Share

SERIBU WAJAH MANTAN ISTRIKU
SERIBU WAJAH MANTAN ISTRIKU
Penulis: Sei_30

Bagian 1

Ruangan itu bernuansa putih. Kursi kayu berkaki ramping sekitar dua puluh lima buah masing-masing diletakkan di sisi kanan dan kiri. Tanaman bunga hias yang dibuat dari rangkaian bunga mawar putih. Tersemat pada ujung kursi di kedua sisi membentuk pagar mini menuju altar. Langit-langit di tengah ruangan terbuat dari kaca dengan hiasan tanaman gantung. Aroma wewangian dari campuran melati dan kayu manis memenuhi ruangan. 

Tidak lama satu persatu tamu undangan memasuki ruangan. Duduk memenuhi kursi hingga tidak tersisa. Siap menunggu pemilik acara memasuki ruangan dan menyatakan sumpah sehidup semati. Bising memecah hening, antusiasme para undangan menghadiri pernikahan sekaligus reuni dadakan terlihat.

Seorang pria muda dengan setelan hitam berdasi, maju ke depan. Ia membuka acara dengan perkenalan diri singkat, dilanjutkan kata-kata sambutan. Sebelum akhirnya meminta para tamu undangan untuk berdiri, menyambut kedatangan mempelai pria dan pengantin wanita.

Terdengar suara pintu berdaun dua terbuka. Menarik atensi tamu undangan menuju sepasang sejoli siap memasuki ruangan. Suara langkah kaki terdengar samar. Seorang gadis muda berambut hitam yang diikat tinggi dan membiarkan anak-anak rambut jatuh ditengkuk. Memasuki aula dengan gaun pengantin putih klasik dan sopan. Gaunnya benar-benar ketutup sama lace hingga payet-nya pun sampai menutupi kulit cantiknya. Satu-satunya bagian yang bisa ter-expose hanya punggungnya saja. 

Semua orang berbisik satu sama lain. Setuju bahwa penampilan pengantin wanita bagai putri yang muncul dari buku dongeng. 

Pemuda yang berada di sampingnya juga tidak kalah memukau. Meski umurnya sudah lewat dari dua puluh lima tahun. Wajahnya terlihat muda, seperti anak kuliahan semester tiga. Ia memakai setelan jas berwarna biru dongker mengkilap dengan dasi silver. Rahangnya tegas, mata sehitam jelaga dan sorot mata tajam. Sambil menggandeng tangan calon istrinya, ia melangkah. 

Begitu pengantin tiba di ujung ruangan. Suasana kembali hening dan terasa sakral. Pria dengan setelan hitam yang berdiri di depan pasangan bahagia itu mulai bicara. Detik demi detik, menit demi menit tidak sebanding dengan gemuruh debaran jantung sang gadis. Wajahnya terlihat tegang, gugup, namun penuh suka cita. 

“Saya nyatakan Adzriel Adhva Rafandra dan Embun Kinanti resmi menjadi sepasang suami istri!”

Sorak sorai para tamu undangan terdengar. Air mata kebahagiaan menetes dari tiga wanita paling bahagia hari ini. Embun menerima uluran tangan dari pria yang kini berganti status menjadi suami dengan senyum malu. Mereka berjalan pelan menuju orang tua mempelai pria lebih dulu. Barulah orang tua mempelai wanita. Melakukan acara cium tangan dan berlutut meminta restu. 

Acara dilanjutkan dengan penerimaan ucapan selamat dari tamu undangan kepada pengantin baru dan keluarga. Beberapa kolega bisnis keluarga mempelai pria saling melempar canda. Beberapa saudara jauh dari mempelai wanita sibuk melepas rindu. Dan beberapa teman dekat dari pengantin baru juga membentuk dua kelompok.

“Selamat ya, Embun! Tidak disangka, kamu lebih dulu melepas lajang.” Salah satu teman perempuan memeluk pengantin wanita erat. 

“Aku juga mana tahu, hidup memang penuh kejutan.” Embun tertawa pelan, matanya berbinar indah. Menunjukan betapa bahagianya ia hari ini. “Terima kasih kalian semua sudah mau datang!”

Tiga perempuan ikut tersenyum lebar. Mereka adalah teman dekat semasa sekolah sampai kuliah. Embun bahkan penuh bangga menyebut mereka sebagai sahabatnya.

“Selamat atas pernikahanmu, Adzriel.” Kali ini kolega dari mempelai pria memberi selamat.

“Terima kasih,” jawaban singkat itu mengundang tawa teman-temannya. 

“Cobalah untuk tersenyum dihari bahagia ini. Meski harus menarik otot kaku wajahmu itu!” Teman yang lain menegur sambil bercanda dan menepuk punggung sang pemuda. 

“Hm,” kali ini Adzriel hanya bergumam sebagai jawaban. 

Ketika malam tiba, mereka pindah tempat menuju private dinner di lantai paling atas. Berlokasikan di sentral ibukota, hotel bernuansa elegan ini juga menawarkan plataran indah pada lantai teratas. Tak hanya menampilkan kota Jakarta yang menawan, setiap sudut teras juga memberikan kesan nyaman. Venue ini cocok untuk mengadakan dinner party usai acara utama tadi siang. 

Saat bulan purnama tepat berada di atas kepala. Acara makan malam telah lama usai dan mereka sudah terlelap di kamar hotel masing-masing. Terkecuali sepasang sejoli yang masih berstatus pengantin baru. Di dalam kamar hotel dengan jendela besar menampilan pemandangan city light. Embun duduk berhadapan dengan Adzriel. Ditemani cemilan manis beserta segelas anggur merah.

Ada perbedaan suasana saat ini ketimbang tadi siang. Di tengah-tengah mereka berdua seakan terdapat sekat tidak kasat mata. Memberikan jarak pada Embun dan Adzriel seperti orang asing.

Adzriel menaruh gelas wine, lalu menatap lurus pada Embun. “Sekali lagi saya ingatkan, bahwa saya menikahimu karena terpaksa.”

.

.

.

Continue…

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status