Share

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
Penulis: Sity Mariah

Bab 1. Kabar Mengejutkan

Dering ponsel di atas meja menghentikan gerakan jemariku yang tengah sibuk dengan keyboard laptop. Kuraih ponsel cepat untuk melihat siapa yang memanggil. Ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Kuusap layar ponsel untuk menerima panggilannya. Takut penting.

"Hallo …." Suara seorang lelaki terdengar dari ujung sana setelah panggilannya kuterima.

"Iya hallo?" balasku.

"Benar ini dengan Pak Sadewa, suami dari Ibu Kharisma?"

"Iya benar, saya Dewa. Istri saya memang bernama Kharisma. Ini dengan siapa?" Jantungku mulai tak karuan. Takut terjadi sesuatu pada Kharisma, istriku.

"Kami dari Petugas Kepolisian puncak Bogor. Ingin mengabarkan, kalau Ibu Kharisma ditemukan tidak bernyawa di penginapan mewah yang ada di puncak. Kami meminta Anda segera kemari, untuk mempercepat proses penyelidikan kematian istri Anda!"

Seketika tubuhku membeku. Kharisma tewas? Di penginapan mewah daerah puncak? Kharisma memang pergi ke luar kota sejak tiga hari lalu, tapi ke Jakarta, bukan Bogor.

"Bapak jangan bercanda! Bapak salah orang kali!" sangkalku pada lelaki di ujung sana yang mengaku sebagai petugas kepolisian.

"Istri Anda, Kharisma Dwi Felani bukan?"

Deg!

Namanya memang sama dengan nama istriku. Tapi aku tidak percaya dengan kabar yang tiba-tiba ini. Aku menggaruk pelipis.

"Be-be-tul, Pak! Namanya sama dengan nama istri saya!" Terbata aku menjawab.

"Kalau begitu tolong Anda segera kemari! Kami segera share-loc."

"I-i-ya, Pak!"

Klik.

Panggilan diakhiri. Aku menarik nafas panjang. Kututup laptop dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Lekas aku beranjak dan keluar dari ruangan pribadiku. Aku melangkah lebar-lebar. Meninggalkan bangunan caffe yang sudah lama aku kelola.

Kulajukan mobil Fortuner hitam membelah jalanan Kota Bandung yang mulai padat di jam sembilan pagi ini. Pikiranku berkecamuk. Berharap kalau berita yang barusan aku terima ini salah. Berharap itu bukan Kharisma Dwi Felani, istriku.

Meski Petugas Kepolisian tadi mengatakan dengan benar namaku, Sadewa. Aku masih berharap itu bukan Kharisma-ku.

Bisa saja 'kan itu Kharisma istri dari Sadewa yang lain? Ah, tapi apa bisa? Jelas tadi Petugas Kepolisian itu menghubungi nomorku yang sudah pasti ada di ponselnya Kharisma. Mau menyangkal apa lagi?

Ah, entah. Aku pun bingung dengan semua ini.

***

Setelah tiga jam lebih perjalanan Bandung-Bogor. Aku menepikan mobilku di halaman luas sebuah penginapan mewah di daerah puncak. Sesuai share location. Kamar penemuan yang diduga itu Kharisma ada di lantai dua. Kamar nomor 10.

Sebelum turun dari mobil. Aku memakai dulu jaket. Memasang topi lalu masker. Serta kacamata hitam. Setelah siap, aku pun bergegas turun. Penginapan yang kudatangi ini memang termasuk penginapan yang mewah dan terkesan elegan. Aku melangkah pelan. Memperhatikan keadaan di penginapan dari terasnya.

Orang-orang yang ada di dalam sana saling berbisik. Aku lantas masuk. Terdengar dari mereka membicarakan kondisi perempuan yang ditemukan tewas di kamar penginapan ini.

"Ceweknya cantik, Bro! Tadi pagi, pas pintunya berhasil didobrak. Rame-rame kita masuk. Ternyata dua-duanya OD! Yang paling bikin shock, tubuh mereka polos. Cuma pake selimut!" Aku mencuri dengar obrolan seorang pria dengan tiga pria lainnya.

Apa katanya? OD? Tubuh polos? Astaga. Aku yakin itu bukan Kharisma istriku. Aku kembali melangkah untuk segera bisa memastikan, siapa sebenarnya perempuan yang tewas itu?

Aku setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Sampai di tangga terakhir, mataku menangkap garis polisi di seberang sana. Dengan sebagian orang yang masih berkerumun.

Aku melangkah cepat menuju kamar yang dipasang garis polisi itu. Meminta jalan pada orang-orang yang berada di dekat kamar agar bisa masuk. Di ambang pintu, aku melihatnya.

Aku melepas kacamata hitamku. Dua orang berseragam polisi. Satu orang perempuan berdiri di dekat jendela kamar. Bersandar pada dinding sambil menatap keluar jendela. Serta ada dua orang pria lain yang tidak kuketahui.

Sementara di atas kasur beralaskan sprai tosca polos. Aku melihat seperti jasad yang ditutupi dengan selimut berwarna senada.

Aku melangkah pelan, masuk ke dalam kamar lalu melepas masker.

"Permisi, saya Sadewa!" Aku memperkenalkan diri setelah berada dalam ruangan kamar.

Seorang pria berseragam polisi dengan nama yang bertuliskan Hamdan, menghampiriku.

"Selamat siang, Pak Sadewa! Saya Hamdan yang tadi menghubungi Anda," sapanya memperkenalkan diri.

Aku hanya mampu membalasnya dengan anggukan kepala. Langkahku semakin mendekat menuju tempat tidur yang ada di dalam kamar ini.

Hingga kini, aku berada di ujung tempat tidur. Semakin dekat semakin jelas, bahwa jasad di atas tempat tidur ini memang ….berdua?

"Pak Sadewa, saya akan membuka selimut penutupnya. Silahkan Anda perhatikan dengan baik, apa betul ini Kharisma Dwi Felani istri Anda ataukah bukan?" jelas Pak Hamdan.

"Baik … Pak!" jawabku lemah.

Pak Hamdan berjalan menuju sisi tempat tidur. Lalu dengan pelan membuka selimut berwarna tosca itu.

Aku melongo. Susah payah aku menelan saliva. Jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Sekujur tubuh membeku di tempatnya. Paras cantik dengan mata yang tertutup rapat dan kain yang diikatkan di wajahnya itu benar istriku.

Tubuhku limbung. Beruntung ada yang menahan dari belakang. Kepala rasanya jadi berkunang-kunang.

Itu benar Kharisma-ku. Kharisma yang izin pergi ke Jakarta tiga hari lalu untuk urusan kantornya. Kenapa justru ada di penginapan mewah ini? Ini Bogor bukan Jakarta. Apa Kharisma sudah membohongiku?

"Pak Sadewa, benar ini Kharisma istri Anda?" Suara Pak Hamdan menyadarkanku yang tengah bergelut sendiri dengan segala pertanyaan di kepala.

Aku hanya mampu mengangguk lemah. Tenggorokanku rasanya tercekat. Sehingga sulit untuk membuka mulut.

Pak Hamdan hendak menutup kembali selimutnya. Namun, aku menghentikannya.

"Se-se-bentar, Pak! Si-si-apa yang ada di—samping istri saya?" Aku bertanya dengan terbata. Aku masih sangat shock.

"Anda ingin melihatnya juga?" tanya Pak Hamdan.

Aku mengangguk. "Tentu, Pak!"

Pak Hamdan membiarkan wajah Kharisma terlihat. Lalu meraih ujung selimut yang menutupi sosok di sebelah Kharisma yang tengah terbujur kaku.

Tangan Pak Hamdan kemudian membukanya. Sehingga aku dapat melihatnya kini.

Jlebbb!

Aku menatap tak percaya. Bagaimana bisa ini terjadi? Dia? Sosok yang kini sama terbujur kaku seperti Kharisma.

Aku begitu mengenalinya.

Dia sahabatku dan Kharisma. Lebih tepatnya kita bertiga bersahabat.

"Guntur?" Seketika bibirku berucap.

Mengucapkan nama sosok lelaki yang terbujur kaku itu.

"Apa Anda juga mengenalnya?" Pak Hamdan kembali bertanya.

Aku cuma bisa mengangguk.

"Kalau begitu, kami akan membawa jenazah istri Anda ke rumah sakit kepolisian, untuk diperiksa terkait kondisinya saat tadi ditemukan. Dugaan sementara istri Anda tewas akibat overdosis," jelas Pak Hamdan.

"Emm … silahkan, Pak!" balasku pasrah. Tungkaiku sudah lemas akibat lutut yang gemetar. Aku mundur seketika hingga terduduk pada sofa yang ada di kamar ini.

Aliran oksigen di otak rasanya menipis. Membuat pikiran buntu. Tak dapat berpikir lagi. Menerka pun sia-sia. Hanya akan menambah sesak dalam dada.

Kharisma istriku ditemukan tewas di kamar ini bersama Guntur? Dan diduga karena overdosis? Astaga. Kenyataan macam apa ini?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status