Share

4. Berkencan

Penulis: BandaNeira
last update Tanggal publikasi: 2026-09-21 11:42:22

Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.

“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.

Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.

Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.

Ding!

Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.

Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.

[SISTEM LUNA]

[MISI BARU TERSEDIA!]

Dimas mengernyitkan kening.

“Jangan bilang misi mesum lagi.”

Layar itu berubah.

[Misi Peningkatan Skill Montir]

[Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.]

[Persyaratan misi:]

[1. Sambut customer baru.]

[2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.]

[3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.]

Dimas mengangguk puas. “Nah, ini baru misi yang masuk akal.”

Namun, sebelum ia sempat tersenyum lebih lama, tulisan berikutnya muncul.

[4. Ajak customer tersebut berkencan.]

Dimas terdiam.

“Hah?” Ia mengedipkan mata beberapa kali.

Tulisan itu masih ada, Dimas mendekatkan wajahnya ke layar hologram.

“Bentar...”

Ia membaca sekali lagi. “AJAK CUSTOMER BERKENCAN?”

Ding!

[Benar.]

“Kenapa peningkatan skill montir malah nyambung ke kencan?!”

Ding!

[Karena Host membutuhkan pengalaman komunikasi dengan customer.]

“Komunikasi apaan? Kenapa harus kencan?!”

Ding!

[Tambahan pengalaman diperlukan untuk meningkatkan kemampuan sosial Host.]

Dimas memijat pelipisnya. “Gue datang ke sini buat PKL, bukan jadi playboy!”

Namun sistem tidak menjawab, sebagai gantinya, muncul tulisan baru.

[Hadiah Misi:]

[+20 Poin Sistem]

[+10 Poin Skill Montir]

[Skill Pasif: Diagnosis Cepat Lv.1]

[Bonus: Rp500.000]

Dimas langsung terdiam. “...Lima ratus ribu?” Matanya berbinar. “Tunggu dulu.”

Ia menelan ludah. “Kalau berhasil, gue dapat skill baru?”

Ding!

[Benar.]

Dimas mengepalkan tangannya. “Baiklah.”

Ia menarik napas dalam-dalam. “Demi skill montir!”

Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara mesin motor memasuki halaman bengkel.

Brrrmmm!

Sebuah motor matic berwarna putih berhenti tepat di depan bengkel, seorang gadis turun dari atas motor tersebut. Usianya terlihat masih muda, sekitar dua puluh tahunan. Ia mengenakan jaket tipis dan celana jeans, dengan rambut panjang yang diikat sederhana.

Gadis itu membuka helmnya lalu menghampiri Pak Haris. “Pak, motornya tiba-tiba susah dinyalakan. Tadi pagi masih normal.”

Pak Haris yang sedang memeriksa mobil langsung menoleh. “Oh, coba sini saya lihat.”

Dimas yang sedang berdiri tidak jauh dari sana tiba-tiba mendapatkan notifikasi.

Ding!

[Target Misi Ditemukan.]

[Customer: Alya]

[Usia: 21 tahun]

[Status: Customer baru]

[Target misi: Ajak berkencan.]

Dimas langsung membeku. “Serius?”

Matanya melirik ke arah Alya. Gadis itu sedang berbicara dengan Pak Haris sambil sesekali melihat ke arah motornya.

Dimas mengusap wajah. “Jangan bilang gue harus ngajak dia kencan sekarang?”

Ding!

[Benar.]

“Gila.”

Pak Haris kemudian menoleh. “Dim!”

Dimas tersentak. “I-iya, Pak?”

“Coba kamu yang periksa motor Mbak Alya. Kemarin kamu sudah belajar dasar-dasarnya. Anggap saja ini latihan.”

Dimas menatap motornya, kemudian menatap Alya.

Kemudian kembali menatap motornya.

Dalam hati ia hanya bisa menghela napas panjang. “Kenapa rasanya kayak jebakan buat gue?”

Alya tersenyum ramah. “Bisa dibantu, Mas?”

Dimas segera memasang ekspresi profesional. “Bisa, Mbak.”

Ia jongkok di samping motor dan mulai melakukan pemeriksaan. “Keluhannya susah dinyalakan, ya?”

“Iya. Kadang bisa hidup, kadang nggak.”

Dimas memeriksa bagian aki, kemudian sistem starter dan beberapa sambungan kabel.

Ia mencoba menyalakan motor.

Klik... klik...

Mesin tidak menyala.

Dimas mengerutkan kening, biasanya dalam kondisi seperti itu ia harus meminta bantuan senior.

Namun, tiba-tiba layar sistem muncul.

Ding!

[Skill Pasif: Diagnosis Cepat sedang aktif.]

[Analisis kerusakan...]

[35%...]

[72%...]

[100%...]

[Kerusakan terdeteksi.]

Dimas membelalakkan mata. “Wah...”

Ia segera memeriksa bagian yang ditunjukkan sistem. Ternyata salah satu konektor mengalami masalah. Dimas memperbaikinya, lalu mencoba menyalakan motor sekali lagi.

Brrrmmm!

Mesin langsung hidup dengan suara halus.

Alya terlihat terkejut. “Wah, langsung bisa?”

Dimas tersenyum bangga. “Sepertinya konektornya agak bermasalah, Mbak. Setelah dibersihkan dan dipasang ulang, sekarang sudah normal.”

Pak Haris yang memperhatikan dari belakang ikut tersenyum. “Bagus, Dim. Cepat juga kamu belajar.”

Dimas merasa sedikit bangga.

Namun kemudian...

Ding!

[Misi tahap tiga selesai.]

[Kerusakan berhasil diperbaiki.]

[Skill Montir meningkat.]

Dimas mengangguk puas. “Lumayan.”

Kemudian tulisan berikutnya muncul.

[Misi tahap empat tersedia.]

[Ajak Alya berkencan.]

Dimas langsung kehilangan senyumnya. “...”

Alya masih berdiri di samping motornya.

Dimas menatapnya, kemudian mengalihkan pandangan.

Menatapnya lagi, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Gimana cara ngomongnya?”

Ia mulai menyusun kalimat di dalam kepala. “Mbak, mau kencan sama saya?”

Dimas langsung menggeleng. “Gila. Kedengarannya kayak orang nggak waras gue, masa baru kenal tiba-tiba ngajak kencan.”

Ia mencoba lagi. “Mbak Alya, kebetulan saya lagi kosong...”

“Lebih aneh.”

Dimas kembali mengusap wajah, sementara itu Alya mulai memperhatikannya dengan heran.

“Mas Dimas kenapa?”

Dimas langsung tersentak. “Eh? Nggak, Mbak!”

“Dari tadi kayak orang bingung.”

Dimas tertawa canggung. “Hehe... saya memang lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Dimas terdiam.

Ding!

[Waktu terus berjalan.]

[Segera selesaikan misi.]

Dimas mengepalkan tangannya. “Semoga berhasil.” Ia menatap Alya. “Mbak Alya...”

“Iya?”

“Kalau misalnya...” Dimas berhenti.

Alya menunggu.

Lalu Dimas menarik napas panjang. “Kalau misalnya nanti sore Mbak nggak ada kegiatan...”

Alya mengangkat alis. “Kenapa?”

Dimas merasa jantungnya berdegup semakin cepat. “...mau makan bareng nggak?”

Alya terdiam beberapa detik, Dimas langsung panik seketika. “Waduh, ditolak nih,” gumamnya.

Namun kemudian Alya tersenyum. “Boleh.”

Dimas terdiam seakan tak percaya. “Hah?”

“Boleh. Kebetulan saya juga belum tahu tempat makan yang enak di daerah sini.”

Dimas hampir tidak percaya. “Serius?”

Alya mengangguk.

“Iya.”

Ding!

[Misi selesai!]

[Selamat, Host.]

[Persyaratan misi terpenuhi.]

[Hadiah diterima:]

[+20 Poin Sistem]

[+10 Poin Skill Montir]

[Skill Pasif: Diagnosis Cepat Lv.1 — AKTIF]

[Bonus: Rp500.000]

[Efek Skill Diagnosis Cepat Lv.1:]

[Host mampu mendeteksi kerusakan ringan pada kendaraan dengan tingkat akurasi tinggi.]

Dimas tersenyum lebar. “YES!”

Alya langsung menatapnya bingung. “Mas?”

Dimas tersadar. “Eh? Maaf, Mbak. Saya cuma... senang aja.”

“Karena motornya berhasil diperbaiki?”

Dimas tersenyum kaku. “Iya. Itu juga.”

Ding!

[Sistem menyarankan Host tidak terlalu gugup.]

Dimas langsung mengumpat dalam hati. “Diam lo!”

Alya kembali tersenyum. “Kalau begitu nanti sore jadi, ya?”

Dimas mengangguk. “Siap.”

Alya kemudian membayar biaya servisnya dan pergi setelah mengucapkan terima kasih. Begitu motor Alya menghilang dari ujung jalan, Dimas langsung menyandarkan tubuhnya ke meja kerja.

“Gue berhasil.”

Ia menatap tangannya sendiri. “Gue benar-benar ngajak customer kencan cuma demi skill montir.”

Dari belakang terdengar suara Pak Haris. “Dim.”

Dimas menoleh perlahan, “Iya, Pak?”

Pak Haris tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Bapak nggak tahu kamu sedang belajar jadi montir atau belajar jadi perayu.”

Dimas langsung salah tingkah. “Bukan begitu, Pak!”

Pak Haris tertawa. “Sudah, sudah. Yang penting motornya berhasil kamu perbaiki.”

Dimas hanya bisa menggaruk kepalanya. Dalam hati ia mulai curiga, kalau misi sistem terus seperti ini, empat bulan PKL mungkin bukan cuma akan membuatnya menjadi montir yang hebat...

Tapi juga bisa membuat hidupnya jauh lebih kacau daripada sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   6. Misi berhasil

    Ding! Bantu perbaiki kendaraan mogok! Hadiah: Skill poin S + Rp.3.000.000 Waktu 24 jam! dari sekarang. Dimas menggerutu di dalam hatinya, dimana ia harus mencari kendaraan mogok dan membantu memperbaikinya dalam waktu 24 jam terhitung dari sekarang, belum lagi misi memberi Rere hadiah belum ia selesaikan membuat kepalanya semakin pusing. “Dimana gue harus cari kendaraan mogok? ada-ada aja lo sistem! ck!” gerutunya. Dimas akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar keluar rumah, sekaligus mengenali lingkungan di sekitar rumah tantenya itu. Saat menuruni tangga, ia langsung di sambut oleh tantenya, Vania. “Mau kemana kamu Dim?” tanyanya. Dimas kembali menelan ludah sambil menundukkan pandangannya dan berkata, “Mau cari udara segar tan, nggak jauh-jauh kok sekalian cari cemilan,” jawabnya sambil melangkah turun dari tangga. Vania mengangguk sambil menyilangkan kedua kakinya membuat daster yang di kenakannya tersingkap, Dimas yang melihat itu semakin berdegup kencang. T

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   5. Firasat buruk

    Sore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan. Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” D

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   4. Berkencan

    Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.Ding!Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.[SISTEM LUNA][MISI BARU TERSEDIA!]Dimas mengernyitkan kening.“Jangan bilang misi mesum lagi.”Layar itu berubah.[Misi Peningkatan Skill Montir][Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.][Persyaratan misi:][1. Sambut customer baru.][2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.][3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   3. Pijatan

    Dimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya. Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   2. Misi Konyol

    “Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan. “Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya. “Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya. Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya. Ding! Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget. Gleg. Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata. “Sistem?” Misi perdana Host! Mengintip warna celana dalam Customer! Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel. Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   1. Sistem.

    “Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.***Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai P

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status