FAZER LOGINSore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan.
Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” Dimas tersenyum kaku. “Baru tahu, Mbak.” Mereka kemudian berjalan menuju sebuah tempat makan sederhana tidak jauh dari bengkel. Sepanjang perjalanan, Dimas berusaha mencari topik pembicaraan. “Hmm...” Ding! [Tips Sistem:] [Hindari pembicaraan tentang kerusakan kendaraan selama kencan.] Dimas mengernyit. “Terus gue harus ngomong apa?” Ding! [Gunakan topik ringan.] Dimas menarik napas. “Mbak Alya suka makanan apa?” Alya tersenyum. “Banyak. Tapi saya suka makanan pedas.” Dimas mengangguk. “Wah, sama.” Ding! [Percakapan berhasil.] [+1 Poin Sosial] Dimas hampir tertawa. “Cuma ngobrol aja dapat poin?” Alya kembali menatapnya. “Mas ngomong sama siapa?” Dimas tersentak. “Diri sendiri.” Alya tertawa. “Mas benar-benar unik.” Mereka akhirnya sampai di tempat makan. Setelah memesan makanan, percakapan mereka mulai mengalir lebih lancar. Alya bercerita tentang pekerjaannya, sedangkan Dimas menceritakan pengalaman pertamanya menjalani PKL di bengkel. Tanpa disadari, waktu berlalu cukup cepat. Ding! [Misi hampir selesai.] [Persyaratan terakhir:] [Buat Alya tertawa] Dimas mengerutkan kening. “Serius, kau sistem?” Ia kemudian mulai menceritakan kejadian konyol saat pertama kali masuk bengkel. Alya tertawa. Ding! [1/3] Dimas melanjutkan cerita tentang bagaimana ia pernah salah membawa kunci pas yang ukurannya berbeda. Alya kembali tertawa. Ding! [2/3] Dimas kemudian menirukan gaya Pak Haris ketika sedang memarahi mekanik yang lupa mengembalikan peralatan ke tempatnya. Alya sampai menutup mulutnya karena tertawa. Ding! [3/3] [MISI SELESAI!] [Hadiah diterima: Rp1.000.000] [Bonus: +5 Poin Sosial] Dimas tersenyum puas. “Lumayan. Ternyata nggak semua misi sistem menyusahkan.” Ding! [Host terlalu cepat menyimpulkan.] Dimas langsung curiga. “Kenapa?” Layar biru berikutnya muncul. [MISI BERIKUTNYA AKAN TERSEDIA BESOK.] Dimas membeku. “Jangan bilang misi berikutnya mesum lagi.” Layar itu menghilang, Dimas menghela napas..“Gue mulai takut sama sistem ini.” Alya yang duduk di depannya tersenyum. “Mas Dimas kenapa?” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa, Mbak.” Dalam hati, ia hanya bisa berharap satu hal, semoga misi berikutnya masih ada hubungannya dengan menjadi montir..Namun melihat sifat Sistem Luna selama ini... Dimas mulai merasa firasatnya justru akan berakhir buruk. *** Malam itu, perasaan lega Dimas setelah berhasil menyelesaikan misi makan bareng Alya perlahan luntur seiring langkah kakinya mendekati rumah Tante Vania. Sepanjang jalan pulang, hatinya sempat berbunga-bunga, rasanya Alya itu manis, pembicaraan mereka mengalir enak, belum lagi hadiah sejuta yang langsung masuk saldo. Tapi begitu gerbang rumah terbuka dan ia melangkah masuk ke ruang tengah, senyumnya langsung terkunci rapat di wajah. Kakinya mendadak terpaku di ambang pintu. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan kepalanya yang tadinya tenang kini berdenyut nyut-nyutan, seolah mau pecah. Di ruang tengah itu, tepat di hadapannya, ada tiga wanita. Tante Vania, Rere, dan sepupu keduanya yang baru pertama kali dilihat Dimas, Sasa, sedang duduk santai sambil menonton televisi. Tapi bukan tontonan televisi itu yang membuatnya terpaku melainkan penampilan ketiganya yang sungguh… membuat Dimas tak tahu harus menatap ke mana. Tante Vania mengenakan setelan baju tidur berbahan kain tipis transparan berwarna krem, tanpa busana dalam sama sekali. Bentuk tubuhnya yang padat dan berisi terlihat jelas tanpa ada yang tertutup rapat; lekuk pinggang, lengkungan pinggul, hingga bagian dadanya yang menonjol sempurna terlihat nyata di balik kain tipis itu. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, kain itu ikut bergeser, memperlihatkan lebih banyak kulit mulusnya. Di sebelahnya, Rere dan Sasa, yang ternyata sebaya dengannya... memakai piyama pendek ketat berwarna putih bersih. Celananya nyaris tak menutupi paha mereka yang mulus dan jenjang, sementara atasan pendek itu memperlihatkan pinggang ramping mereka dan lekuk dada yang tumbuh sempurna di usia muda. Kainnya pun tak tebal, hingga bayangan bentuk tubuh mereka terlihat jelas seakan nyaris tanpa busana. Ketiganya tertawa riuh menonton acara televisi, sama sekali tak merasa canggung atau malu sedikit pun. Seolah-olah penampilan seperti itu adalah hal paling biasa di rumah itu. “Eh, Dim sudah pulang,” sapa Tante Vania dengan senyum hangat, tangannya bahkan sempat merapikan bajunya yang justru semakin memperlihatkan bentuk tubuhnya. “Cepat mandi sana, makanannya sudah dihangatkan di meja.” Dimas menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak gelisah, tak berani menetap di satu tempat lebih dari sedetik. Kalau ia lihat wajah, pikirannya melayang ke bawah. Kalau ia lihat ke bawah, ia takut wajahnya memerah padam dan diketahui sedang memikirkan hal kotor. Kepalanya berputar kencang, campuran antara rasa malu, bingung, dan… kegelisahan yang mulai merambat ke seluruh tubuhnya. “T-ta-tante… kenapa… kalian…” suaranya tercekat, ia buru-buru memalingkan wajah ke lantai, tangannya meremas pinggiran celananya kuat-kuat. “Aku… aku naik dulu!” Belum sempat Tante Vania menjawab, Dimas sudah berlari menaiki tangga secepat mungkin, seolah ada yang mengejarnya. Ia tak peduli lagi dengan makanan yang sudah disiapkan. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat dan dikunci, ia bersandar di balik pintu itu, napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton. “Aduh… aduh… kepala gue…” gerutunya pelan sambil memijat pelipisnya yang berdenyut sakit sekali. “Ini rumah apa neraka sih?! Tiap hari kayak gini, lama-lama gue bisa gila!” Ia berjalan terhuyung-huyung menuju kasur dan menjatuhkan dirinya di sana, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Bayangan pemandangan di ruang tengah tadi terus berputar di kepalanya, bentuk tubuh Tante Vania yang matang dan menggoda, tubuh muda Rere dan Sasa yang segar dan jenjang. Semua itu tak bisa ia hilangkan begitu saja. “Kenapa mereka nggak merasa apa-apa sih?!” batin Dimas gemas sambil menutup wajahnya dengan bantal. “Gue di sini hampir gila sendirian… Sialan!” Dan tepat saat ia mulai mencoba menenangkan dirinya, suara denting halus kembali terdengar, suara yang kini mulai ia benci sekaligus tak bisa dihindari. Ding! Layar biru hologram muncul perlahan di hadapannya, dan kalimat yang tertulis di sana membuat mata Dimas terbelalak lebar, kepalanya yang tadinya sakit kini rasanya mau pecah berkali-kali lipat.Ding! Bantu perbaiki kendaraan mogok! Hadiah: Skill poin S + Rp.3.000.000 Waktu 24 jam! dari sekarang. Dimas menggerutu di dalam hatinya, dimana ia harus mencari kendaraan mogok dan membantu memperbaikinya dalam waktu 24 jam terhitung dari sekarang, belum lagi misi memberi Rere hadiah belum ia selesaikan membuat kepalanya semakin pusing. “Dimana gue harus cari kendaraan mogok? ada-ada aja lo sistem! ck!” gerutunya. Dimas akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar keluar rumah, sekaligus mengenali lingkungan di sekitar rumah tantenya itu. Saat menuruni tangga, ia langsung di sambut oleh tantenya, Vania. “Mau kemana kamu Dim?” tanyanya. Dimas kembali menelan ludah sambil menundukkan pandangannya dan berkata, “Mau cari udara segar tan, nggak jauh-jauh kok sekalian cari cemilan,” jawabnya sambil melangkah turun dari tangga. Vania mengangguk sambil menyilangkan kedua kakinya membuat daster yang di kenakannya tersingkap, Dimas yang melihat itu semakin berdegup kencang. T
Sore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan. Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” D
Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.Ding!Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.[SISTEM LUNA][MISI BARU TERSEDIA!]Dimas mengernyitkan kening.“Jangan bilang misi mesum lagi.”Layar itu berubah.[Misi Peningkatan Skill Montir][Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.][Persyaratan misi:][1. Sambut customer baru.][2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.][3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.
Dimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya. Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya.
“Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan. “Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya. “Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya. Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya. Ding! Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget. Gleg. Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata. “Sistem?” Misi perdana Host! Mengintip warna celana dalam Customer! Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel. Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir
“Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.***Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai P







