanya itu.

“Oke, good. Thanks ya.”

Pegawai itu keluar dengan senyum setelah mendapati kalimat dari Mbak Aiza.

“Mbak Aiza keren deh. Dulu terakhir saya ke sini, satu tahun yang lalu, enggak sih? Dulu masih tahap pembangunan, sekarang udah seramai ini. Keren banget.”

“Iya. Alhamdulillah, Zahra. Ini aku lagi ngurus untuk cabang di luar kota. Semoga saja terus ada update.”

“Wah, Alhamdulillah. Semoga lancar ya, Mbak.”

“Saya cuma mau ngecek pembukuan. Kita istirahat dulu ya? Atau kamu mau lihat-lihat?”

“Hem… boleh deh, Mbak.”

Mbak Aiza mengajakku berkeliling ke klinik kecantikan yang resmi diberi nama Aiz Beauty sejak sebelas bulan yang lalu. Tak bisa kupungkiri kehebatan Mbak Aiza dalam mengatur bisnisnya. Ia juga memiliki banyak relasi untuk mengembangkan klinik kecantikannya. Aku hanya bisa mengangguk takjub selama Mbak Aiza mengajakku dan mengenalkanku pada setiap ruangan, bahkan memberitahuku beberapa hal mengenai klinik ini.

Pak sopir sudah menjemput kami. Aku kira kami akan langsung pulang, ternyata Mbak Aiza ingin membawaku ke suatu tempat. Aku bertanya, tempat apa yang membuat Mbak Aiza seantusias itu untuk ditunjukkan padaku? Apakah bisnis baru dari Mbak Aiza? Itu yang ada di pikiranku sebab yang kutahu, Mbak Aiza memiliki banyak bisnis selain kliniknya. Karena tak kunjung Mbak Aiza menjawabnya, aku berhenti menerka-nerkka sampai kami berada di depan rumah berwarna-warni.

Kami turun dari mobil, dan segerombolan anak-anak menyerang kami. Eh, tidak. Mereka sedang berebut untuk mendapatkan peluk Mbak Aiza. Aku terdiam menatap betapa dekatnya anak-anak ini dengan Mbak Aiza. Mereka menggemaskan, seperti seorang anak yang bertemu dengan ibunya. Sepertinya Mbak Aiza sering mengunjungi tempat ini, jika kulihat dari antusiasme kerumunan anak-anak itu.

“Mama, kami kangen banget sama Mama,” ujar salah satu anak yang ada di dalam pelukan besar Mbak Aiza.

Mbak Aiza menyudahi pelukannya, tersenyum pada anak laki-laki itu. Tulus sekali senyumnya. “Mama juga kangen banget sama kalian.” Tangan lentiknya menyentuh pipi satu hingga tiga anak yang ada di depannya.

“Oh iya, Mama bawa sesuatu buat kalian semua. Tapi sebelumnya kalian harus masuk dulu, berbaris yang rapi kayak biasanya. Sesuatunya sudah ada di dalam, dibawa sama Bu Hamida.” Mendengar perkataan dari Mbak Aiza, mereka bersorak kegirangan kemudian mematuhi Mbak Aiza untuk masuk ke dalam.

“Bu Aiza, mari masuk…” Seorang wanita menyambut dengan hangat, mempersilakan, mengiringi kami untuk memasuki rumah berwarna ini.

Aku mengikuti langkahnya, menyusuri setiap sudut dari halaman rumah warna-warni ini dengan mataku.

Dan beberapa detik saja, mataku tertuju pada sebuah ukiran bangunan yang bertuliskan Panti Asuhan Asih. Sungguh, hatiku sedikit pilu membacanya. Aku terlalu fokus pada kegembiraan anak-anak itu kala menemui Mbak Aiza, sampai tidak menyadari jika mereka adalah anak-anak hebat yang dititipkan di sini.

“Mbak,” aku tersentak kala mendapati sentuhan di pahaku. “Kenapa berhenti di sini? Mari masuk ke dalam.” Wanita yang tadi menunjukkan senyum hangatnya padaku.

“Ah, iya.” Aku mengangguk mengikuti langkahnya yang membarengiku memasuki panti asuhan ini, di mana di dalam sana sudah ada Mbak Aiza bersama anak-anak yang selalu terlihat menggemaskan. “Mbak Aiza sering ke sini, Bu? Anak-anak terlihat sangat dekat dengan Mbak Aiza.”

“Iya, setiap minggu Bu Aiza tidak pernah absen untuk datang ke sini. Bu Aiza dan juga Pak Risam sangat menyayangi anak kecil. Karena itu, mungkin, mereka membangun Panti Asih ini.”

“Panti asuhan ini milik Mbak Aiza?”

Wanita itu mengangguk sambil menunjukkan senyum lebarnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status