LOGINDimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya.
Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya. Dimas lekas menghampiri dan langsung di sambut tatapan sinis, sepupunya itu. “Kenapa lo lama banget sih? Udah tau gue laper,” protes Rere. Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil meminta maaf, karena membuat gadis itu menunggu. “Maaf, mbak Rere... habisnya tangan saya kotor banyak oli. Jadi bersihinnya harus lama,” jelas Dimas. “Sudah, duduk aja, Dim. Lain kali Kamu nggak boleh gitu sama sodara kamu, Re,” timpal tante Vania sambil menatap ke arah anaknya. Sementara Rere hanya mendengus kesal sambil menyantap makanannya, tanpa menghiraukan Dimas. Selama makan malam berlangsung, Dimas memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere. Dan saat Dimas sedang berpikir, suara sistem kembali menggema di kepalanya. [Berikan Rere hadiah yang unik dan tidak biasa serta tak mudah di lupakan] Dimas tetap bingung, karena sistem tak memberikan saran secara spesifik. Membuat Dimas harus berpikir lebih keras. “Oke baiklah, gue bakalan beliin dia sesuatu, tapi harus tanya tante kayaknya,” pikir Dimas. Makan malam pun selesai, Dimas ikut bergabung dengan tante Vania dan Rere di ruang keluarga. Dimas berbincang dengan tante Vania, membicarakan banyak hal, dan sesekali matanya mencuri-curi pandang ke arah bulatan padat milik tante Vania dan Rere. Tentu saja hal itu membuat Dimas sedikit gelisah, dan disadari oleh tante Vania. “Dim, kamu kenapa? Sakit?” tanya tante Vania saat melihat wajah Dimas memerah dan wajahnya sedikir berkeringat. Dimas langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil menjawab asal. “Ng-nggak tante! Dimas biasa aja kok nggak sakit, cuma gerah aja tan,” Rere langsung berdecak kesal sambil menatap ke arah Dimas. “Ck! Lo itu gimana sih, jelas-jelas disini ada Ac, lo masih bilang gerah?” Dimas langsung menoleh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, seolah bingung bagaimana cara menghadapi sikap Rere. “Nih cewek ngeselin banget! Kalo bukan sodara udah gue sikat lo, Re!” pikirnya. “Sudah, mending kalian tidur sana, besok kan kamu ada kuliah pagi, Re. Dan kamu juga Dim, kan besok masih harus pergi ke bengkel,” ucap Tante Vania sambil berdiri dan melangkah tepat ke hadapan Dimas. Seketika itu juga, aroma tubuhnya serta harum parfume yang memikat membuat kesadaran Dimas menipis. “Sialan, wangi banget lagi!” Dimas pun akhirnya ikut berdiri dan melangkah pergi dari ruangan keluarga itu, meninggalkan Rere sendirian disana. Singkat waktu, Dimas masih sulit untuk memejamkan matanya setelah ia baru saja selesai mabar game bersama teman-temannya yang di jakarta. Pikirannya masih berputar, tentang hal-hal yang terjadi kepadany secara mendadak. “Sistem, lo ada wujudnya nggak sih?” celetuk Dimas tiba-tiba. Beberapa detik tidak ada jawaban sama sekali hingga akhirnya. Ding! [Sistem tidak memiliki wujud] Dimas membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan. Ding! [Sistem akan segera memproses penambahan misi untuk kenaikan level host.] Dimas tertawa puas, dan tepat saat Dimas akan membaringkan kembali tubuhnya. Suara ketukan pintu kamarnya terdengar pelan, dan membuat Dimas lekas turun dari ranjang dan menuju ke arah pintu. Begitu di buka, ia terkejut. Ternyata itu adalah tantenya yang datang hanya mengenakan daster tipis yang nyaris transparan tanpa mengenakan bra, sehingga pucuk kecoklatan di permukaan bulatan padat tante Vania, terlihat menonjol dengan jelas. Terlebih, bulatan padat itu berguncang setiap kali tante Vania bergerak. “T-tante, kenapa?” tanyanya karena melihat tante Vania memegang kepalanya sambil memijat pelipisnya. “Dim, kamu bisa bantu pijat tante kan?” jawab Tante Vania sambil menyandarkan bahunya ke tembok. Gleg. Hah? Memijat tante Vania? Nggak salah nih? Pikirnya. “Bi-bisa tante,” jawab Dimas. “Ya sudah, tante tunggu di kamar tante ya, jangan lama-lama.” Dimas hanya mengangguk saja dengan perasaan yang sudah tak karuan. “Buset! Gue harus mijet badan tante gue yang seksi begitu, yang ada peliharaan gue malah berdiri, ck!” gumamnya. Akhirnya Dimas bersiap untuk turun dan menuju kamar tantenya. Suasana sudah terlihat cukup sepi karena Bi Narsih dan art lainnya sudah beristirahat. Dimas melangkah ke arah pintu kamar tante Vania yang sudah sedikit terbuka, aroma terapy dan wewangian khas dari balik pintu itu akan membuat kesadaran Dimas semakin menipis. Akhirnya Dimas memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarnya itu, alangkah terkejutnya Dimas saat melihat penampilan Tante Vania yang kini hanya memakai handuk saja, membuat sebagian tubuhnya yang mulus dan sintal terlihat jelas. “Lho? Kok malah bengong, ayo masuk sini. Minyaknya di atas meja, tolong ambil ya Dim,” ucap tante Vania tanpa merasa canggung sedikitpun. Gleg. “Sialan! Bisa gawat ini!” umpatnya dalam hati. Seakan mengerti kegelisahan Dimas tante Vania akhirnya berusaha meyakinkannya kembali. “Tenang aja, tante kan bukan orang lain. Lagian sewaktu kecil, kamu itu suka pegang punya tante ini lho,” ucap tante Vania sambil memegang dua bulatan padatnya dari balik handuk putih. Lagi-lagi Dimas harus menelan ludahnya dengan kasar, sambil mengangguk ia meraih botol minyak urut beraroma terapi yang membuat tubuh terasa lebih rileks. “Ta-tapi tante...” ucap seorang bocil. “Sudahlah, ayo pijat saja. Jangan merasa canggung begitu,” ucap tante Vania sambil membuka handuknya dan membaringkan tubuh dengan posisi tengkurap. Gleg. Kewarasan Dimas kembali di hantam pemandangan indah di hadapannya, bagian punggung tante Vania terlihat mulus, hanya bagian bokong yang di tutupi oleh handuk putih itu. “Ya ampun! Apa harus begini?” pikir Dimas. Hingga akhirnya Dimas mengoleskan minyak ke punggung tante Vania sambil mengurutnya sedikit, tangan Dimas menyentuh kulit mulus tantenya itu perlahan seakan menikmati moment seperti itu.Ding! Bantu perbaiki kendaraan mogok! Hadiah: Skill poin S + Rp.3.000.000 Waktu 24 jam! dari sekarang. Dimas menggerutu di dalam hatinya, dimana ia harus mencari kendaraan mogok dan membantu memperbaikinya dalam waktu 24 jam terhitung dari sekarang, belum lagi misi memberi Rere hadiah belum ia selesaikan membuat kepalanya semakin pusing. “Dimana gue harus cari kendaraan mogok? ada-ada aja lo sistem! ck!” gerutunya. Dimas akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar keluar rumah, sekaligus mengenali lingkungan di sekitar rumah tantenya itu. Saat menuruni tangga, ia langsung di sambut oleh tantenya, Vania. “Mau kemana kamu Dim?” tanyanya. Dimas kembali menelan ludah sambil menundukkan pandangannya dan berkata, “Mau cari udara segar tan, nggak jauh-jauh kok sekalian cari cemilan,” jawabnya sambil melangkah turun dari tangga. Vania mengangguk sambil menyilangkan kedua kakinya membuat daster yang di kenakannya tersingkap, Dimas yang melihat itu semakin berdegup kencang. T
Sore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan. Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” D
Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.Ding!Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.[SISTEM LUNA][MISI BARU TERSEDIA!]Dimas mengernyitkan kening.“Jangan bilang misi mesum lagi.”Layar itu berubah.[Misi Peningkatan Skill Montir][Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.][Persyaratan misi:][1. Sambut customer baru.][2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.][3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.
Dimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya. Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya.
“Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan. “Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya. “Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya. Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya. Ding! Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget. Gleg. Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata. “Sistem?” Misi perdana Host! Mengintip warna celana dalam Customer! Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel. Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir
“Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.***Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai P







