MasukSuasana kamar sederhana itu berubah jauh lebih sunyi setelah lampu dimatikan perlahan, sementara suara jangkrik malam dari luar jendela terdengar samar bercampur hembusan angin desa yang masih membawa aroma tanah basah sehabis hujan. Di luar rumah, beberapa lampu hajatan yang belum dilepas masih menggantung redup, menandakan bahwa pesta pernikahan sederhana mereka baru saja berakhir beberapa jam lalu.Namun bagi Indra…malam ini terasa jauh lebih asing dibanding medan perang mana pun yang pernah ia lalui.Pria itu duduk diam di sisi ranjang sambil memandangi Ayu yang masih menundukkan wajah dengan pipi memerah, sementara jemari gadis desa itu terus memainkan ujung selimut karena gugup. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada darah ataupun senjata.Dan justru ketenangan seperti inilah yang membuat Indra sedikit kesulitan bernapas.Karena selama hidupnya…ia lebih terbiasa menghadapi kematian dibanding menghadapi seseorang yang menunggunya dengan perasaan tulus sep
Suara hujan yang sejak tadi turun perlahan akhirnya benar-benar mulai reda, menyisakan hawa dingin malam desa yang bercampur aroma tanah basah di sekitar rumah keluarga Ayu. Namun berbeda dengan ketegangan sebelumnya, suasana halaman kini justru berubah sibuk setelah ancaman dari kelompok bersenjata berhasil dipukul mundur oleh pasukan Mahesa sebelum sempat masuk lebih jauh ke pusat desa.Beberapa kendaraan hitam yang tadi datang kini hanya tersisa bangkai terbakar di ujung jalan desa, sementara para tentara berjaga ketat di setiap akses masuk. Warga yang sempat ketakutan perlahan kembali keluar rumah dengan napas lega, meskipun wajah mereka masih menyimpan trauma akibat kekacauan yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.Dan di tengah semua itu...satu kabar justru menyebar lebih cepat dibanding berita penyerangan.Indra dan Ayu jadi menikah besok pagi.“Cepet pasang tendanya!”“Kursi jangan ditaruh dekat got nanti becek!”“Pak RT katanya kambingnya udah siap dipotong!”Suasana desa
Suara hujan yang mengguyur desa perlahan mulai mengecil setelah iring-iringan mobil Fabian menghilang dari jalan utama, namun suasana di halaman rumah keluarga Ayu masih dipenuhi ketegangan yang belum juga mereda. Warga desa yang tadi bersembunyi di dalam rumah kini mulai kembali mengintip dari balik jendela dengan wajah penuh rasa takut sekaligus penasaran, sementara para tentara milik Mahesa tetap berjaga di sekitar area rumah sambil memeriksa setiap sudut desa.Ayu berdiri cemas di dekat Indra setelah melihat darah hitam menetes dari sudut bibir pria itu beberapa saat lalu. Gadis desa tersebut terus memperhatikan wajah Indra dengan napas tidak tenang, karena meskipun pria itu masih berdiri tegak seperti biasa, ia tahu kondisi Indra sebenarnya tidak baik-baik saja.“Lo harus istirahat,” ucap Reno serius sambil menatap Indra penuh tekanan, karena ia sangat jarang melihat pria itu sampai mengeluarkan darah seperti tadi.Namun Indra justru menghapus darah di bibirnya menggunakan punggu
Hujan deras terus mengguyur desa kecil itu tanpa ampun setelah pertanyaan Fabian menggema pelan di tengah jalan berlumpur, sementara seluruh suasana mendadak terasa jauh lebih dingin ketika tatapan pria asing tersebut berhenti tepat pada Ayu. Kilatan petir sesekali menyambar langit gelap di atas mereka hingga wajah Fabian terlihat semakin menyeramkan di bawah cahaya putih singkat yang muncul lalu menghilang kembali.Ayu refleks menegang.Karena cara Fabian menatapnya sama sekali bukan seperti manusia normal memandang orang lain.Tatapan itu terasa seperti seseorang sedang menilai barang buruan.Maya yang berdiri di dekat Ayu langsung memegang lengan gadis desa itu erat-erat sambil menelan ludah gugup, sebab meskipun ia tidak benar-benar memahami dunia bawah tanah internasional, instingnya mengatakan pria bernama Fabian Keller tersebut jauh lebih berbahaya dibanding preman atau kriminal biasa.Sementara itu, Indra tetap berdiri tenang di depan Ayu tanpa bergeser sedikit pun.Namun Reno
Hujan langsung turun semakin deras setelah perintah Indra menggema di halaman rumah keluarga Ayu, sementara suara mesin kendaraan dari ujung jalan desa kini terdengar jauh lebih jelas bercampur dentuman petir yang terus menyambar langit gelap di atas perkampungan kecil tersebut. Lampu-lampu rumah warga memantul samar di genangan air yang mulai memenuhi jalan tanah desa, sedangkan suasana di sekitar berubah begitu tegang hingga bahkan suara napas orang-orang terasa berat.Reno refleks bergerak cepat mendekati Ayu setelah mendengar perintah itu, meskipun sorot matanya masih terus mengawasi jalan masuk desa dengan penuh kewaspadaan. “Nona Ayu, kita masuk sekarang,” ucap Reno tegas sambil sedikit merentangkan tangan seperti siap melindungi gadis itu kapan saja jika sesuatu tiba-tiba menyerang.Namun Ayu justru tidak langsung bergerak.Tatapannya tertuju penuh pada punggung Indra yang berdiri sendirian di tengah hujan, sementara mantel hitam pria itu perlahan basah diterpa air hujan yang t
Langit desa mulai berubah semakin gelap ketika awan mendung perlahan menutupi cahaya sore, sementara suasana di halaman rumah keluarga Ayu masih dipenuhi tekanan yang belum juga mereda sejak layar hologram milik Jenderal Mahesa memperlihatkan pergerakan para pemburu internasional. Warga yang tadi hanya penasaran kini mulai benar-benar ketakutan karena mereka sadar bahwa desa kecil yang selama ini damai mendadak menjadi pusat perhatian orang-orang berbahaya dari luar. Bahkan beberapa ibu mulai menarik anak-anak mereka masuk ke rumah masing-masing sambil terus melirik cemas ke arah mobil-mobil hitam militer yang berjajar di pinggir jalan.Ayu berdiri tidak jauh dari Indra sambil terus memperhatikan wajah pria tersebut yang sejak tadi semakin sulit dibaca, karena untuk pertama kalinya ia melihat ketenangan Indra terasa seperti sesuatu yang jauh lebih menyeramkan dibanding kemarahan biasa. Sorot mata pria itu terlihat sangat dingin ketika memandangi titik-titik merah di layar hologram, se






