LOGIN“Nduk… bangun.” Setelah beberapa sentakan halus dari ibu aku terbangun. Dengan sedikit kesadaran aku bertanya pada ibu jam berapa sekarang, ibu menunjukkanku di mana letak jam dinding, dan betapa terkejutnya aku bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam lima belas. Kuucap istigfar berkali-kali sambil memasuki kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Beberapa kali kudengar ibu mendumel sebab aku yang tak kunjung bangun padahal sudah dibangunkan beberapa kali. Entahlah, aku merasa sangat lelah kala di pesantren, dan niatku untuk merebahkan badan sebentar kala berada di kamar malam ketiduran hingga tak sadar jika adzan magrib sudah berkumandang. Dengan segera kulaksanakan shalat magrib, membaca Al-Qur’an, dan tak butuh waktu lama adzan isya berkumandang. Kulaksanakan shalat isya berjamaah dengan ibu.
Doaku mungkin cukup lama, tanpa kusadari ibu yang masih menggunakan mukena tengah duduk menghadapku, memperhatikan bagaimana anaknya memohon dalam kediaman. Seolah-olah tanpa kuceritakan segala hal ibu sudah mengerti. Bagaimana kerisauan hatiku, dan bagaimana gundah gulana yang sedang anaknya rasakan. Ibu paham dan ibu merasakannya. Setelah aku menyelesaikan doaku ibu menggenggam tanganku, menyulam senyum lebarnya, kemudian mencium tanganku yang didekapnya.
“Serahkan semua pada Allah, jika kita melibatkan Allah maka semua akan baik-baik saja, Nduk.”
Aku cukup bersyukur memiliki orang-orang baik dalam hidupku. Ibu memang kurang ikut ambil peran dalam Azahra kecil, tapi bersama ibu, dan doa dari ibu membuat Azahra dapat sekuat ini.
Kuraih tubuh ibu yang jelas lebih kecil daripada tubuhku, tapi rasanya nyaman berada di pelukannya, mendapat sentuhan hangat, dan belaian halus darinya. Inilah yang kurindukan. Aku menangis dalam kehangatan, kutumpahkan keluh kesah yang tak kubiarkan semua orang tahu akan hal ini. Ibu jelas paham bagaimana anaknya ketakutan dalam mengambil keputusan ini, sebab ibu tahu bagaimana takdir memperlakukan anaknya dalam hal rasa.
Sungguh, aku trauma akan hari-hari itu. Hari yang membuatku trauma berkali-kali, hari yang selalu membuatku enggan untuk melihat dunia baru. Takdir cukup sering membuatku merasa kehilangan. Tepat di mana pertunanganku akan digelar kudapati bapak meninggal. Padahal bapaklah orang yang menginginkan pernikahanku, bapak yang memintaku untuk menikah, dan bapak yang menanti hari kebahagiaanku itu.
Tak hanya itu. Setelah dokter menetapkan jam kematian bapak, tepat beberapa menit setelahnya aku mendapati kabar bahwa rombongan dari mempelai pria mengalami kecelakaan tragis yang memakan banyak korban jiwa. Bahkan Mas Haris, seorang pria yang memintaku dari bapak, seorang pria yang menjanjikanku kehidupan seperti pada dongeng yang bapak ceritakan juga meniadakan janjinya dengan kecelakaan itu. Ia membawa janji-janjinya bersama dengan Tuhan yang mengambil nyawanya.
Peristiwa itu sudah cukup membuatku hancur, cukup membuatku merasakan arti kehilangan, dan cukup membuatku berharap lebih. Akan tetapi takdir berkata lain, ia mendatangkan kembali sosok yang lebih indah, dengan janji yang lebih indah pula, walau tak ada pengharapan dariku tetap saja janji-janji dari seorang anak Kiyai yang berani memintaku pada Umi dan Abah masuk ambil bagian pada alur ceritaku. Kutulis agar aku andil pada semua makhluk yang Tuhan beri bagian.
Tapi kudeklarasikan dengan lantang bahwa aku menyesal telah menulisnya. Anak Kiyai yang justru sosoknya belum kuketahui jelas adanya, meninggal tepat di hari ia membuat janji ta’aruf itu. Penyakit yang ia derita membuat ia harus pergi lebih cepat dari dugaan, dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk dimiliki siapa pun. Aku bahkan mulai meragukan apakah dongeng-dongeng yang bapak ceritakan sebelum tidur itu benar nyata adanya. Kenapa tuan putrinya ini selalu saja gagal dijemput sosok pangeran.
Berkali-kali aku meminta maaf kepada Tuhan sebab sering kali aku marah pada takdir yang kuterima. Kusesali pemikiran kotorku, kuciptakan doa-doa panjang pada Tuhan, barangkali Ia menciptakan takdir yang demikian sebab Ia akan memberikan alur yang lebih indah pada kisahku. Barangkali juga bukan hanya sekedar pangeran yang menjemputku, tapi orang pilihan Tuhan yang jauh lebih baik dari pangeran-pangeran pada dongeng cinta bapak.
“Azahra takut…” ujarku pada sela-sela isakanku.
“Hei…” Ibu melepaskan pelukan, mendekap wajahku yang telah merah dan sembab, “Jangan terus-menerus berprasangka buruk pada Allah, Nduk…” Aku menghentikan isakanku, kemudian kembali menangis dan kian keras tangisanku. Melihat itu ibu langsung saja kembali mendekapku, kembali membawaku pada kehangatan dan kenyamanan yang dapat dengan mudah menghilangkan sesak di dada. “Semua akan baik-baik saja, percaya kepada Allah, berserah kepada Allah, semua akan baik-baik saja.” Ibu bergumam terus-menerus, hingga rasa sedihku diganti dengan rasa kantuk yang tiba-tiba saja meniadakan kesadaranku.
Sungguh, tak bisa berbohong, aku tahu ibu juga risau. Bahkan lebih risau daripada aku. Ibu juga merasa ketakutan, bahkan lebih takut daripada aku. Ibu juga terlihat gundah gulana, bahkan lebih gundah daripada aku. Ibu lebih bisa merasakan apa yang putrinya derita daripada diriku sendiri.
Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la
Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend
Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca
Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik
Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s







