LOGIN
Wirya menghela napas panjang. Lia lolos dan keluar dari ruangan begitu saja.
Karena pernyataan Lia yang menyalahkan Andra sebagai penyebab Lia melakukan tindakan melanggar hukum terhadap Aruna di masa lalu, Wirya terpaksa memanggil Andra untuk menghadap ke ruangannya pada jam berikutnya. “Nyonya Rani, Tuan Besar meminta saya untuk memanggil Tuan Muda agar menghadap. Beliau ditunggu di ruangan kerja sekarang!” Saat pelayan datang memanggil Andra, Rani juga ada di sana. Dia memicingkan matanya melihat Lia masuk ke dalam dengan senyuman liciknya. Andra, yang sejak tadi duduk dengan santai, kaget mendengar pelayan memanggil namanya. Minggu-minggu sebelumnya, pelayan itu memanggilnya untuk menghadap karena kakeknya bertanya kapan ia akan memberinya cucu. “Kapan ular itu pergi dari kediaman kita? Aku semakin kesal melihat tingkahnya! Dia tidak hanya menolak tidur dengan Andra tapi malah membawa Andra ke dalam masalah! Lihat sekarang Papa memanggil Andra! Untuk apa lagi kalau bukan karena hasutan wanita licik itu!” ujar Rani pada Didit. Tania, adik Andra, segera menyela keluhan ibunya, “Mama, Mama mengizinkan Andra menikahi Nona Aruna? Sejak kapan Kakek mengizinkan cucunya memilih jodoh sendiri? Kakek hanya akan mengizinkannya jika keduanya setara, dan Mama tahu status Nona Aruna di keluarga ini masih dirahasiakan. Jika mereka terlanjur menikah, hanya anak dari Nona Aruna yang masuk dalam Keluarga Adiwangsa. Nona Aruna sendiri akan tetap dirahasiakan seumur hidupnya.” Rani mendengarkan perkataan Tania. Semua itu memang benar. Aruna waktu itu juga sudah tidak memiliki harapan apa pun, apalagi ia menduga ada anggota keluarga ini yang mencoba membunuhnya. “Mama tidak perlu bersedih. Nona Aruna bukan wanita biasa, dia pasti bisa menghadapi semua ini. Dia adalah wanita yang baik dan pemberani, tidak takut mati,” tambah Tania. Rani menganggukkan kepalanya, merasa terharu. Andra mendengar semua dukungan itu. Hal itu membuatnya wajahnya bersemu merah. Dalam hati dia sangat bersyukur mempunyai keluarga yang baik dan tidak merendahkan Aruna sama sekali. Dia segera pergi untuk menghadap Wirya. Di dalam ruangan Wirya, Andra melihat kakeknya sedang duduk di kursi, menunggunya. “Hem, duduklah, ke sini!” perintah Wirya, menepuk kursi di sampingnya. Andra berjalan mendekat kemudian duduk. Wirya menepuk bahu Andra. “Terkadang aku banyak menyesal dengan keputusanku. Aku pikir setelah kamu menikah dengan putri Keluarga Mahardika, kalian akan bisa punya anak dan bahagia. Aku memanggilmu datang bukan untuk menyalahkanmu. Aku tahu kamu memiliki hati yang hangat dan tulus. Hanya saja istrimu itu sangat pandai berbohong dan mencari alasan.” Andra sejak datang ke ruangan Wirya sama sekali belum membuka kata sedikit pun, tetapi Wirya sudah berbicara panjang lebar. “Kakek, jadi apakah boleh aku menceraikannya?” Tanyanya ragu-ragu. “Tunggulah sebentar lagi. Kalian belum lama menikah. Jika kamu tidak memiliki alasan bercerai dengannya, apa menurutmu Keluarga Mahardika akan membiarkanmu menceraikan putri mereka? Aku hanya tidak ingin kamu tertimpa masalah besar, Andra.” Andra merasa lelah dengan pernikahan ini. Kakeknya terus menginginkan cucu, sementara Lia selalu memandangnya dengan jijik. “Kek, bagaimana dengan Nona Aruna? Apakah Kakek sudah bertemu dengannya?” Wirya menghela napas panjang, “Kamu masih memiliki perasaan padanya? Jika benar, sebaiknya kamu lupakan saja dia. Aruna sekarang terlibat dengan Satria, bahkan Bayu sendiri tidak memiliki wewenang untuk merebutnya. Ini semua salahku! Jika waktu itu aku setuju Bayu memilihnya sebagai istrinya, mungkin gadis itu tidak perlu lagi kabur dari kediamannya.” Gumamnya dengan perasaan sedih. Andra merasa iba melihat kakeknya bersedih. “Kek, ini bukan salah Kakek, Nona Aruna memiliki keputusan sendiri. Masalah dia pergi dari kediaman itu bukan salah Kakek, tapi Lia yang berulah mencoba meracuninya! Aku mendengarnya saat Kakak Sepupu Bayu membahas masalah ini bulan lalu, sebelum dia memutuskan pergi ke kota Cepius. Bayu menyelidiki siapa yang mencoba menyakiti Nona Aruna di rumah sakit sebelum dia kabur. Bayu bilang Nona Aruna berpikir ini perbuatan Keluarga Adiwangsa karena merasa ia tidak cocok menjadi menantu.” Wirya terdiam, wajahnya pias. Nama ‘Lia’ yang baru saja ia dengar, adalah nama menantunya saat ini. Menantu yang baru saja menyalahkan Andra, Lia adalah alasan utama dari semua kekacauan yang menimpa Keluarga Adiwangsa.“Kita akan periksa ke dokter kandungan. Kamu belum datang bulan, mungkin saja kamu hamil. Jika benar, aku akan lebih berhati-hati lagi melakukannya,” ucap Bayu dengan lembut pada Aruna. Aruna mengangguk setuju. Ia segera mandi, dan setelah selesai, Bayu langsung membawanya ke dokter untuk pemeriksaan. Di rumah sakit, Bayu setia menemaninya masuk ke ruang periksa. Meski Aruna sudah terlambat datang bulan beberapa minggu, dokter menyatakan belum ada tanda-tanda kehamilan yang pasti walaupun sudah dilakukan tes. “Aku akan melakukannya lebih keras! Aruna, hari ini aku tidak akan ke kantor. Kita akan menghabiskan waktu di villa,” ujar Bayu penuh ambisi. Aruna meremas ujung roknya. Tubuhnya terasa sangat lelah, bahkan ia hampir tidak sanggup berjalan. “Malam saja, ya? Aku lelah, aku sungguh lelah, oke?” bujuknya. “Aruna, lusa kamu sudah harus pergi ke kediaman pria itu!” keluh Bayu. “Bayu, aku sungguh lelah. Aku janji nanti malam kamu bisa melakukannya beberapa kali. Aku akan membiarka
“Aruna, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bayu.Aruna menggelengkan kepalanya.“Bagaimana kondisimu belakangan ini?” Tanyanya.“Aku baik-baik saja, hanya kakek yang selalu mendesakku untuk cepat-cepat membuatmu hamil, dia tidak sabar ingin cucu darimu,” jawabnya.Aruna mengingat masalah itu, tujuan Bayu mengikat kontrak memang untuk pendapatkan keturunan. Aruna sangat lelah, tapi kerja sama yang sudah disepakati tidak mungkin dia lupakan begitu saja.Aruna melepaskan seluruh bajunya lalu rebah di meja. Dia membuka kedua pahanya sambil berkata pada Bayu.Bayu sangat merindukannya. Dia melihat tubuh Aruna yang sangat dia inginkan; sudah tidak sabar ingin menjamahnya. Bayu mendekatinya, dia juga melepaskan piyamanya. Pertama-tama dia menyentuh sisi intim Aruna sambil mengelusnya dengan lembut.“Aruna, aku sangat merindukanmu….Hmh,”“Bayu, kamu tahu sebenarnya aku muak dengan semua ini? Keluargamu menganggapku seperti sebuah mesin yang tidak punya hati. Lakukan sekarang, jangan menundanya,” bisi
Keesokan paginya Aruna merasa tulang belulangnya hancur. Baru beberapa hari tinggal dengan Satria, Aruna hanya diberi waktu untuk melayaninya.Pelayan masuk ke dalam kamar untuk mengantarkan sarapan. Melihat kamar Satria berantakan lagi, mereka tidak terkejut. Semua orang di kediaman itu tahu Aruna sangat dicintai oleh Satria, dan hampir setiap kali mereka mendengar suara desahan serta pekikan di balik pintu kamar tersebut.“Nona Runa, ini sarapan Anda,”Aruna bangun sambil menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut, lalu mengangguk dengan lemah.“Ya terimakasih, taruh saja di meja,”Pelayan menaruh nampan di meja. Aruna melihat segelas susu hangat, dia mengambil gelas itu dan meminumnya. Seketika energinya kembali terisi dan tubuhnya tidak terlalu lemah lagi.Aruna teringat dengan momennya dengan pria itu dan dia merasa tidak nyaman. Wajahnya masam dan berkeringat. Tadinya dia ingin menyuap makanan, tapi dia berhenti dan meletakkan kembali sendoknya.Pelayan pikir ada yang sala
Saat berjalan di koridor, Satria sedang berbicara dengan tamunya seketika melihat bayangan Aruna. Pikir Satria, Aruna kabur lagi, Satria berdiri lalu mengikutinya. Sementara itu, Elara juga mengikuti Aruna, langkahnya langsung terhenti lantaran melihat Satria menyusul Aruna di kediaman Dion. Dari kejauhan Elara melihat Satria memeluk Aruna dari belakang, dan menciuminya dengan rakus. Pemandangan di gelap kolidor itu membuat Elara menangis. Elara memalingkan wajah lalu pergi. Aruna di setubuhi lagi di koridor. Gaunnya diangkat, CD-nya dirobek lalu didorong sambil dipeluk dari belakang. Aruna meremas tiang koridor sambil menungging. Buah dadanya diremas dari belakang. “Aah, aahh, Satria, lepaskan aku, ssh, aah, kamu sudah gila, oukh!” “Aruna sayang, ssh, aku selalu menginginkan tubuh ini, ouh, oh, oh, lubangmu lembut dan nikmat, sayang! Aku ingin terus siang dan malam, aahh, aah, ah.” “Satria, mmhh, oooukh, sshh, aaakh!” Cairan Aruna makin banyak dan membuat Satria makin ge
Di pintu Raka melihat pelayan sedang menemani bayi di kereta. Raka tidak sengaja melihat wajah anak itu. “Bayu kecil?” Gumamnya lalu buru-buru menutup mulutnya kembali. “Ti-tidak mungkin bukan? Apa Aruna sudah menipu semua orang? Bayi itu sangat mirip dengan Bayu Adiwangsa!” Raka masuk ke mobilnya, dan berusaha melupakan wajah bayi itu. Tidak lama setelah Raka pergi, Satria keluar dan melihat Dion. Elara juga berdiri disana sambil melipat tangannya. “Kenapa tidak menikah dengan wanita lain saja? Aruna tidak akan memiliki keturunan jika kalian menikah!” Tanyannya. Satria sangat marah mendegarnya. “Elara! Sejak kapan kamu berani ikut campur urusan pribadiku?! Siapapun wanita yang aku pilih itu sama sekali bukan urusanmu!” Tegasnya. *** Disisi lain, Raka langsung menuju kediaman Bayu dan langsung mengajaknya berunding. “Apa Kamu sudah bertemu dengan Aruna? Apa katanya?” Tanya Bayu dengan wajah tidak sabar. Raka menghela nafas lalu menjelaskannya. “Maaf, aku tidak bisa
Tubuh Aruna sudah di bawa ke kediaman Satria, Aruna sadar dia merasa dingin karena tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, di bawahnya dia merasakan tekanan cepat dari seseorang yang dia kenal. “Okh, ouh, ouh Satria, ouh!” “Aruna, aku sudah bilang kamu adalah milikku!” Aruna sudah tidak tahan lalu mengangkat bokongnya ke atas. “Aaaahhh, aaahhh, aaahhh!” Cairannya langsung keluar membasahi seprei. Satria menatap penuh kepuasan lalu melumat bibirnya. “Aruna, kamu harus setuju untuk bersamaku!”Bisik Satria di telinga Aruna. Aruna menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, mengertilah dengan keputusanku,” Aruna menatap dengan wajah memohon. Satria melumat kembali bibirnya dan buah dadanya, Aruna sudah terbiasa di perlakukan dengan liar oleh mafia itu jadi dia juga tidak melawan. “Ah, ah, ah, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi Aruna, ah, akh!” Desahnya sambil terus mengayun bokongnya. Aruna menatap bayangan ya di cermin, Satria terus mendorong dengan sangat cepat. “Oooouh