LOGINSuara hujan yang mengguyur desa perlahan mulai mengecil setelah iring-iringan mobil Fabian menghilang dari jalan utama, namun suasana di halaman rumah keluarga Ayu masih dipenuhi ketegangan yang belum juga mereda. Warga desa yang tadi bersembunyi di dalam rumah kini mulai kembali mengintip dari balik jendela dengan wajah penuh rasa takut sekaligus penasaran, sementara para tentara milik Mahesa tetap berjaga di sekitar area rumah sambil memeriksa setiap sudut desa.Ayu berdiri cemas di dekat Indra setelah melihat darah hitam menetes dari sudut bibir pria itu beberapa saat lalu. Gadis desa tersebut terus memperhatikan wajah Indra dengan napas tidak tenang, karena meskipun pria itu masih berdiri tegak seperti biasa, ia tahu kondisi Indra sebenarnya tidak baik-baik saja.“Lo harus istirahat,” ucap Reno serius sambil menatap Indra penuh tekanan, karena ia sangat jarang melihat pria itu sampai mengeluarkan darah seperti tadi.Namun Indra justru menghapus darah di bibirnya menggunakan punggu
Hujan deras terus mengguyur desa kecil itu tanpa ampun setelah pertanyaan Fabian menggema pelan di tengah jalan berlumpur, sementara seluruh suasana mendadak terasa jauh lebih dingin ketika tatapan pria asing tersebut berhenti tepat pada Ayu. Kilatan petir sesekali menyambar langit gelap di atas mereka hingga wajah Fabian terlihat semakin menyeramkan di bawah cahaya putih singkat yang muncul lalu menghilang kembali.Ayu refleks menegang.Karena cara Fabian menatapnya sama sekali bukan seperti manusia normal memandang orang lain.Tatapan itu terasa seperti seseorang sedang menilai barang buruan.Maya yang berdiri di dekat Ayu langsung memegang lengan gadis desa itu erat-erat sambil menelan ludah gugup, sebab meskipun ia tidak benar-benar memahami dunia bawah tanah internasional, instingnya mengatakan pria bernama Fabian Keller tersebut jauh lebih berbahaya dibanding preman atau kriminal biasa.Sementara itu, Indra tetap berdiri tenang di depan Ayu tanpa bergeser sedikit pun.Namun Reno
Hujan langsung turun semakin deras setelah perintah Indra menggema di halaman rumah keluarga Ayu, sementara suara mesin kendaraan dari ujung jalan desa kini terdengar jauh lebih jelas bercampur dentuman petir yang terus menyambar langit gelap di atas perkampungan kecil tersebut. Lampu-lampu rumah warga memantul samar di genangan air yang mulai memenuhi jalan tanah desa, sedangkan suasana di sekitar berubah begitu tegang hingga bahkan suara napas orang-orang terasa berat.Reno refleks bergerak cepat mendekati Ayu setelah mendengar perintah itu, meskipun sorot matanya masih terus mengawasi jalan masuk desa dengan penuh kewaspadaan. “Nona Ayu, kita masuk sekarang,” ucap Reno tegas sambil sedikit merentangkan tangan seperti siap melindungi gadis itu kapan saja jika sesuatu tiba-tiba menyerang.Namun Ayu justru tidak langsung bergerak.Tatapannya tertuju penuh pada punggung Indra yang berdiri sendirian di tengah hujan, sementara mantel hitam pria itu perlahan basah diterpa air hujan yang t
Langit desa mulai berubah semakin gelap ketika awan mendung perlahan menutupi cahaya sore, sementara suasana di halaman rumah keluarga Ayu masih dipenuhi tekanan yang belum juga mereda sejak layar hologram milik Jenderal Mahesa memperlihatkan pergerakan para pemburu internasional. Warga yang tadi hanya penasaran kini mulai benar-benar ketakutan karena mereka sadar bahwa desa kecil yang selama ini damai mendadak menjadi pusat perhatian orang-orang berbahaya dari luar. Bahkan beberapa ibu mulai menarik anak-anak mereka masuk ke rumah masing-masing sambil terus melirik cemas ke arah mobil-mobil hitam militer yang berjajar di pinggir jalan.Ayu berdiri tidak jauh dari Indra sambil terus memperhatikan wajah pria tersebut yang sejak tadi semakin sulit dibaca, karena untuk pertama kalinya ia melihat ketenangan Indra terasa seperti sesuatu yang jauh lebih menyeramkan dibanding kemarahan biasa. Sorot mata pria itu terlihat sangat dingin ketika memandangi titik-titik merah di layar hologram, se
Suasana halaman rumah keluarga Ayu berubah semakin menekan setelah laporan dari pengawal militer tadi terdengar jelas di telinga semua orang, sementara angin sore yang berembus melewati pepohonan desa terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Warga yang sejak tadi hanya bingung kini mulai merasakan ketakutan aneh yang perlahan menyusup ke dalam dada mereka, terutama ketika melihat perubahan ekspresi para tentara bersenjata yang berdiri di sekitar mobil hitam tersebut. Bahkan kepala desa yang sudah puluhan tahun hidup tenang di tempat kecil itu mulai sadar bahwa masalah yang datang bersama Indra jauh lebih besar dibanding sekadar urusan kriminal biasa.Reno perlahan mengembuskan napas berat sambil menatap simbol pada mantel hitam di dalam peti besi tersebut, karena ia tahu hanya ada satu kemungkinan jika tanda Erebos kembali muncul di markas Black Vulture. Organisasi pembunuh internasional itu bukan kelompok kecil yang bisa dihancurkan sembarang orang, sebab bahkan pasukan elite b
KLIK.Suara peti besi yang terbuka itu terdengar pelan.Namun entah kenapa…gema kecilnya terasa jauh lebih berat dibanding dentuman senjata tadi pagi.Angin sore berembus melewati halaman rumah Ayu.Debu tipis beterbangan.Sedangkan seluruh warga desa kini hanya bisa berdiri mematung menatap isi peti hitam tersebut.Sebuah mantel panjang berwarna hitam pekat terbentang rapi di dalamnya.Di bagian dadanya…terdapat simbol emas retak menyerupai sayap patah.Simbol yang tampak asing bagi warga desa.Namun tidak bagi Reno.Tidak bagi Jenderal Mahesa.Dan terutama…tidak bagi orang-orang yang pernah hidup di dunia perang.Maya menelan ludah pelan.“Itu… apaan?” bisiknya lirih.Reno tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada mantel tersebut dengan wajah tegang.Karena benda itu bukan sekadar pakaian biasa.Mantel itu adalah simbol.Lambang kematian.Lambang monster perang yang membuat banyak organisasi dunia bawah memilih menyerah sebelum bertarung.Sedangkan di sisi lain…Dama







