LOGINBeberapa menit kemudian, Xian Ren tiba di lokasi bekas pabrik yang sudah lama terbengkalai. Area tersebut cukup terisolasi dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia berdiri di dekat tong sampah besar yang ada di sana, lalu merogoh ponselnya dan menelepon penculik tersebut. "Aku sudah di depan pabrik."Tak lama kemudian, tiga pria keluar dari dalam pabrik itu. Satu pria berjalan paling depan, namanya Goong Min. Dua pria lain—Jae Wook dan Seung Joon—berjalan di belakang sambil menyeret Yuan Rin. Yuan Rin menatap Xian Ren dengan wajah pucat dan ketakutan. Kedua tangannya diikat dan mulutnya disumpal dengan kain."Apa kau membawa uangnya, Bocah?" tanya Goong Min saat berdiri beberapa meter di depan Xian Ren."Ya. Uangnya ada di sini," ucap Xian Ren tenang. Ia membuka resleting tasnya, lalu menunjukkan sedikit tumpukan uang di bagian paling atas. "Sekarang... lepaskan kakakku.""Lempar dulu tas itu ke mari!" bentak Jae Wook."Tidak," ucap Xian Ren seraya tersenyum dingin. "Bagaimana kalau kita
Xian Ren bergegas turun dari bus dan masuk ke dalam rumahnya."Ibu... Aku pulang."Ia berjalan menuju ruang keluarga menghampiri Han Yu yang sedang duduk dengan wajah yang diliputi rasa cemas dan kekhawatiran. Wanita itu tampak sangat gelisah."Apa para penculik itu belum menelepon lagi, Bu?" ujar Xian Ren seraya duduk di sebelah ibu tirinya itu.Han Yu menggelengkan kepala. "Belum, Han. Ibu juga menunggu dari tadi.""Ibu tidak usah khawatir. Aku yakin Kak Rin pasti baik-baik saja." Xian Ren menggenggam tangan Han Yu."Ibu takut kalau penculik itu melakukan yang tidak-tidak pada kakakmu, Han," ucap Han Yu dengan suara bergetar. Ia menatap wajah Xian Ren dengan mata yang mulai berkaca-kaca."Penculik itu tidak akan berani menyakiti Kak Rin, Bu. Tujuan mereka itu hanya untuk mendapatkan uang tebusan," ujar Xian Ren tenang sambil tersenyum kecil pada ibunya.Tak lama kemudian, telepon rumah tiba-tiba berbunyi. "Biar aku saja yang mengangkatnya, Bu." Xian Ren langsung berdiri dan menuju
"Yuan En, Shuling. Aku duluan," ucap Xian Ren para kedua gadis itu saat bus sudah berhenti di depan rumahnya.Kedua gadis itu mengangguk dan melambaikan tangan. Xian Ren segera turun dari bus dan berjalan menuju rumahnya."Ibu... Aku pulang."Suasana rumah tampak tenang sore itu. Xian Ren menutup kembali pintu rumah dan berjalan menuju ruang keluarga. Di sana, Han Yu sedang membaca majalah. Wanita itu menoleh saat Xian Ren berjalan menghampirinya."Sudah pulang, Han? Apa kamu mau makan. Biar ibu siapkan.""Nanti saja, Bu. Aku masih kenyang," ujar Xian Ren pelan. Ia melirik ke lantai atas, lalu kembali menatap ibu tirinya. "Kak Rin belum pulang, Bu?""Belum. Tapi biasanya jam segini dia sudah sampai di rumah. Mungkin masih di perjalanan."Xian Ren mengangguk. "Ya sudah. Aku mau ganti pakaian dulu, Bu.""Iya, Han."Xian Ren pun bergegas menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Tak lama setelah itu, telepon rumah berbunyi nyaring. Han Yu segera bangkit dan berjalan menghampiri meja
Pak Hwang masih berdiri terpaku di aula olahraga. Ia menatap kosong ke arah pintu keluar tempat Xian Ren baru saja menghilang. Kalimat singkat yang diucapkan muridnya itu masih terus berulang-ulang di dalam kepalanya.Keringat dingin perlahan menetes dari pelipisnya. Dadanya berdebar kencang, dihantam gelombang paranoia yang dahsyat.'Apa maksud anak itu? Kenapa dia bicara seperti itu padaku?' batinnya dengan napas yang mulai memburu.Pikirannya seketika terlempar kembali pada memori kelam beberapa bulan lalu. Bayangan kelam di mana insiden itu terjadi kembali berputar di dalam kepalanya.Pak Hwang menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan tersebut. Tangannya gemetar saat mengusap wajahnya yang kian memucat.'Tidak mungkin anak itu tahu soal itu. Tidak ada siapa-siapa di sana waktu itu... Atau jangan-jangan...'Sebuah nama kembali terlintas di dalam benak Pak Hwang. Nama yang memegang kendali penuh atas semua rahasia kotor di sekolah ini. Tanpa membuang waktu lagi, ia bergegas ke
Xian Ren turun dari Bus dan berjalan menuju rumahnya. Ia mengambil kunci rumah cadangan yang ia bawa, lalu membuka pintu dan segera masuk ke dalam."Kak Rin, kenapa belum tidur? Apa kakak sengaja menungguku?" ujar Xian Ren sambil tersenyum jahil saat melihat kakak tirinya itu masih menonton TV di ruang keluarga."E-eh! Kamu ini sembarangan bicara. Aku hanya belum ngantuk," ujar Yuan Rin sedikit malu.Xian Ren melepas jaketnya lalu duduk di sofa, tak jauh dari posisi kakak tirinya."Mana Ibu?""Ibu sudah tidur duluan." Yuan Rin menoleh dan melirik ke arah adik tirinya itu. "Bagaimana makan malammu dengan Bu Mei tadi, Han?""Biasa saja, Kak," jawab Xian Ren santai. Ia kemudian menatap Yuan Rin dengan raut wajah yang lebih serius. "Kak Rin... aku boleh tanya sesuatu?"Yuan Rin menaikkan sebelah alisnya. "Mau tanya apa?""Kak Rin ingat tidak, sehari atau dua hari sebelum aku jatuh dan koma dulu, apa aku sempat pergi ke mana?" ujar Xian Ren perlahan. "Atau... apa Kak Rin merasa ada sesuatu
Xian Ren menatap Bu Mei dengan wajah yang begitu tenang—memberikan rasa aman bagi wanita di hadapannya itu."Saya berjanji, Bu Mei. Informasi ini tidak akan pernah keluar dari mulut saya, apalagi menyebut nama Ibu."Bu Mei mengembuskan sedikit napas lega. Ia memegang dadanya seraya mendekat ke arah meja."Ibu sebenarnya tidak melihat kejadian saat kamu jatuh itu secara langsung, Lim," ujar Bu Mei perlahan. "Tapi Ibu mengetahui sesuatu yang penting... sehari setelah insiden kamu jatuh dari atap.""Maksud Ibu... Informasi apa yang Ibu ketahui setelah insiden yang menimpa saya itu?"Bu Mei menarik napas panjang dan mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu yang selalu ia rahasiakan."Sehari setelah insiden itu, Ibu berniat mengantar dokumen ke ruangan Pak Choi," ujar Bu Mei dengan suara pelan. "Saat Ibu sudah berdiri di depan pintu ruangannya, Ibu mendengar percakapan antara Pak Hwang dan Pak Choi.""Percakapan?" Xian Ren mengerutkan dahinya.Bu Mei mengangguk. "Sebenarnya... Pak Hw







