Share

Bab 20 - Lingerie

last update publish date: 2026-03-03 21:28:32

Arseno benar-benar menuruti keinginan Lisa yang tidak ingin sendirian. Ia pun memutuskan untuk tetap tinggal bersama wanita bertubuh mungil itu di penthouse miliknya bersama. Selama di sana, Lisa hanya menghabiskan waktunya untuk menonton drama China sambil memakan biskuit ibu hamil yang dibelikan oleh sekretaris Josh atas perintah Arseno.

Tidak kerasa kalau Lisa sudah menghabiskan sebanyak lima pouch biskuit itu dalam sekejap seraya menonton serial drama China. Tanpa sadar, Arseno yang sudah s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 34. Kebohongan Arseno

    Ting! Sebuah notifikasi di ponsel Arseno muncul. Nama Laura terpapar di sana dengan jelas. “Avi, aku tahu aku salah. Aku minta maaf padamu dan aku janji akan menghilangkan diri untuk tidak lagi mengganggu hidupmu dengan wanita barumu. Tapi… bisakah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya? Kumohon, untuk kali ini janji akan pergi dan melanjutkan hidupku yang baru di Amerika. Tolong temui aku di langham resto sekarang.” Pesan itu. Arseno membacanya sejenak. Hembusan napasnya terdengar memanjang untuk sekilas. “Apa lagi yang dia inginkan?” gumam Arseno berdecak. Di dalam kursi mobilnya, Arseno menancapkan gas mobil itu dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa pikiran Arseno yang sedari awal memikirkan Lisa, tiba-tiba Laura mengganggu pikirannya yang berniat untuk segera kembali ke rumah. Beberapa menit setelahnya, mobil Arseno terparkir di area basement. Sebuah hotel bintang sepuluh begitu megah dan tinggi menjulang itu menjadi sorotan pertama saat Arseno mendatangi tempa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 33 - Firasat Lisa

    Pagi yang cerah untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Arseno terbangun mendahului Lisa. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium kening dan bibir ranum istri kecilnya. Sayangnya, pria itu tampaknya begitu terburu-buru untuk menghadiri rapat pagi ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi sekarang, Lisa terbangun dari tidur panjangnya. “Hoam… hm… sudah pergi ya?” gumam Lisa melihat Arseno yang tak ada di sebelahnya. Kaki panjangnya menapaki lantai beralaskan karpet cokelat itu. Lisa berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Kenop pintu terbuka. Rupanya disana sudah ada Bi Asih dan Bu Santi yang telah menyiapkan sarapan pagi untuknya. “Selamat pagi, Nona muda. Tuan muda sudah berangkat sejak pagi. Tuan menitip pesan agar dibuatkan sarapan sandwich dan susu untuk Nona setelah Nona terbangun nanti. Karena Nona muda sudah bangun, sarapannya akan saya panaskan lebih dulu untuk Nona,” ujar Bi Asih menyapa Lisa dengan hangat. Lisa tersentuh mendengarnya. Betapa bahagia

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 32 - Detak Jantung Bayi

    “Kalau begitu saya pamit, Tuan muda.” Sekretaris Josh berkata demikian setelah mengantar Arseno dan Lisa tiba dengan selamat di penthouse mereka. “Hem.” Hanya suara deheman yang terdengar dari mulutnya. Arseno langsung berjalan menuju kamar utama seraya masih menggendong Lisa ala bridal style dan merebahkan tubuh kecilnya diatas ranjang. Lisa menggeliat ketika tubuhnya menyentuh sprei putih itu. Spontan kedua matanya terbuka secara perlahan. “Engh… kita di mana, sayang?” gumam Lisa masih setengah sadar. Arseno yang masih berdiri mematung sontak ikut duduk mendekatinya. “Di rumah. Kau tertidur pulas sekali tadi. Aku takut membuatmu terkejut, jadi ku biarkan saja kau tertidur sampai sini,” ujar Arseno sembari menyeka anak rambut Lisa yang menutupi wajahnya. “Benarkah? Apa aku tertidur sambil berjalan sampai kesini sayang?” ucap Lisa mengigau. Arseno terkekeh mendengarnya. Detik kemudian pria itu mengecup keningnya tiba-tiba. Cup! “Coba tebak, bagaimana aku bisa memb

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 31 - Wanita Kesayangan Presdir Han

    Mungkin itulah sebabnya mengapa ia bisa dijuluki sebagai raja singa dulu. Karena lebih besar rasa trauma dan kehilangan yang ia terima untuk melupakan seseorang yang benar-benar ia cinta. “Ya, Nenek memang sangat cantik. Tapi sayang sekali beliau harus menikahi orang seperti Kakek.” “Hei, anak nakal. Berani sekali kau meremehkan ku,” sungut Presdir Han sambil menepak bahu Arseno dengan tongkat kayunya. Plak! “Awh, Kakek ini tidak bisa diajak bercanda ya. Digoda sedikit saja sudah marah,” ungkap Arseno menggerutu. “Apanya yang kau maksud bercanda itu, wahai anak muda? Memang kau saja yang nakal karena meledek orang tua.” Arseno berdecih sekilas, dasar orang tua kolot ini,” gumamnya tak terdengar oleh beliau. Tapi… “Apa yang kau umpat barusan, hah? Jangan-jangan kau mengumpat ku dengan sebutan binatang, kan?” kilah Presdir Han tidak terima. Arseno merasa kalau pertemuan mereka saat ini sudah terlalu lama. Ia pun beranjak bangun dari kursi itu. “Nanti saja lagi Kakek mencerama

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 30 - Permainan Catur

    Saat Arseno dan Lisa hendak untuk pergi meninggalkan kediaman rumah utama, tiba-tiba mereka diberhentikan oleh Pak Gem. Sekadar informasi, Pak Gem adalah kepala pelayan di kediaman utama yang sudah bekerja puluhan tahun dan mengabdi pada Presdir Han. “Tuan muda tunggu sebentar,” panggil Pak Gem terlihat berlarian kecil yang datang dari arah dapur menghampiri Arseno maupun Lisa. “Ada apa Pak Gem?” sahut Arseno sungkan. “Anu… Tuan… Presdir Han bilang sebelum Tuan muda pergi meninggalkan kediaman ini, Tuan muda harus ke ruang kerjanya,” tutur Pak Gem. Arseno sontak beralih menatap Lisa. Wanita itu lantas mengangguk mengiyakan. “Aku akan menunggu di mobil,” ucap Lisa seraya mengelus dada bidang Arseno lembut. “Hanya itu saja yang kau berikan?” Arseno mendengus pelan. Wajahnya datar tanpa senyuman. Untungnya Lisa cukup peka sekarang, apa yang sedang Arseno inginkan darinya. Detik kemudian dia pun berjinjit dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Cup! Satu kecupan manis Lisa

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 29 - Pemegang Saham Terbesar T Group

    “Arseno, jelaskan ini pada Kakek.” Presdir Han berkata dengan suara parau. Arseno justru bersedih sebal. Melihat reaksi dari kakeknya yang juga tak begitu menyukai Lisa di perjamuan ini. “Presdir Han, bukankah Anda selalu menepati janji? Kenapa Anda tiba-tiba mengingkari sesuatu yang sudah tertulis dalam kesepakatan kita?” tangkas Arseno dingin. Presdir Han sontak terdiam. Tiba-tiba aura di ruang makan itu langsung berubah dingin dan tegang. Melihat perdebatan di keluarga ini, Lisa lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arseno. Tangannya justru meremas erat gaun dress yang ia kenakan pada tubuhnya. Laura yang melihat reaksi Lisa begitu gugup dan lesu karena tidak mendapatkan penerimaan di keluarga T Group terlihat terkekeh puas. Wanita itu bahkan meneguk minuman yang ada didepannya dengan santai. Greppp!! Tapi tiba-tiba Arseno meraih pergelangan tangan Lisa lagi. Genggaman tangannya kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kau… baiklah. Perjuanganmu membangun

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 24 - Pertemuan Tak Terduga

    “Tunggu apalagi, ayo beli semua barang yang kau suka!” seru Arseno sembari menarik lengan Lisa memasuki toko barang mewah itu. “Eh… t-tunggu,” kilah Lisa gelagapan. Tapi Arseno tak mengindahkan suaranya, pria itu justru langsung membawanya bertemu dengan sales di toko itu.“Selamat datang, Tuan Ar

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 23 - Hadiah Pertama untuk Istri Kecil

    Bab 23 - Maafkan Aku Lisa Arseno tergelak ketika mendapati Lisa menangis sedu karena gertakan nya yang tanpa sengaja membuatnya takut. Spontan pria berdarah dingin itu pun menarik tubuh kecil Lisa ke dalam dekapannya. Tapi kelinci kecil itu justru semakin terenyuh dan terisak dengan tubuh yang gem

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 22 - Pesan Group Kantor

    Selama di perjalanan menuju kembali ke penthouse, Lisa justru asyik menikmati rujak buah miliknya. Arseno yang melihatnya sesekali melalui kaca spion tampak tenang. Senyum tipisnya mengukir pada bibir ranumnya. “Bagaimana rasanya?” tanya Arseno. “Rasanya nano nano.” Arseno mengerutkan kening

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 21 - Ngidam Part 1

    “S-sayang… t-tiba-tiba aku ingin makan rujak buah,” ujar Lisa seraya mengalihkan pandangannya. “Rujak buah? Apa itu rujak buah?” Arseno mengernyit tak paham.“Ah, aku lupa kalau dia orang kaya. Mana mungkin dia tahu jajanan pinggir jalan begitu ya,” gumam Lisa dalam hati terkekeh.“Apa yang kau pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status